Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Rasa itu


__ADS_3

Barry mempercepat laju mobilnya menuju Menteng raya no 51 yang termasuk cukup jauh dari rumahnya. Butuh 25 menit agar tiba disana sesuai dengan waktu yang pernah Barry perkirakan ketika pertama kali mengantar Dita pulang sebelumnya. Ia ingat sekali alamat itu. Tampak wajah Gelisah dan kwatir diwajah Barry. Ia berharap mobilnya bisa secepat kilat sampai disana. Barry meraih ponsel dari saku celananya bermaksud mengirimi Dita pesan jika ia akan kesana. "Dit. Aku ke kost kamu ya. Tunggu aku datang..!"ketiknya di ponselnya. Dita menerima pesan itu dan dengan tubuh lemahnya ia tak sanggup menjawab. Ia biarkan ponselnya disana dan mencoba menunggu Barry dengan tidur.


"Gak kuat,," Gumamnya lemas. Ia menarik selimut berwarna merahnya lalu menutup matanya.


Barry pun tiba dalam waktu 20 menit lebih cepat dari perkiraannya. Ia memarkirkan mobilnya didepan pagar kos-kosan itu. Seorang wanita sedang menjemur pakaian sebelum ia berangkat kerja pun terheran-heran karna menurutnya tidak ada punghuni kost itu yang memiliki teman orang kaya.


"Cari siapa Mas??" tanyanya.


"Ditanya ada Mba?? Saya temannya Dita."Jawab Barry sopan. Wanita itu melirik ke kamar Dita merasa jika Dita sudah pergi bekerja dan hanya Ia yang belum berangkat kerja karna masuk siang.


"Gak tau juga Mas,, Biasanya sih jam segini Dita udah kerja." jawabnya ragu.


"Ditanya sakit Mba. Dita gak kerja hari ini. Makanya aku datang mau jenguk dia. Boleh temanin aku kekamarnya Mba. Saya seggan" Kata Barry memohon. Wanita itu berpikir sejenak karna dilain sisi ia harus berangkat kerja. Tapi karna mendengar Dita sakit ia pun menurut lalu menghela nafas


"ia deh. Ayo saya temani" Jawabnya.


Wanita itu pun mengetuk pintu dan memanggil Dita. Namun tak ada jawaban. "Mas gak ada jawaban,," Wanita itu mulai ikut kwatir. Barry pun mengetuk.


"Dit,,,? kamu didalam kan. Apakah bisa membukakan pintu. Bagaimana keadaanmu??"


"Ya sebentar..," Dita membalas dan berusaha meraih pintunya. Tangannya yang panas tak kuat menahan engsel pitnu itu dan setelah terbuka Dita langsung terjatuh. Secepat kilat Barry menangkapnya dan memeluknya. Dita pingsan tak berdaya.


"Mba tubuhnya panas banget. Gimana kalau jita bawa dia kerumah sakit. Mari bantu saya,,!" Kata Barry sangat panik. Wanita itu gugup lalu membantu mengangkat Dita. "Biar saya bawa ke mobil saya Mba!" Wanita itu menutup pintu Dita dan mengikuti Barry menuju mobil.


Barry membaringkan Dita di dalam mobil. Ia terlihat sangat kwatir dan memandangi tubuh lemah Dita. "Sabar ya Dit. Bentar lagi kita tiba di Rumah Sakit" ucapnya. "Mba ikut...??"tanyanya pada wanita itu. "Nanti saya menyusul saja Mas. Mau kerja dulu,, Nanti saya kabari teman-teman kalau Dita sakit. Barry menganggukan kepala dan permisi untuk langsung menuju Rumah Sakit yang terdekat.

__ADS_1


Barry tiba di Rumah Sakit dan mengangkat Dita ke IGD. Dita segera di tangani oleh Dokter. Dita juga diberi selang infus karna Demamnya mencapai 40°C. Barry menunggu didepan dengan perasaan tak karuan. Beberapa kali sudah ia mengintip kedalam ruangan dimana Dita ditangani.


"Tak usah khawatir, pacarnya hanya demam tinggi,, sekarang lagi istirahat. Jika udah bangun, sudah bisa diajak mengobrol." kata Dokter tersenyum berusaha mengurangi rasa tegang pada wjaah Barry yang dari tadi Dokter perhatikan.


"Eh Dokter,, Apa hanya demam saja, pemeriksaan lain???" tanya Barry.


