Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 31


__ADS_3

Pov (Bu May)


     Namaku May tapi nama asliku adalah Maesaroh nama pemberian dari almarhum ibuku.


Aku terlahir dari keluarga miskin, dari kecil aku sudah merasakan hidup susah. Ibuku seorang janda, karena bapakku meninggal karena mengalami tabrak lari saat pulang dari mabuk - mabukkan. Aku sama sekali tidak merasa sedih saat dia meninggal karena selama dia hidup hanya menyusahkan aku dan ibu. Dulu sebenarnya aku hampir mempunyai seorang adik tapi ibu mengalami keguguran karena tindak kekerasan yang dilakukan oleh bapakku.


Setelah kematian bapak, ibu bekerja ke kota sebagai asisten rumah tangga, sedangkan aku tinggal bersama bibiku di kampung, beliau adik kandung ibuku. Bibi juga seorang janda tanpa anak. Karena keterbatasan biaya pendidikanku hanya tidak selesai sekolah menengah pertama. Ibu berjanji saat tabungannya terkumpul dia akan menyekolahkanku kembali dan kami akan tinggal bersama lagi. Sehari - hari aku membantu bibi menggarap ladang milik orang.


Untuk menghubungiku, ibu menggunakan telfon rumah majikannya mekuwi telepon rumah kepala desa karena kampungku hanya orang - orang tertentu yang punya telfon. Pada waktu itu masih jarang orang kampung yang belum ada yang menggunakan ponsel.


Beliau selalu bercerita tentang kebaikan majikan, terkadang ibu mengirimkanku pakaian dan makanan yang katanya pemberian majikannya.


Aku sangat merindukan ibu, ingin rasanya aku ikut dengan tinggal di kota. Tidak terasa sudah dua tahun ibu bekerja di sana.


Hingga suatu hari datang sebuah mobil mewah ke kampungku. Itu pasti mobil dari kota karena di kampungku tidak ada mobil sebagus itu.


Ternyata betul yang datang adalah suruhan dari majikan ibuku. Dia disuruh menjemputku untuk bertemu ibu. Aku sungguh bahagia saat itu, setelah berkemas dan berpamitan dengan yang lain, kamipun berangkat ke kota. Bibi menitipkan salam untuk ibu.


Ini pertama kalinya aku naik mobil sebagus ini, kata pak supir perjalanan sekitar enam jam untuk sampai di sana. Sepanjang perjalanan aku terpesona dengan pemandangan yang aku liat, karena jujur ini pernah kali bagiku.


Akhirnya kami sampai juga di kota, aku sampai tertidur. Saat terbangun ternyata sudah malam tapi aku bingung kenapa kami malah ke rumah sakit. Setelah memarkirkan mobil, aku diajak masuk ke dalam. Aku nurut saja mengikuti dia membawaku.


Kami melewati lorong - lorong rumah sakit yang sepi hingga kami tiba di suatu tempat yang aku liat ada seorang wanita cantik yang memakai kerudung panjang mendekati kami, lalu memelukku. Ternyata beliau adalah ibu Marlina yaitu majikan ibuku.


Aku bertanya dimana ibuku, tapi beliau malah mengajakku masuk ke dalam sebuah ruangan. Setelah masuk ke dalam, aku melihat seorang wanita sedang terbaring segala alat medis terpasang pada tubuhnya. Awal aku tidak tau siap dia, saat semakin dekat luruh sudah air mataku. Ternyata wanita itu adalah ibuku yang tengah terbaring lemah.


"Sri, putrimu sudah datang". Ucap Marlina lembut pada ibuku.

__ADS_1


Perlahan ibu membuka mata, akupun mendekati dan menggenggam tangannya. Dia tersenyum kepadaku, beliau terliat sangat kurus.


"Kamu sudah datang nduk? Ibu rindu sekali sama kamu nduk. Kamu tambah cantik". Ucap ibu berusaha tersenyum sambil menahan sakit.


