Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Lanjutan...


__ADS_3

Mendengar penjelasan dari anak yang memeluknya begitu erat. Tiba-tiba bu Wani melepas pelukannya, memerhatikan setiap sisi tubuh Barry dari atas kepala sampai ujung kaki. Ditatapnya Barry dengan sangat seksama, ia perhatikan setiap anggota tubuh bagian wajah Barry. Pak Dimas menunggu kesimpulan dari apa yang dilakukan oleh isterinya.


ANAKKKU....!!!


Ibu Wani berteriak histeris, kini ia sadar dan percaya jika anak lajang yang ada dihadapannya itu adalah anak bungsunya. Tiba-tiba saja aliran darahnya mengalir sangat cepat. Rasanya batinnya berbicara mengatakan jika benar anak itu adalah Valentino Dear. Anak yang dilahirkannya.


HAH...!! AP-APA??!! JA-JADI....!!!


Pak Dimas juga ikut histeris. Ia langsung memeluk Barry dengan kuat disusul oleh Ibu Wani.


Mereka bertiga berpelukan kembali. Pak Dimas tak malu menunjukan kerinduannya didepan semua tamu. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia tak bisa menahan air mata yang tiba-tiba saja mengalir deras dipipinya.


"Anakku...!!"sebut oleh Ibu Wani berulang-ulang. Terasa sekali nyeri didadanya terlepas, ia tak bisa membendung kerinduan yang bertahun-tahun ia derita.


"Ibu!! Bapak!!! Valentino sangat merindukan kalian. Valentino lega akhirnya bisa mertemu kalian dan memeluk kalian seperti ini. Ini adalah kerinduanku Bu, Pak!!" bisik Valentino lagi.


Melihat Pelukan itu tak putus, Lyli melangkah mendekat bermaksud untuk ikut memeluk. Reno juga melakukan hal yang sama. Dimas juga mendekat dan langsung memeluk mereka semua.


Tiba-tiba dari arah pintu, muncul seorang wanita berumur 30 tahun dengan seorang anak berusia 2 tahun dan seorang laki-laki dengan usia yang sama yang merupakan suami wanita itu. Dia adalah Susi anak kedua dari Ibu Wani yang beberapa jam yang lalu sudah dikabari oleh Lyli agar datang kerumah karna ada acara mendadak.


"Ada apa ini?!!" tanyanya heran melihat semua keluarganya perpelukan. Seketika hatinya tak tenang.


Dita pun menghampiri kakak angkatnya itu dan berbisik.


VALENTINO KEMBALI KAK...,


"Apppah...!!! Hah!! gak mungkin!!!" teriak Susi sangat kaget. Namun melihat apa yang ada didepannya spontan ia percaya dan serasa mendapat mujizat dalam hidupnya.

__ADS_1


"Mimpi apa aku tadi malam!!" gumamnya. Segera ia berlari menemui keluarganya.


"Ibu, Bapak!!! Ti-tinoo???!" katanya memerhatikan sosok Barry yang berada ditengah pelukan keluarga itu.


Merekapun berpelukan sampai beberapa menit. Lalu kemudian, perlahan melepas pelukan itu.


"Ibu sangat merindukanmu nak!!. Ibu sudah tak kuat jika harus semakin lama menunggu kepulanganmu!!!" jerit tangis sang Ibu. Lagi-lagi Barry memeluk Ibunya.


"Sekarang Valentino udah kembali Bu. Jangan sedih lagi ya,," ucapnya berusaha tersenyum.


"Tiba-tiba saja sakit Bapak hilang. Padahal minggu ini Bapak kurang sehat. Kamu benarkan Valentino anak bungsu Bapak??!."


"Ia Pak, ini Valentino. Foto yang di dinding itu adalah Valentino kecil kan?. Tino juga punya foto yang hampir sama dengan foto itu. Cuma Tino udah agak besar difotonya."


"Oh Tuhan!! bagaimana ini bisa menjadi kenyataan??!. Bagaimana semua ini bisa seperti ini?!. Ceritakan padaku!" tanya Susi terheran-heran seakan merasa semua itu hanya mimpi.


"Buatkan minuman untuk Valentino dan keluarganya Lyli dan suruh mereka untuk duduk dan istirahat disofa." kata sang Ibu menyuru Lyli dan mempersilahkan keluarga yang dibawa oleh anak bungsunya untuk duduk. Pak Anwar dan Bu sarah yang dari tadi hanya mendapat bagian menonton pun duduk disofa bersamaan dengan mereka. Sementara Dita berjalan mengikuti Lyli untuk menyiapkan minuman untuk semuanya.


"Bu, Barry sangat senang bisa duduk bersama denganmu. Rasanya nyaman sekali." ucap Barry menatap Ibunya.


"Jadi nama kamu Barry, siapa nama lengkapmu selama ini nak?!" tanya Sang Ibu mengelus wajah Barry yang tampan. Sepertinya dari kedua saudaranya, ia paling tampan dan berkulit putih bersih.


