
Pov (Author)
Beberapa hari kemudian.
"Ais kan seminggu lagi usia kandungan kamu masuk usia tujuh bulan, mau bikin acara nuju bulannya gimana? Kamu mau pake adat Arya atau pake adat dari daerahmu?" Tanya Bu Hajjah Salamah pada Aisyah, mereka berdua sedang rujakan di halaman belakang rumah Aisyah, kebetulan pohon mangga yang tubuh di halaman belakang tengah berbuah.
"Aku kayak ikut adat Mas Arya aja Emak". Jawab Aisyah sambil memasukkan potongan mangga di mulutnya.
"Ini minumnya Bu Hajjah dan neng Ais". Ucap Mbok Darmi sambil meletakkan seteko sirup mangga dan dua buah gelas lalu dia balik lagi ke dalam.
"Makasih ya Mbok". Ujar Bu Hajjah dan Aisyah.
"Emang kenapa gak pake adat kamu aja? Mak penasaran loh pengen tau adat Bugis itu kayak gimana". Tanya Bu Hajjah.
"Ya soalnya aku kurang paham adatnya gimana, apalagi keluarga aku juga jauh Emak". Tutur Aisyah.
"Oh jadi kalau keluarga kamu ada di sini, kamu mau pake adat kamu. Gitu kan?" Tanya Bu Hajjah lagi.
"Iya maunya sih begitu Emak, tapi ya gitu deh". Jawab Aisyah.
"Iyo e makan rujak nda bagi - bagi". Terdengar suara wanita di belakang Aisyah. Dia pun refleks berbalik, dia seketika kaget siapa yang ada di hadapannya sekarang.
"Fitriiiii". Teriak Aisyah lalu segera memeluk sahabatnya itu.
"Pelan - pelan we ingat perut sudah besar itu". Ujar Fitri nyengir.
"Hehe.. Lupa ka, terlalu kangen jadi sama ko. Oya sama siapa ko kesini?" Tanya Aisyah.
"Cie yang kangen sama saya. Memang saya ini orangnya ngangeni. Sama suami sama anakku toh, tapi mereka dua ada istirahat di rumah mertuaku. Ko tidak suruh saya duduk kah? Cape ka berdiri terus". Ujar Fitri dengan mulut mengerucut.
"Astaga, ayo sini ikut gabung". Ajak Aisyah sambil menarik tangan sahabat untuk bergabung di bale bersama emak.
"Liat ini Emak, umurnya masih dua puluhan, anaknya baru mau satu tapi sudah mulai pikun". Ejek Fitri.
"Sa nda pikun, ini efek hormon ibu hamil ji. Iya kan Emak?" Kilah Aisyah sambil meminta pembela dari Bu Hajjah.
"Jangan ko minta pembelaan dari Mertuaku, jelas Emak berpihak sama saya karena saya menantunya". Ujar Fitri sambil menjulur lidah.
"Iyo ko menantu nya emak tapi saya anaknya. Pasti Emak lebih bela saya, saya kan anaknya Emak yang paling cantik". Ucap Aisyah tidak mau kalah.
"Ih pede mu sayang, bangun ko". Ledek Fitri.
"Ih saya"
"Saya"
__ADS_1
"Saya"
"Tidak mau ko mengalah sama saya iyo?" Tanya Aisyah menggelitik perut Fitri.
"Iyo iyo ampun, ko palle yang paling cantik Andi Aisyah Maharani. Istrinya bapak Arya Winata". Ujar Fitri mengalah agar Aisyah menghentikan gelitikannya.
"Makanya masih mau ko?" Ujar Aisyah menantang.
"Tidak sudah cukup, ngilu langsung bekas operasiku gara - gara ko kasih geli begitu". Ujar Fitri.
Bu Hajjah hanya geleng - geleng sambil tertawa kecil melihat kelakuan menantu dan anak angkatnya.
"Oh iya saya ada kejutan lagi buat ko". Ujar Fitri sambil mencomot potongan mangga muda dan memasukkan mulutnya.
"Kejutan apa lagi? Ko muncul saja tiba - tiba begini sudah bikin saya terkejut". Tanya Aisyah.
"Ada pokoknya, jangan ko pingsan nanti eh. Tapi ko harus tutup mata dulu". Jawab Fitri.
"Jangan ko aneh - aneh eh Fitri, sa gelitiki ko lagi itu". Ancam Aisyah.
"Manenna ladde (cerewet sekali) ko, sudah cepat tutup matamu". Perintah Fitri.
Aisyah lalu menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Awas jangan ko mengintip, nanti beccekang (bintitan) matamu itu". Ujar Fitri sambil mengibaskan tangannya di depan Aisyah.
"Sudah kah belum Fitri? Lama sekali we". Gerutu Aisyah.
"Iyo buka sudah sekarang matamu". Ujar Fitri.
Aisyah lalu membuka mata perlahan ketika sudah terbuka sempurna, seketika dia meneteskan air matanya seakan yang dia lihat di depannya adalah mimpi. Di hadapannya berdiri dua orang yang sangat dia rindukan yaitu seorang wanita paruh baya yang mirip almarhum ibunya dan seorang pemuda tampan. Aisyah pun menghamburkan pelukan ke wanita itu sambil menangis kencang, yang lain ikut terharu melihat kejadian itu.
