
Barry dan Samuel kembali kerumah sudah larut malam. Bahkan hari sudah mulai berganti. Sam melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 00:15 Wib saat mereka keluar dari rumah kontrakan kekasihnya Lyli.
Selama perjalanan pulang, panggilan masuk di telepon genggam Samuel sudah berbunyi ratusan kali. Semua panggilan itu berasal dari kedua orangtuanya. Dan Sam tak mengangkat itu sama sekali demi bermaksud agar lebih baik berbicara langsung dan menjelaskan semuanya dirumah saja. Akan sulit baginya menjelaskan itu semua melalui telepon.
Barry diam terpaku di samping Sam yang sedang fokus menyetir. Ia sepertinya sedang memikirkan bagaimana caranya menjelaskan pada orangtuanya tanpa harus menyakiti hati mereka.
Barry sangat menyayangi Mamanya, walaupun akhir-akhir ini ia malah berusaha menjauhinya. Setelah merasa lebib tenang dan mungkin saja rasa sakit yang dideritanya telah hilang berkat pelukan hangat sang kakak kandung.
"Tenanglah Barr, aku bantu menjelaskan semuanya sama Ayah dan Mama. Aku bersamamu." kata Sam menyemangatinya. Ia memahami sikap sang adik sekarang, Sam tak tega melihat nasib sang adik.
Bagaimana pun juga, ia tak menyangka jika adik yang selama ini menghiasi hari-harinya dengan pertengkaran-pertengkaran kecil malah nantinya akan merindukan suasana itu jika Barry akan kembali kepada orangtua kandungnya.
"Aku takut Ayah dan Mama kecewa kak, aku tak tega." ungkap Barry menghela nafasnya.
"Paling mereka akan memarahimu dulu karna kamu lari dari rumah. Sebenarnya itu hal yang tak boleh kamu lakukan."
"Maaf untuk hal itu kak, aku terlalu frustasi. Setiap Ayah dan Mama marah, rasanya begitulah sikap mereka juga padaku ketika tahu aku mengetahui masa laluku yang disembunyikan oleh mereka." kata Barry menunduk merasa bersalah.
"Dan satu lagi, kamu tahu darimana jika kamu adalah anak kandung orangtua Lyli?." tanya Sam serius membuat Barry membawa pandangannya kejendela mobil yang dikendarai Sam dengan kecepatan sedang.
"Sebenarnya, saat aku bilang aku pergi kemah bersama teman-temanku..., hmm-mm. Aku bukan kesana, melainkan aku pergi ke kampung halaman Dita."
"Hah..! jadi, kamu benar-benar nekad??. Aku saja tak pernah kerumah Lyli selama tiga tahun berpacaran dengannya..." Sam benar-benar terkejut. Rasanya Barry sang adik lebih berani dibanding dirinya dalam hal mengenal keluarga wanita yang dicintainya.
"Aku gak tahu itu kebetulan apa gak kak, awalnya Dita hanya menantangku untuk mengenal keluarganya sebelum aku mengenalkan dia pada Ayah dan Mama. Alasanku mengenalkannya pada Mama agar tidak disuruh ke London dan dalam benakku, aku hanya mau mama tidak melarangku dalam mengambil keputusan."
"Lalu, bagaimana bisa kamu tahu kamu adik dari Lyli??."
"Saat dirumah Dita, entah mengapa aku sangat ingin kerumah kak Lyli. Dita bilang rumah kak Lyli hanya berjarak beberapa rumah dari rumahnya....."
Sam memotong perkataan Barry karna mengajukan pertanyaan. " Lalu, kenapa kamu malah berpikir jika Lyli adalah kakak kandungmu dari sekian banyak orang yang kamu kenal?."
"Entahlah kak..., mungkin sudah petunjuk Tuhan, setiap kali aku dekat dengan kak Lyli, aku merasa seakan ada kontak batin. Aku merasa memiliki kakak perempuan. Aku merasa seakan dekat dengannya. Itu sebabnya aku mencari tahu."
"Kenapa kamu baru berpikir sekarang Barr, padahal kamu kan tahu aku dan lyli sudah berhubungan lama?." tanya Samuel lagi merasa bagaimana bisa semuanya baru terjadi sementara ia dan lyli sudah berhubungan sejak tiga tahun terakhir.
__ADS_1
"Entahlah kak, lagi-lagi aku yakin, ini rencana Tuhan lagi. Aku mulai merasakan itu setelah aku dekat dengan Dita. Aku merasa Dita lah petunjuk dari segalanya. Itu sebabnya, aku entah mengapa begitu menyayangi Dita yang ternyata malah adik angkat Lyli, yang saat itu aku tahu hanyalah kekasih kakakku sendiri.
Sam mengangguk-angggukan kepala setuju dengan pemikiran sang adik.
"Ya, ya, ya,ya..! kamu benar, rasanya Tuhan punya rencana dibalik semuanya dengan mengenalkanmu pada Dita."
"Yah kak, tapi aku sangat mengantuk kak. kita mengobrolnya besok pagi saja ya." Barry menyudahi obrolan itu dengan memiringkan kepalanya pada sandaran kursi mobil.
"Apakah kamu yakin Ayah dan Mama sudah tidur, atau malah masih tetap menunggui kita tiba dirumah. Soalnya, sudah sangat banyak panggilan masuk di HPku.
