
Pov (Aisyah)
Duarrr...
"Astaghfirullahaladzim". Ucapku
beristighfar melihat kelakuan mertuaku.
Setelah kepergian mertuaku. Aku masuk ke kamar lalu mengambil ponselku di atas nakas. Ku pandangi ponsel keluaran lama yang cuma bisa untuk menerima panggilan dan pesan singkat saja karena tidak pernah diisi paket internet.
Aku pun berniat untuk membeli paket internet menggunakan uang pemberian Mas Arya kemarin, sudah lama juga aku gak buka sosmed.
Setelah memakai jilbab instan dan cardigan karena aku cuma mengenakan daster lengan pendek, aku pun keluar menuju warung Mpok Atik untuk membeli paket internet.
Setibanya di warung Mpok Atik, terlihat banyak ibu - ibu yang sedang ngumpul. Melihat kedatanganku, mereka pun berbisik dan memandang dengan sinis.
"Eh ada Aisyah, mau beli apa neng?" Tanya Mpok Atik ramah.
"Mau beli paket internet yang lima puluh ribu Mpok?" Jawabku.
"Catat nomornya disini neng". Ucapnya sambil menyerahkan buku dan pulpen.
Akupun menuliskan nomorku dan Mpok Atik mengirimkan paket internetnya.
"Udah masuk tuh neng coba dicek. Cuma beli itu aja, gak belanja yang lain?" Tanyanya lagi.
"Iya udah masuk Mpok. Ini aja Mpok, berapa totalnya mpok". Tanyaku balik.
"Lima puluh tiga ribu neng". Jawab Mpok Atik.
"Ini Mpok uangnya". Ucapku sambil memberi uang pas.
"Eh Aisyah napa tadi lu kagak ikut mertua lu bantu - bantu di rumah Bu RT? Walaupun lu warga baru disini tapi kan mertua lu warga lama, harusnya lu ikut harga hadir biarpun kagak bantu apa - apa. Macam mertua lu itu kagak ngapain - ngapain tapi pulang bawa bingkisan, memang ngasih tapi amplop paling isinya duit seribuan sepuluh lembar, mertua lu kan pelit bin medit, ngakunya aja orang kaya, lu juga mustinya bersosialisasi dengan warga sini jangan mendekam terus dalam rumah macem kura - kura..hahaha". Cerocos Mpok Eli sambil tertawa diikuti ibu - ibu yang lain ikut tertawa.
"Udah gak ngurus orang lu Eli, lu juga ngapain disini kagak bantu disono, malah ngerumpi dimari?". Tanya Mpok Leha.
"Kita mah udah bantuin dari habis subuh, udah selesai kerjaan makanya kita pada pulang, acaranya ntar sore, kan tamu undangannya para pejabat sama teman - teman kantor anaknya Bu RT". Jawab Mpok Eli.
Akupun segera pamit karena tidak nyaman berada diantara mereka yang nyinyirin aku dan mertuaku.
"Aku permisi dulu ya, masih ada kerjaan di rumah, assalamualaikum". Pamitku
"Wa'alaikum salam". Jawab mereka bersamaan.
__ADS_1
Setelah sampai di rumah, dan masuk ke kamar dan mengaktifkan data seluler di ponselku. Akhirnya aku bisa buka sosmed dan main internet lagi. Aku berniat menghubungi keluargaku yaitu tante dan omku, selama ini aku berkomunikasi dengan mereka hanya melalui panggilan telfon atau pesan singkat, kalau ingin video melalui ponsel sepupu karena mereka kurang mengerti mengunakan ponsel android. Aku melihat sepupuku sedang online diaplikasi hijau. Segera tekan tombol untuk video call. Panggilan pertama tidak diangkat, akupun mengulang kembali. Akhirnya diangkat juga terlihat wajah tampan sepupuku tersenyum manis.
"Assalamualaikum de, bagaimana kabarmu de? mana tante sama om? Tanyaku.
"Wa'alaikum salam kak, Alhamdulillah baik kak, kalau kita bagaimana kabarta kak? Mamak lagi dibelakang ada angkat baju, kalau bapak masih di galung (sawah). Sabar nah saya bawakan hp ku ke mamak". Jawabnya.
"Mamakkk,ini ada video call na kak Ais". Terdengar suara nyari adeku sambil menuju ketempat tanteku berada".