Aku menangis terisak melihat keadaan ibuku. Dari penjelasan ibu Marlina ternyata ibu mengidap kista ovarium dan penyakit sudah lama menggerogoti tubuh ibu, makanya ibu merantau ke kota untuk mengumpulkan biaya pengobatannya.


Di sisa nafasnya ibu menitipkan ku pada majikannya dan bu Marlina berjanji akan merawatku dan menjadikan aku sebagai anak angkatnya. Setelah itu ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Aku histeris dan hampir pingsan. Ibu Marlina berusaha menenangkanku.


Besok pagi setelah mengurus administrasi dan pengurusan jenazah ibu, kami bersiap menyemayamkan jenazah ibu di kampung halamanku. Sebelumnya aku sudah mengabari bibiku. Aku ditemani ibu Marlina dalam ambulance, sedangkan suami beliau mengikuti dengan mobil bersama putranya. Sepanjang perjalanan aku tidak berhenti menangisi kepergian ibuku.


Sesampainya di kampung, di rumah bibi sudah siap segala keperluan untuk mengurus jenazah ibu yang dibantu oleh para warga.


Setelah jenazah ibu selesai dikuburkan, Bu Marlina dan suaminya yang bernama Pak Winata mengutarakan niat mereka untuk mengangkatku sebagai anak mereka. Bibiku menyetujui niat mereka karena untuk masa depanku, bibi yakin hidupku akan terjamin bilang tinggal dengan mereka.


Seusai tiga harinya ibu, akupun pindah kekota untuk memulai hidupku yang baru.


***


Aku pun merubah namaku menjadi May. karena nama Maesaroh tidak cocok untuk penampilanku yang sekarang. Surya pun mengenalkanku dengan para sahabatnya yaitu Danang, Mansur, Sari dan Salamah. Kami berenam pun tumbuh bersama hingga kami dewasa. Aku tau Surya menyukaiku tapi aku lebih tertarik dengan temannya yang bernama Danang, namun aku harus merasakan sakit hati karena lelaki pujaanku malah menyukai perempuan lain yaitu Sari, gadis dengan penampilan sederhana malah terkesan kampungan. Padahal aku jauh lebih segalanya dari Sari tapi kenapa Danang malah memilih gadis jelek itu.


Sejak saat itu aku memusuhi Sari dan Danang. Sakit hatiku makin bertambah karena mereka berdua memutuskan untuk menikah. Disusul dengan Mansur dan Salamah yang juga menikah. Aku pun mulai membuka hati untuk Surya walaupun aku tidak mencintainya tapi karena bujukan dari orang tua angkat ku aku pun menerimanya. Aku juga menginginkan harta mereka jatuh menjadi milikku bagaimanapun Surya adalah anak tunggal mereka.


Akhirnya Aku pun menerima pinangan Surya dengan syarat pernikahan kami harus digelar dengan meriah Surya dan calon mertua ku menyetujuinya karena rasa sayang mereka kepadaku. Walaupun orang tuanya orang berada tapi Mas Surya lebih memilih menjadi guru yang merupakan cita - citanya dari pada menjadi pedagang seperti orang tuanya.


Pernikahan kami sangat megah dan meriah untuk ukuran jamanku, karena aku yatim piatu makanya aku menggunakan wali hakim. Aku tidak mengundang orang - orang dari kampungku termasuk bibiku karena aku tidak mau orang - orang tau kalau aku berasal dari kampung. Apalagi tamu mertuaku adalah orang - orang terpandang, aku beralasan kalau bibi sedang sakit dan tidak bisa hadir. Saat bibiku meninggal pun aku tidak datang saat pemakamannya walaupun perwakilan dari kampung sudah mengabariku.


Setelah enam bulan menikah aku pun dinyatakan hamil, mertua dan suamiku sangat memanjakanku. Kebaikan merekapun aku manfaatkan untuk menuruti segela keinginanku.

