Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Lanjutan


__ADS_3

Barry memandang Dita begitu anggun dengan kata-katanya yang selalu merendahkan dirinya didepan semua orang. Bukan sekali dua kali Dita seperti itu dihadapanya, tapi rasanya Barry selalu terharu dengan pribadi kekasihnya itu. Padahal masih hitungan bulan ia mengenal Dita sebagai kekasihnya, namun rasanya ia sudah mengenal Dita sejak lama.


"Kak Dimas benar Dit, kamu memang sangat berperan dalam hidupku. Kamu sudah banyak membantuku walau pun sudah mendapat perlakuan tidak baik dari Mama." lanjut Barry.


"Apa yang terjadi adikku...?" tanya Dimas malah penasaran dengan kisah cinta sang adik.


"Ehm..., yah biasalah kak, Mama aku begitu menyayangiku dan katanya aku harus ngambil S2 di London dan ketika pertama kali mengenalkan Dita, Mama gak setuju katanya aku ini dulu lah itu dulu lah dan sebagainya." jawab Barry tak ingin mengatakan hal jelek tentang sikap orangtuanya. Bagaimana pun ia selalu ingat jika Mamanya adalah wanita yang sangat berperan pada dirinya.


"Yah begitulah, Barry adalah anak emas dirumah. Mama lebih sayang pada Barry dibanding kami saudaranya yang lain. Mungkin karna Barry anak bungsu." lanjut Samuel malah memuji sang adik.


Dimas merasa jika keluarga yang membesarkan sang adik kandung adalah keluarga yang baik dan begitu menyayangi sang adik. Dimas begitu senang mendengar ucapan Samuel.


"Oh! syukurlah ternyata keluargamu keluarga yang sangat baik ya dik. Kakak lega mendengarnya.


"Yah kak, Ayah dan Mama saat ini bermaksud untuk mengunjungi rumah kalian jika sudah punya waktu yang tepat." kata Barry kepada Dimas dan saudaranya yang lain.


"Oh benarkah!! kami senang mendengarnya." jawab Lyli lebih dulu membuka suara daripada Dimas.


Mereka semua mengobrol sampai larut malam, bahkan tak terasa obrolan itu sampai pada pukul 23:30 Wib. Sam memerhatikan jam tangannya lalu ia menghela nafas bermaksud untuk menyudahi obrolan.


"Ehm, kak sepertinya obrolan ini kita lanjut besok lagi. Saat ini sudah sangat larut. Kami sepertinya harus kembali kerumah." katanya memandang ke arah Barry bermaksud agar Barry juga mendukungnya.


"Ia kak, Barry sangat senang mengobrol dengan kalian. Kalian sangat luar biasa. Aku sangat bahagia bisa bertemu kalian dan berkumpul dengan kalian disini. Tapi, gimana pun saat ini Barry izin pulang dulu. Ayah dan Mama Barry tentu akan khawatir jika kami gak pulang." lanjut Barry memahami maksud Samuel. Barry dan Sam pun beranjak berdiri.


"Oh iya iya! tentu kalian harus pulang, gak terasa ya sampai selarut ini kita berbincang." kata Dimas memerhatikan jam tangannya juga.

__ADS_1


Mereka semua pun berjalan kearah pintu depan untuk mengantarkan Barry dan Samuel.


"Barr, aku nginap disini aja ya. Aku besok gak kerja, karna bos aku ada urusan." kata Dita mendekat pada Barry.


"Hah, benarkah. Kamu kan bisa pulang bareng aku Dit, aku dan kak Sam tentu akan mengantarmu sampai kerumah." jawab Barry sepertinya tak setuju.


"Ehm, aku mau ngobrol lagi sama kak Lyli dan kakak yang lain." bisik Dita.


"Jangan, kamu tidur dimana nanti, ikut pulang aja, besok kalau kamu mau kesini, kita bareng lagi." jawab Barry berbisik juga.


Dita menghela nafas dan menurut saja, ia pun mengikuti Barry dan Sam kearah mobil.


"Daaah kak Lyli, kak Dimas, kak Reno. Dita pamit..," ucap Dita menundukkan kepala didepan mereka. Barry dan Sam mengikuti dengan tersenyum.


"Ia, kalian hati-hati ya...," Lyli melambaikan tangannya. Barry,Sam dan Dita pun naik kedalam mobil. Barry memilih untuk menyetir melihat Sam sudah begitu lelah dan mulai mengantuk.


Mereka pun pergi, Lyli mengajak kedua saudaranya kembali masuk kedalam rumah.


"Ternyata Valentino pandai menyetir ya...," ujar Dimas tersenyum.


"Ia kan Kak..., dia lebih pandai dari kita. Padahal kita berdua gak bisa bawak mobil. Haha gimana mau tahu bawak mobil. Di desa saja mobil sangat langka...!" sambung Reno tertawa.


