Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Keterangan orangtua Dita


__ADS_3

Biasanya Dita menelepon Ibu dan Bapaknya tiga atau empat kali dalam seminggu. Namun karna ia ingin bertanya soal keluarga Lyli, Dita bermaksud menelpon kembali Ibunya setelah baru kemarin ia berbicara dengan sang Ibu.


"Hallo Dita..! ada apa nak??. Kok tumben nelpon lagi???"tanya sang Ibu setelah mengangkat telepon yang sudah dua kali berbunyi dan tak bisa langsung mengangkat telepon karna baru selesai masak untuk makan malam mereka.


"Ia Bu, gak papah! hanya ingin mau ngobrol sama Ibu aja. Ibu lagi apa?" tanya Dita basa-basi sembari ia merebahkan tubuhnya di kasur. Menikmati suasana malam sambil istirahat setelah seharian bekerja.


"Biasalah Dit..., Ibu baru siap masak makan malam. Kamu sendiri sedang apa nak?"


"Biasa juga Bu, malam-malam gini ya rebahan aja Bu."


"Owh begitu, kamu udah makan malam Dita?" tanya sang Ibu dan duduk di meja makan mereka dibagian dapur. Sementara sang suami dan adik Dita, frank sedang sibuk didepan merapikan bahan jualan untuk besok hari.


"Sudah Bu..., bu boleh Dita bertanya sesuatu!!?" tanya Dita.


"Boleh nak! tentang apa??" jawab sang ibu dengan santai. Menikmati obrolannya dengan sang anak.


"Ini tentang kak Lyli bu..!?


"Loh tumben nanya soal kakak kamu?"


"Ia gak papah sih bu, hanya agar kita punya topik pembicaraan saja." kata Dita tak ingin menceritakan langsung apa maksud dan tujuannya.


"Kak Lyli sebenarnya berapa bersaudara sih Bu...?"


Dengan santai sang ibu langsung menjawab.


"Yah sebenarnya sih lima nak..., kakak kamu Luis, Rizal, kakak kamu Lyli, Reno.... dan ada adiknya satu lagi...," jawab sang Ibu menghentikan ucapannya. Hal itu semakin membuat Dita penasaran. Dengan sang Ibu menjawab jika Lyli bersaudara sebanyak lima orang, Dita mulai teringat dengan Barry.

__ADS_1


"Lima...!??. Bukankah selama ini hanya empat yang selalu dirumah bu Wani dan pak Anwar?" tanya Dita lagi.


"Ia sih nak.., cuma sebenarnya mereka ada lima bersaudara, ada satu lagi dibawah kakak kamu Reno. Ibu lupa namanya siapa. Kejadiannya sudah lama sekali nak..."


"Ceritakan padaku Bu...! aku ingin tahu." tanya Dita semakin semangat. Jawaban sang ibu seakan mengarah pada kisah yang dialami Barry. Mungkin saja Barry benar, jika ia adalah anak dari pak Anwar.


"Ibu sebenarnya udah sedikit lupa bagaimana kisah keluarga kakak kamu itu. Tapi yang jelas, pada saat itu kamu masih umur tiga atau empat tahunanlah, kamu seumuran dengan adik Lyli yang merupakan anak ke lima itu." jawab sang ibu.


"Waktu itu, Mba Wani dan Mas Anwar pergi ke kota. Mereka membawa si bungsu mereka ikut bersama. Maklum saja, tidak mungkin anak kecil umur tiga tahun di tinggal dirumah bersama kakak-kakaknya yang tentu belum pandai mengurus anak kecil. Jadi, mereka membawanya untuk menjenguk mertuanya ke kota. Namun setelah sampai di kota, Mba wani malah jatuh sakit dan tak bisa menjaga anak bungsunya saat suaminya mencari bantuan. Dan selang setengah jam saja, anak kecil itu sudah tak ada disekitar ibunya."


"Lalu, apa yang terjadi ketika Om kembali menemui Tante Lyli saat melihat anak kecil itu gak ada bersama ibunya...?"


"Tentu kamu tahu bagaimana paniknya saat orangtua kehilangan anaknya..., mereka histeris dan mulai mencari kesekitarnya. Pada saat itu mereka berada di stasiun bus. Bus yang membawa mereka ke kota. Mereka mencarinya sampai malam hari. Sampai stasiun itu tutup dalam hari itu. Semua panik dan mencoba membantu. Namun hasil nya... nihil."


