Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 45


__ADS_3

Pov (Author)


Setelah sholat, Aisyah duduk selenjoran di atas kasur sambil menonton film india ditemani Mbok Darmi yang sedang memijat kakinya. Bila kebanyakan wanita menyukai drakor, berbeda dengan Aisyah yang lebih menyukai film dari negera asal aktor favoritnya yaitu Shahrukh Khan. Kecintaannya pada Bollywood menurun dari almarhumah ibunya, ternyata Mbok Darmi juga menyukai film India. Sekali - sekali terdengar suara tawa dari dua wanita beda generasi itu, mereka layaknya ibu dan anak yang sedang bersenda gurau.


Tidak berapa lama Arya pun pulang kantor dan masuk ke kamar untuk menemui istrinya.


"Assalamualaikum, eh ada Mbok Darmi". Arya mengucapkan salam dan menyalami asisten rumah tangganya itu. Mbok Darmi yang tahu majikan laki - lakinya telah pulang pun segera keluar sekalian pamit pulang. Tidak lupa Aisyah memberikan gaji hariannya


"Wa'alaikum salam Mas". Jawab Aisyah sembari menyi*um takzim tangan suaminya.


Kemudian Arya mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, sedangkan Aisyah menyiapkan pakaian ganti untuk Arya. Kemudian mengambil kotak makan suaminya dan membawa ke dapur untuk dicuci.


Tidak berapa lama dia kembali ke kamar, terlihat Arya sedang sholat. Aisyah memandangi suaminya yang sedang khusyuk.


'Akh tampan sekali ciptaan mu Ya Allah, pantas aja ada beberapa wanita yang menyukainya selain diriku'. Gumam Aisyah sambil mengagumi suaminya, yang menurut semakin tampan saat menggunakan baju koko dan peci seperti sekarang ini.


Seusai sholat dan menganti baju kokonya dengan pakain biasa yang sudah disiapkan oleh istrinya. Arya pun bergabung dengan Aisyah di atas ranjang.


"Mas gak makan dulu?". Tanya Aisyah.


"Gak yank, Mas mau istirahat saja". Jawab Arya berbaring di samping Aisyah.


"Oya gimana pekerjaan hari ini Mas?". Tanya Aisyah lagi.


"Ya gitu deh, lebih melelahkan dari sebelumnya saat masih ada Lily. Dia cekatan dan cepat tanggap tidak seperti penggantinya sekarang". Jawab Arya membenamkan kepalanya dalam pelukan Aisyah sembari mengelus perut istrinya.


"Semua orang gak sama kemampuannya Mas, mungkin pelan - pelan dia bisa belajar. Oya tadi Lily mampir ke sini, aku sedih deh dia lusa udah pindah". Ungkap Aisyah sambil mengelus lembut rambut suaminya.


Ting.


Bunyi pemberitahuan di ponsel Aisyah yang ada di sebelah. Dia melihat ternyata ada pesan masuk di aplikasi hijau nya, seketika matanya melebar membaca isi pesan itu.


"Alhamdulillah Ya Allah". Ucap Aisyah bersyukur.

__ADS_1


"Ada apa yank?". Tanya Arya bingung. Dia lalu merubah posisinya yang tadinya berbaring, sekarang duduk menatap Aisyah.


Aisyah menarik nafas dan menghembuskannya. "Nih Mas baca sendiri, aku gak bisa berkata - kata". Jawab Aisyah sambil memberikan ponselnya kepada Arya.


Arya pun segera membaca pesan yang membuat istrinya terlihat bahagia.


"Alhamdulillah yank, selamat ya. Mas bangga banget sama kamu". Ucap Arya sambil memeluk dan menci*um istrinya.


Ternyata itu pesan dari ketua Asosiasi UMKM daerah Jabodetabek yang mengundang Aisyah untuk menjadi salah satu pembicara di acara Seminar Nasional Kewirausahaan dengan tema "Menjadi Wirausaha Muda yang Kreatif, Inovatif dan Sukses di Era Digital. Aisyah tak menyangka dan terharu bisa mendapatkan kehormatan seperti ini padahal dia belum lama merintis usahanya. Aisyah memang tergabung dalam grub komunitas UMKM, di grub sudah banyak pesan yang mengucapkan selamat untuknya dari para anggota grub yang lain.


"Iya Mas, aku gak nyangka dapat kehormatan dan kepercayaan seperti ini. Tapi jujur ada rasa kuatir, aku takut nanti gugup untuk bicara di depan orang banyak, apalagi mereka orang hebat dari seluruh Indonesia. Apa aku mampu Mas?". Tutur Aisyah sedikit kuatir.


