
Pov (Author)
Arya dan Aisyah baru saja sampai di tempat tujuan, mereka tengah menunggu di sebuah ruangan. Tidak lama dua orang polisi wanita membawa dua orang wanita yang salah satunya sangat dikenal oleh mereka terlebih lagi Aisyah.
Dua wanita itu lalu duduk di hadapan Arya dan Aisyah. Kepala mereka tertunduk tidak berani menatap suami istri di hadapan mereka.
Aisyah menyinggungkan senyum miring, akhirnya gadis yang telah merugikannya kini sudah ada di hadapannya.
"Apa kabar Wulan? Apa kamu baik - baik saja? Apa hidupmu selama ini tenang? Lama kita gak ketemu ya, kok kamu keluar kerja gitu aja tanpa pamit sama saya? Oya gimana juga kabar adik - adik kamu?" Tanya Aisyah dengan nada menyindir.
"Mbak, aku minta maaf Mbak. Aku hanya di suruh. Aku terpaksa demi biaya berobat adikku". Ucap Wulan mengiba dengan suara bergetar, dia meraih tangan Aisyah tapi dengan cepat Aisyah menarik tangannya. Ingin sekali rasanya dia tertawa terbahak - bahak seandainya mereka tidak berada di kantor polisi. Masih saja Wulan bersandiwara padahal semua kebohongannya sudah diketahui.
"Apa wanita yang di sebelahmu ini yang menyuruhmu?" Tanya Aisyah menetap wanita di sebelah Wulan. Gadis itu mengangguk.
"Siapa nama kamu? Apa kita saling kenal?" Tanya Aisyah pada wanita itu yang nampak usianya lebih tua dari Aisyah.
"Na.. Nama saya Tini, kita tidak saling kenal. Tapi saya tau kamu". Jawab wanita bernama Tini dengan gagap, dia belum berani menatap Aisyah.
"Lalu apa alasan kamu melakukan ini terhadap usaha kami? Apa kamu tau apa saja kerugian yang kami alami?" Tanya Aisyah lagi dengan suara mulai meninggi, Arya memenangkan istrinya dengan mengusap punggungnya. Aisyah menarik nafas dan beristighfar agar bisa mengendalikan amarahnya.
Bahu wanita Tini bergetar. "Saya minta maaf, saya iri karena jualan kamu lebih laris dari jualan saya, padahal saya sudah lama jualan seblak dan jajanan tapi setelah lapak kamu buka, usaha saya jadi sepi. Maka dari itu saya membayar Wulan untuk mencari tahu rahasia dari lapak kamu dan menghancurkan usaha kamu juga". Terang Tini dengan suara parau.
Aisyah tertawa pelan mendengar alasan Tini. "Dangkal sekali pemikiran kamu. Kalau kamu manusia yang beragama seharusnya kamu tau kalau rejeki setaiap orang itu sudah diatur sama Allah. Seharusnya kamu instrospeksi diri, bukan malah mengorbankan usaha orang lain agar usaha kamu maju. Ingat baik - baik sesuatu yang di dapatkan dengan cara yang curang tidak akan berkah dan tidak akan bertahan lama. Dan berusahalah naik tanpa menjatuhkan orang lain". Ucap Aisyah penuh penekanan.
"Tolong maafkan kami, kami janji tidak akan melakukan perbuatan kami lagi. Kami juga akan Menganti semua kerugiannya". Ujar Tini dan Wulan mengiba bersamaan.
"Iya memang kalau harus ganti rugi, saya akan memaafkan kalian tapi ada syaratnya". Ucap Aisyah.
"Apapun syarat akan kami penuhin asalkan kami dimaafkan". Ujar mereka penuh harap.
__ADS_1
"Oke saya akan maafkan kalian berdua dengan syarat kalian harus menganti rugi semua kerugian yang kami alami dan membuat video klarifikasi dan pengakuan atas perbuatan kalian yang nantinya akan saya upload di akun media sosial saya dengan menandai akun kalian. Apa kalian bersedia?" Tanya Aisyah sambil menatap mereka tajam.
Tini dan Wulan saling memandang dan merekapun menyetujui syarat yang diberikan oleh Aisyah. Kemudian Arya merekam video klarifikasi mereka lalu Aisyah menguploadnya video itu di semua akun media sosialnya dengan menandai Tini dan Wulan. Sedangkan Tini sudah mentransfer uang ganti rugi dengan meminta tolong untuk menggunakan ponselnya sebentar yang telah disita oleh polisi.
"Oke kalau begitu kami pamit dulu, karena masih ada urusan lain". Ujar Aisyah lalu berdiri bersama Arya.
"Terus kapan kami dibebaskan?" Tanya Wulan memberanikan diri.
"Bebas? Siapa yang bilang kalian akan bebas?" Tanya Aisyah mengangkat alisnya. Wajah mereka yang tadi mulai tersenyum karena akan bebas mendadak terdiam.
