
Ibu Wani menghela nafas panjang, ia mencoba membayangkan betapa sakit hati dan kecewanya ia ketika harus pulang dengan tangan hampa. Padahal saat itu harapanya sudah didepan mata. Namun karna tak punya bukti kuat, terpaksa ia dan suaminya kembali dengan rasa penantian yang berlanjut.
"Kamu tahu nak!!, melihat Ayah dan Mama kamu tadi, Ibu langsung teringat pada orangtua yang dulu Ibu jumpai bersama Bapak kamu. Saat itu, kami datang menjemputmu kerumah tempat tinggalmu di kota. Kami mendapat informasi dari masyarakat disana jika kamu bukanlah anak mereka dan ketika berita itu sampai ke telinga kami. Ibu dan Bapak memutuskan untuk bertanya langsung pada orangtuamu. Tapi sayang, ketika itu Ayah dan Mama kamu berkata jika kamu adalah anak kandungnya dan kami salah orang!!. Kamu tahu bagaimana kecewanya Ibu dan Bapak. Harapan kami hilang dan putus ditangan Ayah dan Mama kamu. Itu sebabnya tadi ketika melihat Ayah dan Mama kamu, hati Ibu terasa tersayat perih!!."
Barry terdiam, ia tak tahu jika Ayah dan Mamanya setega itu padanya dan pada orangtua kandungnya. Barry begitu kecewa mengetahui hal yang sebenarnya. Ternyata, Ayah dan Mamanya sengaja menjauhkannya dari orangtua yang melahirkannya.
"Kenapa Ayah dan Mama setega itu pada Barry. Aku sangat kecewa!," gumam Barry. Ia membayangkan andai saja Ayah dan Mamanya 10 tahun yang lalu memberitahukan yang sebenarnya, tentu tak selama ini ia buta akan sebenaran atas dirinya.
"Udah Nak!! gak apa-apa. Bapak sekarang tak mempermasalahkan hal itu. Melihat kamu sudah ada didepan Bapak seperti saat ini. Hal itu sudah terbayarkan." Pak Dimas berusaha menenangkan sang anak. Namun sepertinya rasa sakit itu membuat Barry tak bisa menahan dirinya.
PRAAAKKK!!!!
Tiba-tiba Barry jatuh dan pingsan dilantai. Ia tak bisa lagi menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
"Barry...!!!!" teriak Lyli histeris.
"Ti-tino!!!!" teriak sang Ibu begitu terkejut dan tak kuasa melihat sang anak terjatuh tak berdaya.
"Aaaa-anakku???!!" teriak sang Bapak Mereka semua sangat panik dan langsung menghampiri Kristian Barry.
Tubuh Barry terasa dingin sekali. Tangannya menahan rasa sakit di dadanya. Ia terkulai begitu lemas.
"Bawa langsung ke Rumah Sakit..!!" teriak sang Ibu tak tahu harus berbuat apa lagi. Ia menepuk-nepuk tubuh Barry, namun tak ada respon.
"Bangun nak!!" teriak sang Bapak sangat khawatir. Ia tak sanggup jika harus kehilangan sang anak bungsu. Padahal baru beberapa jam ia bertemu. Pak Dimas tak kuasa membayangkan hal yang seharusnya tak ia bayangkan. Hal yang sama dipikirkan oleh seisi rumah itu.
Akhirnya Barry pun dibawa ke Klinik tak jauh dari rumah mereka. Melihat semua panik, Dita menghampiri rumah Pak Dimas.
"Apa yang terjadi?!!" gumamnya. Padahal belum ada 1 jam ia meninggalkan Barry dan keluarganya.
__ADS_1
Reno yang baru saja keluar dari rumah untuk menyusul keluarganya yang sudah membawa Barry ke Klinik pun berteriak.
"Kak Reno!!. Ada apa??!! kenapa semuanya tampak panik?" tanya Dita.
"Ti-tino!!! Tino tiba-tiba sakit Dit. Mereka sudah di Klinik..," teriak Reno menjawab. Segera Dita berlari menghampiri Reno bermaksud untuk ikut bersamany.
"Aku ikut kak!!" kata Dita dan langsung naik pada sepeda motor yang akan digunakan oleh Reno menuju Klinik.
"Kenapa bisa Barry sakit Kak??!. Kok tiba-tiba sekali??" tanya Dita diperjalanan.
"Gak tahu Dit, tadi Ibu bercerita tentang ada yang disembunyiin lagi oleh orangtua angkatnya Barry, jadi setelah mengetahuinya, Barry malah mengeluh dadanya sakit lalu ia tak sadarkan diri."
"Hah!!! kok bisa sih??!." ucap Dita dalam hati. Kini, ia tahu apa yang terjadi pada Barry.
