
Barry kembali kerumah setelah mengantarkan Dita pulang. Namun selama perjalanan ia selalu memikirkan akan nasib hidupnya. Segala pertimbangan selalu merasuki kepalanya.
Barry masih didepan pintu rumah saat ia kembali merasakan jika kepalanya mulai terasa sakit. Ia mencoba mengusap kepalanya beberapa kali, namun sepertinya ia sudah tak tahan lagi.
"Aduh!! kenapa lagi kepalaku ini, sakit sekali...," rintihnya tak bisa menahan keseimbangan tubuhnya.
Bibi yang saat itu terlihat sibuk merapikan ruangan tamu, mendengar suara seseorang menabrak meja.
PRAAAKK..!!
Barry tumbang dan tersungkur mengenai meja, sepertinya kepalanya terbentur langsunh kek kaki meja yang terletak tak jauh dari pintu.
"Mas Barry....!!!" teriak sang Bibi lalu berlari menghampiri.
"Mas Barry..., Mas bangun! bangun Mas!!" si Bibi menepuk-nepuk bahu Barry. Bibi tampak sangat panik, ia kebingungan. Sementara kedua orangtua Barry pergi sejak pagi tadi dan Samuel juga pergi menemui Lyli kekasihnya.
"Aduh gimana ini..?? apa yang harus saya lakukan..!!" katanya panik dan mulai gelisah.
"Ambil telepon ini Bi, dan hubungi yang bernama Dita didalamnya agar datang kesini Bi..," Barry dengan lemah berusaha merogoh kantongnya dan memberikan teleponnya pada sang Bibi.
"Baik Mas Barry...!"dengan sigap Bibi tersebut mengecek nama yang disebut Barry didalam telepon genggam itu.
Barry berusaha berdiri walaupun dadanya sudah mulai terasa sakit lagi. Bayangan kedua orangtua kandungnya selalu muncul dikepalanya. Hal itu semakin membuat Barry tak bisa mengontrol pikirannya.
Sang bibi sudah selesai menelepon Dita, lalu Bibi pun dengan tenaga seadanya ia memapah Barry menuju sofa dan membaringkannya disana.
"Dita nya sudah menuju kemari Mas, istirahat saja dulu. Biar saya buatkan air hangat." kata si Bibi berlari kedapur.
Barry masih merasa pusing, dadanya juga masih nyeri dan tangannya mulai berkeringat. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain terbaring.
"Aku udah lelah seperti ini..., aku gak kuat Tuhan. Bagaimana ini bisa berakhir, aku ingin Ibu dan Ayah kandungku memelukku. Apakah ini kerinduan jauh dibawah alam bawah sadarku...??" Barry berucap setiap detik didalam hatinya. Si bibi dengan sabar menungguinya sampai teman sang majikan datang. Sudah beberapa kali si Bibi menegugkan air hangat pada Barry.
Dita pun datang dengan terburu-buru. Untung saja si Bibi sudah memberitahukan jika dirumah itu hanya ada Barry dan sang Bibi. Itu sebabnya tanpa pikir panjang Dita langsung menghampiri Barry menuju ruangan tamu.
__ADS_1
"Barr...!! kamu kenapa lagi...?? kamu kok bisa kek gini lagi sih Bar.." tanya Dita panik langsung mendekap Barry di pelukannya.
Si Bibi tercengang, merasa gadis itu terlalu berani. Mau gimana lagi, begitulah membuat Barry agar merasa lebih baik. Dekapan Dita adalah yang dibutuhkan oleh majikannya itu.
"Dadaku masih terasa nyeri Dit..," jawab Barry patah-patah.
"Berapa kali aku bilang Bar...! kamu harus bisa mengontrol dirimu. Kamu cobalah untuk menetralkan pikiranmu!!. Kamu akan semakin menyiksa dirimu sendiri jika terus berpikir keras. Jangan bikin aku kesal padamu karna kamu tak mendengarkanku..!" jelas Dita seakan merasa Barry sangat keras kepala. Walaupun ia sedang dalam tekanan akan masalah yang sedang dialami, bukan berarti ia harus tumbang setiap hari. Rasanya Barry tak mendengar nasehat yang Dita katakan.
"Maaf...," jawab Barry dengan lemah. Hanya itu kata yang bisa ia ucapkan melihat Dita yang kesal padanya.
Perlahan Barry mulai bisa mengatur pernafasannya. Rasa pusing di kepalanya mulai berkurang. Dita pun melepas dekapannya dan Barry sudah bisa duduk sendiri.
"Kenalin Bi, ini Dita pacar Barry. Jangan heran ya kalau Dita mendekapku. Dekapan itu membuatku lebih baik Bi." kata Barry pada sang Bibi yang selalu memerhatikan mereka dengan Heran. Apalagi setelah beberapa saat Barry perlahan membaik setelah Dita datang.
"Oh!! begitu ya Mas.., saya pikir tadi Mba ini terlalu berlebihan sampai harus memeluk segitu paniknya.