Terlihat di layar hp wajah tanteku, wajahnya persis sekali dengan wajah almarhum Emmaku. Tidak terasa air mataku menetes. Begitu juga dengan tanteku yang juga menangis. Akupun saling melepas rindu dan membicarakan banyak hal. Setelah kurang lebih setengah jam kami, mengobrol aku pun mengakhiri pembicaraan kami setelah terdengar suara adzan, sebelum matikan video call, aku menitipkan salam untuk omku dan keluarga disana, aku pun berjanji akan menghubungi mereka lain waktu. Setelah itu aku bergegas untuk sholat.
Sehabis sholat aku beranjak ke dapur untuk memasak makan siang. Aku membuka pintu kulkas hanya ada telur dua butir, tempe setengah papan, sayur kol, kentang dan wortel sisa membuat capcay kemarin. Aku pun memasak dengan bahan makanan seadanya saja.
Setelah tiga puluh menit, jadi juga masakan ku. Ada telur balado, tempe goreng, sayur tumis serta sambel terasi. Tinggalkan disajikan di meja makan. Untung Mas Arya gak pernah pilih - pilih makanan, apapun aku pasti dia makan dengan lahap. Sedangkan ibu Mertuaku dan Rani mana mau makan menu kayak begini, katanya makanan orang miskin. Ada - ada saja mereka, padahal orang - orang hebat seperti Presiden kita juga suka makan tempe. Kalau ibu Mertuaku tadi bilang mau pergi kumpul dengan teman - teman pasti nanti dia udah makan diluar, sedangkan untuk Rani, kalau dia gak mau makan masakanku, biar nanti nasi kotak dari Bu RT dia yang makan aja tadi aku liat lauknya Ayam.
Ponselku berdering, tertera nama Rani memanggil. Umur panjang ini anak. Aku bergegas membuka pintu rumah. Anak itu kalau nyuruh dibukakan pintu pasti menelfon katanya malas ngetuk - ngetuk pintu.
Ceklek...
"Tumben cepat lu buka pintu, nah gitu dong jangan lelet macam keong, gak nunggu gue telfon berkali - kali baru lu bukain pintu. Minggir lu, gua mau masuk". Ujar Rani menerobos masuk sambil mendorongku tanpa mengucapkan salam, untung aku pegangan dipintu agar tak jatuh.
"Aisss, ibu kemana kok gak ada di rumah?" Tanya Rani mencari ibunya mengelilingi seisi rumah persis anak ayam kehilangan induknya.
"Tadi ibu nitip pesan kalau dia pergi ngumpul sama teman - temannya". Jawabku.
"Emang kamu nanya?". Tanyaku asal.
Rani menghentakkan kaki kesal macam anak kecil yang gak dikasih permen.
"Lu masak apaan ini, kagak ada yang lain yang bisa lu makan, kagak level gua makan makanan kayak gini". Ucap Rani sambil membuka tudung saji.
"Di kulkas cuma ada ini yang bisa dimasak, Mas Arya belum gajian. Kalau kamu mau, itu ada nasi kotak yang dibawa ibu dari rewangan Bu RT". Kataku sambil menunjuk nasi kotak depanku. Dasar ibu dan anak sama banget kelakuannya, kalau gak ingat aku numpang disini udah ku kandetto (jitak) juga ini anak manja biar gak kurang ajar.
Si anak manja pun segera mengambil nasi kotak itu dan membuka. "Nah kalau ini baru aku suka, tapi kok porsinya dikit, mana kenyang? Tapi biarlah daripada gak ada". Ia pun memakannya dengan lahap.
'Tinggal makan aja banyak protes'. Gumamku dalam hati. "Baca doa dulu Ran, sebelum makan biar gak makan bareng setan". Ucapku.
"Bacottt, lu kan setannya". Ujar sambil menjulurkan lidah.
'Astagfirullah, dosa apa aku punya ipar kayak gini, kayaknya harus diruqyah biar setan di badan keluar semua'. Ucapku dalam hati sambil geleng-geleng kepala dengan kelakuan ini anak.
Uhuk..uhukk... Rani batuk karena tersedak sambel, tangannya terjulur menuangkan air ke gelas dan meminumnya.
'Itu apa ku bilang, makanya kalau dibilang jangan melawan, masih mau ko?..Hehe'. Gumamku dalam hati sambil menahan tawa dan berlalu ke kamarku.