"Entahlah kak, aku tak bisa berpikir sekarang jika mereka akan banyak menanyaiku." jawab Barry sembari ia menutup matanya yang sudah lelah.
"Baiklah, bagaimana kalau kita tidur di mobil saja?."
"Yakin suara mobil masuk garasi gak kedengaran?" tanya Barry tak yakin.
"Kita parkirkan mobil di pos jaga komplek...," usul Sam semangat.
"Aaaa, itu Barry setuju kak. Kan pos jaga punya satpam yang selalu disana 24 jam."
"Baiklah, kakak juga rencananya besok gak masuk kerja, karna kalau besok aku kerja, siapa yang menemani kamu untuk ngomong sama Ayah dan Mama." lanjut Samuel merogoh kantong celananya untuk mengambil HPnya. Bermaksud mengabari pihak kantor jika ia tak bisa hadir.
Mereka pun tiba di Komplek, Sam membuka kaca mobilnya dan tersenyum menyapa seorang satpam yang biasa berjaga disana.
"Mas, jaga malam ya??"tanya Samuel basa-basi.
"Ialah Mas, kalau udah duduk disini, tentu jaga malam Mas. Kenapa Mas, tumben pulang malem banget??" tanya pak satpam yang bertubuh tegap itu. Pak Satpam yang sudah 5 tahun bekerja disana mengamankan komplek rumah elit dikawasan itu. Tentu sangat mengenal semua warga yang tinggal di perumahan itu termasuk Sam dan Barry.
"Ia Mas, biasa anak muda kadang-kadang harus pulang malam. Biar ada pengalaman..,"jawab Samuel malah bergurau.
"Ah! Mas biasa ajah," jawab satpam yang bernama Udin itu. Ia berlari membuka palang hitam yang membatasi jalan raya dengan perumahan itu.
Sam pun melaju pelan melewati pos jaga lalu berhenti. Pak Udin merasa bingung mengapa malah berhenti. Pak Udin pun berjalan menghampiri mobil Samuel.
"Kok berhenti Mas..? ada yang bisa saya bantu??" tanyanya ramah.
__ADS_1
"Gak Mas.., cuma mau nanya nih, bolehkan mobilnya parkir disini. Saya dan adik saya tanggung pulang jam segini kerumah. Maklumlah sekalian dimarahi Ayah, kami lebih baik munculnya besok pagi saja." jawab Samuel tertawa.
"Hahahah...! si Mas bisa aja.., ya udah Mas gak papah. Istirahat saja di mobil. Mobilnya akan aman kok. Tenang saja!." balas Pak Udin ikut tertawa.
"Siiip!! makasih Mas Udin." balas Samuel tersenyum lagi begitu juga dengan Barry.
"Ia Mas sama-sama. Saya balik ke pos ya Mas..." jawabnya ramah. Tak lupa juga ia memandang kepada Barry.
"Ayo Mas Barry...!" katanya melambaikan tangan lalu meninggalkan mereka.
"Ia, ia, ia Mas...," jawab Barry.
Sam pun menutup kembali jendela mobilnya dan menguncinya. Ia matikan mesin mobil, ia juga menurunkan kursi yang didudukinya sebagaimana posisi nyaman digunakan untuk tidur.
"Baiklah..., mari kita tidur!" katanya menghela nafas membaringkan tubuh nya.
Barry juga melakukan hal yang sama. Ia juga membaringkan tubuhnya. Namun ia melirik kearah Samuel yang dengan cepat menutup matanya.
"Kak..! langsung tidur..?" tanyanya.
"Ialah..., lihat jam sudah jam satu pagi." jawab Sam tak menoleh.
"Kak, aku cuma mau bilang.., makasih ya kak...,"
"Ah! Barr, kamu kayak wanita saja, pake makasih segala." jawab Sam tak terlalu menganggap serius sembari ia menutup matanya.
"Ia, gak papah kak. Aku sangat terharu sama semua sikap kakak sama aku. Ternyata kakak lebih dari yang aku bayangkan. Aku seneng banget kakak begitu peduli padaku bahkan sangat mendukungku walaupun aku sudah sering membuatmu kesal."
"Ah, tak masalah. Entahlah mengapa aku ternyata sebegitu tak ingin kamu menderita dengan sakitmu yang membuatmu kadang tak bisa mengontrolnya."
"Buat semuanya, makasih banyak ya Kak. Kamu luar biasa!!.
"Hmmm-mm, udah ah, kapan tidurnya ini..." kata Sam mengakhiri obrolan.
Barry tersenyum masih saja menatap sang kakak yang sedari tadi sudah memejamkan mata. Barry pun menghela nafas lalu membaringkan tubuhnya kembali. Ia pun menutup matanya dan tertidur.
__ADS_1
Merasa Barry sudah tidur, Sam membuka matanya lalu melirik kearah Barry.
"Aku juga makasih sama kamu Barr, karna kamu, aku berubah dari egois menjadi lebih baik lagi. Dan Lyli menyukai perubahan ini. Kamu tahu, aku sangat mencintai kakak kamu Lyli. Dan aku bersyukur malah kamu adalah adik kandungnya. Itu artinya, kamu membantunya menghapus penderitaan yang bertahun-tahun di embannya. Aku yakin, setelah ini jika ada yang bertanya tentang keluarganya, ia pasti dengan senang hati menjawab dengan santai.