"Pasti Barry sakit lagi.., pasti ia tak bisa mengontrol dirinya lagi!!. Ohh! astaga Barrr!!"gumam Dita sangat menyayangkan apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu.
"Hm! gak ada Kak!. Nanti aja kita bahas. Cepat sedikit kak!." ucap Dita.
Mereka pun tiba di Klinik, segera Dita berlari menuju ruangan dimana Barry dirawat. Reno membawa Dita menuju sebuah ruangan sesuai yang beritahu oleh sang kakak melalui telepon.
RUANG IGD.....
Begitulah tulisan didepan pintu Klinik tersebut. Disana tampak Pak Dimas dan Bu Wani sedang menangis melihat keadaan Barry yang diperiksa oleh Dokter. Diikuti oleh Lyli,Susi dan Dimas yang juga sangat menunggu hasil pemeriksaan oleh dokter.
"Bagaimana??!!" tanya Reno penasaran.
"Gak tahu, belum ada hasil." jawab Dimas begitu gelisah.
Melihat semuanya panik, Dita langsung mendekat pada Barry, ia langsung meraih tangan Barry yang terkulai lemas diatas ranjang.
__ADS_1
"Barr, ini aku Dita. Kamu kenapa gak bisa mengontrol pikiran kamu sih Barr, lihat kasihan Ibu dan Keluargamu. Mereka semua panik melihatmu seperti ini...," bisiknya pada telinga Barry. Awalnya sang dokter ingin melarang Dita. Namun, melihat Dita begitu bijak ingin membantu, dokter itu tersenyum dan memberi ruang pada Dita.
Tiba-tiba saja tangan Barry bergerak. Ia menggerakkan tangannya secara perlahan.
"Wah!! anda luar biasa!. Siapa gadis ini?" tanya dokter kagum melihat Dita mampu membuat Barry tersadar.
"Dia kekasih dari adik saya ini dok..!" jawab Lyli tersenyum lega.
"Tino!!! anak Ibu??!" segera Bu wani menghampiri Barry dan memeluknya dengan rasa bersalah.
"Maafin Ibu nak!!" ucapnya.
"Kepalaku masih sakit, dadaku nyeri sekali Bu...," rintih Barry seperti anak kecil. Ia sepertiny ingin sekali diperhatikan oleh Ibu kandungnya itu.
"Barr, kamu harus kuat, jangan sampai kamu tak bisa mengontrol pikiran kamu. Jangan begini dong Barr, lihat keluargamu semuanya begitu panik melihatmu seperti ini."bisik Dita mengelus dahi Barry dengan lembut. Sebenarnya ia sedikit segan harus melakukan itu didepan keluarga orang yang sangat dihormatinya. Namun demi agar Barry cepat kembali pulih, ia harus melakukannya.
"Baiklah, karna pasien mulai membaik, saya tinggal sebentar. Nanti saya kembali lagi." ucap sang dokter tersenyum lega lalu ia melangkah keluar ruangan. Tak lupa ia menatap Dita dengan rasa kagum.
"Kamu kok bisa mendingan setelah Dita datang dik?!" tanya Dimas heran.
"Ehm, entahlah kak, tiba-tiba saja aku sadar ada Dita disini." jawab Barry masih lemas.
"Barry sudah pernah seperti ini sebelumnya Om, tante. Jadi, jangan panik ya. Barry seperti ini karna ia tak bisa mengontrol pikirannya. Barry tak bisa mengetahui hal-hal yang berhungungan dengan rasa sakit dihatinya seperti kecewa, marah dan sedih yang mendalam. Tapi, setelah beberapa saat, Barry akan membaik kok." jawab Dita berharap semua keluarga Barry tak panik lagi.
"Ya, Dita betul. Aku ingat, Sam pernah menceritakan tentang ini padaku. Tapi, karna panik, aku tak sempat mengingatnya. Oh, kamu pasti sangat menderita..," kata Lyli mendekat pada Barry lalu memeluknya.
Barry yang terbaring lemah dan lemas merasa tak enak sudah memberi kesan yang tak baik dihari pertama pertemuaannya. Ia berpikir jika penyakit itu sudah hilang total dari dalam dirinya. Ternyata ia salah, aura alam bawah sadar yang cukup menyakitkan itu masih menyerangnya. Barry berpikir jika sudah menemukan orang tuanya dan sudah memeluk meraka, rasa sakit yang aneh itu akan hilang dengan sendirinya.
Barry menatap Dita dengan menyesal. Ia terlalu sepele dengan penyakit yang aneh itu. Barry ingin sekali penyakit itu benar-benar hilang dari dirinya. Ia hanya pasrah semoga Tuhan mengabulkan doanya.
__ADS_1