Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 67


__ADS_3

Pov (Author)


     Rani singgah membeli obat di apotek dekat kostnya untuk mengobati luka lecet di lutut dan sikunya.


Dia membeli Alko*hol, petroleum jelly, kassa steril, hipa*fix dan obat antibiotik sesuai saran dari petugas apotek tersebut. Saat keluar dari apotek ada yang memanggilnya.


"Raniii". Teriak seseorang, dia pun berbalik.


Dia memicingkan mata mencoba mengenali orang yang memanggilnya. "Santi kan??" Tanya Rani memastikan.


"Iya ini gue Santi, lo kemana aja kagak pernah keliatan di kampus? Lo tinggal sekitar sini atau cuma singgah aja?" Tanya wanita itu balik yang ternyata yang dia adalah teman sekelas Rani di kampus.


"Eee.. Gue udah berhenti kuliah, udah malas belajar, mending gue kerja cari duit sendiri. Gue ngekost di belakang, terus Lo ngapain disini?" Rani balik bertanya pada Santi


"Oh gitu ya. Kalau gue juga sekarang kerja tapi gua masih kuliah, lo kan tau gue ini yatim piatu jadi gue harus biayain diri gue sendiri, gue gak mau ngebebanin bibi gue terus. Gue kerja di minimarket indo*April situ, gue cuma ngambil shift sore sampai malam biar gak bertabrakan dengan jam kuliah tapi kalau lagi libur kuliah gue ambil shif pagi seperti hari ini. Ini gue baru pulang kerja". Terang Santi sambil menunjuk tempat kerjanya yang ternyata dekat dengan kost Rani, walaupun mereka tidak dekat tapi Santi cukup populer di angkatan mereka karena kecantikannya dan dia juga cukup cerdas tapi sayangnya dia miskin makanya Rani gak sudi berteman dengannya. Selain itu Rani juga iri pada Santi karena banyak pria yang menyukainya.


"Oh gitu ya, gue balik duluan ya soalnya mau bersihin luka gue nih". Pamit Rani sebenarnya dia juga udah gak nyaman bicara sama Santi karena ini pertama kali mereka ngobrol.


"Astaga ini kenapa? Lo habis jatuh ya?" Tanya Santi kuatir melihat lutut Rani yang lecet.


"Gak apa - apa kok, tadi gak sengaja ada nyenggol gue pas pulang tadi". Jawab Rani berbohong.


"Mau gue bantuin bersihin gak? Gini - gini gue jago bersihin luka, dulu waktu nyokap gue masih idup, gue yang bersihin luka diabetes dia". Ucap Santi menawarkan bantuan.


Rani nampak berpikir. 'Apa gue terima aja tawaran dia, gue juga gak tau cara bersihin luka. Kayaknya gue juga butuh teman cerita'. Gumam Rani dalam hati.


"Hmmm.. Boleh deh, gue juga kagak tau gimana bersihin luka, yuk ikut kita ke kost an gue". Jawab Rani sambil nyegir lalu mengajak Santi ke kostnya.


Sesampainya di kostnya, Rani segera membuka pintu dan mempersilahkan Santi masuk.


"Maaf ya kalau berantakan, oya lo mau minum apa? Ambil saja sendiri di dalam kulkas. Gue mau ganti baju dulu". Ujar Rani lalu masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Santi menanggapi dengan anggukan, dia terlihat takjub melihat kost Rani yang lebih besar dari pada rumah bibinya atau pun rumahnya dulu di kampung. Sejak kedua orang tua meninggal, dia tinggal dengan tantenya. Karena rumah peninggalan orang tuanya sudah dijual untuk menutupi utang. Dia melihat sekeliling, isi kost Rani pun lumayan lengkap dan cukup rapi.

__ADS_1


Tidak berapa lama Rani pun kembali ke ruang tamu. Dia terlihat segar kayaknya dia habis mandi karena rambutnya tergulung handuk.


"Nih obatnya". Ujar Rani menyerahkan plastik dari apotek kepada Santi, lalu dia duduk dengan meluruskan kakinya.


"Ehh iya, kost lu bagus ya, gede juga kost lu". Ujar Santi.


"Gak lah, ini kecil buat gue. Masih gedean rumah gue". Ucap Rani sedikit sombong.


'Gila kayak gini dia bilang kecil, gue kagak bisa bayangin gimana mewahnya rumah dia. Orang kaya mah bebas'. Batin Santi.


"Kapan nih Lo bersihin luka gue, bengong aja dari tadi. Ntar kalau lu kesambet gue getok pala lo pake sapu". Ucap Rani menyadarkan Santi yang bengong sendiri.


"Hehe.. Iya maaf. Ini lukanya lu udah bersihin ya?" Tanya Santi karena dia lihat luka Rani udah agak bersih dari yang tadi dia lihat sebelumnya.


"Iya tadi gue bersihan sedikit di kamar mandi sekalian mandi gue". Jawab Rani.


Santi pun mulai membersihkan luka Rani dengan hati -  hati, masih ada beberapa pasir yang menempel di luka Rani, dia nampak sedikit meringis saat lukanya di bersihkan dengan alko*hol. Tapi kemudian menjadi dingin setelah dioles jelly.