"Loh bukannya kamu akan memaafkan kami kalau kami akan melakukan syarat dari kamu. Kan kami sudah lakukan semua. Kenapa kamu gak bebasin kamu? Kamu mau nipu kami ya?" Ujar Tini dengan suara tinggi, mata melotot menatap Aisyah. Arya berdiri di depan istrinya untuk melindunginya, jangan sampe Tini atau Wulan menyerang Aisyah.
"Sepertinya kalian salah paham deh, saya memang sudah memaafkan kalian tapi bukan berarti kalian bisa bebas. Hukum harus tetap berjalan dan kalian harus mempertanggung jawabkan perbuatan kalian". Jawab Aisyah tegas.
Tini hendak menyerang Aisyah tapi dengan sigap Polwan yang tadi membawa mereka segera memegangi tubuh mereka berdua, mereka berdua berontak.
Berhenti bersandiwara Wulan, saya sudah tau semua kebohongan kamu. Jangan terus berbohong atau saya akan laporkan kamu dengan tuduhan pemalsuan data". Ujar Aisyah, tubuh Wulan menegang mendengar ancaman Aisyah
Mereka lalu di seret paksa kembali ke dalam sel mereka. Terdengar makian dan umpatan dari Tini.
Aisyah menarik nafas dalam, Arya bangga dengan ketegasan istrinya. Mereka berdua lalu pamit dan berterima kasih polisi karena telah mereka Tini dan Wulan.
Mereka lalu meninggalkan kantor polisi menuju kediaman mereka.
***
Sedangkan itu di dua penjara berbeda.
Pak Rudi dan Bu May di temukan merenggang nyawa di sel mereka masing - masing. Pak Rudi ditemukan dengan kondisi leher tertusuk benda tajam, ditangannya terdapat pecahan kaca. Sedangkan Bu Merry ditemukan di kamar mandi penjara ketika dia sedang mendapat giliran tugas membersihkan kamar mandi, dia menegak cairan pembersih lantai. Alasan keduanya mengakhiri hidup mereka karena mereka sering mendapat perlakuan tidak baik dari teman sesama sel mereka dan karena tidan sanggup menanggung malu karena perbuatan mereka.
__ADS_1
Siska yang tengah bersembunyi di suatu tempat, menangis histeris mendengar kematian orang tuanya yang memang diberitakan
di televisi, seorang pria berusaha menenangkannya. Dia bersumpah akan membalas dendam Arya dan Aisyah karena baginya, mereka salah satu penyebab penderitaan yang dia alami sekarang.
Tentu saja berita itu menjadi heboh dimana - mana termasuk di grub sosialita yang diikuti Bu May, ada yang bersimpati tapi tidak sedikit yang nyinyir. Bu May tentu senang karena dengan kematian Bu Merry dia tidak perlu membayar utang - utangnya toh tidak akan ada yang menagih lagi.
"Syukurlah dia modar, jadi saya utang - utang saya lunas semua. Mana mungkin orang yang sudah mati mau nagih hutang. Hehe.. Untung kami gak jadi berbesan". Batin Bu May dalam hati sambil membaca komentar - komentar dalam grub.
Bu May menatap jengkel ke Rani yang tengah tertidur, sedikit lagi dia akan di kuret.
"Dasar anak tidak berguna, bisanya hanya menyusahkan. Kenapa tidak mati saja, biaram tidak buat saya malu". Umpat Bu May.
***
Sesampainya di rumahnya, Arya dan Aisyah langsung menuju kamar untuk berganti pakaian dan beristirahat. Tadi di perjalanan mereka sudah singgah makan dan sholat.
"Mbok, Maira sudah pulang belum?". Tanya Aisyah pada Mbok Darmi.
"Sudah neng, dia ada di kamar. Mungkin lagi tidur, tadi di antar pulang sama Neng Mila". Jawab Mbok Darmi.
Aisyah manggut - manggut. " Ini upah Mbok hari ini, kalau pekerjaan Mbok sudah selesai. Mbok boleh pulang. Aku mau istirahat dulu". Ucap Aisyah sambil menyerah upah harian Mbok Darmi.
"Terima kasih neng, kerjaan Mbok udah semua. Mbok tungguin kalian pulang. Gak mungkin Mbok pulang dan ninggalin Maira sendirian di rumah, kalau gitu Mbok pamit pulang neng. Assalamu'alaikum". Pamit Mbom Darmi.
"Wa'alaikum salam". Jawab Aisyah lalu mengantarkan Mbok Darmi ke depan.
Setelah Mbok Darmi pulang, Aisyah lalu mengunci pagar dan pintu rumah. Kemudian segera menyusul Arya yang sudah duluan ke kamar. Tubuh Aisyah sudah sangat lelah karena dari pagi dia belum istirahat.
Bersambung.
__ADS_1