
Barry dan Dita tiba di kost mereka tak ada mengobrol selama perjalanan pulang. Dita bingung, bagaimana caranya Barry pulang jika sepeda motor yang digunakan pulang adalah motornya. Sementara Barry harus kembali kerumahnya karna hari sudah mulai magrib.
"Barr, kamu bawa saja motorku. Besok biar aku pergi kerja bareng Rani saja."
"Aku gak mau pulang Dit, aku mau nginap dirumah temen aja dulu." kata Barry memutuskan untuk tidak pulang karna masih merasa kesal dengan sikap kedua orangtuanya. Dita terkejut tak setuju dengan jalan pikiran Barry yang akan membuat orang tuanya makin kesal.
"Jangan gitu dong Barr..., kalau gak pulang apa kata Ayah kamu nanti."
"Aku sudah mulai tak nyaman dirumah itu Dit.., didalam pikiranku hanya ingin bertemu dengan orangtua kandungku."
"Tapi Barr, gimana pun kamu harus pulang. Bicarakan baik-baik lagi sama Ayah kamu. Jangan seperti ini Barr..," bujuk Dita.
Setelah berpikir panjang, Barry menghela nafas akhirnya menuruti perkataan Dita.
"Baiklah, aku pulang...,".jawabnya tak bersemangat.
"Yaudah pakai saja motorku." kata Dita tak mau menerima kunci motornya dari Barry.
"Gah ah sayang, kamu perlu motor ini untuk kerja. Aku bisa naik kendaraan umum. Kamu jangan khawatir." kata Barry menolak.
"Gak papah Barr!! pakai aja..." kata Dita memaksa.
"Gak Dita.., lagian apa kata Ayah nanti jika tahu aku bawa motor orang lain kerumah. Ayah bisa makin marah padaku."
Merasa alasan Barry benar, akhirnya Dita menganggukkan kepala.
"Baiklah..., pergilah pulang. Keburu malam..." kata Dita.
"Ia sayang, makasih ya Dita. Aku pamit pulang."Barry menggenggap tangan Dita sebentar lalu ia pun pergi.
Dita melambaikan tangannya hingga Barry keluar dari halaman kos rumahnya lalu ia masuk kedalam rumah.
***
Sehari kemudian......
Dita baru saja memarkirkan motornya di teras kost bermaksud langsung masuk kedalam kamarnya. Namun, langkahnya terhenti karna mendengar suara mobil masuk kehalaman rumah.
Dita mengerutkan keningnya seperti mengenali mobil itu, mobil yang salah satunya pernah ia lihat di garasi rumah Barry.
"Siapa ya...!?"gumamnya penasaran dan menunggu seseorang keluar dari mobil tersebut.
__ADS_1
Dita terkejut karna yang keluar adalah Samuel, kakak Barry. Hal yang jarang dilakukan Sam datang kerumah Dita sendirian.
"Kak Sam...!??" katanya setelah Samuel datang menghampirinya.
"Hai Dita!!?" sapa Samuel terlihat buru-buru.
"Ada apa kak? tumben kesini??" tanya Dita heran.
"Kakak mau nanya, semalam pas Barry antar kamu dia langsung pulang atau bagaimana??" tanya Sam penasaran. Dari penjelasan sang Mama, Barry terakhir kalinya keluar rumah mengantarkan Dita. Namun, Barry tak kembali sampai esok harinya.
"Langsung pulang kak, emang ada apa kak??"
"Barry gak pulang dari semalam Dit..., Mama menyuruh aku mencarinya kesini." jawab Sam menghela nafas.
Dita kaget dan tak menyangka jika Barry membohonginya.
"Hah..!! apa?? Barry gak pulang..." Dita malah balik bertanya.
"Loh! kamu juga gak tahu Dita??" tanya Sam bingung.
"Semalam dia memang berniat untuk tidak pulang kerumah. Tapi aku membujuknya agar dia pulang. Tapi, ternyata dia malah benar-benar tidak pulang kak??"
"Jadi kemana anak itu...! semenjak ia tahu semuanya. Anak itu semakin sulit dikendalikan." kata Sam kesal.
" Coba tanya ke temannya kak...!?" tanya Dita.
"Sudah Dit, tapi kata temannya Barry gak ada disana.., aku udah nanya kebeberapa temannya." jawab Sam mondar-mandir di teras Dita.
Tiba-tiba nada dering telepon Dita berbunyi, Dita melihat nama kontak itu ternyata adalah Lyli sang kakak angkat.
"Siapa Dit..?" tanya Sam berharap yang menelepon Dita adalah Barry.
"Kak Lyli..," jawab Dita ragu dan tak tahu kenapa tiba-tiba malah Lyli menghubunginya.
"Dita, ini kakak..., Dita setelah pulang kerja kamu kerumah kakak ya! Barry ada disini. Semalam dia datang kesini dan tak mau pulang. Untung saja, adik kakak Reno sedang disini. Jadi Barry menginap disini." kata Lyli.