Tiba - tiba Rani menitikkan air mata karena mengingat kejadian memalukan yang tadi siang dia alami.


"Napa lo nangis? Sakit ya gue bersihinya? Aduh maaf ya tadi gue udah hati - hati banget". Ujar Santi kuatir karena tangisan Rani gak berhenti, Rani menggeleng lalu tiba - tiba Rani memeluk Santi. Santi jadi tambah bingung apa yang terjadi dengan Rani, dia pun berusaha menenangkan Rani.


"Lo ada masalah apa? Kalau lo mau, lo bisa cerita gue. Siapa tau gue bisa bantu". Ujar Santi sambil mengusap punggung Rani.


Rani pun melepaskan pelukannya dan terlihat sesenggukan.


"Gue butuh teman cerita tapi lo janji jangan cerita sama siapa pun". Ucap Rani sambil menghapus air mata, walaupun mereka tidak dekat tapi Rani merasa Santi bisa dipercaya


Santi menggangguk. "Iya gue janji, lo biasa percaya sama gue". Ujar Santi dengan wajah serius.


"Gu.. Gue hamil dan orang yang ngehamilin gue' tidak mau bertanggung jawab. Gue udah berusaha gugurin tapi bayi ini terlalu kuat, gue takut keluarga gue tau. Mereka pasti gak akan mengampuni gue". Rani bercerita sambil menangis lagi.


Santi terlihat kaget mendengar cerita Rani, dia tidak menyangka gadis yang selama ini dia liat angkuh dan masa bodoh dengan orang lain yang di bawahnya ternyata mempunyai masalah sangat berat seperti ini.

__ADS_1


"Be.. Berapa bulan?" Tanya Santi ragu - ragu.


"Kayaknya udah jalan dua bulan". Jawab Rani sesenggukan.


"Plis bantuin gue cari cara gugurin bayi ini, gue belum siap punya anak. Apa lagi nanti dia lahir tanpa bokap". Mohon Rani sambil menggenggam tangan Santi.


Santi terlihat bingung, dia tidak tahu bagaimana cara membantu Rani karena dia belum pernah mengahadapi masalah seperti ini. Tapi tiba - tiba dia teringat sesuatu.


"Gue ada cara sih, tapi gue gak yakin cara ini bakal berhasil atau gak". Jawab Santi ragu.


"Apa caranya, cepat kasih tau gue?" Desak Rani tidak sabar.


"Di tempat tinggal gue yang dulu ada seorang paraji atau dukun beranak namanya Mak Ijah, dia udah berpengalaman bantuin orang melahirkan. Dia juga menerima jasa pijat ibu hamil dan bayi. Wanita yang susah hamil juga banyak yang berobat ke dia. Tapi yang gue dia bisa juga bantu gugurin kandungan asal bayarannya mahal". Terang Santi.


Wajah Rani terlihat sumringah. "Lo bisa antar gue kesana kan? Plis antarin gue, entar gue kasih lo imbalan". Ucap Rani dengan wajah memelas.


"Tapi lo yakin mau kesana? Kan belum tentu Mak Ijah bisa bantu". Tanya Santi ragu.


"Kita gak bakalan tau bisa atau gak kalau belum dicoba. Udah lo tinggal antarin gue aja. Jadi kapan lo bisa antarin gue? Kalau bisa secepatnya". Ucap Rani yakin dan mantap dengan keputusannya, apapun akan dia lakukan asal bayi di kandungannya gugur. Kalau berhasil, berapapun yang diminta dukun itu akan dia kasih.


"Ya udah gimana kalau besok? Kebetulan besok gue masuk pagi, ntar habis gue selesai kerja kita ke rumah Mak Ijah. Soalnya kampung gue dari sini sekitar hampir tiga jam, nanti kita sampai di sana malam. Malah bagus sih biar gak ada warga yang liat kita. Oya gue pulang dulu ya, udah malam nih. Takutnya bibi gue nyariin". Ujar Santi sambil pamit.


"Oke ntar kita ketemu di depan tempat kerja lo. Oya ini buat ongkos pulang dan tanda terima kasih karena lo udah bersihin luka gue". Ucap Rani sambil memberikan beberapa lembar uang merah kepada Santi.


"Gak usah Ran, gue ikhlas kok bantuin lo". Tolak Santi halus.


"Gue juga ikhlas ngasihnya kalau lo gak mau terima, gue bakal marah sama lo". Ucap Rani memaksa.


"Ya udah gue terima, makasih ya. Gue pamit, lo istirahat gini. Assalamu'alaikum". Santi pun keluar meninggalkan kost an Rani. Sebelumnya mereka sudah bertukar nomor ponsel.


"Wa'alaikum salam". Jawab Rani sambil menatap kepergian Santi, setelah temannya itu menghilang dari pandangannya, dia lalu mengunci pintu kostnya dan segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat. Dia tidak sabar menunggu besok, dia berharap semuanya akan berjalan lancar.


Dia sempat mengecek ponselnya berharap Pak Ronald menghubunginya namun nihil. Hanya ada pesan dan panggilan dari ibunya, yang pasti isinya dan maksud ibunya menghubungi apa lagi kalau tentang uang. Dia pun menonaktifkan ponselnya agar ibunya tidak mengganggunya terus.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2