Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Sesuatu yang hilang tentang Rasa


__ADS_3

Pagi-pagi sekali tepatnya pukul 07:00 terlihat Dita sedang membereskan Ruangan kantor nya yang tak sempat ia rapikan sebelumnya. Ia takut terkena tegura dari bosnya lagi. Ia pulang ke kost nya sudah pukul 22:00 setelah diantar oleh Barry. Ia langsung tertidur dan lupa untuk memberi laporan hasil pekerjaan nya lewat telepon. Ia sangat lelah dan mengantuk saat itu. Walau masih terlihat mengantuk dan mulut selalu menguap Dita menemui Bosnya dan memberi langsung laporannya. Untung saja bosnya sedang suasana baik jika tidak habislah Dita disembur dengan cerewet khasnya.


Setelah mendapat beberapa jadwal lapangan. Dita menyusun Barang-barang untuk diantar kebeberapa toko yang sudah ia list namanya. Ia tak ingin Gagal lagi dan lebib teliti dengan alamat pelanggannya.


"Buru-buru amat Dit.Sesekali istirahat Dit." Suara itu membuat Dita berhenti mengangkat barang ke motornya dan memandang siapa yang baru saja berkata itu.


"Eg Rina. Kamu rupanya. Tumben datangnya cepet biasanya paling lama."


"Ia Dit. Takut kenal omel sama Buk Bos"


"Gak akan. Suasana hatinya lagi baik. Jadi aman lah" kata Dita sambil ia memakai helmnya bersiap untuk gerak.


"Ia Dit. Baguslah. Aku takut jauh dari target bulan ini. Gaji aku hampir dipotong sama Buk Bos kemarin karna katanya Aku harus lebih semangat agar tak harus memotong gaji. Padahal gajinya mau aku kirim ke kampung buat uang sekolah adik aku Dit." kata Rina bersandar ke motor Dita membuat Dita tak bisa pergi. Mendengar keluhan temannya itu Dita ikut prihatin.


"Udahlah Rin. Kamu kan bisa pakai Duit aku dulu. Jangan nyerah gitu dong."


Rina memandangi temannya yang sudah beberapa kali membantunya itu. Rina merasa selalu merepotkan Dita yang selalu ada untuknya disaat susah seperti ini. Dita adalah wanita yang tak begitu boros jadi ia selalu memiliki simpanan yang suatu saat selalu bisa ia gunakan saat temannya dalam kesusahan. Sejak Rina mengenal Dita ia tau Dita anak yang mandiri dan kuat Ia ingin selalu meniru Dita yang sudah dikenalnya 1 tahun yang lalu saat Dita pertama kali bekerja di tempat ia juga bekerja.


"Hei Rina. Kok bengong sih. Gak usah seggan dong. Aku akan bantu kamu kok selagi aku bisa. Kamu juga kan udah baik sama aku dulu kamu sering ajarin aku tentang pekerjaan ini hingga sekarang aku mahir." Dita menyalakan sepeda motornya lalu memberikan uang pada rina sebesar 300.000. Rina sangat senang dan bahagia. Lalu memeluk Dita.


"Ia ia. Kapan geraknya aku ini?" Dita tertawa.

__ADS_1


"Oh ia Dit.. hehe Makasih banyak ya Dit"


Rina pun melambaikan tangan pada Dita yang melaju dengan motor matic nya.


Dita dengan semangat melajukan maticnya dan pergi menuju toko langganan tetapnya. Dita tak pernah lelah dan selalu tersenyum menyapa pelanggannya. Bahkan pelanggannnya selalu menunggu Dita untuk tiba di tokonya masing-masing. Walau Dita membawa barangnya kesana dan kemari dan berhadapan dengan matahari langsung, Dita tetap saja cantik dan putih. Kadang teman-temanya iri dan heran melihat Dita. Selalu kerja lapangan namun tak seperti orang lapangan. Padahal teman-temanya banyak mengeluh.


