
Samuel tiba didepan kos Dita dengan cepat. Segera ia berlari menuju kamar Dita. Diketuknya pintu yabg tertutup rapat itu dengan panik.
"Dita...! dik Dita....!!??" teriaknya namun tak ada balasan.
"Duh mana nih Dita...!!?" katanya lagi mencari kesekitar kamar, namun tak ada juga. Tiba-tiba Dita keluar dari arah belakang yang baru selesai menjemur pakaian dan masih menggengam ember kecil ditangan kanannya. Sebenarnya ia tak biasa menjemur pakaian di malam hari.
"Loh, kak Sam...!? ada apa? kenapa malam-malam kesini?" tanya Dita heran.
"Dita, ayo cepat ikut kakak kerumah..! Barry lagi sakit dan katanya cuma kamu yang bisa sembuhin dia..!" kata Sam panik.
"Apah!?? Barry sakit lagi!!?" kata Dita terkejut. Namun seketika ia menunduk, ia sudah berjanji pada dirinya untuk sementara tidak ingin menginjakan kaki dirumah Barry karna sikap orangtua mereka.
"Ayokk Dita ..!!! tunggu apa lagi.?"
"Aku gak bisa kak. Aku gak mau nanti Mama kalian membentakku lagi."
"Aduh Dita, jangan pikirkan hal itu dulu. Kamu mau Barry kenapa-kenapa!!. kata Barry, kamu yang bisa bantu dia. Ayolah, nanti masalah suka tak sukanya orangtua kami, biar kakak yang urus.!!
Setelah berpikir beberapa saat, akhrinya Dita mau ikut. Segera Sam membawa Dita kerumahnya. Namun selama perjalanan Dita tidak terlalu bersemangat setiap mengingat wajah bu Sarah. Namun setiap kali ia membayangkan Barry membutuhkan pertolongannya, ia ingin segera tiba melihat kondisi kekasihnya itu.
Mereka pun tiba dirumah, segera Sam memarkirkan motornya lalu membawa Dita kedalam rumah. Tampak disana barry masih terbaring tak sadarkan diri dan Sang Mama masih mengusap-usapkan kening Barry agar bisa sadarkan diri. Namun hal itu belum cukup untuk membangunkan Barry. Sang ayah hanya memerhatikan Barry sembari menunggu Sam datang membawa dokter.
Sang Mama pun menoleh, melihat Sam sudah datang. Namun merasa heran karna, bukan dokter yang dibawah olehnya namun Dita, wanita yang tidak beliau sukai.
"Sam...! kamu bilang manggil dokter, kenapa malah membawa gadis itu. Kamu masih waras gak sih.!!?" kata mamanya kesal. Sam bersikap cuek dan tetap membawa Dita mendekat pada Barry. Sang ayah tiba-tiba berdiri ketika Sam dan Dita sudah dekat.
"Inikah gadis yang membuat Barry sekarang lebih sering berbohong!?"
Dita berusaha menahan rasa kecewanya,ia menunduk dan hanya bisa memerhatikan Barry. Ia tak tega melihat Barry terbaring lemas seperti itu. Hatinya sakit, ingin sekali ia membangunkan Barry.
Samuel memandang sang ayah dengan penuh kesal.
"Jika ayah atau pun mama gak suka sama Dita, lihat apa yang dilakukan Dita demi anak bungsumu ini!!
Samuel menyuruh Dita untuk membantu Barry dan memberikan kesempatan untuknya agar bisa membuat Barry sadar. "Gak usah dengarin orangtuaku Dita.., obati saja Barry." kata Sam
__ADS_1
Kedua orangtua itu terdiam sejenak, memerhatikan tindakan Dita.
Dita pun menekuk kakinya dan mendekatkan dirinya pada Barry yang terbaring lemah di sofa. Seluruh tubuh terasa dingin, wajahnya pucat dan Dita tahu Barry sebenarnya sedang menahan rasa sakit dibalik ketidaksadarannya.
"Barr, aku disini untukmu. Bangunlah Barr, ini aku Dita. Kamu jangan gini dong Barr. Aku tahu kamu lagi banyak pikiran, tapi bagaimana pun kamu harus bisa kendalikan aura alam bawah sadarmu Barr. Kamu pasti bisa." Dita mengelus kening Barry dan memegangi tangannya dengan erat.
Dalam beberapa detik saja, perlahan Barry menggerakkan tangannya. Barry juga perlahan membuka matanya dan ia mencoba menghela nafasnya. Ia rasakan Dita menyentuh keningnya dan menggenggam tangannya. Barry pun tersadar.
Ayah dan Mama mereka kaget. Bagimana mungkin gadis yang dibenci mereka malah bisa dengan mudah membangunkan Barry dan bisa membuat Barry sadar dalam hitungan detik.
