Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 18


__ADS_3

Pov (Aisyah)


Keesokan hari


Setelah sholat, aku dan Mas Arya sudah disibukkan dengan perkembangan, kami membersihkan rumah karena hari ini acara baca doanya.


Sekitar jam tujuh an, Babe dan beberapa karyawannya datang kerumah untuk mendekor rumah, setelah menyajikan cemilan dan minuman untuk mereka. Aku pamit ke rumah Babe untuk membantu Emak.


Sesampainya di sana, ternyata ada Emak, Mbok Minah, Ratna, Mbak Ningsih dan satu orang ibu seumuran emak yang aku tidak tahu namanya yang sedang mengemas makanan dalam kardus kotak makan. Akupun ikut bergabung dengan mereka. Aku juga berkenalan dengan ibu yang tadi, namanya Bude Sari, orangnya ramah dan suka bercanda seperti emak dan ternyata mereka berdua teman sepermainan dari kecil. Rumah beliau tepat di samping rumah emak, tapi sekarang beliau tinggal di rumah anaknya di kota, sedangkan rumahnya di sewa orang lain. Obrolan kami jadi seru karena celetukan - celetukan dari Emak dan Bude Sari. Oya kompleks ini berada di kabupaten agak jauh dari kota tapi bukan pedesaan.


"Kamu menantunya Maesaroh ya nduk?". Tanya Bude Sari.


"Maksud bude, Bu May?". Tanyaku balik.


"Iya May, tapi lengkapnya Maesaroh. Dia itu loh suka ngamuk kalau ada yang manggil nama lengkapnya. Masih tukang ngamuk gak itu mertuamu?" Tanya Bude lagi.


"Mertua aku baik kok bude, hampir gak parah marah". Ucapku berbohong, walaupun ibu mertuaku tidak memperlakukanku dengan baik tapi aku tetap ingin menjaga nama baiknya demi suamiku.


"Alhamdulillah kalau gitu.  Bude, Emak dan mertuamu dulunya bersahabat tapi sejak Bude dan Emak duluan nikah, dia seperti menjauh. Oya ntar mertuamu hadir gak? Udah lama bude gak ketemu dia".


Aku pun bingung untuk menjawab pertanyaan bude, karena baik aku maupun Mas Arya gak ada pembicaraan tentang mengundang beliau. Tamu yang hadir juga hanya warga jalur sini sesuai saran Babe dan Emak.


"Ini udah beres semua kan? Lebih baik segera antar ke sebelah aja, itu udah ada karwayan Babe yang mau ambil". Ujar Emak.


"Ais kamu siap - siap aja, kan kamu tuan rumahnya biar ini semua kami yang urus. Oya kamu ikut emak bentar ya" Ucap lagi Emak sambil menggandeng tanganku.


'Untung aja ada emak, kalau gak aku bingung mau jawab apa pertanyaan Bude Sari'. Batinku sambil menghela nafas kemudian mengikuti emak ternyata kami menuju kamarnya


"Kamu tunggu sini bentar ya". Kata emak kemudian masuk kamarnya, aku menunggu depan pintu.


Tak berapa lama emak keluar.


"Ini ada gamis buat kamu pake dan ini baju Koko buat Arya. Nanti seragam sama Babe dan Emak. Sengaja Emak beliin setelah pembicaraan untuk acara baca doa ini ". Ucap Emak sambil memberikan gamis dan baju koko berwarna Lilac yang masih terbungkus plastik ke padaku.

__ADS_1


"Tapi emak.." kataku tertahan


"Gak apa - apa Ais,kamu gak boleh nolak. Kamu dan Arya juga kan anak Emak". Ujar Emak sambil tersenyum.


Aku pun tak kuasa menahan air mataku dan ku peluk beliau. Emak balas memelukku dan mencium pucuk kepala.


"Udah jangan nangis lagi. Sekarang kamu siap - siap sejam lagi acaranya". Ujar Emak menyudahi.


Setelah pamit aku  balik ke rumah. Ternyata semua udah beres dan rapi. Aku pun bergegas ke kamar.


Di dalam kamar sudah ada Mas Arya yang baru habis mandi, segera ku ambil handuk dan menuju kamar mandi. Setelah itu kami berdua sholat berjamaah di kamar.


Sehabis sholat, kami berdua mengenakan pakaian yang di berikan Emak.


'Cantik banget gamisnya, modelnya pun simple tapi terlihat mewah, pas juga di badanku'. Batin saat melihat pantulan diriku di cermin.