"Sehat ko nak?" Tanya wanita yang dipeluk Aisyah sambil mengelus kepala Aisyah yang terbungkus hijab. Yang ditanya tidak menjawab, dia hanya terus menangis.
"Aduh kasi'na (kasihan) menangis mi temanku, berhenti sudah ko menangis, meleleh itu ingusmu. Lap dulu itu". Ledek Fitri, sengaja agar Aisyah menangis. Aisyah lalu mempelototi sahabatnya itu. Fitri malah cengengesan ditatap seperti itu.
"Sehatki kak?" Ujar pemuda tadi lalu menci*um tangan Aisyah.
"Alhamdulillah de, sudah besarmi adeku. Sudah ada pasti canringna (pacarnya)". Goda Aisyah, pemuda itu hanya senyum - senyum malu.
"Mana ada mi canringna Reihan, kerjanya di kebun terus. Pacaran sama sayur saja dia itu". Ledek Tante Hasna, Tantenya Aisyah. Adik kandung almarhum ibunya
Aisyah tertawa mendengar ucapan tantenya. "Oya kapan kita sampai? Kita berdua saja kah sama Reihan? Om Bahar nda ikut kah?" Tanya Aisyah.
"Nda mau ikut om mu, nda berani katanya naik pesawat. Ko juga tau kalau om mu itu nda pernah naik pesawat. Dia juga nda bisa kasih tinggal ayam - ayamnya. Tadi pagi Fitri sama suaminya yang jemput kita di Bandara, mereka juga yang belikan kita tiket". Jawab Tante Hasna.
__ADS_1
Aisyah menatap tajam ke Fitri. Sedangkan Fitri pura - pura tidak tau sambil menikmati mangga muda dengan sambel kecap. Aisyah mencubit sahabatnya itu.
"Aduh sakit, kenapa tambah jahat ini perempuan?" Keluh Fitri sambil mengucap lengannya yang dicubit Aisyah.
"Kalian ini dari dulu nda pernah berubah kelakuannya, kalau ketemu kayak kucing dan tikus. Tapi kalau tidak ketemu baku cari". Ujar Tante Hasna tertawa.
"Tante sama Reihan nginap di rumah ini eh, nanti saya suruh Mbok Darmi bereskan kamar kalian". Ucap Aisyah.
"Iye nak, Tante sama Reihan ikut saja". Balas Tante Hasna.
Kring
Kring
Ponsel Fitri berdering.
"Bunyi hape itu Fitri, lagu apa itu ko pake? Aneh sekali lagunya" Ledek Aisyah. Fitri hanya menjulurkan lidahnya lalu segera mengangkat telfonnya.
"Iya Pa, mama pulang sekarang. Papa tolong bikinkan Raisa susu dulu". Ujar Fitri lalu menutup telfonnya.
"Pulang ka dulu nah, bangun mi anakku. Baru menangis cari saya". Pamit dulu Fitri pada mereka.
"Emak juga ikut pulang deh, mau main sama cucu". Pamit Bu Hajjah juga lalu menyusul menantunya.
Aisyah pun mengajak Tante dan adik sepupu untuk masuk ke dalan rumah.
"Mbok tolong yang bekas ngerujak tadi diberesin ya, setelah itu tolong beresin kamar tamu yang di dekat tempat nyetrika". Ucap Aisyah.
"Baik neng". Ujar Mbok dan segera mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Aisyah.
Setelah itu Aisyah mengajak tantenya ke ruang tamu, sedangkan Reihan ke rumah Pak Haji Mansur untuk mengambil barang miliknya dan milik ibunya yang masih ada di sana.
Tidak lama kemudian Mbok Darmi menemui mereka berdua.
"Neng udah beres kamarnya, Mbok juga sudah siapkan makanan di meja makan". Ujar Mbok Darmi.
"Makasih ya Mbok". Balas Aisyah.
Mbok Darmi hanya mengangguk lalu kembali mengerjakan pekerjaannya yang lain.
"Tante mau makan dulu atau langsung istirahat?" Tanya Aisyah.
"Istirahat saja saya nak, masih pusing sata naik pesawat tadi, saya juga masih kenyang tadi di kasih makan enak sama mertuanya Fitri. Tadi kita cepat - cepat kesini karena sudah kangen sama ko". Jawab Tante Hasna sambil membelai kepala keponakan kesayangannya itu.
Selang beberapa menit, Reihan datang menenteng barang - barang dibantu Mang Agus. Aisyah lalu mengantar Tante dan adik sepupunya ke kamar mereka. Setelahnya dia meninggalkan mereka untuk beristirahat terlebih dahulu, sebenarnya Aisyah masih ingin bercengkrama sambil melepas rindu dengan Tante dan adik sepupunya itu tapi harus ditahan karena mereka pasti capek setelah menempuh perjalanan jauh yaitu Makassar - Jakarta.
__ADS_1
Aisyah sudah mengabari Arya tentang kedatangan Tante dan adik sepupunya. Dan meminta suaminya agar berusaha segera pulang.
Bersambung.