Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 11


__ADS_3

Pov (Aisyah)


Sehabis sholat subuh aku bergegas membersihkan seluruh rumah kemudian aku membeli lauk di warteg depan kompleks diantar oleh Mas Arya. Aku membeli ayam bakar, sambel goreng ati, udang goreng tepung dan sayur asem.


Mobil pick up milik Pak Haji sudah terparkir di depan rumah, Mas Arya dibantu karyawan Pak Haji buat ngangkut lemari dan dua kardus kemarin, sisa satu buah tas jinjing dan tas ransel milik Mas Arya, akan kami bawa pakai motor. Sebelum lemari itu diangkut, segala barang simpananku sudah ku pindahkan dalam tas ransel suamiku.


Setelah Mas Arya kembali dari mengantar lemari, aku mengajaknya untuk makan.


"Tadi waktu bantu ngangkut lemari mas kasih upah gak?". Tanyaku sambil mengambil lauk untuk suamiku.


"Mau mas kasih tadi, tapi mereka tolak nanti dimarah Pak Haji kalau nerima upah dari kita". Jawabnya.


"Sebenarnya pekerjaan Pak Haji apa sih Mas, kok banyak karyawannya?". Tanyaku penasaran.


"Pak Haji itu jurangan empang dan juragan tanah, Empang beliau luas banget, tanahnya juga ada dimana - mana". Jelas suamiku.


     'Sultan palle mertuanya Fitri, pantas saja dia nda rugi kasih gratis sewa rumahnya'. Gumamku dalam hati sambil tersenyum.


"Kenapa kamu senyum - senyum sendiri?". Tanya Mas heran.


"Aku cuma senang mas dipertemukan dengan orang - orang baik". Ucapku ngeles.


"Bagus ya makan enak gak ngajak - ngajak". Tiba - tiba Rani memuncul dan langsung mencomot udang goreng dari piring kakaknya".


"Kamu Ran bukannya mandi dulu baru makan, malah langsung makan, minimal cuci muka dan gosok gigi. Anak gadis kok jorok banget". Tegur suamiku risih dengan kelakuan adiknya, begitupun dengan ku.


"Apaan sih mas, bawel banget. Mentang - mentang hari ini udah pindah, udah berani negur aku, suka - suka aku dong mau ngapain". Ucap Rani sambil memutar bola matanya.


"Ran, kalau dinasehati sama yang lebih tua jangan melawan, apa lagi Mas Arya itu kakak kandungmu". Ujarku.

__ADS_1


"Diam lu, kagak ada yang ngomong sama lu. Lu itu cuma orang lain disini. Jadi sok deh nasehatin gue". Ujar Rani sambil menunjuk ke arah ku.


BRAKK!!!..."RANI YANG SOPAN SAMA KAKAK IPARMU". Bentak Mas Arya sambil menggebrak meja. Ini pertama kali aku melihat suamiku marah selama aku menjadi istrinya. Nyali Rani jadi menciut karena reaksi suamiku, dia seperti ingin menangis.


"Ada apa ini ribut - ribut?" Tanya ibu Mertuaku keluar dari kamarnya.


"Ini Bu mereka berdua makan enak tapi gak ngajak - ngajak, dan Mas Arya udah berani ngebentak aku demi membela perempuan itu". Rani mengadu pada ibu".


     'Dasar ratu drama, dia yang salah tapi pintar banget aktingnya seolah dia yang tersakiti'. Ucapku dalam hati kemudian ke dapur mencuci piring bekas makanku dan Mas Arya.


"Memang kalian ini tidak tahu dirinya, udah bagus selama ini numpang di rumah saya. Baru bisa beli makanan kayak gini dan nyewa rumah udah belagu, paling nanti makanya tetap tempe tahu dan sayur kangkung". Cemooh ibu Mertuaku sambil tertawa.


"Bener Bu, udah miskin belagu lagi". Tambah Rani.


Tangan suamiku mengepal menahan emosi kemudian menarikku masuk ke kamar. Aku melihatnya menangis kemudian memelukku, aku biarkan dia menangis dalam pelukanku. Setelah puas menangis, kami bersiap untuk pindah. Mas Arya memakai ranselnya dan menjinjing tas dia tangan kiri dan tangan kanan menggandengku.


"Sana pergi, nanti kalau kalian kembali melarat jangan harap kalian bisa kembali kesini". Teriak ibu Mertuaku.


"Jangan lupa tutup pintunya, dasar benalu". Tambah Rani.


Kami pun bergegas meninggalkan rumah ibu Mertuaku menggunakan motor Mas Arya. Rumah yang kami tempati kurang lebih setahun, tempat dimana aku selalu dihina, dica*ci dan perlakukan layaknya pembantu boleh ibu Mertua dan adik iparku.


***


Kamipun sampai dirumah kontrakan kami, depan rumah ternyata ada Pak Haji sudah duduk diteras sambil minum kopi.