Samuel juga terbelangak, ia tak tahu jika adik angkat kekasihnya itu memiliki kelebihan yang luar biasa. Ia tak pernah menduga hal itu sebelumnya.
"Dita.., kamu disini?" kata Barry masih lemas.
Dita tersenyum dan semakin menggenggam erat tangan Barry berusaha menutupi kegugupannya didepan kedua orangtuanya itu.
"Dadaku masih sedikit sakit, tapi makasih Dita, kamu membuatku lebih enakan sekarang."kata Barry berusaha untuk duduk.
"Jangan duduk dulu Tian, berbaringlah dulu, sampai kamu lebih fit." kata sang mama mendekat pada Barry tepat disamping Dita. Dita segera berdiri dan menjauh.
"Kalau begitu, aku izin pulang ya Barr, kak Sam." kata Dita menundukan kepala bermaksud melangkah keluar. Namun tiba-tiba Sam memegang tangan Dita.
"Kamu jangan kemana-mana dulu Dita...,
Bagaimana Mah, Ayah.., masih melarang Barry dekat dengan Dita.??" tanyanya memandang kedua orangtua mereka.
Barry menguatkan dirinya untuk bisa duduk agar lebih leluasa berbicara.
"Ia Mah, jangan larang aku untuk menjalin hubungan dengan Dita. Aku menyayanginya Mah dan Dita adalah orang yang ku butuh sekarang ini."
"Jadi kuliahmu bukan hal yang kamu butuh??" jawab sang Ayah.
"Ya, kalau itu adalah kendalanya. Aku janji akan lebih cepat menyelesaikannya Yah..," kata Barry berusaha meyakinkan dirinya.
"Kamu boleh bersamanya asalkan setelah wisuda, kamu ambil S2 disana." sambung sang Mama.
__ADS_1
Barry kaget dan tak menyangka berada di dua pilihan yang menyudutkan dirinya.
"Mama dan Ayah kenapa ingin sekali aku ke London. Bukankah kalian menyayangiku!? tapi kenapa malah ingin aku jauh dari rumah ini..,?"
"Ayah ingin yang terbaik denganmu."
"Aku rasa yang terbaik, tak harus pergi jauhkan Yah..." sambung Samuel.
"Ada hal yang tak bisa kalian pahami dan kalian mengerti..! jadi Sam berhentilah membela Barry." bentak sang Ayah lalu pergi menarik tangan mama mereka menuju kamar.
Kedua orangtua itu meninggalkan mereka. Hal itu semakin menunjukan adanya keganjalan tentang hidup Barry yang harus perlu di ungkap.
"Bibi pergilah kedapur, kami mau mengobrol sebentar."kata Sam menoleh ke bibi yang dari tadi masih mematung menunggu perintah disuruh oleh semua majikannya.
"Oh, baik nak..," kata bibi menurut dan pergi.
"Aku rasa, mama dan ayah itu lagi berusaha menutupi identitasmu Barr.." kata Samuel.
"Mungkin kak, jadi harus gimana. Aku masih bingung bagaimana mencari tahu kebenarannya tanpa harus bertanya langsung pada Ayah dan Mama tentang diriku." kata Barry
Ia sudah mulai merasa tubuhnya lebih ringan dan kepalanya sudah tidak pusing lagi.
"Bukankah lebih baik jika kita mencari tahu tentang siapa yang pernah hadir dihidupmu Barr ketika kamu masih kecil Atau mungkin kita bisa cari informasi dari orang-orang yang sudah mengenal orangtuamu sejak dulu." usul Dita.
"Ya, aku setuju dengan Dita Barr, ehmm.., bagaimana jika kita kerumah kakek saja..!" ujar Sam memberi sulosi.
"Kakek yang mana Kak..!? kan kita sudah tidak memiliki kakek baik dari Mama maupun dari Ayah."
"Ya itu aku tahu.., maksud aku kakek yang dulu pernah menjadi tetangga kita waktu kita masih tinggal didekat proyek pertama Ayah yang membangun perumahan didaerah Wonosari..!"
Barry pun mencoba mengingat, ketika mereka masih tinggal di rumah sederhana ketika mereka masih SD disebuah desa tak jauh dari pinggir kota.
"Ya..! aku ingat kak. Waktu kita masih SD kan? ketika itu, kakek yang selalu sayang sama kita setiap kita bermain kerumahnya..!" seru Barry semangat menemukan usulan yang luar biasa.
Dita menatap Barry penuh bahagia, sebentar lagi beban kekasihnya itu akan hilang. Dan itu akan membuat Barry tidak merasa sakit lagi.
__ADS_1