
Pov (Aisyah)
"Mas tempat produksi lulur gimana?". Tanyaku.
"Alhamdulillah dikit lagi rampung yank, tinggal beberapa bagian yang perlu direnovasi. Mungkin beberapa hari lagi siap, tempatnya berdekatan dengan tempat produksi cemilan kita". Jawab Mas Arya.
"Syukurlah kalau gitu, insyaallah dilancarkan". Ucapku.
"Aamiin yank". Timpalnya.
"Oya mas tau gak karyawan aku yang namanya Wati keponakannya Mang Agus?". Tanyaku.
"Hmm, yang orangnya pendiam itu kan? Emang kenapa dengan dia yank?. Mas Arya balik bertanya.
Akupun menjelaskan tentang pembicaraanku dengan Wati tadi sore, Mas Arya ikut kasihan mendengarnya.
Tok.. Tok.. Ketukan di pintu kamarku.
"Ini Ratna, mbak".
"Iya bentar Rat". Aku memakai jilbabku dan segera menemuinya bersama Mas Arya. Tidak lupa membawa gaji Wati dan ada tambahan rejeki dariku dan suamiku untuknya.
Kamipun menuju ruang tamu, di sana sudah ada Wati yang menungguku.
"Ini mbak pendapatan hari ini. Oya aku udah hubungi temanku, mereka siap kapan aja mulai kerjanya ". Ucap Ratna.
"Oke nanti mbak hubungi kalau sudah waktunya mereka kerja, sekalian bicarakan soal gaji mereka nantinya". Ujarku.
Ratnapun pamit pulang setelah memberikan kontak temannya. Tinggal aku, Mas Arya dan Wati.
Akupun mengeluarkan dua amplop coklat yang sudah ku siapkan.
"Ini Wat gaji kamu bulan ini, dan ini ada sedikit rejeki dari kami. Mohon diterima ya, semoga bermanfaat untuk kamu dan keluarga kamu". Ujarku seraya memberikan amplop coklat itu padanya.
__ADS_1
"Makasih banyak mbak dan mas, semoga rejeki kalian dilancarkan". Ucapnya dengan suara parau.
"Aamiin, sama - sama Wati. Salam buat keluarga kamu disana, semoga ibumu kamu lekas pulih dan kamu bisa balik kerja disini". Tuturku, aku berharap dia masih tetap bekerja disini setelah ibunya pulih karena walaupun dia pendiam, dia kerjanya cekatan dan bersih.
Wati hanya membalas dengan anggukan dan kemudian pamit karena sudah pukul sebelas malam. Sudah ada Mang Agus yang menunggunya di depan pagar. Selama kerja disini, Wati tinggal di rumah Mang Agus.
Terdengar suara klakson motor dari Mang Agus bersamaan dengan suara motor yang mulai berlalu. Setelah memastikan pagar dan pintu terkunci dengan baik, kamipun masuk ke kamar.
Sesampai di kamar aku pun menyalin nota dan catatan dari Ratna ke laptopku hadiah karena kehamilanku dari Mas Arya, untung dia sudah mengajarkanku tentang pembukuan penjualan jadi aku cukup mahir mengerjakannya sendiri.
Aku berencana membeli satu laptop lagi khusus untuk penjualan online nanti.
Setelah beres semua, Mas Aryapun menyuruhku segera tidur, dia sudah melarang ku begadang tapi aku tidak suka menunda pekerjaan takutnya kalau besok malah aku lupa.
***
Keesokan harinya setelah sholat subuh, Mbok Darmi, Ratna dan para pekerjaku bagian produksi sudah datang. Merekapun segera melakukan pekerjaannya masing - masing. Dua minggu yang lalu sudah di buat tempat khusus mengolah bahan makanan dan minuman untuk lapak, jadi tidak gabung dengan dapur rumah ini.
Hari ini produksi untuk persediaan ke depan, jadi setelah selesai dibuat semua dikemas dalam plastik vakum lalu simpan di freezer. Karena bagian produksi sudah ada Ratna yang menghandle, jadi aku mengerjakan yang pekerjaanku yang lain. Mas Arya sudah berangkat ke kantor jam setengah tujuh karena hari ini dia ada pertemuan dengan klien.
Setelah beres semua, mereka pamit pulang. Aku menggaji mereka perhari sesuai kemauan mereka karena mereka semua adalah ibu - ibu yang punya banyak tanggungan, dua dari mereka adalah janda.
***
Aku tengah menonton TV dengan Mbok Darmi karena pekerjaan rumah telah beres semua, maka aku mengajaknya bersantai. Saat pertama kerja disini, Mbok Darmi duduk di bawah tapi aku melarangnya walaupun beliau bekerja padaku tapi bagiku beliau tetap orang tua yang wajib dihormati. Derajat kita sama di hadapan Allah. Awal beliau segan duduk diatas denganku tapi aku bilang akan ikut duduk juga di bawah kalau beliau tepat duduk di bawah akhirnya Mbok Darmi mau duduk di atas.
