
Pov (Author)
"Ran, jangan lupa loh jam empat sore di hotel Four Season, pakai barang - barang yang kemari mbak beliin. Jangan sampai telat ya".
Rani menghela nafas membaca pesan dari kakak Iparnya Bella. Ini sudah jam setengah dua jadi dia punya waktu dua jam untuk mandi dan bersiap - siap karena jarak hotel itu dari rumah kurang lebih setengah jam.
Ada keraguan dalam hatinya, membayangkan dirinya menemani om - om genit seperti Pak Broto, dia bergedik ngeri. Tapi mau gimana lagi dia sudah tanda tangan kontrak, ditambah uang akan yang diterima sangat banyak baginya yang masih kuliah ini.
Dia segera mandi dan segera bersiap - siap, jangan sampai dia terlambat. Bisa - bisa hilang kesempatannya mendapatkan uang.
Tidak berapa dia pun sudah siap, dia melihat penampilannya di cermin.
'Cantik sekali gue pakai barang - barang branded begini. Ayo Rani lo pasti bisa, demi duit'. Gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Dia membuka pintu kamarnya dengan pelan, lalu celingak - celinguk melihat keadaan di luar kamarnya. Setelah rasa aman dia keluar dengan cara mengendap - ngendap.
"Hufft.. Akhirnya selamat sampai keluar, untung ibu tidur jadi gak liat gue". Batin Rani lega, dia uj segera memesan taksi online. Tidak berapa taksi yang dipesan pun datang. Driver segera melajukan taksinya membawa Rani ke tempat tujuannya
Sekitar setengah jam akhirnya Rani sampai di hotel yang dimaksud. Setelah membayar taksinya, dia segera masuk ke lobby hotel.
"Ran di sini". Bella melambaikan tangan ke Rani.
"Maaf Mbak aku telat". Ucap Rani kemudian duduk di sebelah Bella.
"Gak apa - apa Mbak juga belum lama di sini. Ayo kita ke kamar, Pak Broto masih meeting dengan klien yang nanti aku jadi klien pertama kamu". Jawab Bella lalu mengajak Rani menuju kamar hotel di lantai empat.
Tidak berapa lama mereka sampai di kamar dengan nomor 123, setelah buka pintu dengar cardlock, mereka berdua bergegas masuk ke dalam.
Rani terperangah melihat kamar hotel yang sangat mewah, ini kali pertama dia baginya. Dia pernah nginap di hotel bersama teman - teman saat liburan dulu tapi kamarnya tidak sebagus dan semewah ini.
"Mau minum apa Ran?". Tanya Bella menyadarkan Rani yang masih mengagumi interior kamar hotel itu.
"Eh apa aja Mbak yang penting seger". Jawab Rani kaget.
Tidak berapa lama pintu kamar diketuk, Bella segera membukanya pintu. Ternyata yang datang Pak Broto dan seorang pria yang dari tampangnya belum terlalu tua, sepertinya dia yang akan menjadi klien pertama Rani.
__ADS_1
"Wah Bella makin cantik saja kamu, andai kamu mau jadi simpanan. Hehe". Ucap Pria itu tertawa garing.
"Ah Pak Ronald bisa saja". Balas Bella dengan suara menggoda.
"Jangan macam - macam kamu Ronald, dia milik saya". Tegur Pak Broto dan menarik Bella ke dalam pelukannya dan ******* bi*bir Bella dengan penuh nafsu seolah dia ingin menekankan pada temannya kalau wanita itu miliknya.
Pak Ronald yang melihat pergumulan mereka, hanya geleng - geleng kepala.
"Hehe.. santai Broto, saya cuma bercanda". Ujar Pak Ronald tersenyum kecut.
"Oya mana gadis itu?". Tanya Pak Ronald sudah tak sabar ingin bertemu Rani.
"Sabar dong Pak Ronald, dia ada di dalam". Jawab Bella, mereka pun menuju tempat Rani berada.
Rani tengah duduk di pinggir ranjang sambil memainkan ponselnya. Bella pun segera mengenalkan Pak Ronald dan Rani. Pria tua itu tidak berkedip melihat kecantikan Rani.
Rani menunduk, dia sangat gugup. Memang sih
pria itu cukup tampan dibanding Pak Broto, badannya pun tegap dan tidak buncit tapi tetap saja dia om - om apalagi tatapannya yang membuat Rani risih.
