
Samuel kembali ke kamarnya setelah mengobrol serius dengan Barry. Ia bermaksud untuk mandi agar lebih segar dan menunjukan diri ke orangtuanya bahwasannya ia tidak pergi bekerja. Namun, nada dering teleponnya tiba-tiba berbunyi saat ia sudah berada di depan pintu kamar mandi. Sam menoleh lalu berjalan kearah telepon yang terletak di mejanya sambil ia melemparkan handuk agar bertengger di bahunya.
"Siapa nih, nomor baru!?"gumamnya ragu mengangkat telepon yang tak ada di daftar kontaknya.
"Hallo...!?" tanya Samuel.
"Hallo, kak ini aku Dita." kata seseorang dari balik telepon. Sam sedikit terkejut namun senang ia mengenal si pemanggil itu.
"Oh dik Dita?? ada apa dik? tumben nelpon."
"Ehm kak, Barry nya ada?? seharian handphonenya gak bisa di hubungi. Apakah Barry dirumah??"
"Ehm..., ya. Barry dirumah. Dia lagi istirahat, semalam Barry sakit. Tapi tenang saja, sekarang sudah sembuh kok." kata Samuel memberitahu apa yang terjadi namun tidak secara detail.
Dita terkejut dan merasa khawatir. " Apah? sakit apa kak, kok bisa??"
"Ehm, hanya sedikit demam. Sekarang udah sehat kok. Jika kamu ingin jenguk, datanglah kemari. Kebetulan kakak juga gak kerja." kata Samuel bermaksud agar Dita tahu kondisi Barry dengan menanyakan langsung padanya.
Dita tak langsung menjawab, ia tentu tidak berani datang kerumah Barry sebelum Barry sendiri yang mengajaknya.
"Tapi Kak, aku..." kata Dita terputus.
"Udah, gak apa-apa. Aku ingin kamu hibur Barry sekarang. Nanti kakak akab ceritakan sesuatu sama kamu tantang apa yang terjadi pada Barry semalam. Kamu tahu kenapa kamu gak bisa menghubungi teleponnya???"kata Samuel sangat berharap Dita menjenguk adiknya itu.
"Kenapa Kak??" Dita sangat penasaran.
"Semalam sebenanrya Barry jatuh pingsan dan sempat dibawa ke Rumah Sakit. Dan aku sempat melihat Handphonenya hancur dilantai kamarnya."
Dita langsung terkejut, tanpa pikir panjang, ia bermaksud akan langsung mendatangi rumah kekasihnya itu. Ia tahu apa yang terjadi pada Barry karna ia juga sudah pernah melihat kondisi Barry ketika dikampung halamannya. Keadaan Barry yang tak bisa ia kontrol karna terlalu banyak pikiran.
Setelah memutus teleponnya, Dita langsung bergerak menuju kediaman Barry. Selama perjalanan, Dita tak memikirkan hal lain kecuali harus bertemu dengan kekasihnya itu. Namun setelah memasuki Komplek perumahan dimana Barry tinggal.
Dita menghela nafas, tak kuat jika harus bertemu orangtua Barry dalam keadaan seperti ini. Ia takut jika kedua orangtua Barry tidak menyukai dirinya. Dalam benaknya, ingin rasanya ia kembali dan mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Ah! sudahlah, hadapi aja apa yang terjadi. Huhft...!" ucapnya dalam hati. Dita pun menghentikan sepeda motornya tepat didepan pagar yang cukup mewah itu. Dita harus membunyikan bel penanda ada tamu berkunjung. Namun ia tak melakukan itu, ia mencoba mencari pembelaan dengan menelepon Samuel.
Nada dering Samuel pun berbunyi, segera Sam mengambil handphonenya dan melihat nomor si pemanggil adalah milik Dita yang sudah masuk dalam daftar kontak handphonenya.
"Ia Dita,? kamu jadi datang dik??" tanyanya tanpa mengucapkan kata "hallo".
"Ehm, jadi kak. Aku udah didepan rumah kakak, aku gak berani masuk tanpa kakak. Kemarilah kak!" kata Dita memohon. Tanpa pikir panjang, Samuel langsung bergerak dan berjalan keluar dari kamarnya. Dengan cepat ia menuruni anak tangga menuju gerbang rumahnya. Namun, langkahnya terhenti ketika melewati kamar orangtuanya.
"Loh, Sam. Kamu gak kerja??" tanya Mamanya dengan heran pada saat ingin naik keatas memeriksa kondisi Barry.
"Gak Mah, aku lagi butuh istirahat. Aku masih lelah dan mengantuk. Jadi, aku mengambil cuti." jawab Sam.
"Owh, begitu. Jadi, ini kamu mau kemana? kok buru-buru??" tanya sang Mama balik.
"Oh itu! teman Barry datang, aku mau buka gerbang."
"Laki-laki atau perempuan!?" Mamanya malah seakan ikut melirik kearah pintu rumah yang bisa tembus melihat kearah gerbang.
"Perempuan Mah, kenapa? kok nanya nya gitu banget!?"
Sam dan mamanya pun membuka gerbang. Nampaklah Dita yang berdiri menunggu pintu gerbang itu bergeser, Dita terkejut melihat Samuel malah datang bersama dengan orangtuanya. Dita seketika gugup dan gegabah, namun dengan spontan ia masih bisa menyapa dengan ramah.
"Shalom tante, saya Dita." katanya dan mengulurkan tanganya kearah wanita paruh baya itu. Namun, Bu Sarah malah memalingkan wajahnya seakan tak ingin membalas jabat tangan Dita.
"Kamu siapanya Barry?"
