Masa Lalu Yang Tersembunyi

Masa Lalu Yang Tersembunyi
Merasakan sesuatu


__ADS_3

Kristian Barry baru pulang dari minimarket dengan beberapa makanan ringan di dalam plastik yang ia pegang. Ia. Ia memasuki rumah dengan santai tapi tidak memerhatikan seluruh isi rumah. Sekilas matanya tertuju keruang tamu, ia melihat ada Sam dan Lyli sedang duduk mengobrol bersama dengan kedua orangtua mereka. "Kapan datangnya, perasaan aku ke minimarket cuma 10 menit." gumamnya penasaran. Ia pun menghampiri ruang tamu tersebut. Hal yang jarang ia lakukan jika kekasih dari Kakaknya itu berkunjung kerumahnya. Biasanya yang ia lakukan cuek lalu masuk kedalam kamar.


"Bahas apa Mah, Ayah?" tanyanya lalu duduk tak jauh dari mamanya. Sam heran dengan sikap Barry, Sam mengerutkan sedikit keningnya. Lyli menghela nafas berusaha ramah.


"Hai Barry, apa kabar?"


"Baik kak," ucapnya singkat. Ayah dan Mama mereka saling pandang.


"Ehm. Nak Lyli hanya singgah tadi karna Samuel mau ngasih surat Undangan temen kantor mereka yang kebetulan Ayah dan Mama kenal."


"Owh, gitu" kata Barry singkat. Tak ada perbincangan disana. Sam sangat memerhatikan tingkah Barry dengan seksama. Ia menahan pertanyaannya tak ingin berdebat didepan Lyli dan kedua orangtuanya. Sam sebenarnya ingin sekali mengatakan kenapa Barry menghampiri mereka saat ada Lyli, hal yang janggal baginya.


"Yaudah Mah, Ayah. Aku balik kamar dulu, Eh ngomong-ngomong mau jajanan aku gak? tadi aku beli di mini market."ucapnya sudah berdiri.


"Mama mau, beli apa emang Tian?" Mamanya mengecek plastik putih yang Barry pegang lalu mengambil 2 bungkus makanan ringan yang diminatinya.


"Gak ada lagi yang mau nih, Ayah??"


"Gak ah, Ayah masih kenyang" jawab sang Ayah.


"Kak Sam, Kak Lyli mau??" Barry mengarahkan plastik kearah mereka yang duduk berdampingan.


"tidak, terima kasih" jawab Lyli ramah.


"Sok deket aja" jawab Sam sedikit kesal, malah merasa jengkel dengan sikap Barry.


"Yaudah deh, aku pergi dulu." jawab Barry beranjak dan meninggalkan mereka. Sesekali Barry menoleh, seakan ingin berdiam disana dan ikut mengobrol bersama dengan Lyli. Namun pandangan Sam yang seakan tak suka membuatnya tak nyaman berlama-lama disana.


"Ehm, bilang itu aja kan Sam. Ayah dan mama masuk kamar dulu. Kalian mengobrollah disini. Ayah sudah mulai ngantuk." kata sang Ayah beranjak berdiri sambil mengajak mama mereka.

__ADS_1


"Ia Sam, mama juga. Jangan lama-lama loh antar Lyli pulang. Liat jam itu udah hampir jam 9 malam." Kata mamanya mengikuti sang suami yang sudah duluan berjalan menuju kamar mereka.


"Iah Mah, ini juga mau balik. Baru juga berapa menit sampe" kata Sam mengangguk.


"Jadi, kita balik nih??" tanya Lyli.


"Keinginanmu???"tanya Sam menatap.


"Bentar lagi ajah.,, Kenapa tadi natap Barry gitu banget sih."


"Emang kenapa, Aku heran aja. Biasanya dia gak pernah nyamperin kita kalau lagi ada kamu dirumah. Kok tadi datang. Jadi kesal aja sok deket gitu." Kata Sam merebahkan punggungnya ke sofa. Ia meluruskan kakinya seakan lelah. Lyli menatap dengan seksama.


"Cuma karna itu?? harusnya bagus dong, dia mulai mendekat sama kamu. Mulai mau menyapaku. Suatu saat juga aku dan dia aka sering menyapa jika aku jadi bagian dari keluarga ini."


"Kalau kamu bagian dari keluarga ini, kita tidak akan tinggal disini. Kita akan tinggal dirumah yang udah aku rencanain akan beli tahun depan." Sam memejamkan matanya.


"Kenapa tahun depan?" Lyli heran menatap serius Kekasinya itu walau sedang menutup mata sembari merebahkan punggungnya ke sofa.


"Aku gak mau kalau emang sama kamu tapi hubunganmu tak baik dengan Barry." Lyli sedikit cemberut namun senang dengan keseriusan Sam untuk menikahinya.