Beliau sempat menitikkan air mata karena terharu sebab selama ini beliau kerja di orang, majikannya tidak ada yang pernah memperlakukannya dengan baik sepertiku. Apalagi aku menganggapnya sebagai ibuku sendiri karena Mbok Darmi tidak mempunyai anak.
Aku juga senang dengan adanya beliau aku tidak sendirian, aku juga merindukan sosok seorang ibu. Sikap lemah lembut dan ramah seperti Almarhum Emmaku yang membuatku nyaman berada di dekatnya. Andai hubunganku dengan ibu mertuaku bisa sedekat ini, pasti hidup kami akan tenteram dan bahagia. Andai juga beliau mau menerima ku sebagai menantunya pasti dengan senang hati aku menuruti kemauannya.
Semoga Allah segera melunakkan hati ibu Mertuaku itu, agar kami bisa hidup berdampingan dengan baik apalagi aku sedang mengandung cucunya.
***
__ADS_1
Pov (Author)
'Kenapa penghasilan tokoku semakin menurun, semakin hari semakin sepi saja. Para pelanggan yang biasa mengambil barang di tempatku juga sudah jarang kesini berbelanja. Padahal aku sudah habiskan banyak modal untuk mengisi barang toko yang kosong tapi sudah lebih dari seminggu sepi begini'. Keluh Ryan.
"Jupri bagaimana pendapatan hari ini?". Tanya Ryan pada karyawannya bagian kasir.
"Hanya segini pak, sudah siang gini belum ada yang belanja". Jawab Jupri memperlihatkan isi mesin kasir.
Ryan menghela napas mendengar penjelasan Jupri. Sebenarnya sudah hampir sebulan dia merasa kalau ada masalah tapi baru seminggu dia ini tokonya benar - benar sepi pembeli. Dia sudah menghubungi para pelanggan tapi tidak ada yang merespon pesan dan telvon darinya.
Akhirnya dia pulang ke rumah karena kondisi toko sepi jadi bisa di handel oleh karyawannya, kalau biasanya dia harus turun tangan mengurus toko karena selalu ramai dengan pembeli.
Tring
Baru saja dia turun dari mobil ada pesan dari ibunya yang minta dikirimkan uang yang membuatnya semakin pusing. Memang untuk soal keuangan ibu dan adiknya Rani bergantung padanya karena setelah ayahnya meninggal dia yang mengambil alih menafkahi mereka, tapi sekarang keuangannya sedang bermasalah.
Terpaksa hanya sekedarnya bisa dia kirim, mungkin kalau tokonya masih terus sepi dia akan berhenti mengirim uang untuk mereka sampai keuangannya kembali seperti semula. Lagian ada Arya, dia juga anak ibunya. Dia pasti sanggup menafkahi ibunya dan Rani karena sekarang dia sudah sukses.
Setelah membalas pesan dari ibunya dan mentransfer sejumlah uang, Ryan pun mencari keberadaan istri dan anaknya.
"Bi Sumi, ibu dan Maira kemana?". Tanya Ryan kepada asisten rumah tangganya yang berumur sekitar empat puluh tahunan.
"Tadi Ibu pergi katanya ada urusan, kalau non Maira kayaknya lagi di kamarnya. Tuan kalau mau makan sudah saya siapkan di meja makan". Jawabnya.
"Nanti aja bi, saya mau istirahat dulu". Ujarnys dan berlalu ke kamarku. Sebelumnya dia mengecek kamar Maira, tenyata dia sedang tidur
Bi Sumi sudah bekerja kurang empat tahun di rumah Ryan, mungkin nanti Ryan akan merumahkannya untuk sementara kalau keuangannya masih seperti ini. Sebenarnya tak tega karena Bi Sumi sudah cukup lama kerja dengan nya dan kerjanya juga bagus. Tapi mau bagaimana lagi, dia masih banyak tanggungan. Rumah ini dan mobil milik Bella belum lunas cicilannya belum lagi kebutuhan yang lainnya.
Tidak berapa lama Bella pulang dengan banyak belanjaan di tangannya, Maira yang melihat kedatanganku bundanya berlari menghampirinya.
"Banyak sekali belanjaan mu Bell, Mas kan udah bilang untuk jangan belanja dulu sampai keuangan kita membaik. Kita harus berhemat". Ujar Ryan melihat istrinya yang masih saja berbelanja barang mewah.
Bella tidak menggubris ucapan suaminya, dan malah berlalu bersama Maira ke kamar anaknya.
__ADS_1
Ryan menghela nafas kasar melihat kelakuan istrinya.
Bersambung.