"Udah ah!! ayo masuk!." kata Lyli juga ikit tertawa.


Mereka bertiga pun masuk dan kembali duduk dikursi. Sepertinya mereka masih memilih untuk mengobrol.

__ADS_1


Dimas meneguk air putih yang masih ada diatas meja lalu ia menyandarkan punggungnya kepada kursi.


"Lyli, kamu kan udah lama kenal sama kakaknya Valentino, kok baru saat ini kamu tahu jika ternyata dia adalah adik kita...?" tanyanya pada Lyli.


Lyli menghela nafas dan mengikuti gerak sang kakak dengan menyandarkan punggungnya ke kursi. Tentu Dimas akan menanyakan hal itu karna Dimas belum tahu banyak soal bagaimana ia bisa bertemu dengan sang adik kandung. Bahkan saat memberitahukan soa informasi itu, Lyli langsung pada topik dan menyuruh kakaknya itu untuk segera kembali dari luar provinsi.


Lyli mengatakan akan bercerita ketika sudah berkumpul bersama.


"Ehm, yah entahlah kak. Aku juga merasa ini masih seperti mimpi. Barry yang selama ini ku kenal sebagai adik dari Samuel yang sudah ku kenal selama tiga tahun, ternyata adalah adij kandungku. Aku mengetahui ini dari Sam dan Barry yang ternyata sudah lebih dulu mengetahui masa lalu Barry atau Valentino ini," jawab Lyli berhenti sejenak dan terbayang bagaimana ia begitu syok mengetahui jika sang adik ternyata selalu berada didekatnya.


"Lalu, bagaimana lagi kak...!?" tanya Reno juga penasaran.


"Lalu, hingga suatu hari, Barry menemuiku. Ia ingin menginap disini karna tak mau kembali kerumah setelah mengalami perdebatan kecil. Untung saja saat itu Reno ada disini, jadi ku izinkan ia menginap disini. Paginya, Sam datang kesini bersama dengan Dita. Disitu Sam sangat marah pada Barry karna nekad tak pulang kerumah. Sam sebenarnya gak pernah akur sama adiknya. Aku sering menasehatinya karna keras kepalanya. Aku seakan gak tega jika Barry selalu disalahkan...,"


"Hmmm!! terus....?" tanya Dimas yang melihat Lyli juga memberi jeda pada penjelasannya.


"Ehm, terus! aku marah sama Sam karna gak suka dengan sikapnya yang tak bersyukur punya adik sebaik Barry. Barry yang selalu membuatku teringat pada Valentino, setiap melihatnya rasanya aku begitu dekat dengan Valentino kak..., aku merasa seakan melihat Valentino di diri Barry...! dan ternyata benar kak...! dia adik akuuh!." Lyli tiba-tiba menangis dan tak ingin melanjutkan penjelasannya. Ia begitu terharu karna begitu terlambat tahu jika Barry yang selamaini dibelanya didepan Samuel dan yang selalu ingin didekatinya ketika Sam membencinya. Lyli merasa ingin lebih cepat tahu dibanding saat ini. Namun bagaimana pun waktu Tuhan selalu memiliki alasan dibaliknya.


"Udah kak! jangan nangis. Sekarang Valentino sudah bertemu dengan kita." Reno memeluk sang kakak tak sanggup melihatnya menangis.


Dimas terdiam, ia seakan memikirkan sesuatu yang begitu kuat pada harapannya.


"Ternyata benar..., aku selalu merasa yakin jika Valentino lah yang malah akan mendatangi kita setelah ia menemukan siapa dirinya di keluarga yang mengurusnya selama ini..." ucapnya tak menyangka jika ucapan yang sering dikeluarkannya ketika setiap kali merindukan sang adik malah kenyataan.


"Oh aku gak percaya ini nyata!! ini seperti diluar kendali kita, Valentino menghampiri kita dan memberitahukan kita siapa dirinya. Oh! anak itu luar biasa!. Ia bisa menemukan kita setelah sekian lama...," lanjut Dimas menengadah ke atap rumah sekaan tahu jika itu semua tak lain jika bukan karna rancangan Tuhan yang begitu luar biasa.

__ADS_1


"Kakak benar! aku juga kemarin ketika pertama kali melihatnya, aku merasa ada sesuatu didalam dirinya yang membuatku penasaran siapa dia, ternyata dia adalah Valentino, adik kita..!" kata Reno.


Reno masih sekali itu bertemu dengan Barry walau tahu jika Samuel pacar sang kakak memiliki adik yang hanya berjarak dua tahun darinya. Reno memang tak sering datang mengunjungi rumah sang kakak, karna ia juga harus kuliah sambil bekerja. Jadi waktu untuk bertemu sang kakak sedikit. Andaikan saja, rasa penasarannya itu muncul ketika pertama kali Lyli mengenalkan Sam padanya, mungkin saja ia juga bisa mengenal Barry.


__ADS_2