"Ya hanya demam saja. Mungkin pacar kamu hanya kelelahan. Tapi harus di opname dulu ya beberapa hari" jelas dokter kembali.


"Ia deh Dok. Dokter kok bilang saya pacarnya ya??"


"Tuh wajah kamu pucat sekali melihat wanita mu sakit. Kamu sangat mencintainya ya??" Tanya dokter muda yang hanya menerka saja. Namun hal itu membuat Barry tersipu malu. Apakah se kwatir itu ia pada Dita.


"Ah dokter bisa aja" balasnya. Dokter itu pun permisi pergi setelah menepuk punggungnya. Barry masuk kedalam ruangan itu. Ia duduk tepat berhadapan dengan wajah pucat Dita. Ia menunggu Dita sudah hampir 2 jam. Dita pun menggerakkan tangannya lalu membuka mata. Ia terkejut melihat pria yang sedang dihadapannya itu.


"Barry,,?" tanyanya lemas.


"Oh syukurlah sudah mulai turun" ucapnya lagi.


"Makasih Bar,, Udah berapa lama aku disini??" tanya Dita sambil menggerakkan tubuhnya.


"Hm-mm 2 jam lebih,," jawab Barry.


"Gimana udah enakan. Apa perasaanmu saat ini Dita?" tanya Barry bermaksud jika masih ada keluhan biar Barry yang menemui dokternya.


"Perasaanku gak enak malah merepotkanmu Bar. Aku jarang loh sakit,, kok bisa ya aku sakit??"

__ADS_1


"Mungkin aja udah takdir kali Dit,, Biar ada aku yang jagain kamu. Tau gak tadi kamu pingsan tepat di genggamanku" Tangan Barry seolah-olah menirukan kejadian ketika Dita pingsan. Ia berusaha menghibur Dita dengan cara itu.


"Hah,, Masa sih Bar. Tuh kan aku jadi malu" Dita tersenyum malu.


" Ia,,, Berat lagi. Kamu gak gemuk kok berat juga ya??" balas Barry.


"Kamu ngangkat aku??"


"Lah ia,, Kamu kan pingsan. Gimana bawanya kesini kalau gak di angkat Dita" Barry tertawa.


"Kamu gak ngapain aku kan???"


"Ih nuduh aja,, Kamu pikir sempat berpikir lain-lain apa. Lagian ada si Mba yang bantuin aku tadi di kos kamu. Entahlah siapa namanya tadi gak sempat nanya." Barry mengaruk kepalanya.


"Mba Rini mungkin" jawab Dita seakan masih mengingat jika yang mengetuk pintu itu adalah wanita yang dimaksud Barry.


"Tapi Bar. Aku mau pulang hari ini aja. Gak mau di opname sampai besok. Gak ada yang jagain aku disini nanti Bar" Kata Dita berusaha meyakinkan dirinya jika ia sudah mulai mendingan. Barry terkejut dan tak mau Dita langsung pulang karna dokter bilang ia harus disini beberapa hari.


"Eh eh.. tapi Dita,, dokternya bilang harus dirawat dulu."


"Gak ada yang jagain aku disini nanti Bar. Kamu gak mungkin kan??" Dita balik bertanya. Barry tau jika Dita adalah anak rantau dan jauh dari keluarganya. Tentu benar tak ada yang menjaganya jika harus bermalam beberapa hari dirumah sakit. Ia juga tau jika teman-temannya juga bekerja besok. Dita tipe wanita yang tak mau merepotkan siapa pun. Barry menghela nafas panjang.


"Yakin...?"


"Yakin Bar. Kan dokter bilang aku demam aja. Nanti dirawat di kos juga akan sembuh dan juga teman-teman bisa jagain aku disana. Mereka semua baik-baik kok." Jelas Dita lagi agar Barey tak semakin khawatir.

__ADS_1


"Hmm,, baiklah jika kamu keras kepala. Tapi nanti aja ya sekitar pukul 8 malam. Biarkan beberapa botol infus membantu dehidrasimu yang hilang." Barry tiba-tiba mengelus dahi Dita dengan lembut. Dita terkejut namun membiarkan Barry melakukannya.


"Aku... hm-mm Aku sayang sama kamu Dita. Biarkan aku dekat denganmu ya"ucapnya dengan lembut. Memegangi tangan Dita sambil memandang Dita penuh makna. Dita tak bisa berkata apa-apa selain menganggukan dagunya.


__ADS_2