
Dimas dan Reno duduk disamping Ibu dan Bapaknya yang sedang asyik duduk santai menikmati waktu setelah makan siang. Dimas memutuskan untuk memberitahukan jika Lyli akan datang membawa sang adik kandung yang bertahun-tahun telah hilang. Dimas harus bisa memberitahukan saat ini juga karna keluarga sang adik sudah dalam perjalanan.
"Bu, Dimas boleh nanya gak??" tanya Dimas setelah menghela nafas.
"Bisa dong nak, kamu kayak mau bicara sama pejabat saja sampai harus minta izin dulu untuk bertanya." kata sang Ibu tersenyum seakan meminta pendapat kepada sang suami.
"Bu, Pak..., ehm seandainya saja Valentino datang kerumah ini karna ia mencari orangtua kandungnya, Ibu dan Bapak senang gak?!" tanya Dimas sedikit ragu.
Ibu dan Bapaknya terdiam lalu tersenyum pasrah.
"Ah, gak mungkinlah nak..., itu sekarang sangat mustahil." ucap Pak Dimas
"Iya nak, Ibu sekarang pasrah saja. Udah ikhlas nak kalau adik kamu itu tidak akan pernah bertemu dengan kita lagi. Ibu hanya berharap ia disana sehat dan dilindungi kehidupannya." jawab sang Ibu menghela nafas sembari ia melirik foto yang ada didinding.
"Lagian kok bahasnya soal Tino nak, tumben..," tanya pak Dimas.
"Teringat saja pak, kebetulan Dimas melihat foto adik di dinding itu." tunjuk Dimas lalu saling pandang kepada Reno.
"Kalau aku sih tentu sangat ingin sekali adiklah yang datang menemui kita suatu hari nanti Bu. Kan kalau kita sulit mencari keberadaannya. Jadi, aku percaya Tuhan beri anugerah pada adik untuk bisa menemukan kita." lanjut Reno. Ibu dan Bapak mereka saling padang dan tiba-tiba saja sedih. Mereka tentu sangat ingin hal itu. Namun merasa hal itu mustahil mereka memilih untuk pasrah.
"Nak jangan bahas itu, lihat Ibumu jadi sedih." kata Pak Dimas tak tega melihat raut wajah sang isteri. Dimas dan Reno tertunduk ikut merasa sedih.
"Nanti Ibu akan merasa wanita paling sempurna didunis setelah Valentino memeluk Ibu...," ucap Dimas dalam hati. Dimas memeluk sang Ibu agar hatinya kembali lega.
"Ini semua karna Ibu..., saat itu Ibu gak bisa menjaga Tino dengan baik. Anak malang itu malah terlepas dari perhatian Ibu. Maafkan Ibu.....,,!" tiba-tiba Ibu wani menangis, merasa bersalah akan masa lalu yang begitu kelam. Hal itu membuat Dimas dan Reno kebingungan.
"Bu jangan begitu, tak ada yang salah ketika itu. Jangan sedih dong Bu...!" ucap Reno tak tega.
__ADS_1
"Ibu, Bapak. Hari ini Valentino akan datang kesini bersama dengan Kak Lyli. Percayalah apa yang kalian katakan mustahil itu akan menjadi doa yang terkabul...!!" ucap Dimas langsung memeluk Ibu dan Bapaknya secara bersamaa. Spontan Reno juga ikut berpelukan.
"Apah!!! Dimas jangan bercanda!!!" teriak sang Ibu tak percaya namun seakan berharap itu kenyataan.
"Benar Bu...!! Valentino sudah dalam perjalanan kesini. Ibu merindukannya kannya kan. Apa yang Dimas katakan itu kenyataan Bu."
"Dimas jangan membuat harapan yang aneh pada Ibu dan Bapak!?. Itu tidak lucu?!." ucap Pak Dimas sedikit kesal.
Tiba-tiba saja sebuah mobil didepan rumah mereka. Sepertinya itu mobil dari keluarga adik bungsunya. Segera Reno berlari kedepan rumah.
" Itu mereka Bu! Pak! Dimas gak becanda. Dimas memberi tahu jika harapan tidak pernah hilang dan harinya telah tiba." kata Dimas.
Ibu dan Bapaknya saling tatap, jantung mereka berdetak kencang seakan percaya pada ucapan Dimas.
Wanita yang sudah berumur 55 tahun itu menepuk-nepuk dadanya yang tiba-tiba saja nyeri. Sang Bapak merasa tangannya gemetar seakan tak sanggup jika itu benar.
"Om, Tante?!. Ini rumah Keluarga Lyli. Ayo masuk...," ucap Lyli dengan lembut. Dita dan Barry saling pandang mengikuti langkah sang kakak. Samuel dan kedua orangtuanya saling tatap lalu mengikuti langkah Barry menuju pintu rumah yang sudah disambut dengan senyuman oleh Reno.
