Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Aura alam bawah sadar


__ADS_3

Barry duduk termenung dikamarnya, pagi itu membuatnya merasa nyaman untuk merenung dan mengkhayal. Ia duduk mengarah ke jendala yang sudah dibukanya. Udara masuk membuatnya merasa pagi itu sangat segar. Beberapa kicauan burung yang berlalu-lalang melintasi batas jendela. Barry melipat kedua kakinya dan menumpukan tangan pada lututnya.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya. Barry menoleh kearah suara.


"Barr,? ini aku Sam. Boleh aku masuk?" sapa Samuel dibalik pintu yang masih tertutup rapat itu. Barry bergerak melangkah dan membuka pintu itu.


"Masuk aja kak, gak kerja??" tanya Barry pada Sam yang masih berpakaian piyama. Padahal biasanya jam segini, Samuel sudah sibuk untuk bersiap-siap bekerja.


"Lagi malas, aku ambil cuti hari ini." kata Sam lalu berbaring di kasur milik adiknya itu. Barry datang menghampiri dan duduk menghadap sang Kakak.


"Wah, baguslah. Tapi, apa alasan kakak gak kerja?"


"Ehm, alasan ke kantor sih, lagi gak enak badan. Kalau alasan ke kamu, lagi mengganti stamina karna kemarin semalaman tak tidur menungguimu diruang ICU." kata Sam mencoba merebahkan tubuhnya senyaman mungkin.


Barry terdiam sesaat, "Hmm, waktu yang cocok nih.!" gumamnya lalu mendekatkan diri pada sang Kakak yang kini sepertinya tak menaruh benci lagi padanya.


"Kak, bolehkah aku cerita sesuatu padamu??"


Samuel menoleh merasa aneh akan pertannyaan Barry. "Cerita apa, boleh, boleh aja sih."


Barry menghela nafas panjang, berusaha menyusun kata agar mudah di pahami oleh Samuel.


"Begini kak, aku mau kasih tahu alasan kenapa aku bisa sampai tak sadarkan diri sampai membuat aku harus masuk ruang ICU."


"Hah!! apa !?" Samuel mendekatkan wajahnya pada Barry.

__ADS_1


"Aku menemukan sesuatu yang berbeda dari diriku. Aku merasa aku memiliki aura dialam bawah sadar yang bisa membuat aku kehilangan kesadaran ketika aku berpikir keras. Dan alasan aku berpikir keras adalah karna aku menemukan siapa aku sebenarnya dirumah ini." Barry memastikan jika ucapanya tidak didengar oleh siapapun kecuali hanya pada Samuel. Ia yakin Samuel akan menjaga rahasianya dan akan membantunya menyelesaikan masalahnya. Ia tahu, jika kakak yang ternyata bukan kakak kandungnya itu bisa diandalkan walaupun selama ini mereka tak pernah akur.


"Apa maksudnya, beri aku penjelasan yang lebih mudah dipahami!?" kata Samuel kebingungan.


"Ehm gimana ya jelasinnya, Ehm intinya. Aku bukan anak kandung Ayah dan Mama." Barry mengedipkan mata dan menghela nafas merasa Samuel akan lebih mudah paham. Namun bukan merasa paham, Samuel malah terkejut, ia lebih terkejut dibanding melihat Barry tak sadarkan diri.


"Apah..!! yang benar aja!!?"


"Ya itu benar! dan aku sudah membuktikannya."


"Kamu tahu dari mana kalau kamu bukan anak kandung Ayah dan kenapa kamu bisa beranggapan bahwa kamu bukan anak kandung Ayah.!" tanya Samuel serius. Sam tiba-tiba teringat ketika beberapa kali tidak sengaja mendengar obrolan kedua orangtuanya beberapa waktu yang lalu.


"Yah, aku sudah melihat beberapa foto wajahku ketika kecil dengan beberapa foto disebuah keluarga yang baru aku kenal." jawab Barry sebenarnya ingin memberitahukan pada Sam bahwa keluarga yang dimaksud adalah orangtua kekasih sang kakak. Bagimana bisa Sam menerima kenyataan itu nantinya. Barry belum bisa membayangkannya.


"Ehm bukan! bukan, kakak gak kenal. Aku yang kenal mereka, suatu hari nanti aku akan beritahukan pada kakak. Sekarang yang ku perlu adalah, bagaimana pendapat kakak soal kenyataan ini. Jujur, hal ini masih menyakitkan untukku. Aku gak tahu harus cerita pada siapa kak. Beri aku petunjuk. Aku gak tahu bagaimana menanyakan hal ini pada Ayah dan Mama." Barry tak sadar, jika kedua matanya kini berkaca-kaca. Ia berusaha menunduk, namun Samuel memerhatikan wajah itu.


Samuel menghela nafas, ingin ia marah, namun ia tak tahu kenapa harus marah, ingin ia kesal namun tak tahu kesal karna apa. Mengetahui Barry bukan adiknya malah membuat ia ikut terpukul dan terpuruk. Ia juga tak tahu mengapa ada kenyataan seperti itu.


