Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Kembali kerumah


__ADS_3

Barry dan Dita sudah tiba di Medan pukul 13:00 Wib. Setelah berpamitan pada kedua orangtua Dita, Barry sudah tidak sabar untuk kembali kerumahnya. Didalam benaknya masih ingin mencari tahu apa sebenarnya yang ia rasakan itu benar atau tidak. Walaupun Barry tahu dan masih merasa tidak mungkin dirinya bukan anak kandung orangtuanya selama ini, tapi tak salah mencari tahu demi ketenangan hati dan pikirannya.


Setelah mengantarkan Dita ke kost dan berpamitan untuk langsung pulang, Barry menjemput mobil yang dititipkan di penitipan mobil. Barry langsung menyalakan mobilnya dan buru-buru kembali kerumah.


Barry pun sampai dikomplek rumahnya dan memasuki rumah yang sudah tidak ia lihat selama dua hari. Barry memasukan mobil kedalam garasinya. Barry sempat melirik jika mobil sang Ayah tidak ada pada garasi. Ia membawa pakaian kotornya yang sudah dimasukannya kembali pada kopernya. Barry menarik pegangan koper yang memiliki roda itu, lalu masuk kedalam rumah.


"Mah, Barry pulang!!? Shalom!!!?" katanya sedikit meninggikan volume suaranya. Tak ada jawaban, Barry mengarahakan pandangannya pada seluruh ruangan rumah itu. Tak ada orang kecuali bibi yang biasa membantu pekerjaan dirumah itu muncul dari arah dapur.


"Ya, Mas Barry!??"jawabnya buru-buru menemui Barry sejenak menghentikan pekerjaannya didapur.


"Bi, Ayah dan Mama kemana??"


"Ehm tadi pagi pergi mas ke....?" jawabnya tak tahu kemana.


"Kemana Bi? trus kak Sam masuk kerja??" tanya Barry lagi.


"Ehm, saya lupa Mas Ibu dan Bapak kemana, sepertinya tadi cuma pamit ingin pergi ajah. Kalau mas Samuel, seperti biasa Mas, kerja."jawab sang bibi dengan sangat sopan. Barry menganggukan kepala beberapa kali artinya ia paham.


"Baiklah bi, Barry naik ke kamar dulu ya. Ini pakaian Barry, semuanya dicuci aja ya bi." kata Barry memberikan koper yang ditangannya kepada sang bibi. Barry pun bergerak menuju kamarnya. Ia segera mandi bermaksud lelahnya berkurang.


Setelah mandi, Barry mulai berpikir mencari cara untuk menyelesaikan masalahnya. Ia mondar-mandir dikamarnya hampir 5 menit. Ia belum menemukan cara, hingga tiba-tiba sesuatu melintas dikepalanya.


"Ayah dan Mama kan lagi pergi, gimana kalau aku kekamar mereka. Mungkin aja aku menemukan sesuatu disana!" kata Barry lalu ia bergegas keluar dari kamarnya. Barry menuruni anak tangga dengan cepat. Ia melirik kearah dapur memastikan asisten rumah tangganya tak tahu jika ia masuk ke kamar orangtuanya itu.


Barry menyentuh gagang pintu bermaksud membuka pintu kamar itu, namun sepertinya terkunci. "Sial!! ternyata terkunci!" gumamnya kesal. Barry ******* bibirnya dengan kesal. Ia pun bergerak kesebuah lemari dimana sepengetahuannya banyak foto di lemari itu yang disimpan oleh mamanya. Barry meningglakan kamar orangtuanya dan menuju lemari tak jauh dari ruang tamu dimana mamanya biasa menonton televisi.


"Mungkin disini ada foto aku waktu kecil!! biar aku bandingkan sama foto yang ada dirumah kak Lyli!" gumamnya semangat. Ia pun mulai mengacak-acak lemari itu, dibagian atas tak ada apa-apa selain buku-buku rohani milik mamanya. Barry bergerak kebagian paling bawah lemari itu. Ia sedikit membungkuk untuk memasukan tangannya kedalam isi lemari.

__ADS_1


Sesuatu telah berhasil diraihnya, ia pun menarik sebuah kotak. Barry lalu duduk disamping lemari berwarna merah bata itu, ia bersihkan sedikit debu diatas kotak kubus berukuran tinggi 20 CM itu.


Ia menyandarkan dirinya pada lemari lalu menghela nafas berharap didalam kotak usang itu ada sebuah petunjuk untuknya.