"Assalamualaikum". Ucap kami berdua. Mas Arya mencu*im tangan Pak Haji dan aku menangkupkan kedua tangan sambil menundukkan kepala.


"Wa'alaikum salam, sini duduk dulu. Itu anak - anak udah gua suruhan bersihin ini rumah ". Jawab Pak Haji.

__ADS_1


"Kenapa dibersihin be, biar kami berdua aja yang bersihin. Kami jadi gak enak udah digratiskan uang sewa, sekarang udah bantu bersihin rumah". Ucap suami sungkan.


"Udah kagak apa - apa, biar lu berdua langsung istrihat. Itu bini gua udah masakin buat kalian ada gua taruh di dalam jangan lupa dimakan, ntar tinggal dipanasin. Gua juga denger dari Fitri,bini lu mau buka usaha dibekas garasi itu ya? Ntar gua suruh tukang langganan gua bantu bikinin lapaknya, mungkin besok udah dikerjain. Lu berdua terima beres aja, anggap rumah sendiri. Kagak usah sungkan. Kalau ada apa - apa hubungi gua, atau langsung aja kerumah". Kata Pak Haji.


"Masyallah makasih banyak be buat semuanya, semoga Allah membalas yang lebih. Aamiin". Ucapku dan Mas Arya terharu.


"Gak perlu terimakasih orang tua lu berdua dulu banyak berjasa buat keluarga gua. Kita sekarang keluarga, anggap gua dan emak sebagai orang tua kalian. Ya udah gua pamit dulu, ini kunci rumahnya. Lu berdua yang betah disini, assalamualaikum". Pamit Pak Haji meninggalkan rumah ini diikuti para karyawannya.


"Wa'alaikum salam". Jawab kami berdua.


Setelah mereka pulang, aku menutup pintu pagar kemudian masuk ke dalam rumah bersama suamiku.


Bagian dalam rumah sangat nyaman dan estetik dengan nuansa Lilac, warna kesukaan Fitri. Begitu beruntungnya sahabatku mempunyai mertua yang baik dan menyayanginya serta suami yang begitu mencintainya. Aku ikut bahagia atas kebahagiaan karena dulu dia pernah hidup susah dan dipandang rendah. Inilah buah kesabarannya, sungguh besar kuasa Allah.


Kemudian kami memasuki kamar tidur kami, aku takjub melihat isinya, ada ranjang spring bed ukuran king size, meja rias, lemari pakaian milik Fitri dan samping nya lemari pemberian almarhum bapak mertuaku. Ada AC dan kipas angin juga, tapi kami berdua hanya akan mengunakan kipas angin saja karena kami sama - sama tidak kuat dingin. Ternyata kamar ini ada kamar mandi nya jadi aku tidak perlu keluar kamar kalau mau ke kamar mandi.


Tengah asyik menelusuri kamar ini, tiba - tiba Mas Arya menggendongku ke kasur.


"Empuk ya yank kasurnya, kayaknya Mas bakalan susah bangun nih, bawaannya pengen tidur terus. Mas bobo dulu ya". Ucap suamiku pura - pura tidur.


Di kamar kami yang dulu waktu tinggal di rumah mertuaku hanya ada kasur tipis dan tempat tidur kayunya udah mulai rapuh. Terkadang aku takut kalau ranjang itu tiba - tiba rubuh. Tempat tidur itu bekas dari kamar Rani, sedangkan ranjang milik kami diambil olehnya karena dia merengek ingin punya ranjang spring bed, akhirnya kami yang mengalah. Padahal itu hadiah dari teman kantor suamiku. Dan masih banyak lagi barang - barang kami yang ambil oleh mereka. Untung perhiasanku bisa ku amamkan.


"Mas jangan tidur dulu, ini pakaian dan barang - barang kita belum di beresin". Kataku membangunkannya".


Akhirnya selesai juga, pakaian kami sudah aku dimasukin semua dalam lemari kami sedangkan lemari milik Fitri, ku biarkan kosong karena pakaian kamu cuma sedikit. Tak lupa aku simpan uang dan barang berhargaku di tempat penyimpananku. Sepertinya besok aku harus buat tabungan baru untuk gaji dari hasil menulisku. Aku belum mengajukan kontrak karena belum punya tabungan sendiri. Aku akan minta izin sama Mas Arya mau ke bank, soalnya aku gak pernah pergi sendirian.


Barang - barang yang dalam kardus juga sudah aku beresin. Tidak lupa aku simpan foto mendiang orangtua di laci nakas. Mas Arya sudah tidur duluan efek kelelahan, tadinya aku berniat untuk menulis lagi tapi karena aku juga sangat lelah dan mengantuk jadi besok saja akan ku lanjutkan. Akupun menyusul Mas Arya tidur di sebelahnya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2