"Hingga akhirnya mereka kembali ke Desa dan perlahan semua penduduk disini tahu musibah yang menimpa keluarga kakak kamu itu...!"


"Begitulah nak kejadiannya..." jelas sang ibu dengan sangat detail dan serius. Sang ibu pun entah mengapa bisa menjelaskan kejadian itu dengan sangat baik.


Dita terdiam dan menggeleng-geleng kepalanya. Ia tak menyangka kisah ini,kisah yang beberapa kali ia tonton do Televisi tentang anak yang hilang. Kisah yang sangat mengharukan baginya.


Tentu saat itu keluarga Lyli sangat terpukul dengan musibah yang menimpa mereka.


"Hallo nak...!? kamu masih disana..!?" tanya sang Ibu, merasa Dita malah terdiam dan tak memberi tanggapan apapun.


"Eh! ia... halllo Bu..!" jawab Dita tersentak.


"Kamu kenapa nak...!?"

__ADS_1


"Ibu kenapa baru ceritakan ini semua padaku!. Kenapa gak dari dulu-dulu aja sih Bu....!!!"


"Mana ibu tahu nak..., kamu baru bertanya sekarang. Apa pentingnya coba ibu memberitahukan tentang keluarga orang lain padamu. Apalagi, Lyli itu sudah kita anggap sebagai kakak kamu sendiri. Masa ibu asal cerita aja. Kalau ibu ceritakan padamu, kamu bilang ke kakak kamu. Kamu akan membuatnya sedihh."


"Tapi, bagiku ini penting Bu...!!" jawab Dita serius.


Tapi baru juga sang Ibu ingin menjawab. Frangk sudah berbisik untuk menghidangkan makan malam untuk mereka karna sang bapak sudah lapar.


"Hallo nak..! nanti kita sambung lagi ya. Bapak dan adik kamu sudah lapar. Kami mau makan malam dulu ya nak." kata sang Ibu bermaksud memutus sambungan teleponnya.


"Eh..! Bu.., jangan bicara ke Bapak kalau Dita menanyakan keluarga kak Lyli ya.! janji ya Bu."


TUUUUUTT...


Sambungan telepon sang Ibu sudah terputus. Dita menarik telepon dari telinganya lalu merebahkan tubuhnya menghadap ke langit-lanngit kamar.


"Kenapa aku baru bertanya soal ini pada Ibu...! bodoh, harusnya aku mengetahui kejadinya itu sedari dulu."


Dita merasa lega sudah mengetahui kisah keluarga Lyli dari sang Ibu. Rasanya tak sabar ia menunggu pagi agar bisa bertemu dengan Barry dan menceritakan semua padanya. Dita tak menyangka kisah itu ada didepan matanya. Ada disekitar orang-orang terdekatnya.


"Selama ini, aku pikir kisah seperti ini hanya ada di sinetron ataupun cerita karangan sutradara. Namun ternyata, ada juga kisah ini di dunia nyata seperti yang sedang terjadi ini." hela Dita menggeleng kepalanya dan semakin menatap tajam langit-langit kamarnya.


"Lalu bagaimana ini....!!! apakah kak Sam terima jika Barry adalah adik dari kekasihnya.?"


"Siapa yang akan aku beritahu terlebih dahulu. Kak Lyli..., atau Kak Sam...!!" Dita merasa bingung. Ia tak ingin mengambil keputusan yang salah.


"Kak Lyli pasti bahagia dan senang bila tahu, adik yang selama ini sudah berpuluh tahun tidak ia lihat ternyata masih hidup dan berada disekitarnya. Om dan Tante pasti juga akan bahagia jika suatu hari nanti Barry muncul di hadapan mereka dan mengatakan jika anak bungsu mereka sudah kembali. Keluarga kak Lyli pasti selama ini selalu mendoakan kepulangan sang adik...!!"

__ADS_1


"Tuhan, jika ini memang sudah terjadi, pastilah semua ini adalah petunjuk darimu agar Barry kembali pada orangtua kandungnya. Semua terserah padaMu Tuhan...! Engkaulah yang menjadikan segalanya indah pada waktunya."


Dita memposisikan dirinya dengan duduk dengan baik diatas kasurnya. Menundukkan kepala dan ia melipat tangan lalu menutup matanya, setelah beberapa menit, ia pun berkata. "AMIN."


__ADS_2