"Mamah, kalau ada tamu, disuruh masuk dulu. Nanti ngobrolnya didalam. Tumben mama jutek begini.!" kata Samuel heran dengan sikap sang Mama. Bu Sarah segera memutar badannya dan berjalan terlebih dahulu kedalam rumah dan meninggalkan Sam dan Dita.
"Ehm. Ayok dik Dita, ayo masuk.!"kata Sam. Namun, Dita ragu untuk melangkahkan kakinya. Ia syok dengan sikap Mama dari kekasihnya itu.
"Udah gak-papah, Mama kami sebenarnya orang yang ramah kok. Mungkin aja dia terkejut kalau Barry memiliki teman wanita. Selama ini Barry tak pernah membawa wanita spesial kedalam rumah ini." bujuk Sam agar dita mau masuk kedalam rumahnya.
"Baik kak." jawab Dita ragu, dengan perlahan ia melangkahkan kakinya kedalam rumah itu. Walau sudah pernah kesana, Dita tetap merasa gugup karna harus bertemu dengan Mama Barry. Sebagaimana yang ia ketahui, jika orangtua seorang laki-laki cukup berada dan kaya, biasanya akan judes, cuek, pemilih bahkan tak jarang sombong.
__ADS_1
"Oke ya dik Dita, kamu tunggu disini, biar aku panggilkan Barry keatas. Sebentar ya.!!" Samuel langsung meninggalkan Dita setelah ia duduk di sofa, bagian ruang tamu rumah yang cukup besar itu. Tiba-tiba sosok yang ditakuti Dita muncul lagi dari dalam kamar tak jauh dari Dita duduk.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya tadi.?" kata Bu Sarah sedikit menekan nada bicaranya dan duduk berhadapan dengan Dita.
"Saya temannya Barry, tante. Saya ingin menjenguknya karna kak Samuel bilang, ehm, Barry sakit." jawab Dita gugup.
"Darimana kamu kenal Samuel?? apakah kamu sudah cukup lama mengenal Barry, sampai kakaknya pun kenal denganmu!!?" jawab Bu Sarah, tiba-tiba bersikap sangat judes. Beliau juga memandang Dita dari ujung kepala smapai ujung rambut. "Polos." ucapnya lagi dalam hati.
"Ehm. Saya kenal kak Sam dari Kak Lyli tante. Kak Lyli adalah kakak angkat saya. Saya berasal dari desa yang sama dengan kak Lyli. Jadi, Saya beberapa kali mengobrol dengan Kak Sam ketika Kak Sam datang berkunjung kerumah Lyli.
"Lalu, darimana kamu bisa kenal dengan Barry!?. Apakah kamu kuliah??" tanya Bu Sarah dengan cepat. Dita meneguk air liurnya, tiba-tiba saja tenggorokannya kering. Pertanyaan Bu Sarah membuat Dita tersentak. Tapi Dita berusaha tenang dan akan tetap bersikap jujur.
"Ehm. Saya gak kuliah tante. Saya bekerja disebuah perusahaan bagian marketing. Saya kenal Barry, ketika saya bekerja tak jauh dari lokasi kampus dimana Barry kuliah tante."
Mendengar jawaban itu, Bu sarah manarik nafas dalam-dalam bermaksud membuat Dita patah semangat dan menyerah.
"Saya tidak suka anak saya dekat dengan kamu. Saya tidak pernah mengizinkan anak bungsu saya itu berpacaran. Saya tidak menyukai kamu. Sebelum Barry turun dari atas, sebaiknya kamu pulang saja. Kamu jauhi anak saya. Paham!" sentakan ucapan terakhir itu membuat Dita hampir pingsan, ia tak sanggup menjawab ucapan yang sebenarnya menurutnya sangat kasar itu. Tiba-tiba Dita berkeringat dan tangannya kaku. Jelas terlihat jika ia ketakutan dan ingin langsung pergi menghilang dari hadapan Bu Sarah.
Dita tak menyangka, Mama Barry benar-benar galak. Dugaannya benar dan tak meleset sedikit pun. Tak ada pembelaan yang bisa ia ucapkan. Ia melirik sekejap kearah kamar Barry yang belum juga muncul bersama dengan Samuel.
"Baik tante..," ucapnya menunduk dan langsung berdiri. Ingin rasanya ia berteriak mengeluarkan isi hatinya.
"Galak banget sumpah!! ngeri banget, serem, judes!!"
Bu sarah menghela nafas lega, gadis yang di bentak nya, baru saja pergi ketakutan seperti itu. Dita hampir melangkahkan kakinya melewati pintu. Tiba-tiba namanya dipanggil dan suara itu menghentikan langkah kakinya.
"Dita...! tunggu!!! Dita....!?" teriak Barry memanggil. Segera Barry menuruni anak tangga dengan cepat. Hal itu membuat Sam sedikit khawatir. Ia heran mengapa bisa Dita langsung ingin pulang seperti itu. Sam melirik kepada Mamanya yang terlibat cuek dan santai. "Hm! ulah Mama!" ucapnya.
Barry menarik tangan Dita dengan lembut, namun Dita tak ingin menoleh.
"Aku senang kamu datang Dit!! kok mau langsung pulang aja??"
"Gak-papah Barr, tiba-tiba aku di telepon dari kantor." ucapnya beralasan. Namun, air mata Dita sudah mengalir tak kuasa akan perlakukan Bu sarah terhadapnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa nangis?? Dita, ada apa!? kamu kan baru sampai disini kok udah nangis. Seketika rasa senang Barry hilang, ia tak mengerti lalu memandang kearah sang Mama.
Barry tahu sekarang. Tentu Mamanya sudah mengatakan sesuatu yang membuat Dita kecewa. Barry tahu jika pasti mamanya melarangnya untuk dekat dengan seorang wanita.