Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
perjalanan menuju Desa


__ADS_3

Setelah menyelesaikan perlengkapan pakaian dan beberapa hal yang diperlukan oleh Barry selama dirumah orangtua kandungnya, Dita dan Barry siap turun kebawah untuk menemui orangtuanya yang sudah lama menunggu. Tak lupa Barry menyisipkan foto-foto masa kecilnya. Ia sangat banyak membawa foto selama bersama Ayah dan Mamanya. Ia ingin menunjukan perjalanannya mulai dari Sekolah Dasar sampai saat ini hampir menyelesaikan progam studi sarjananya. Barry ingin bercerita banyak pada Ibu dan Bapaknya hal apa saja yang sudah mereka lewatkan ketika terpisah.


"Manasih Barry ini! lama sekali turunnya?!. Udah jam 10 loh!" ucap sang Mama bolak-balik memandang kelantai dua rumah itu.


"Nah! tuh nongol Mah..!" tunjuk Samuel mengarahkan Mamanya kembali kearah pintu kamar sang adik. Barry dan Dita turun bersamaan, tampak wajah Barry begitu semangat dan sangat senang karna sebentar lagi akan bertemu dengan orangtuanya.


"Besar sekali koper kamu Tian?" tanya Mamanya heran.


"Ia Mah, kata Dita, disana sangat dingin, selain butuh pakaian tebal tentu disana pakaian susah kering, jadi Barry sengaja bawa persediaan." jawab Barry berharap Mamanya memaklumi.


"Ehm.., berapa lama rencananya kamu disana?."


Barry memandang sang kakak, Lyli. Rasanya ingin meminta pendapat soal lamanya ia di Desa.


"Ehm! sekitar seminggu Mah. Barry balik lagi kesini setelah itu."


"Hah! lama sekali?!" tanya Mamanya terkejut. Hal itu membuat Lyli sedikit sedih, seminggu pun rasanya terlalu singkat dibanding waktu bertahun-tahun keluarga itu menjauhkan sang adik dari keluarganya.


"Masa sehari Mah! kan gak mungkin. Disana tuh indah banget! desanya sangat nyaman." ucap Barry spontan membuat sang Ayah mencerna dengan cepat kata-kata itu.


"Kamu tahu dari mana?. Kamu pernah kesana sebelumnya?"


"Eh! ehm., maksudnya, itu... Dita yang kasih tahu aku Yah!" jawab Barry sedikit kaku dan tak ingin Ayahnya tahu jika ia sudah pernah kesana sebelumnya.


Sam merasa bingung dengan semua sikap yang membuat waktu semakin lama. "Tunggu apa pagi?!. Ayo berangkat....?!" katanya langsung membawa perlengkapan yang ada didepannya.


Mereka semuapun bergerak menuju garasi dimana sudah menyiapkan mobil yang akan digunakan untuk perjalanan mereka. Lyli sudah menginformasikan pada sang kakak pertama Dimas, jika mereka datang dengan mobil. Jadi Dimas mencari cara agar mobil itu bisa tiba sampai kedepan pintu rumah mereka. Caranya adalah dengan memastikan jika ketika mobil itu tiba di Desa, tidak ada kendaraan dari arah berlawanan agar posisi mobil muat di jalan yang tak terlalu lebar.


Sang Ayah yang sudah berumur 58 tahun sepertinya masih sanggup mengendarai mobil itu selama 4 jam perjalanan nantinya. Jadi beliau memilih untuk menyetir. Lagipula Pak Anwar sudah terbiasa keluar kota menggunakan mobil miliknya seorang diri untuk meninjau proyek yang ditanganinya.


Barry dan Dita duduk diposisi paling dibelakang mobil tersebut. Sementara Lyli dan Samuel berada dibagian tengah mobil putih bermerek For***er itu.

__ADS_1


Setengah jam perjalanan tak ada percakapan diantar penghuni mobil. Hingga akhirnya Samuel mendapat telepon dari kakak pertamanya yang ada di Jakarta.


"Mah..., kak Bobby nelpon nih?!" ucapnya memberitahukan pada sang Mama yang duduk disamping sang Ayah. Bobby adalah kakak keduanya setelah Jeriko kakak pertamanya.


"Angkat saja, sudah lama Bobby gak menelepon Mamah." jawab sang Mama menoleh kearah Samuel.


"Ah Mama saja yang bicara," kata Sam. Biasanya juga Sam setiap kali mendapat telepon dari Bobby ataupun Jeriko, ia akan memberikan langsung pada Mama atau Ayahnya.


"Sini, kamu ya! sama kakak sendiri pun malas mengobrol..," ucap bu Sarah meraih telepon genggam Samuel.


"Ia Hallo nak?! ini Mamah...," kata Bu sarah mengarahkan telepon itu ketelinganya. Semua penghuni mobil itu fokus mendengar obrolan sang Mama dengan telepon.


"Apa kabar Mah?! sehat???!" tanya Bobby dari seberang sana.


Belum juga sang Mama menjawab, Bu Sarah teringat jika permasalahan tentang Barry belum diberitahukan kepada kedua anaknya yang jauh di perantauan. Bu Sarah dan Pak Anwar tak tahu bagaimana memulai obrolan tentang Barry yang sudah mengetahui siapa orangtua kandungnya dan saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah orangtua kandung anak bungsunya itu.


"Sehat Nak, kalian disana sehat nak?. Sudah lama sekali kamu tidak menghubungi Mama."


