
Barry memerhatikan kedua orangtuanya setiap beberapa menit sekali. Ia tak menghiraukan Ayah dan Mamanya yang seakan ingin berpamitan pulang ke kota. Barry selalu tersenyum melihat wajah Ibu dan Bapaknya yang tak muda lagi. Putih rambut yang mulai menutupi seluruh kepala Bapaknya membuat Barry seakan sangat bersyukur masih bisa mengenalnya sebelum semakin bertambah usia. Barry juga memerhatikan sang Ibu yang tersenyum setiap kali ditatap olehnya. Namun tiba-tiba Ayahnya membuka obrolan sembari ia meneguk kopi hangat yang sudah disediakan oleh Lyli.
"Hm, sebelumnya Saya minta maaf karna tak bisa berlama-lama disini. Hari sudah semakin malam, dan kami harus kembali ke kota." kata Pak Anwar dengan sopan.
"Oh, ia Pak. Terimakasih atas kedatangan kalian kesini. Kami sangat bersyukur, Anda telah merawat anak kami Valentino sampai saat ini." ucap Bu Wani sebenarnya tak terlalu pandai merangkai kata.
"Ia, sama-sama Bu. Kami tak enak jika secepat ini kembali. Namun disana juga kami punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Saya dan isteri, minta maaf jika ada kesalahan. Kami izin untuk pamit." Pak Anwar menunduk lalu mengajak isteri dan Sam berdiri.
"Baiklah kalau begitu, Om dan tante, semuanya. Kami izin pamit." lanjut Samuel tersenyum dengan berat hati. Karna sebenarnya ia ingin tinggal disana bersama dengan Lyli dan keluarganya. Namun sang Ayah sudah memberi kode agar ia ikut pulang.
Keluarga Lyli pun mengantarkan mereka sampai kedepan rumah. Pak Anwar dan keluarganya pun masuk kedalam mobil. Sam melambaikan tangan kepada Barry yang tampak akan betah berlama-lama di desa.
"Hati-hati Yah,Mah, Kak...!" ucap Barry tersenyum membalas. Dimas siaga mengamankan jalan sampai ke persimpangan agar mobil yang dikendarai oleh Pak Anwar tak memiliki kendala di perjalanan. Ia mengiring mobil tersebut sampai ditempat yang lebih luas agar tak menyulitkan pengguna jalan desa itu.
Barry dan keluarga kandungnya kembali masuk kedalam rumah. Mereka semua berkumpul kembali diruang tengah. Reno dan kakak iparnya menggeser sofa agar bisa membentangkan tikar untuk mereka berbincang-bincang. Hal yang biasa dilakukan di desa itu jika sebuah rumah memiliki tamu yang banyak. Barry bermaksud untuk membantu, namun dilarang oleh saudaranya yang lain.
Dita pun bermaksud untuk kembali kerumahnya yang tak jauh dari rumah Pak Dimas.
"Om, tante, Dita pamit pulang juga ya. Dita belum bilang ke Ibu dan Bapak kalau Dita ikut pulang ke desa ini." ucap Dita sangat sopan.
"Loh cepat sekali Nak." jawab Bu Wani.
"Ia Bu, hm, Dita mau mandi dulu."
__ADS_1
"Kamu datang lagi nanti ya Nak, kita makan malam disini. Sekalian ajak Ibu dan Bapak kamu. Kita semua berkumpul disini. Kalau kamu tidak datang, Ibu akan menemuimu dirumah." sepertinya Bu wani sangat memaksa Dita. Bu Wani masih sangat berterimakasih kepada kebaika Dita. Melihat Dita yang ingin pulang kerumahnya, Barry berjalan menghampirinya setelah Dita berada dipintu depan.
"Dita, tunggu!!." ucapnya memanggil.
"Ya Barr?!. Ada apa?" tanya Dita menghentikan langkahnya.
Barry mengarahkan Dita sudut teras agar tak terlihat oleh keluarganya.
"Dita, makasih ya. Kalau bukan karna kamu, aku gak bisa bertemu seperti ini sama keluarga kandungku. Aku sangat bahagia Dita. Ini semua berkat dukunganmu padaku." Barry meraih kedua tangan Dita dan menggenggamnya erat. Ia menatap mata Dita dengan penuh makna.
"Ia Barr, jangan berterimakasih setiap saat dong. Aku jadi gak enak. Aku ikut bahagia melihatmu bahagia. Semoga kamu semakin semangat dan tetap selalu mengucap syukur sama Tuhan ya Barr." Dita membalas sambil ia tersenyum.
"Ia Dita, aku gak tahu gimana ngungkapin betapa bahagianya aku saat ini!!. Kamu tahu, ini momen yang sangat luar bisa. Aku seneng banget Ditaa!" Barry tak sengaja langsung memeluk Dita. Dita terbelangak dan kaget. Ia tak bisa bergerak karna Barry mendekapnya begitu erat.
"Barr, aku gak bisa nafas!!"
"Sudah, gih masuk lagi. Aku pulang dulu ya Bar." ucap Dita tersenyum merapikan rambutnya yang berantakan.