"Jangan kayak anak kecil dong Ly, dari dulu aku sama Barry emang gitu kok. Udahlah, jangan bahas soal dia dan dia lagi. Gak ada gunanya tau gak,!" Sam membuka matanya dan menatap Lyli dengan serius.


"Tapi bagi aku ada gunanya. Aku gak mau nanti punya adik ipar tapi, tapi harus jaga jarak dan hanya karna kamu aku tidak bisa nyaman dengan keluargamu."


"Ya udahlah, apa salahnya sih, anggap biasa aja Ly. Jangan dong hanya karna Barry dan Barry lagi kita berdebat setiap hari. Capek tahu gak sih, pembahasanmu itu, itu ajah."


"Intinya itu, kalau bisa pertimbangkan kata-kata aku. Udah ah, Ayok balik. Antar aku pulang." Lyli langsung berdiri, sedikit kesal karna ia tak di gubris Sam sedikit pun. Sam mengangkat tubuhnya dengan malas, memejamkan matanya lalu meraih tangan Lyli dengan lembut.


"Tunggulah sayang, Kamu buru-buru Banget sih. Aku masih capek. Duduk di samping aku."

__ADS_1


"Sam, gak usah becanda dong, nanti mama kamu marah kalau kamu antar aku pulang kemaleman. Jam berapa lagi kamu balik nanti." kata Lyli menolak. Sam terpaksa menurut, ia berdiri dan mengusap matanya yang sudah mulai mengantuk.


"Cerewet banget sih. Untung sayang." Sam mengusap lembut rambut Lyli yang sedang digerai itu.


"Ehmmmm..," jawab Lyli basi.


Tiba-tiba Barry membuka kamarnya dan melihat sang Kakak dan Lyli yang sudah berdiri. Ia memerhatikan dengan seksama dan matanya tertuju pada kekasih sang Kakak. Ia menyandarkan tangannya di tiang putih pembatas lantai 2 itu.


"Kok rasanya semakin hari aku semakin punya hal yang rumit kupahami jika dekat dengan Kak Lyli, rasa ingin dekat dengannya membuat aku semakin bingung. Ada apa dengan aku ini.?" Barry mengusapkan wajahnya lalu memalingkan wajahnya.


Sam dan Lyli berjalan menuju pintu depan. Entah mengapa mata Lyli melihat keatas seakan ingin melihat apakah Barry disana apa tidak. Benar saja, Barry sedang berdiri disana. Sayangnya Barry sedang tak melihat kebawah karna sudah memutarkan badannya.


Barry masuk kedalam kamar dan menutup pintu kamar dengan rapat. Disalam benaknya masih banyak tanda tanya. Mengapa ia bisa sampai harus keluar kamar untuk melihat kekasih Kakaknya itu dan mengapa ia sampai harus memerhatikan Lyli dengan penuh arti.


Sam menyalakan mobilnya dan mereka pun keluar dari dalam komplek. Sam sengaja tak pamit takut mengganggu kedua orangtuanya karna merasa Ayah dan Mamanya sudah tidur. Sam mengedarai mobil itu dengan seksama dan Lyli pun tak membuka obrolan.


Lyli merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Barry. Adik dari kekasihnya itu. Lyli merasa ada yang mengganjal dihatinya ketika melihat Barry. Lyli merasa ada sesuatu yang sulit ia ucapkan bahkan sulit ia mengerti. Ia memangku tangan kanannya ke sebelah kanan pipinya. Menyandarkan kepalanya ke kursi mobil seakan berpikir. Sam memperhatikan hal yang tak biasa dilakukan oleh Kekasinya itu.


"Kamu kenapa Sayang?? Kok melamun gitu sih..?"


Lyli menjawab dengan malas. "Ehm,, gak apa-apa kok Sam."


"Jadi kenapa melamun, Kamu ngantuk??" tanya Sam lagi.


"Lumayan,," jawabnya lagi dengan lemas.


"Ya sudah, tidur aja, nanti kalau udah sampe aku bangunin." Sam kembali memerhatikan jalanan. Lyli mengubah posisi tubuhnya senyaman mungkin lalu memejamkan matanya. Ia berusaha menghapus apa yang sedang ia rasakan. Berpikir seperti itu membuat matanya lelah dan tak semangat.


Suasana malam itu membuatnya semakin lelah ditambah Sam mengendarai dengan kecepatan lambat, serasa sedikit lebih lama untuk tiba di kontrakannya. Sam merasa ada yang aneh dengan Lyli membuatnya tak tega melihat tubuh kekasihnya itu tertidur dengan cepat dalam keadaan terganggu karna didalam mobil.

__ADS_1


"Maafin aku Sayang, sudah selalu membuatmu kesal padaku. Bagaimana pun aku sangat mencintaimu. Kamu harus sabar denganku."


__ADS_2