"Owh pantes saja, Mama sempat khawatir."


"Ayah, Sam dan Barry mana Mah?" tanya Bobby membuat Mamanya bingung seakan mencari jawaban dengan menatap suaminya dan seisi mobil. Untung saja Bu sarah tak menekan tombol pengeras suara telepon tersebut.


Dengan berusaha menjawab pertanyaan Bobby, Bu sarah akhirnya bisa menutup telepon tanpa membuat sang anak merasa ada yang berbeda di keluarganya. Untung saja Bobby memiliki tipe yang tak terlalu mau tahu apa kesibukan Mamanya, karna menurutnya itu kesenangan Mamanya diusia yang tak lagi muda.


Perjalanan mereka sudah 3 jam, dan disitulah pemandangan indah mulai terlihat. Pepohonan menghiasi pinggir jalan dan bukit-bukit seakan membentuk senyuman menyambut kedatangan mereka. Suasana hijau menyejukkan pandangan.


"Waaah indah sekali Desa ini?!!" ucap Bu Sarah terkagum-kagum. Begitu juga dengan Pak Anwar dengan spontan memperlambat laju mobilnya.


"Ia Mah, indah sekali. Kayak yang di lukisan waktu SD yahh?!"


Lyli tersenyum senang melihat Bu sarah senang. "Ia Tante, Desa kami terkenal Desa yang indah, sejuk dan terkenal ramah-ramah. Jadi, Tante dan Om tak usah segan-segan menyapa masyarakat disini. Mereka senang jika ada pengunjung datang dari kota menikmati Desa ini."

__ADS_1


"Ia Tante, bisa Om dan Tante lihat, disini tak banyak kendaraan roda empat, jadi sangat jauh dari kebisingan kota dan polusi udara." lanjut Dita.


Sam dan Barry saling pandang, mereka tak memberi komentar karna mereka sudah menikmati pemandangan itu terlebih dahulu. Namun sepertinya mereka tidak ingin Ayah dan Mamanya tahu soal itu. Mereka hanya menikmati pemandangan Desa itu untuk kedua kalinya.


"Apakah rumah kalian jauh lagi?" tanya Pak Anwar mengarah pada Lyli.


"Sekitar 45 menit lagi Om. Tapi, nanti gak terasa kok, karna selama perjalanan banyak pemandangan yang tak ditemukan di kota.


"Wah lumayan juga ya, tapi tak apalah, Om suka desa kalian ini. Rasa lelah Om sedikit berkurang." puji Pak Anwar membuat Dita dan Lyli merasa senang.


Barry juga merasa beryukur ia dilahirkan dari orangtua yang tinggal di Desa. Ia juga merasa penat sejak kecil ia selalu melihat keramain. Ia terkadang pusing setiap kali melintasi kota yang lebih sering dilanda kemacetan.


Barry sudah tak sabar menunggu waktu dimana ia akan memeluk Ibu yang melahirkan dirinya. Selama perjalanan ia membayangkan bagaimana rasanya dipeluk oleh seseorang yang begitu merindukannya. Ia membayangkan senyum dari Wanita paruh baya yang sebenarnya sudah pernah ia lihat itu.


Walaupun Lyli sudah bercerita banyak tentang Ibu dan Bapaknya. Rasanya jika belum merasakan pelukan mereka, Barry tak bisa tenang. Barry juga membayangkan 2 bulan lagi ketika ia wisuda, Ibu dan Bapaknya mendapingi dirinya dan berfoto bersama keluarga lengkapnya.


"Kamu tentu sekarang sudah bangga ya Barr, beberapa menit lagi kamu akan memeluk Ibu yang melahirkanmu. Nanti ceritakan padaku gimana rasanya." bisik Dita memecah lamunan Barry yang selama perjalanan menatap jendela mobil.


"Ehm, bukankah nanti kamu akan disana melihat expresiku?. Apakah aku harus menjelaskannya lagi Dit?."


"Gak sih,! aku hanya mencoba menenangkan hatimu. Dari tadi tanganmu begitu kaku dan dingin. Kamu gugup?!" tanya Dita. Ia sengaja menyentuh tangan Barry dibeberapa kesempatan, ia merasakan tangan itu dingin dan keras. Rasa gugupnya mengalir sampai ketangannya.


"Kamu tahu aja ya Dit, aku gak bisa menutupinya didepanmu. Kamu mau membantuku agar tidak gugup?!" bisik Barry sembari ia tersenyum menatap Dita.


"Apa??" tanya Dita polos.


"Genggam tanganku dan jangan lepaskan. Genggamanmu akan membuat hatiku lebih tenang." ucap Barry tersenyum, ia tahu jika Dita tak akan mudah menurutinya.


"Seggan dong Barr, ada keluargamu disini semua. Jangan bikin malu dong!" benar saja seketika raut wajah Dita memerah.


"Kalau begitu aku saja yang megang tangan kamu." segera Barry menggenggam tangan kanan Dita. Itu malah membuat rasa gugup berpindah pada Dita. Segera Dita menarik tangannya sembari ia menatap seisi mobil apakah memerhatikan tingkah konyol Barry.

__ADS_1


Barry cukup terhibur dengan raut wajah kesal Dita. Ia tertawa lalu tersenyum kembali menatap jendela. Setidaknya benar saja, rasa gugupnya hilang dan ia siap bertemu Ibu dan Bapaknya.


__ADS_2