__ADS_1
Kumainkan ponsel, membuka aplikasi biru yang sudah lama tidak ku buka. Aku ada banyak permintaan pertemanan. Ada juga pesan yang masuk, ada satu pesan yang menarik perhatian dengan nama akun Anie Imutz Celalu. Dia sahabat lamaku sekaligus anak dari sepupu dari pihak Almarhum Ettaku. Ayahnya dengan Almarhum Ettaku adalah saudara sepupu satu kali. Tapi kami berpisah dari kelas dua SMP, dia dan keluarganya pindah ke Papua karena ayahnya yang seorang abdi negara dipindah tugaskan kesana. Sejak itu komunikasi kami terputus. Karena waktu itu kami belum menggunakan ponsel. Akupun membuka pesan darinya. Banyak juga pesan yang dia kirim. Aku membaca dari atas pesan baru yang dikirimnya.
'Sappo masih hidup ko kah?'. ('Saudara apakah kamu masih hidup?'). Diakhiri dengan emoticon tertawa yang banyak.
'Weh ada ka dikampung ini sama orangtua ku, mau ka main ke rumahmu.
'Sudah ada ka dirumahmu ini, tapi kata Tante Hasna sudahmi ko menikah baru ko ikut suamimu ke Jakarta'.
'Sudahmi ku minta nomormu sapa anaknya Tante Hasna kalau saya telfon nda mengganggu kah?
Tiba - tiba ada pesan masuk di aplikasi ijo dari nomor baru. 'Nomorku ini, by Ani imut'. Tenyata dia udah menchatku.
'Iye ku save nah'. Balasku.
Ada panggilan suara darinya. Segeraku angkat telfon darinya.
'Hallo assalamualaikum sappoku, apakah ko merindukanku?'. Tanya Ani sambil tertawa dengan suara cemprengnya.
'Wa'alaikum salam sappoku, iye rindu sekali ka sama ko, rindu kandetto kepalamu'. Jawabku sambil tertawa juga.
'Hehehe, jahat sekali. Wih sudah jadi nyonya sekarang ko nah, sudah ada kah keponakan ku'?
'Belum ada kasihan, doakan nah sepecatnya biar ada yang panggil ko Tante Ani?'
'Aamiin insyaallah secepatnya, ih jangan Tante, nanti kalau sudah anakmu, saya kasih ajar panggil ka aunty. Apami sekarang mu kerja?'
'Aamiin, gayamu itu dipanggil aunty. Nda ada ji cuma jadi ibu rumah tangga, mau kerja tapi nda tau mau kerja apa'.
'Coba ko download aplikasi menulis online, itu aplikasi baca novel yang bisa hasilkan uang, ko kan dulu pintar mengarang cerita pernah juga ko dapat juara menulis. Siapa tau di aplikasi itu ada rejekimu sambil ko salurkan bakatmu.
'Iyo kah? Nanti pi baru ku download'.
'Eh sudahmi dulu mau ka mandi, nanti kita sambung lagi, assalamualaikum'. Ucapnya kemudian menutup telfon.
'Wa'alaikum salam'. Jawabku.
Saking asyik ngobrol dengannya, gak terasa dikit lagi waktu Ashar, segera aku mandi dan sholat.
Sehabis sholat, Aku jadi teringat omongan Ani soalnya aplikasi menulis online yang dapat menghasilkan uang. Aku pun segera mendownloadnya yang tersebut. Aku pun membuka aplikasi setelah selesai terdownload. Ternyata banyak sekali judul novel dengan berbagai genre. Aku coba membaca novel yang yang terdapat pada urutan novel paling populer yang berjudul "Menantu yang Tersakiti". Setelah membaca beberapa bab. Ada kesamaan karakter dengan yang aku alami yaitu sama - sama dibenci oleh mertua, aku juga membaca latar belakang penulisnya. Ternyata beliau terinspirasi dari kisah hidupnya sendiri, beliau juga seorang ibu rumah tangga sepertiku dan hebatnya beliau cuma berlatar pendidikan SMP. Tapi alhamdulillah beliau bisa sukses menjadi penulis dan mempunyai penghasilan sendiri.
Akupun jadi termotivasi untuk menjadi menulis dan insyaallah bisa sukses seperti beliau. Mungkin nanti aku bisa menjadikan kisah hidup sebagai cerita dari novelku nanti, atau genre cerita yang lain. Semoga bakat menulis yang dulu masih berguna, karena sudah lama sekali aku tidak berimajinasi membuat cerita. Jadi aku bisa mendalami hobiku sekaligus menghasilkan rejeki. Aamiin.
"Hayo lagi ngapain?". Tiba - tiba ada yang mengagetkanku dengan tepukan dipundak.
__ADS_1
Bersambung