Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 43


__ADS_3

Pov (Aisyah)


     Keesokan harinya.


Setelah Mas Arya berangkat kerja, aku menuju meja makan untuk sarapan. Seperti biasa Mas Arya seperti sarapan, dia tidak makan makanan berat. Dia cuma makan sepotong roti dengan selai coklat dan secangkir teh. Tapi aku selalu berusaha untuk membekalinya makanan rumah untuk makan siangnya nanti.


Sehabis sarapan, aku mencuci bekas makanku. Nampak ibu - ibu sedang mengolah bahan makanan dan minum untuk menu lapak. Sekarang Ratna sudah tidak membantu karena mereka sudah bisa sendiri, aku hanya nambah satu orang lagi untuk menggantikan Ratna. Kasihan juga dia kecapean harus membantu di sini dan di lapak. Dia sempat bilang kalau dia sanggup mengerjakan ini semua tapi aku tidak ingin memforsir tenaganya, aku tahu setiap orang batas kemampuan. Takutnya dia jatuh sakit karena kurang istirahat, apalagi dia bilang kalau dia ingin kuliah. Dia pun akhirnya menyetujui keputusanku.


Aku keluar ke belakang rumah untuk menjemur pakaian, hari ini Mbok Darmi tidak masuk kerja karena ada saudaranya yang berkunjung ke rumahnya.


"Assalamualaikum". Terdengar suara wanita yang ku kenal setelah aku selesai menjemur pakaian.


"Wa'alaikum salam". Jawabku menyambutnya.


"Maaf ya mengganggu pagi - pagi, apa kabar nih bumil?". Tanya Mbak Ningsih sambil memelukku.


"Alhamdulillah baik, Mbak sendiri gimana?Oya gimana keadaan rumah produksi? Amankan?". Tanyaku ketika kami sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Alhamdulillah seperti yang kamu liat Mbak juga baik, nah itulah maksud Mbak datang kemari buat ngantar laporan rumah produksi cemilan". Jawab Mbak Ningsih nyerahin flashdisk kepadaku.


"Biasanya juga Mbak kirim email ke aku, sampai repot - repot kemari, padahal aku tahu Mbak sibuk banget. Makasih banyak ya Mbak udah bantuin aku". Ucapku sambil menerima flashdisk darinya.


"Ya sekalian lepas kangen lah, walau rumah kita sebelahan tapi jarang ketemu. Justru Mbak yang harus berterima kasih sama kamu, karena udah percayai Mbak untuk mengurus tempat produksi kamu. Kamu udah kasih Mbak kerjaan jadi ilmu dan ijazah Mbak berguna". Jawabnya sambil tersenyum.


Aku memang mempercayakan tempat produksiku di kelola oleh Mbak Ningsih karena aku tahu dia lulusan manajemen keuangan dan sudah mempunyai pengalaman. Tapi Setelah nikah dia resign dari pekerjaannya untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Alhamdulillah Pak Rahmat selaku suaminya mengizinkan dan mendukungnya.


"Iya Mbak sama - sama, oya dimakan kuenya. Keasikan ngobrol sampe lupa nawarin". Ucapku tertawa.


"Hehe gak apa - apa bumil, oya katanya hari Jum'at ini tempat produksi lulur kamu bakal diresmikan ya?". Tanya Mbak Ningsih sambil menikmati kue kering yang sengaja aku sedia bersama air gelas kemasan untuk tamu yang berkunjung.


"Iya Mbak tapi aku belum tau siapa yang bakal mantaunya nanti, aku juga mau nambah karyawan. Aku udah buat lowongan di medsos dan nempel selembaran". Jawabku.


"Saran Mbak gimana kalau Mbak yang mantau di tempat produksi lulur, biar tempat produksi cemilan dipantau sama Arin anak nya Mpok Sarah. Dia juga kan baru lulus kuliah satu jurusan sama Mbak Tenang dia udah Mbak bimbing dia dengan baik, waktu Mbak lagi pulang kampung, dia yang ngurusin dan handle semua dan Alhamdulillah lancar aman terkendali. Mbak juga udah ngajarin dia buat bikin laporan. Dia walaupun baru lulus tapi bagus kerjanya, percaya deh sama Mbak. Nanti biar Mbak yang buat laporannya, Dia tinggal ngasih data mentahnya". Saran Mbak Ningsih.


"Iya bener juga ya, aku juga dengar dari karyawan di tempat produksi cemilan kalau Arin walaupu masih tapi dia kerjanya bagus dan bisa diandalkan. Ya udah aku ikut saran Mbak aja, nanti tolong Mbak yang sampaikan Arin ya. Berarti nanti akan Mbak pindah ke tempat produksi lulur, di sana juga ada Bu Surti. Mbak cukup mantau aja. Tapi apa gak kewalahan kalau Mbak yang bikin semua laporannya?". Ucapku.

__ADS_1


"Gak lah itu mah gak terlalu repot kalau cuma buat laporan, tinggal masukin datanya aja. Jujur Mbak juga udah bosan tiap hari ngeliatin basreng dan kawan - kawannya. Anggaplah Mbak ganti suasana, tapi kalau makannya gak pernah bosan, hahaha". Tutur Mbak Ningsih sambil tertawa.


Akupun ikut tertawa mendengar ucapannya.


Setelah cukup lama kami berbincang, Mbak Ningsih pun pamit untuk ke tempat produksi.