Barry kembali kedalam rumah setelah memastikan Dita berjalan kerumahnya. Barry terkejut melihat semua keluarganya menatapnya dengan senyuman.
"Pulang, pulang Tino udah dewasa aja ya Bu. Udah punya kekasih lagi,!" goda sang kakak perempuannya, Susi.
"Sini Nak, dekat Ibu!." ucap Bu wani melambaikan tangan kepada Barry yang tersipu malu didepan pintu. Ia pun bejalan menuju sang Ibu dan duduk tepat diantara Ibu dan Bapaknya.
__ADS_1
Melihat semua berkumpul dibentangan tikar setelah Dimas kembali dari luar. Pak Dimas menghela nafas seakan sudah memikirkan kata-kata yang akan disampaikannya. Ia menatap Barry dengan begitu rindu. Sepertinya rasa rindunya tak bisa ditunjukan hanya dalam hitungan jam saja.
"Nak,! Bapak saaaaangat senang sekali melihatmu ada dirumah ini. Kejadian itu sudah sangat lama. Bapak bahkan masih merasa ini seperti mimpi!!" Pak Dimas kembali memeluk Barry dengan erat. Hal itu membuat Barry kembali menangis dan memeluk Bapaknya.
"Barry juga rindu, eh Tino juga rindu kalian Pak!!." ucapnya belum bisa memakai nama kecil yang diberikan orangtuanya. Ia belum terbiasa menyebut nama itu walaupun ia sudah beberapa kali mempelajari nama itu dengan menyebutnya dengan benar.
"Gak apa nak! jika kamu masih nyaman dengan nama Barrry. Bapak akan terbiasa dengan nama itu. Bersikaplah seperti biasanya kamu dipanggil. Bapak tak mungkin memaksamu untuk menggunakan kata yang sebenarnya sudah sangat lama sekali."
"Oh! Bapak sangat luar biasa. Aku semakin bangga menjadi anakmu!!" ucap Barry merasa terharu akan kata-kata Bapaknya.
"Biarlah nama itu menjadi masa lalu nak!, nama yang kamu emban saat ini adalah nama yang juga akan kami sebut. Nama kamu tentu sudah terdaftar di data pribadimu. Tak mungkin kita mengubahnya lagi ke masa lalu. Biarlah itu menjadi masa lalu yang tersembunyi nak."
Tetesan air mata Pak Dimas masih mengalir deras dipipinya. Pak Dimas berusaha mengusapnya namun semakin deras air mata itu mengalir. Bu Wani memerhatikan dengan begitu terharu. Setelah Pak Dimas melepas pelukannya. Kembali lagi Bu Wani memeluk Barry dengan erat.
"Nak!! Ibu bukan menyalahkan Ayah dan Mama kamu, tapi tahukah kamu!, jika Ayah dan Mama sudah pernah Ibu lihat sebelumnya. Ibu sebenarnya kaget sekali melihat Ayah dan Mama kamu ternyata adalah orangtua yang sama ketika itu mengatakan jika kamu bukanlah anakku!!!" Ibu Wani menangis histeris. Ia tak bisa menahan dan membiarkan hatinya tersakiti dengan menutupi apa yang benar.
Barry sangat kaget dan langsung menatap sang Ibu. Ia tak menyangka jika Ayah dan Mamanya ternyata masih menyembunyikan sesuatu yang lebih menyakitkan darinya.
"Apa maksud Ibu??!. Ibu melihat Ayah dan Mama aku kapan Bu???" tanyanya begitu heran. Tiba-tiba saja dada Barry merasa sakit. Rasa sakit itu sama seperti sebelumnya yang pernah ia alami. Aliran darahnya kembali mengalir dengan cepat. Kepalanya kembali terasa pusing. Keadaan itu adalah keadaan ketika ia tahu siapa dirinya sebenarnya. Dan saat ini, hal itu muncul lagi.
"Ibu ingat sekali itu nak....
Belum selesai Bu Wani berkata, Pak Dimas langsung memotong. "Sudahlah Bu, tak perlu dibahas lagi. Yang penting Tino sekarang sudah kembali. Jangan ingat-ingat itu lagi Bu."
__ADS_1
"Gak Pak. Ibu harus bilang ini. Supaya Tino tahu!," ucap Bu Wani bersikeras. Ia tak mau menahan rasa sakit yang terpendam begitu dalam ternyata apa yang dilakukannya ketika itu 10 tahun yang lalu adalah benar. Batinnya yang berkata jika anak yang dikatakan oleh kedua orangtua itu dulu adalah benar anaknya. Wajah orangtua itu adalah wajah yang tak bisa ia lupakan yaitu wajah Ayah dan Mama yang merawat sang anak kandung.
"Baik Bu! ceritakan saja padaku. Barry mau mendengar apa yang terjadi ketika itu." tanya Barry sangat serius. Ia tak sabar mendengar penjelasan sang Ibu. Hanya Pak Dimas dan Ibu Wanilah yang mengetahui hal itu di keluarganya. Barry mulai merasa kaku dan tak bisa mengontrol dirinya. Rasa penasarannya membuat dirinya sulit berpikir positif. Aura alam bawah sadarnya mulai terasa. Namun ia coba untuk bertahan.