"Dita yang bisa sembuhin aku dengan cepat Bi."
"Gak papah Dit.., jangan takut! aku disini kok." kata Barry menggenggam tangan Dita yang tiba-tiba gemetar.
"Aku takut Ayah dan Mama kamu masih tidak suka sama aku Barr!"
"Tenang saja Dit. Kita hadapi sama-sama. Sekalian mungkin ini saatnya kita kasih tahu yang sebenarnya pada mereka." bujuk Barry.
"Kalau begitu, saya permisi ke belakang dulu ya Mas, Mba..." kata si Bibi beranjak berdiri dan pergi kedapur.
Benar saja, Ayah dan Mama Barry sudah kembali. Mereka terkejut melihat ada Dita diruang tamu. Dita yang berada tepat disamping Barry.
Sang Mama tak tahu apa yang terjadi dan tak suka Dita dekat-dekat dengan anak bungsunya. Dengan cepat kedua orangtua itu menghampiri mereka.
"Tian...!! kamu ngapain disini sama wanita ini???. Bukankah Mama udah larang kamu berhubungan lagi dengannya!!" tatap sang Mama pada Barry.
"Maaf Ma, tapi Barry gak bisa! Barry sayang sama Dita dan akan selalu menjalin hubungan dengannya." jawab Barry masih sedikit lemas tanpa memandang wajah sang Mama.
__ADS_1
Dita menghela nafas dan mengumpulkan keberanian untuk membuka suara.
"Tadi Barry sakit lagi Tante, jadi Dita kesini membantu Barry agar lebih cepat pulih."
"Tak usah membela diri. Emangnya kamu tenaga medis...!?" bantah bu Sarah.
"Tian, dengarkanlah larangan Mama kamu. Apa susahnya?? ini karna Mama kamu sayang sama kamu dan mau yang terbaik buat kamu." sambung sang Ayah membuka suara.
"Tapi Yah..! Barry sayang sama Dita. Kenapa sih Barry dilarang pacaran, sementara kak Sam yang udah 3 tahun pacaran sama kak Lyli gak dilarang-larang...!" bantah Barry lagi.
Sejenak sang Mama terdiam mencoba mencari jawaban. " Yah, beda dong. Mama mau kamu ke London nantinya, jadi gak bakal ada gunanya pacar-pacaran sekarang. Kasihan nanti pacar kamu ini ditinggal jauh sama kamu."
"Barry gak mau ke London Mah..! berapa kali sih Barry bilang Barry gak mau.., kenapa sih sekarang kalian semakin melarang-larang aku...??"
Sang Ayah marah mendengar nada bicara Barry yang seakan membentak Mamanya sendiri. Padahal Ia tak pernah mengajarkan Barry untuk berani membentak Mamanya.
"Tian...!! jaga cara bicaramu. Kamu gak boleh membentak Mama kamu seperti itu!!" teriak sang Ayah.
"Karna Tian sudah bilang Yah..! gak mau ke London dan jangan larang Barry buat dekat dengan wanita yang Barry suka. Apa susahnya sih!!"
"Sudahlah Barr.., jangan kamu kelewatan batas, bagaimana pun mereka orangtua kamu." bisik Dita sudah tak sanggup berada di pertengkaran itu.
"Gak Dita!! Ayah dan Mama gak sayang sama aku. Mereka tak bisa seperti ini padaku. Mereka sudah cukup menjauhkan aku dari....," Barry terdiam dan menatap kedua orangtuanya. Rasanya ia tak sanggup untuk mengucapkannya.
"Kenapa Diam..!! gak sayang apa maksud kamu Tian?. Kurang sayang apalagi kamu sama kamu sampai kamu sebesar ini, tak ada satu pun kekurangan yang kamu dapatkan." jawab sang Ayah.
"Sudahlah Yah..., Barry capek berdebat. Barry mau antar Dita pulang." katanya menarik tangan Dita dan meninggalkan mereka.
"Barry...!! kamu sudah mulai tak sopan setelah mengenal gadis itu!!"teriak sang Mama kesal.
Barry terhenti lalu menoleh. "Justru setelah mengenalnya lah mataku terbuka lebar akan kehidupanku yang sebenarnya.., dan satu lagi, Ayah dan Mama sudah melakukan satu kesalahan besar dihidupku..!" kata Barry memutar kembali tubuhnya dan meninggalkan rumah. Ia langsung pergi dengan membonceng Dita menggunakan motor yang dipakai Dita datang kerumah itu.
Kedua orangtua itu tercengang dan saling menatap. Mereka sangat terkejut dengan ucapan Barry yang baru saja terngiang di telinga. Sang Ayah mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Kristian Barry sianak bungsu mereka. Sang Mama tersungkur dan duduk disofa dengan lemas. Tak kuat mendengar ucapan Barry yang begitu berbeda dari biasanya.
__ADS_1