"Istriku Mas makin cantik pake gamis ini". Ucap Mas Arya memujiku.


"Makasih mas, suamiku juga makin tampan". Kataku tersipu.


Akupun keluar kamar setelah merapikan penampilanku, aku menuju ke dapur. Ternyata di dapur sudah ada Mbak Ningsih dan Ratna anak Mbok Minah.


"Ais ini jalangkote langsung digoreng atau ntar aja?" Tanya Mbak Ningsih.


"Sekarang aja Mbak". Jawabku


Aku pun mengambil pisau untuk memotong kue katrisalanya dan menatanya di piring. Untuknya sanggra talemme nya aku pindahkan di piring terpisah. Tadi Ratna sudah membawa piring kecil dan sendok kecil dari rumah emak. Sambal jalakotenya aku tuang di mangkok kecil.


Setelah semua beres kami segera membawanya keluar karena kata Ratna di luar sudah ada beberapa tamu yang datang.


Sesampainya di ruang tamu, sudah ada emak dan Bude Sari yang sedang duduk di karpet bersama beberapa ibu - ibu, entah apa yang mereka obrolan mereka.


Akupun berjalan ke arah mereka kemudian menawari kue yang aku bawa.

__ADS_1


"Silahkan dicicipin kuenya". Ucapku sambil meletakkan kue yang kubawa di hadapan mereka.


"Eh ini kan menantunya Bu May kan, kok mertua kamu gak datang?" Tanya seorang ibu, saat ku liat wajah ternyata beliau adalah Bu RT.


Aku jadi gugup dengan pertanyaan beliau.


"Aisyah ayo kita ke depan itu Pak Ustadznya udah datang". Ujar emak menarik tanganku pelan.


Alhamdulillah aku diselamatkan oleh emak lagi. Kami pun bergabung dengan Mas Arya dan Babe yang sudah duduk di depan duluan bersama Pak Ustadz.


Acara pun dimulainya dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Pak Ustadz kemudian dilanjutkan dengan tauziah hidup bertetangga. Setelah usia tauziah, Babe berdiri dan memperkenalkan aku dan Mas Arya pada tamu yang hadir. Sehabis perkenalan, tiba waktunya acarab ramah tamah. Aku dan Mas Arya di bantu Mbak Ningsih dan suaminya membagikan nasi kotak kepada tamu yang hadir.


Tidak berapa lama, Pak Ustadz pamit karena masih ada acara di tempat lain tidak lupa Mas Arya memberi kue dan nasi kotak dan amplop untuk beliau, begitu juga beberapa tamu yang lain juga pamit pulang.


"Kuenya enak - enak loh Bu Hajjah, ini kue apa ya soalnya aku baru cobain kue kayak gini, kalau yang ini kayak pastel tapi kulit nya tipis terus sambal nya juga seger". Tanya seorang ibu bergamis merah, nama nya Bu Ratih, rumahnya paling ujung di jalur ini.


"Ini semua buatan Aisyah, kue khas daerah dia Sulawesi Selatan". Ucap Emak menjelaskan.


"Wah hebat ya Aisyah, udah cantik, ramah, pintar bikin kue juga. Nanti kapan - kapan ibu mau pesan kuenya. Penasaran juga dengan kue - kue lain dari daerah kamu. " Ujar Bu Ratih memujiku


"Iya kami juga mau dong pesan kuenya". Disusul ibu - ibu yang lain.


Diantara ibu - ibu itu ada seorang ibu yang aku perhatiin entah hanya perasaanku saja, dia selalu menatap sinis kepadaku.


"Nanti saya masukin Aisyah ke grub wa kompleks". Ucap emak.


Mereka pun pamit pulang.


Setelah semua tamu telah pulang, aku dan Mas Arya di bantu karyawan Babe membersihkan dan membereskan sisa acara tadi.


Emak dan babe sudah pulang duluan, aku meminta untuk beristirahat saja. Sedangkan Mba Ningsih tiba - tiba datang bulan dan dia tidak memakai pemba*lut.


Sekitar hampir sejam beres juga semua. Karyawan Babe juga pamit pulang, sebelum pulang kami mengucapkan terima kasih kepada mereka, aku berikan nasi kotak dan membungkuskan kue yang masih ada.

__ADS_1


Aku pun masuk ke kamar disusul Mas Arya setelah menutup pagar dan mengunci pintu depan. Setiba di kamar kami bergegas berganti baju, setelah itu berwudhu untuk melaksanakan sholat. Sehabis sholat kamipun mengistirahatkan diri.


Bersambung.


__ADS_2