"Kamu yakin kalau kamu bukan adik kandung aku!!? tapi kenapa aku merasa sedih akan hal itu. Harusnya aku senang, karna kita tak pernah akur. Jujur, aku sering berharap kamu tak pernah ada dirumah ini. Tapi setelah kamu bilang kamu bukan anak kandung dirumah ini, berarti kamu bukan adik kandung aku juga. Tapi, kenapa aku malah tak mengerti dengan perasaanku." Samuel merasakan getaran di tangannya yang mulai kaku.


Ia tak pernah menyangka kekesalannya selama ini dengan mengatakan Barry harusnya bukan keluarganya malah benar-benar nyata. Bahkan Sam juga merasa tak bisa menahan matanya yang mulai berkaca-kaca.


" Aku juga baru mengetahuinya kak. Yang ingin aku diskusikan denganmu, kenapa aku bisa ada dirumah ini?? dan kenapa aku harus diadopsi jika Ayah dan Mama sudah memiliki 3 anak laki-laki. Jika pun harus mengadopsi, harusnya kan anak perempuanlah yang cocok untuk diadopsi. Bukan malah aku!?"


"Aku sedikit berpikir hal yang sama denganmu Bar. Aku yakin ada hal yang mengganjal telah disembunyikan oleh Ayah dan Mama terhadapmu."

__ADS_1


"Itulah maksud aku kak..! aku ingin menemukan apa yang terjadi sehingga aku bisa ada dirumah ini. Aku tahu Ayah dan Mama begitu menyayangiku seperti anaknya sendiri, sampai aku tak sadar bahwa aku bukan darah daging mereka. Tapi salahkah aku mencari tahu siapa aku sebenarnya kak??" Barry menatap tajam sang kakak, obrolan mereka sangat serius sehingga membuat Barry tak bisa menahan air matanya yang sudah mengalir dipipinya.


"Jangan kayak anak kecil dong nangis.!!" kata Sam yang sebenarnya juga sedang menyembuyikan bahwa ia ikut terharu dengan menghapus air mata yang juga mengalir di pipinya.


"Maaf kak! Ehm, maukah kakak membantuku??" kata Barry seakan bertingkah seperti anak kecil yang meminta tolong.


"Baik,! aku akan bantu kamu menemukan apa yang kamu ingin ketahui. Tapi, kamu kan tahu, Ayah dan Mama begitu sayang padamu. Bagaimana situasi nantinya jika semua yang kamu ingin tahu terjadi. Semua tak akan bisa sama lagi seperti saat ini Bar.." kata Samuel membuat Barry terdiam.


Namun, ia sudah nekat untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, sehingga ia bisa terpisah dari keluarganya. Ia juga membayangkan betapa bahagianya nanti jika ia bisa berkumpul dengan keluarga kandungnya dan salah satunya adalah Lyli, kekasih sang kakak.


"Atau lebih baik, kita biarkan saja seperti ini, seakan kita tak tahu kejadian ini Bar, tetaplah disini dan tetaplah jadi bagian dari keluarga ini. Kamu tak perlu mencari tahu siapa diri kamu lagi. Apakah keluarga ini tak cukup baik buatmu? dan aku janji, aku akan bersikap lebih baik padamu. Lupakanlah hal ini." Kata Samuel membuat Barry hampir menyetujui pilihan itu.


Namun, sontak aura alam bawah sadar Barry bergejolak, tiba-tiba tangannya kaku dan aliran darahnya mengalir lebih cepat. Keringatnya mulai bercucuran, seakan menolak pilihan itu. Barry menghela nafas panjang mencoba menetralkan fisiknya. Samuel bahkan heran dengan sikap adiknya itu.


"Kamu kenapa Bar!?" tanyanya


"Ehm, aku gak bisa kak. Aku harus tahu apa alasan dibalik semua ini. Kakak bisa kan bantu aku, aku percaya sama kakak. Ayolah, aku tak akan membedakan kasih sayang Ayah dan Mama dari orangtua manapun di dunia ini. Mereka tetaplah yang terbaik yang selama ini aku rasakan."


Melihat wajah Barry yang begitu serius, Samuel menghela nafas panjang dan menganggukan kepalanya.


"Baiklah, kakak akan bantu kamu. Kakak janji. Aku hanya memberikanmu pilihan. Jika pun sedikit salah bagimu, aku akan ikut pendapatmu. Aku juga sebenarnya selama ini ingin mencari tahu jawaban di balik percakapan Ayah dan Mama beberapa waktu yang lalu. Mungkin itu salah satu petunjuk."


Samuel memeluk adiknya itu dengan erat. Ia tak tega melihat Barry memelas seperti anak kecil padanya. Samuel seakan menerima sugesti untuk membantu Barry menyelesaikan masalahnya.


Padahal nyatanya, diam- diam Barry menggunakan aura alam bawah sadarnya untuk menggerakan hati Samuel agar mau membantunya. Aura yang kini mulai dapat ia kuasai selama ia bisa berpikir tenang tidak gegabah.

__ADS_1


__ADS_2