
Pov (Author)
['Ais, laki lu ada datang ke rumah ibu mertua lu, ini baru aja nyampe dia']. Ada pesan masuk dari Mpok Atiek beserta foto Arya baru keluar dari mobilnya.
'Umur panjang nih Mpok Atiek baru juga aku mau ngirim pesan ke dia, tapi dia udah ngirim pesan duluan'. Batin Aisyah membaca pesan dari Mpok Atiek.
["Oh iya Mpok, tadi Mas Arya kirim pesan kalau habis pulang kantor dia mau ke rumah ibu. Katanya ibu sakit"]. Balas Aisyah.
['Sakit apaan? Lah tadi dia habis dari gua, masih sehat bugar tapi tadi emang sih dia beli koyo dan minyak angin mana duitnya kurang. Tadi habis berantem juga sama si Ely mungkin karna itu dia langsung kena sawan. Hehehe..']. Jelas Mpok Atiek panjang kali lebar.
["Mpok ada - ada aja. Aku juga kurang tau sih juga Mpok, ibu sakit apa"]. Balas Aisyah sambil tersenyum membaca balasan dari Mpok Atiek.
['Mertua lu kan ada aja kelakuannya, trus napa lu kagak ikut?']. Tanya Mpok Atiek.
["Aku habis dari acara sama Bu Hajjah Salamah, Mpok"]. Balas Aisyah lagi.
['Oh kalau gitu lu istirahat dah, sehat - sehat buat lu dan kandungan lu. Assalamu'alaikum']. Balas Mpok Atiek.
["Aamiin makasih doanya. Wa'alaikum salam"]. Aisyah menyimpan ponselnya di atas nakas lalu bersiap untuk sholat karena dia belum sholat Ashar.
Setelah sholat dan merapikan mukenah dan sajadahnya. Aisyah ngecek ponselnya, ada dua panggilan tak terjawab dari Mpok Atiek dan satu pesan darinya.
Seketika matanya membulat membaca pesan dari Mpok Atiek.
['Aisyah lu lagi ngapain sih kagak angkat telpon dari gua. Nih perempuan yang waktu gua bilang pernah ke rumah ibu mertua lu datang lagi sekitar lima menit setelah laki lu datang. Mana belum keluar - keluar lagi itu perempuan, kan jadi curiga gua']. Aisyah tersenyum kecut membaca isi pesan dari Mpok Atiek.
["Iya Mpok makasih infonya tadi aku lagi sholat"]. Balasnya.
'Oh jadi ini yang direncanakan ibu mertuaku dengan pura - pura sakit dan menyuruh Mas Arya untuk datang ke rumahnya biar bisa dipertemukan dengan wanita pilihannya. Kalian pikir aku bodoh dan tidak tahu apa maksud dan tujuan kalian. Oke aku akan ikuti permainan kalian. Kita liat siapa yang akan menang, aku atau kalian'. Batin Aisyah sambil meramas ponselnya.
***
Arya tiba di rumah ibunya, setelah memarkirkan mobilnya. Dia segera masuk ke dalam rumah ibunya. Dia menenteng plastik yang berisi bubur ayam kesukaan ibunya.
Tok tok..
"Assalamu'alaikum Bu, ini Aku Arya". Ucap Arya.
"Ma..masuk aja, pintunya gak dikunci". Terdengar suara parau Bu May dari dalam rumah.
Arya lalu masuk ke dalam tercium bau minyak angin yang cukup menyengat, nampak ibunya sedang duduk di sofa sambil selonjoran. Dengan memakai selimut tebal yang membungkus tubuhnya, tidak lupa koyo terpasang kanan kiri di kepalanya.
__ADS_1
Arya segera mendekati ibunya lalu menyi*um tangan ibunya dengan takzim.
"Ya Allah ibu pucat banget, kenapa ibu tidur sini? Kenapa gak di kamar aja Bu? Arya antar ke dokter ya" Arya terlihat sangat mengkhawatirkan kondisi ibu, walaupun dari dia kecil ibunya tidak pernah bersikap baiknya tapi dia tetap menyayangi wanita yang melahirkannya itu.
"Ibu gak mau ke dokter nanti ibu malah di suntik kalau pergi ke dokter. Tadi ibu udah minum obat, bentar lagi pasti sembuh, hanya sedikit pusing saja. Lagian Ibu bosan tiduran di kamar terus, kalau di sini kan bisa sambil nonton". Jawab Bu May dengan suara serak.
"Ya udah terserah ibu aja? Ibu udah makan? Mau Arya suapin? Ini Arya ada bawain bubur ayam kesukaan ibu" Tanya Arya sambil memijat kaki ibunya.
"Ibu udah makan tadi pesan makanan online, simpan aja di meja, nanti ibu makan". Ucap Bu May tersenyum.
Arya ikut tersenyum, dia senang sekarang udah bersikap baik padanya semoga begitu juga dengan istrinya Aisyah.
"Oya Bu, beberapa hari yang lalu Arya dan Aisyah berkunjung ke rumah Mas Ryan". Ucap Arya
"Tidak usah bicarakan mas mu itu, dia sudah tidak peduli dengan ibu. Dia gak pernah mengunjungi ibu lagi, untuk sekedar memberikan kabar saja tidak. Mungkin dia sudah tidak menganggap ibu ini ibunya". Ujar Bu May membuang muka, dia tidak ingin membahas putra pertamanya itu.