"Nama yang diberikan oleh Ayah adalah Kristian Barry Bu. Itu mereka yang sudah merawat dan membesarkan Tino selama ini." kata Barry memandang Ayah dan Mamanya.


"Salam,,," ucap Bu Wani kepada Pak Anwar dan Bu sarah. Lalu mereka membalas dengan senyuman.


"Tahu tidak nak, jika Bapak tak siap pergi dari dunia ini sebelum bertemu dengan kamu. Bapak tak tenang jika sampai akhir hayat Bapak tak bisa melihatmu lagi." Pak Dimas kembali menangis lagi. Setelah beberapa menit ia mengusap air matanya. Kini harus kembali mengalir deras dipipinya.

__ADS_1


"Oh Bapak! jangan berkata begitu. Kuasa Tuhan itu indah Pak dan semua berjalan dengan rencananya. Valentino bersyukur sekali bisa saat ini berkumpul dengan kalian." Barry memeluk Bapaknya dengan erat. Ia juga menepuk punggung Bapaknya berusaha membuat hatinya lega.


"Bapak sudah gak sanggup lagi menahan rindu ingin melihatmu nak. Namu disaat itu juga kamu muncul. Dimas benar nak!. Kamulah yang malah mencari dan menemukan kami." kata Pak Dimas sembari ia menangis dan menangis.


"Jangan sedih lagi Pak. Kini semuanya sudah kembali seperti dulu. Bapak sudah memiliki anak yang lengkap. Tino sangat banyak mendapat cerita dari kak Lyli dan kak Dimas. Mereka membuatku semakin tak sabar untuk menemui kalian Pak.


"Oh anakku!. Kamu membuat Bapak sangat terharu. Bapak tak bisa mengatakan apa-apa lagi. Ini semua sangat luar biasa. Kamu adalah satu-satunya harapan yang Bapak miliki, tak ada yang lain,,,"


"Nanti kita cerita lagi Pak, biarkan Tino minum dulu." ucap sang Ibu meraih air putih bening yang baru saja disediakan oleh Lyli diatas meja.


Ibu Wani berdiri dan memercikkan air putih itu kebagian rambut Barry lalu menyuruh Barry meneguk air putih dalam gelas itu sampai habis.


"Minum dulu nak. Ini simbol atas kepulanganmu nak,,," ucap Ibu Wani begitu serius. Ia meraih gelas berisi air putih lagi lalu mengusapkannya pada bagian wajah anaknya itu. Barry menurut saja, lalu Bu Wani mengajak mereka semua bersatu didalam doa.


Ibu Wani pun memimpin doa ucapan syukur atas kepulangan sang anak. Bu Wani berdoa sambil menangis. Menceritakan seluruh isi hatinya dan sangat-sangat berbahagia atas berkat yang dihadirkan ditengah-tengah keluarganya.


Setelah kata "Amin" Ibu Wani kembali memeluk Barry dan menangis lagi. Ia tak tahu dengan cara apa lagi ia menujukan betapa bahagianya bisa dipertemukan kembali dengan anaknya yang hampir 20 tahun tidak dilihatnya. Kejadian itu sudah lama sekali namun karna perihnya masa lalu itu membuat siapa saja yang merasakannya mengingatnya sampai kapan pun.


Barry memandang keempat saudaranya, ia tak menyangka ia memiliki dua saudara kandung laki-laki dan dua saudara kandung perempuan. Hal yang bisa ia bayangkan ternyata ia memiliki saudara perempuan yang cantik. Bahkan salah satunya sudah memberinya satu keponakan jagoan kecil lucu.


"Dari mana awal mulanya kamu mendapatkan anugerah untuk mencari tahu siapa dirimu nak?!" tanya Pak Dimas setelah isterinya duduk kembali disamping sang anak. Barry menghela nafas lalu menatap Dita. Wanita yang ditunjuk Tuhan membantunya menemukan keluarga kandungnya.


"Dita Pak, Dita anak angkat Bapak yang tinggal beberapa rumah dari sini, itulah yang membantu Tino dan ditunjuk Tuhan jadi teman Tino menemukan setiap hal-hal yang Tino tidak tahu menjadi tahu.


Merasa dirinya dipuji oleh Barry, Dita menunduk dan tersenyum.


Ibu Wani melangkah menghampiri Dita dan langsung memeluknya.

__ADS_1


"Ternyata kamulah anakku yang menjadi tangan pertemuan antara anak bungsu kami bertemu dengan kami,,?!" ucap Ibu Wani begitu terharu. Ia bersyukur sekali selama ini selalu berbuat baik kepada Dita dan keluarganya. Ternyata gadis yang dulu seusia Valentino ketika kecil malah setelah tumbuh dewasa menjadi gadis yang menghadirkan mujizat dikehidupan anak bungsunya.


"Tak apa Bu, Dita bersyukur sama Tuhan karna udah dipilih membantu Barry menemukan kalian. Dita senang ternyata orangtua kandung Barry adalah Ibu dan Bapak." jawab Dita membalas pelukan Ibu Wani dengan hangat.


__ADS_2