Selepas kepergian Mbak Ningsih, aku menuju kamar untuk mengecek flashdisk yang diberikan oleh Mbak Ningsih. Aku mengecek dengan teliti laporan yang dibuat olehnya, seperti biasa selalu rapi dan detail data yang dia berikan. Tidak salah aku mempercayakan tempat produksiku padanya.


Sebenarnya aku ada keinginan ingin kuliah seperti cita - citaku dahulu, tapi belum juga terlaksana padahal Mas Arya sangat mendukung keinginanku. Dia menyarankan aku untuk mendaftar di universitas terbuka karena bisa dilakukan jarak jauh dan terbuka, istilahnya pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka atau jarak jauh menggunakan sistem daring yang di sampaikan melalui media, baik media cetak atau media non - cetak yang cocok buat aku seorang ibu tangga dengan berbagai kesibukan apalagi aku sedikit lagi akan mempunyai anak.


Aku sudah searching di internet rekomendasi universitas terbuka yang bagus, mungkin setelah melahirkan baru aku akan mendaftarkan diriku. Aku berencana mengambil jurusan Manajemen bisnis sesuai bidang yang ku geluti sekarang.


Ting


['Wa'alaikum salam, alhamdulilah baik. Mbak dengar dari Maira kalau kamu lagi hamil, selamat ya Mbak ikut senang. Oya maaf kemarin waktu kalian berkunjung Mbak gak ada di rumah, kalian juga sih gak ngabarin dulu. Next time ya Mbak kabari kalau gak sibuk]. 


     ['Iya Mbak gak apa - apa. Salam buat Maira dan Mas Ryan']. Aku membalas chat dari Mbak Bella, tapi ada yang menarik perhatianku ketika melihat foto profil Mbak Bella, sebenarnya gak ada yang aneh dengan fotonya dan foto itu sudah lama menjadi digunakan Mbak Bella untuk profil. Hanya potret Mbak Bella berpose dengan Maira sambil bergandengan tangan dengan posisi berdiri tanpa Mas Ryan, sepertinya dia yang memotrer, mereka terlihat bahagia. Tapi yang mengganggu pikiranku adalah pakaian yang digunakan Mbak Bella sama persis dengan pakaian yang digunakan wanita yang aku liat mirip dengan di Mall tempo hari.


Sebuah dress panjang berwarna biru dengan aksen kerut di pinggang dan motif bunga putih. Tapi aku tidak bisa berspekulasi dulu karena aku belum punya bukti yang kuat, takutnya malah menjadi fitnah dan membuat hubungan kami yang terjalin baik menjadi rusak.


Ting


['Assalamu'alaikum Mbak, ntar siang aku mau main ke lapak. Aku pengen makan seblak, sekalian kangen - kangenan sama Mbak'].


     ["Oke sip, Mbak tunggu kedatangan kamu"]. Aku senang Lily mau main kesini, udah lama aku gak ketemu dia selain melepas rindu, ada hal yang aku tanyakan padanya.


***


Siang harinya.


Setelah sholat Dzuhur, aku menuju lapak untuk menunggu kedatangan Lily, dia tadi sudah mengirim pesan kalau dia sudah dekat.


Tidak berapa lama, dia pun sampai juga dengan tersenyum lebar ke arah ku dan menghampariku. Kamipun bercipika cipiki, setelah kami duduk dia segera ngambil menu dan memesan beberapa makanan. Aku menggelengkan kepala dengan pesanan yang cukup banyak.


Sambil menunggu pesanan, aku mengajaknya mengobrol.

__ADS_1


"Sama siapa kesini dek? Gak kerja kamu?". Tanya ku.


"Tadi dia antar Mas Prabu, sekalian dia mau pergi dinas. Nanti aku pulangnya pakai taksi online aja. Gak Mbak, kan aku dah resign Jum'at kemarin". Jawabnya sambil menikmati cemilan produksiku.


"Hmm.. gitu ya. Mbak bakalan kangen sama kamu. Masih satu kota aja jarang ketemu apalgi ntar kalau kamu pindah". Ucapku dengan wajah sedih.


Tidak berapa lama pesanannya pun datang.


Dia terlihat tidak sabar menikmati semua makanan yang tersaji di atas meja.


"Banyak banget dek, emang sanggup itu perut kecil kamu nampung semuanya?". Tanyaku keheranan.


"Hehe.. Kan makannya berdua Mbak". Jawabnya sambil nyengir.


"Maksudnya Mbak juga yang makan?" Tanyaku lagi.


"Sama yang di perut aku Mbak, tapi kalau Mbak mau boleh kita makan sama - sama". Jawabnya sambil memegang perut yang rata.


Aku cukup kaget mendengar jawabannya. "Kamu lagi hamil juga de?". Tanyaku memastikan.


Dia menggangguk sambil tersenyum.


"Alhamdulillah selamat ya adeku. Sehat - sehat buat kamu dan calon anak kamu, udah berapa bulan?". Ucapku sumringah.


"Aamiin makasih ya Mbak, doa yang sama buat Mbak dan dedek Utun. Udah masuk empat Minggu Mbak". Balasnya.


"Aamiin. Tapi kenapa makan pedas, kamu lagi hamil muda loh. Jangan makan yang aneh - aneh". Ucapku dengan memasang muka pura - pura marah.


"Hehe.. Ini terakhir kok Mbak aku makan pedesnya, aku kan juga dikit lagi udah pindah ke Kalimantan. Bakalan kangen banget dengan makanan di lapak Mbak, jangan marah ya Mbakku yang cantik". Ujarnya dengan wajah memohon pengampunan padaku


Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya yang lucu.


"Maaf Mbak, aku terlambat".


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2