"Ibu gak boleh ngomong kayak gitu, mungkin Mas Ryan ada alasan tersendiri. Kita doakan saja yang baik buat dia". Ucap Arya menenangkan ibunya.
Tok tok
"Assalamu'alaikum". Terdengar suara wanita, tiba - tiba wajah Bu May terlihat bersemangat seperti dia sudah menanti kedatangan wanita tersebut.
Siska langsung masuk karena tadi pintu rumah tidak ditutup oleh Arya.
Bu May berdiri memeluk Siska. Wajah terlihat ceria tidak seperti sebelumnya yang pucat dan tidak lemas layaknya orang sakit. Arya melihat perubahan ibunya yang begitu cepat begitu Siska datang. Banyak pertanyaan di kepalanya tentang kedekatan ibunya dan Siska.
"Loh ibu katanya pusing". Tegur Arya.
"Aduh..aduh kepala ibu pusing". Bu May cepat - cepat berakting sambil memegang kepalanya. Jangan sampai Arya curiga kalau dia pura - pura sakit. Siska membopong tubuh Bu May kembali berbaring di sofa.
"Tante kan lagi sakit, jadi jangan banyak gerak dulu. Aku ada bawain kue kesukaan Tante". Ujar Siska pura - pura perhatian pada Bu May untuk menarik simpati Arya.
"Soalnya Tante senang kamu datang menjenguk tante. Kamu memang paling perhatian sama Tante, coba saja kamu yang jadi menantu Tante". Ucap Bu May lembut.
"Iya aku juga berharap punya mertua yang baik seperti Tante". Balas Siska.
"Ehmmm". Arya berdehem mendengar obrolan kedua wanita itu.
"Maaf Pak Arya kalau saya lancang, saya tidak ada maksud apa - apa". Ucap Siska menunduk. Arya cuma diam tidak menanggapi tapi wajahnya tampak tak suka.
"Loh kalian saling kenal?". Tanya Bu May pura - pura tidak tahu.
__ADS_1
"Iya Bu, aku sekretaris barunya Pak Arya". Jawab Siska.
"Wah kebetulan sekali, mungkin ini yang dinamakan jodoh". Ucap Bu May bersemangat tanpa merasa kalau yang diucapkan itu salah.
"Apa maksud ibu? Arya sudah beristri dan sebentar lagi Aisyah akan melahirkan anak Arya dan kamu Siska tolong ingat batasan kamu". Ujar Arya mempertanyakan maksud ucapan ibunya barusan dan menatap tajam ke Siska.
"Halah perempuan kayak gitu saja kamu banggakan, dia itu gak ada apa - apanya di bandingkan dengan Siska. Sampai kapan ibu tidak akan menerima dia sebagai menantu". Ucap Bu May nyalang.
"Tante jangan kayak gitu, benar yang Pak Arya bilang. Hubungan aku dengan Pak Arya hanya sebatas atasan dan bawahan". Ujar Siska menengahi padahal dalam hatinya dia bersorak gembira karena Bu May berpihak padanya.
Ibu May tidak bergeming, Arya meramas lututnya menahan emosi.
Dia ingin membalas ucapan ibunya tapi ponsel yang berdering, ada panggilan dari istrinya. Bergegas dia mengangkat telfon itu.
"Kamu kenapa yank? Iya iya Mas pulang sekarang, tunggu Mas ya". Teriak Arya panik mendengar istrinya kesakitan.
Bu May dan Siska kaget mendengar teriakan Arya, mereka berdua saling berpandangan.
"Bu, Arya pulang dulu Aisyah lagi kesakitan. Assalamu'alaikum". Pamit Arya buru - buru pulang.
"Ta..tapi Arya, bagaimana dengan Siska?". Bu May memanggil Arya.
"Aduh,, aduh,, kepala ibu pusing". Ucap Bu May
pura - pura ingin pingsan.
"Siska tolong jaga ibu saya. Saya harus pulang". Arya pergi meninggalkan rumah ibunya tanpa mendengar jawaban dari Siska.
"Tapi ini Tante May gimana ini?". Siska tampak kebingungan menangani Bu May yang pingsan. Mobil Arya sudah melesat meninggalkan rumah ibunya.
"Mana Arya?". Bu May terbangun dari pingsan bohongannya.
"Dia udah pulang, gimana sih Tante semua gagal total". Jawab Siska dengan muka ketekuk.
"Jangan cemberut gitu, itu pasti gara - gara istrinya yang sialan itu. Gimana kalau kita jalan - jalan saja ke Mall?". Bu May berusaha membujuk dan menenangkan wanita muda di sampingnya.
"Udahlah aku pulang saja". Ucap Siska mengambil tas kemudian beranjak meninggalkan rumah Bu May.
"Siska tunggu dulu jangan pergi, siskaaa". Bu May berusy menahan Siska, tapi wanita tidak peduli dan pergi menggunakan taksi online.
'Sialan semua berantakan gara - gara Aisyah sialan itu, semoga dia keguguran dan Arya menceraikannya. Aduh gimana nih kalau Siksa cerita ke Jeng Merry'. Batin Bu May cemas.
__ADS_1
Bersambung.