"Silahkan masuk Om, Tante,," sapa Reno dengn menunduk dan menjabat tangan orangtua yang sudah mengasuh adik bungsunya selama bertahun-tahun. Tak lupa setelah itu Reno memeluk Barry untuk kedua kalianya.
"Salam dik..., selamat datang dirumah asli kamu. Semoga kamu nantinya betah disini."bisiknya begitu bahagia.
"Makasih kak Reno, aku bahagia sekali akhirnya bisa tiba disini juga."
Barry menghentikan langkahnya tepat dipintu. Ia memandang ke seisi rumah yang beberapa minggu lalu sudah ia injakkan. Namun kali ini rasanya sangat berbeda. Tiba-tiba saja seakan ada sebuah aura yang melintas didepannya, seakan ada kenangan yang tergambar dibenaknya.
Walaupun rumah itu sudah mengalami renovasi, tetap saja Barry bisa merasakan seakan pernah bermain disebuab rumah kecil beralaskan semen polos dan bentangan tikar. Dadanya tiba-tiba berdatak kencang, ia merasa sesuatu telah terobati dibagian titik nyeri yang beberapa kali merusak pikirannya.
__ADS_1
"Ayo dik,, sambut Ibu dan Bapak kamu?!" sambut Dita menepuk dada Barry yang kaku.
"Eh ii-ia,, ia Dita,,." gumamnya.
Ayah dan Mamanya saling menatap, menghela nafas panjang seakan siap menerima keadaan apapun yang terjadi.
Tiba-tiba saja, dari balik ruang tengah muncul sosok wanita yang cukup mirip dengan Barry muncul bersama seorang laki-laki berusia 56 tahun bertubuh sedikit gemuk dan berjalan lambat dipapah oleh Dimas sang kakak pertama.
"Bu, itu Valentino,,, anak Ibu udah dewasa. Pria gagah yang berbaju merah itu anak bungsu Ibu,,," bisik Dimas menunjuk kearah Barry yang terpaku didepan pintu.
Ibu Wani terdiam seribu bahasa, ia tak mampu bicara. Ia hanya menatap suaminya yang juga menatap tajam dirinya.
"Ia Pak, jangan ragu. Lihat bukankah Valentino itu mirip dengan Ibu. Lihat saja baik-baik, ia juga mirip dengan Reno,,. Dia Valentino putra ketiga Bapak!!."
"Nak jangan bohongi Ayah. Bukankah disana ada Samuel dan Lyli. Begitu juga dengan Dita. Apakah Lyli mau menikah?!. Apakah itu orangtua Samuel,teman dekat adik kamu Lyli,,," jawab Pak Dimas begitu polos, namun air matanya tak bisa membohongi perasaannya.
Ibu dan Bapak itu berdiam diri ditempat tak sanggup melangkah menyambut tamu yang sudah beberapa menit ada dipintu rumah. Hal yang tak boleh dilakukan oleh tuan rumah tak mengizinkan tamu untuk masuk.
Melihat Ibu dan Bapaknya tak sanggup menyambut dirinya, Barry memutuskan yang lebih dulu berjalan kearah mereka. Segera Barry mempercepat langkahnya. Namun waktu seakan memperlambat detik-detik langkah Barry. Yang lain memandang momen haru yang akan terjadi.
"Ibu....!!! Bapak....!!! Aku kembali....!!!!" Barry langsung memeluk kedua orangtua kandungnya secara bersamaan. Dengan spontan Dimas menhauh dan membiarkan Barry leluasa memeluk orangtua yang sudah sangat ia rindukan itu.
"Tunggu!! tunggu!! bukankah kamu teman Dita yang beberapa minggu lalu kesini?!" tanya Ibu Wani heran. Ia masih tak percaya, semuanya masih seperti sebuah drama yang seakan dirancang oleh anak-anaknya demi membuat mereka senang.
"Ia Bu, aku saat itu sengaja meyakinkan diriku jika aku adalah adik dari kak Lyli. Ternyata semua dugaanku benar Bu. Aku sudah lama mencari siapa aku sebenarnya di keluarga yang membesarkan aku. Aku sadar Bu, ternyata mereka bukanlah orangtua kandungku. Sejak saat itu aku memutuskan untuk mencari kalian, orangtua kandungku,,," bisik Barry masih saja tak melepas pelukannya pada kedua orangtuanya.
Bu Sarah dan Pak Anwar saling tatap lalu menunduk. Sam dan Lyli sangat terharu,ia biarkan Barry memeluk orangtuanya. Dita merasa lega, akhirnya apa yang diimpikan oleh Barry kenyataan.
__ADS_1