"Bismillah, Insyallah yank. Mas yakin kamu pasti mampu yank, nanti Mas bantu cara bicaranya dan buat materinya". Ucap Arya menyemangati Aisyah.


"Makasih ya Mas buat dukungannya". Ujarnya.


"Iya sama - sama, oya kapan acaranya?".


Aisyah mengecek pesannya kembali. "Hari Kamis ini Mas jam sembilan pagi, sekarang hari Senin berarti tiga hari lagi. Boleh bawa teman atau kerabat satu orang". Jawab Aisyah.


"Hahaha, Mas ada - ada aja suruh rubah harinya. Emang kita yang punya acara, mana bisa Mas". Ujar Aisyah tertawa pelan mendengar ucapan Arya.


"Ya udah deh nanti kamu minta tolong Mpok Darmi aja buat temani kamu kesana". Ucap Arya lagi.


Aisyah hanya mengangguk setelah itu dia membalas pesan tadi bahwa dia bersedia menjadi pembicara di acara tersebut.


***


"Kenapa muka kamu cemberut gitu sayang?" Tanya Bu Merry pada anak yang baru pulang kerja.


"Apa kurangnya aku mah? Kenapa Arya gak tertarik sama sekali sama aku? Apa bagusnya istri dia? Padahal aku yang duluan menyukai dia, sebelum perempuan itu hadir". Pekik Siska sambil menutup wajah menahan tangis.


"Kamu itu sempurna sayang, tenang aja mama pasti bantu kamu dapati pria pujaan kamu itu. Istrinya yang kampungan itu tidak ada apa - apanya dibandingkan sama kamu". Jawab Bu Merry menenangkan Putri satu - satunya, tersirat di wajah kemarahan. Dia tidak terima putrinya menangis seperti ini.

__ADS_1


"Tapi gimana caranya mah? Aku tersiksa tiap hari bertemu dengan dia tapi tidak bisa memiliki dia. Apalagi sikap ketusnya padaku". Tutur Siska.


Bu Merry mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang kemudian menghubunginya.


Tidak butuh lama, panggilan segera diangkat oleh yang dihubungi Bu Merry.


["Gak usah basa - basi. Saya mau tagih janjinya Jeng May buat mendekatkan Siska dengan Arya"]. Ujar Bu Merry pada lawan bicaranya yang adalah ibu kandung dari Arya atau Bu May.


["Saya pegang janji Jeng, kalau gagal Jeng harus bayar semua utang Jeng sama saya dua kali lipat"]. Ancam Bu Merry lalu mematikan panggilan.


"Gimana mah?". Tanya Siska, dia sudah tidak menangis lagi.


"Tenang aja sayang, wanita matre itu mau tidak mau pasti akan membantu kita. Apalagi dia punya utang banyak sama mama". Jawab Bu Merry dengan senyum sinis.


Siska mengembangkan senyum mendengar jawaban mamanya dan memeluknya. "Makasih ya mah yang terbaik".


***


"Mas gak izinin kamu kerja kalau kamu pulang malam terus, belum lagi kadang kamu gak pulang beberapa hari dengan alasan dinas keluar kota. Sebagai suami kamu, Mas perintahkan kamu untuk berhenti kerja". Hentak Ryan menahan Bella yang mau pergi membawa koper.


"Gak usah halangi dan larang aku Mas, aku sudah telat. Pengangguran macam kamu bisa apa? Kalau Mas bisa kaya dulu lagi, aku bakal turutin kemauan Mas". Bentak Bella lalu mendorong Ryan. Terlihat Maira mengintip di balik pintu kamarnya, dia menangis melihat kedua orang tua bertengkar.


Melihat suaminya terjatuh di lantai, Bella tidak peduli dan meninggalkan suaminya begitu dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di depan.


"Bella jangan pergi. Bellaaa.". Teriak Ryan mengejar istrinya. Tapi sayang mobil yang dinaiki Bella sudah melesat pergi.


Ryan terduduk lemas sambil meramas rambutnya. Setelah itu dia kembali masuk dengan langkah gontai.


Tanpa Ryan sadari ada seseorang misterius yang sedang mengamatinya sedari tadi dari rumah di seberang rumahnya. Lalu dia terlihat menghubungi seseorang.


['Aman bos, dia sekarang sedang menikmati kehancurannya']. Ucapnya pada lawan bicaranya.


[Hahaha.. Tenang aja bos, saya pastikan dia akan hancur sehancur - hancurnya"]. Tawa pria misterius itu.

__ADS_1


Entah siapa dia dan siapa orang yang dihubunginya, yang pasti mereka menginginkan kehancuran Ryan. Sepertinya ada dendam pribadi dari orang yang di panggil Bos itu kepada Ryan.


Bersambung.


__ADS_2