Dita terkejut dan tiba-tiba tangannya kaku. Ia tak tahu apa yang sedang Barry rencanakan hingga bisa menginap dirumah Lyli.
"Eh ia kak..Hhm!!" jawab Dita lalu Lyli mematikan sambungan telepon. Sementara Sam sangat menunggu jawaban dari Dita tentang apa yang dibicarakan Lyli dengannya.
"Apa kata kakak kamu Dita??"
__ADS_1
"Ehm... anu Kak..!! emmm,," Dita gugup dan tak tahu harus berkata jujur atau tidak pada Sam. Dita takut Samuel akan marah pada Barry.
"Apa dik....,? kok gugup. Kakak kamu bilang apa?" tanya Samuel sekali lagi.
"Ehmmm!! itu kak, Ehmm Barry..., Barry ada dirumah kak Lyli,,," jawabnya ketakutan.
"Apppahh!!!!?? ngapain anak itu disana..., kurang kerjaan banget malah pergi kesana!!!" Samuel langsung marah mengetahui Barry dirumah kekasihnya.
Dita tersentak melihat sikap Samuel. Namun ia tak bisa apa-apa karna Samuel malah mengajaknya ikut menemui Barry.
"Kalau begitu ayo kita lihat Barry. Kamu ikut kakak Dita!!."
Mereka pun pergi menemui Barry yang berada dirumah Lyli. Sam merasa kecewa akan sikap sang adik. Selama ini ia sudah mendukung dan membantu apa yang adiknya inginkan. Namun karna merasa semakin sulit dibilangi rasanya Sam ingin menasehati sikap sang adik.
Mereka pun tiba dirumah Lyli. Sam memarkirkan mobilnya ditempat biasa ketika ia bertamu kerumah kekasihnya itu. Selama perjalanan hanya diam yang bisa Dita lakukan karna takut Sam tak sependapat dengannya.
Lyli yang lagi asyik mengobrol dengan Barry terkejut melihat yang datang malah bukan hanya Dita. Tapi bersama Sam juga. Lyli menyuruh Barry untuk berdiam didalam rumah.
"Loh Sam..!? kok bisa bareng dengan Dita. Kalian ketemu dimana??" tanyanya heran.
" Pada saat kamu menelepon, aku ada dirumah Dita menanyakan soal Barry. Ternyata Barry ada disini...," jawab Sam menghampiri Lyli.
Hal itu membuat Lyli yakin jika Sam akan memarahi adiknya itu karna merasa lancang datang kerumahnya saat sedang ada masalah. Barry memang bercerita jika ia sedang memiliki masalah dirumahnya. Namun Barry tak cerita langsung apa yang sebenarnya ia alami.
Barry hanya ingin melihat kakak kandungnya itu, ia juga sudah berbicara sebentar dengan Reno, kakak kandungnya. Namun saat itu Reno sudah pulang ke kost nya yang cukup jauh dari rumah kontrakan Lyli.
"Mana anak itu..!?" tanya Sam melirik kedalam rumah bermaksud langsung menemui Barry. Tapi Lyli menahannya dengan berdiri tepat dipintu.
"Gak bisa!! kamu janji dulu gak marahin dia. Barry punya masalah apa dirumah sampai dia bisa pergi dari rumah??" tanya Lyli polos membela Barry.
"Kamu gak tahu apa yang sedang di alami Barry Ly.., aku hanya ingin bertanya pada anak itu kenapa sekarang mulai keras kepala dan sulit dikendalikan..!"
"Berarti semalam kamu cepat pulang dari sini hanya untuk berkelahi dengan adik kamu...! bukannya kalian sudah baikan?? kenapa malah sekarang seperti tikus dan kucing lagi sih Sammm...!!" teriak Lyli kesal melihat sikap kekasihnya itu sudah sangat marah.
"Lyli..., biarkan aku masuk dan bicara pada Barry. Kamu gak akan tahu apa yang terjadi padanya, ini bukan urusan kamu sayang!!!" kata Sam berusaha menerobos masuk kedalam rumah Lyli.
Dita yang tak sanggup melihat Samuel yang sudah marah, langsung masuk kedalam rumah melalui tangan Lyli yang lengah. Ternyata malah itu juga yang membuat Samuel berhasil masuk.
"Jangan dimarahin Barry nya Kak...!! nanti Barry bisa sakit lagi.!!" teriak Lyli langsung melindungi Barry dibalik punggungnya.
Barry yang sudah berusaha menahan dan mengontrol dirinya malah tak kuat berdiri. Seluruh tubuhnya sudah dibasahi keringat. Aliran darahnya kembali mengalir dengan cepat. Kepalanya juga terasa pusing.
__ADS_1
"Maafin aku kak Sam...,," kata Barry memegangi dadanya yang sakit dan jatuh dipelukan Dita. Ia sudah berusaha menahannya sejak melihat Sam dan Dita datang menemuinya.