"Bisa-bisa gosong aku ini kalau dilapangan musim panas gini"


"Dita mah enak di jemur di matahari pun tetep aja putih dan cantik" terkadang Dita hanya tersenyum menyikapinya. Ia hanya bersyukur akan hal itu Dita juga selalu menjaga kesehatan kulitnya dengan selalu memakai jaket dan sarung tangan agar nyaman saat di lapangan. Terkadang juga ada beberapa koko pemilik toko menggodanya sekedar mengobrol. Dita pandai menyikapi itu sehingga tak ada yang berniat buruk padanya.


Dita sedang menurunkan barang dari motornya untuk dibawa kedalam toko yang sudah menandatangani pemesanan barang. Koko itu memerhatikan semangat Dita. Lalu sebuah sepeda motor berhenti tepat disamping motornya. Dita tak terlalu mempedulikan orang itu.


"Dita..??" Tanyanya. Dita menoleh lalu terkejut.


"Gak baik Gadis cantik ngangkat barang berat"


"Aduh Bar. Jadi repotin kamu"Kata Dita sebenarnya enggan. Barry hanya tersenyum.


"Koko kok biarin sih cewek Cantik ngangkat barang. Bantuin dong ko kalau Dita yang turunin barangnya"Kata Barry pada Koko keturunan cina itu yang malah tersenyum.


"Pacarnya ya Dit.." tanya nya.

__ADS_1


"Eh ko... Gak kok. Temen. Aku aja gak tau tiba-tiba ada Dia disini" Kata Dita polos dan malu.


"Cocok ya ko Ditanya sama aku nih" Barry yang sebenarnya masih pertama kali kedaerah itu bisa langsung dekat dengan sang pemilik toko. Dita hanya menganggukan kepala dengan sikap keduanya.


"Sebenarnya kamu kesini ngapain Bar. Kok bisa sampai kesini sih??"


"Tadinya mau kerumah Dosen Dit. Rumahnya tak jauh dari sini. Aku hanya singgah mau beli masker aja. Eh malah liat kamu tadi dari seberang jalan. Jadinya singgah deh."


Dita yang mengobrol bersama Barry sambil mencatat beberapa hal penting di bukunya lalu mengucapkan pamot pada si Koko yang selalu memerhatikan Barry dan dirinya.


"Udah ah Ko,, jangan liat gitu dong. Malu. Dita pamit ya Ko. Minggu depan order lagi ya barangnya" Kata Dita bersiap meninggalkan toko itu.


Barry mengikutinya setelah tersenyum oada Koko itu. Dita seakan cuek terhadap dirinya karna Dita fokus dengan pekerjaannya.


"Udah ya Bar. Aku lanjut,, Masih ada 1 toko lagi yang harus aku kunjungi. Sory ya gak sempat ngobrol lama sama kamu."


Terlihat wajah kekecewaan pada Barry dan berusaha cari ide untuk itu.


"Eh Dita,, Tunggu dulu. Boleh ya aku minta nomer telepon kamu atau apa gitu yang bisa aku gunain buat hubungin kamu. Kapan-kapan mana tau aja kita bisa ketemu lagi."


"Ohh ia Bar. Ini Bar"kata Dita mengeluarkan kartu namanya dan memberikan pada Barry. "Aku langsung gerak ya Bar."Lanjut Dita sambil ia memasang helm di kepalanya.

__ADS_1


"Ia deh Dita. Hatu-hati ya Dit."Barry tampak kecewa walau dengan senyuman sambil melihat Dita menghilang dari hadapannya. "Sepertinya ia benar-benar sibuk. Ngobrol 5 menit aja susah amat. Tapi tak apa lah. Udah ada nomor teleponnya sekarang." Barry melangkahkan kakinya pada motor gedenya lalu bergerak untuk pulang.


Barry sudah lama menunggu saat dimana ia akan bertemu dengan Dita. Walau sempat ia berhenti mencari Dita, tapi didalam benaknya masih selalu yakin mereka akan bertemu. Namun tak menyangka dengan situasi seperti ini.


__ADS_2