"Oya Ran, Mbak sudah transfer uangnya ke rekening kamu. Lakukan perkerjaan kamu dengan baik, jangan kecewakan klien kamu. Kalau ada keluhan dari Pak Ronald, kamu harus kembalikan uangnya dua kali lipat". Tekan Bella pada Rani.
Rani melongo mendengar penjelasan dari Bella. "Jangan terkejut seperti itu. Itu sudah ada dalam kontrak, harusnya kamu baca dulu dengan baik isinya sebelum menanda tanganinya". Ucap Bella lagi
Kemudian Bella dan Pak Broto pamit meninggalkan Rani dan Pak Ronald di dalam kamar tersebut. Mereka berdua masuk ke dalam kamar sebelahnya.
Sepeninggalan mereka, Pak Ronald mulai mendekati Rani.
"Gak usah takut begitu, om tidak akan menyakiti kamu kok. Santai saja". Ucap Pak Ronald membelai rambut lembut.
"Iya om". Jawab Rani gugup mulai mengangkat kepalanya.
"Santai saja. Oya kamu masih kuliah?". Tanya Pak Ronald, dia berdiri dan membuka jasnya.
"Masih om, baru semester empat". Jawab Rani, dia sudah tidak gugup lagi.
__ADS_1
"Oh gitu, terus kenapa kamu mau kerja kayak gini?". Tanya Pak Ronald lagi.
"Iya om, saya butuh uang kayaknya kuliah saya tidak akan lanjut karena masalah biaya". Jawab Rani.
"Miris sekali gadis semuda kamu bekerja seperti ini, tapi itu pilihan hidup kamu. Om ganti ganti baju dulu baru kita pergi ke mall, om lagi pengen jalan - jalan. Suntuk dengan pekerjaan, sekalian om belanjain kamu". Ujar Pak Ronald sambil melepas pakaian membelakangi Rani dan hanya menyisakan kolor pendek.
Rani terpana melihat tubuh Pak Ronald yang atletis. Dia tidak keliatan sudah berumur.
'Buset bagus banget badan dia, mukanya juga lumayan ganteng gak keliatan om - om. Gak malu - maluin lah kalau diajak jalan, jadi pacarnya pun gue mau'. Gumam Rani dalam hati sambil senyum - senyum sendiri.
"Om sudah siap, ayo kita jalan". Ajak Pak Ronald. Dia menggenakan pakaian santai.
"Ehh.. A..ayo om". Jawab Rani terbata, mukanya memerah karena tadi sedang membayangkan dia bermesraan dengan Pak Ronald.
Pak Ronald menggandeng tangan Rani, seketika Rani merasakan getaran aneh sangat tangan mereka bersatu, ini pertama kalinya dia gandeng seorang pria.
Tidak berapa lama mereka sampai di mall, Pak Ronald sangat memanjakan Rani. Dia membiarkan Rani membeli apapun yang dia mau. Rani yang tadinya malu, tidak ragu mengapit lengan pria itu dengan mesra. Mereka seperti sepasang kekasih.
Setelah puas berbelanja dan jalan - jalan, mereka berdua kembali ke hotel.
"Gimana kamu senang gak sayang?" Tanya Pak Ronald sambil memeluk Rani dari belakang.
"Makasih banyak ya om". Ucap Rani tersenyum manja, dia sudah tidak canggung lagi.
Pak Ronald yang melihat senyum Rani, seketika hilang kendali. Dia mengendong Rani dan membawanya ke ranjang. Dia menatap Rani dengan tajam, Rani terlihat takut melihat perubahan sikap Pak Ronald.
Dia memajukan wajahnya dan menci*um bibir Rani yang ranum, Rani menutup mata. Dan membalas ci*umannya. Mendapat respon ya baik dari Rani, pria itu menurunkan ci*umannya ke leher Rani. Terdengar ******* dari bibir Rani.
Tapi tiba - tiba Pak Ronald menghentikan aksinya. "Sudah jam sepuluh, waktu kita sudah habis, ayo bersiap - siap. Om akan mengantar kamu pulang". Ucap Pak Ronald, Rani tampak kecewa padahal dia mulai menikmati.
Pak Ronald pun mengantarkan Rani pulang ke rumah.
"Makasih ya Ran untuk hari ini, om sudah mengirim bonus kamu". Ucap Ronald setelah Rani turun dari mobil. Rani hanya mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah dengan wajah sumringah sambil menenteng banyak belanjaan.
"Dari mana saja kamu?"
__ADS_1
Bersambung.