Namun belum juga dibuka, terdengar suara mobil masuk ke garasi rumahnya. Barry terkejut langsung melirik. "Wih, Ayah dan Mama pulang lagi!!" ucapnya tanpa pikir panjang, ia segera menutup lemari itu. Ia berusaha menutup jejaknya dengan menutup lemari itu dengan baik. Namun kotak itu tidak ia masukan. Barry berlari dengan cepat menuju kamarnya sambil ia memeluk kota itu dengan erat.


Ayah dan Mama Barry tahu jika anak bungsunya itu sudah pulang. Tentu sangat jelas karna kendaraan Barry sudah terparkir rapi di garasi mereka. Mamanya berjalan menuju pintu rumah mereka.


"Pah, mama mau langsung kekamar Barry ya! mau liat keadaan Barry." ucapnya pada sang suami yang masih sibuk mengambil beberapa plastik dari dalam mobil. "Ia mah, nanti Papa menyusul!" jawabnya.


Barry tiba dikamarnya dan dengan cepat ia mengunci kamar itu. Segera ia membuka kotak itu, jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. " Ah! lihat apa yang terjadi aja! aku pasrah..!" ucapnya gugup.


Praak!!!


Tutup kotak itu pun terlepas dari kotak yang sepertinya sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah disentuh. Benar saja, didalam kotak itu terdapat beberapa foto usang yang sudah tak jelas. Barry dengan cepat meraih foto itu. Sekitar 5 foto sudah ia perhatikan, namun belum ada satu foto pun yang mirip dengan foto yang ada dirumah Lyli. Foto yang ia temukan semuanya foto kebersamaannya bersama ketiga saudara laki-lakinya. Foto dimana Barry sudah sekolah di sekolah dasar sampai ia sekolah menengah.


"Tapi aku yakin, ada sesuatu disini yang bisa jawab pertanyaanku. Tuhan bantu aku buat tahu segalanya." kata Barry hampir menyerah.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Barry..? Kristian Barry!?" tanya Mamanya dari balik pintu. Barry terkejut dan gelisah, seakan bermaksud menyembunyikan kotak usang itu.


"Ia Mah!??" jawab Barry dengan datar. Ia berusaha menetralkan nada bicaranya.


"Kamu baik-baik aja kan Nak!? kamu pulang jam berapa tadi!!?"


Barry berpura-pura seakan ia sedang tidur. "Baik mah, Barry lelah sekali mah, makanya ini Barry masih tidur. Nanti aja ya ma ceritanya."

__ADS_1


Sang mama menghela nafas, padahal nyatanya beliau ingin Barry membuka pintu itu agar beliau bisa masuk. Tapi karna alasan Barry cukup logis, mamanya pun menghela nafas bermaksud tak mengganggu waktu istirahat sang anak.


"Yaudah Ian, mama turun kebawah ya! kalau udah bangun, jangan lupa panggil mama ya?"


"Ia mah!" kata Barry singkat.


Setelah merasa sang mama sudah tak ada lagi disekitar pintu kamarnya. Barry kembali mengambil kotak yang ia sembunyikan dibawah meja belajarnya.


Barry mengeluarkan seluruh isi yang ada dalam kotak dengan membalikan posisi kotak tersebut mengarah ke lantai. Dengan sigap Barry mengambil semua foto yang berjatuhan keluar dari kotak.


Huhhh...fhh!!


Barry menyingkarkan debu dari foto-foto itu dengan udara dari mulutnya. Ia menghempaskan foto itu ke celana pendeknya. Barry menyandarkan punggungnya pada tempat tidurnya. Barry mulai mengecek satu-persatu foto itu dengan teliti.


"Ini gak,!!" katanya menggeser foto itu dari tangan kanan ke tangan kirinya.


"Ini juga gak...!?"


"Gak juga..!!?"


"Ih mana sih!!!" ucapnya.


Sampailah Barry pada foto ke dua puluh satu, foto yang menyita pandangannya. Barry melihat dengan seksama dan sangat detail. Ia mengambil Handphone yang ia letakan di atas meja pada saat ia mau mandi.


Barry sempat mengambil foto yang ada di dinding rumah keluarga Lyli dengan diam-diam. Foto itu ia simpan pada galeri handphonenya. Kini Barry bersiap membuka foto dari galeri Handphonenya dan tangan kanannya memegang selembar foto pilihannya. Barry menghela nafas panjang.


Hufttt...! semua kuserahkan padamu Tuhan, beri aku petunjuk!

__ADS_1


__ADS_2