__ADS_1


Sembilan bulan kemudian aku pun melahirkan anak laki - laki yang sangat tampan yang kami beri nama Aryanda Winata. Sedangkan Salamah dan Sari belum juga diberi keturunan padahal mereka duluan menikah dari aku, seperti mereka berdua itu mandul.


Saat anakku berumur dua tahun, bapak mertuaku meninggal dunia karena penyakit diabetes yang sudah lama beliau derita. Sedangkan ibu mertuaku mulai sakit - sakitan sejak kepergian bapak mertuaku, sehingga beliau harus bolak - balik berobat yang membuat Mas Surya disibukkan dengan mengurus ibunya dan jarang di rumah yang tidak ada waktu untukku dan anaknya. Aku yang dari awal tidak mencintainya, tidak peduli dengan tidak adanya dia yang penting hidupku tetap bergelimang harta.


Aku pun mulai berteman dengan ibu - ibu sosialita, waktu aku habiskan untuk bersenang - senang dan menghambur - hamburkan uang. Putraku Ryan dijaga oleh pengasuh yang aku sewa agar tidak menggangu kesenanganku.


Hingga akhirnya aku berselingkuh seorang pria saat Mas Surya tengah mengantar ibu mertuaku berobat keluar kota. Dari hubungan terlarang itu mengakibatkan aku hamil dari selingkuhanku. Aku mencintainya karena dia bisa memuaskanku dan tau cara menyenangkanku. Saat aku beritahu soal kehamilanku, dia malah mencampakkanku karena lebih memilih istri sahnya, kemudian dia kembali ke daerah asalnya. Aku telah tertipu olehnya yang mengatakan kalau dia seorang duda.


Aku yang membencinya ingin menggugurkan anak yang ku kandung, aku tidak menginginkan anak haram ini. Aku pun menemui Salamah untuk mengantarku dukun beranak. Walaupun aku sudah lama berkomunikasi dengannya tapi dulu dia yang paling dekat denganku. Ternyata dia juga tengah mengandung, sedangkan si Sari sialan belum juga hamil yang aku dengar Danang yang bermasalah, untung dulu aku tidak menikahi pria mandul itu, anggap balasan  dari sakit hatiku.


Soal niatku untuk menggugurkan kandunganku  ditentang oleh Salamah, dia malah membujukku untuk tetap mempertahankannya. Akupun menyetujuinya asal dia tidak cerita kesiapapun tentang asal - usul anak ini.


Setelah satu tahun berjuang ibu mertuaku pun menyusul suaminya. Dan anak haram itu telah lahir, Mas Surya memberi nama Arya Winata. Untung wajah anak itu mirip denganku sehingga suamiku tidak curiga, aku tidak mau jadi miskin lagi kalau mas Surya menceraikan ku. Aku saat membenci anak itu yang mengingatkan dengan pria brengsek itu karena anak itu mewarisi mata ayahnya. Namun dia menjadi anak kesayangan suamiku.


Aku tidak pernah mengurus anak itu sedikitpun semua dia urus oleh pengasuh, bahkan aku tidak mau memberinya ASI. Lima tahun kemudian aku melahirkan Rani. Kami sangat memanjakannya.


Namun karena kelakuanku yang suka menghamburkan uang, membuat keuangan kami merosot ditambah toko milik mendiang mertuaku terancam bangkrut, yang tersisa hanya rumah yang kami tempati karena harta yang lain telah dijual untuk pengobatan mendiang mertuaku. Tapi putra pertamaku Ryan dapat diandalkan, dia yang dari dulu sudah mandiri bisa sukses dengan usaha mebelnya. Diapun sudah menikah dengan wanita dari kalangan atas.


Untuk anak haram itu juga sudah jadi manager berkat suamiku yang bersikeras menguliahkannya. Walaupun dia selalu memberiku gajinya tapi aku tidak pernah menganggapnya. Hingga dia pun meminta izin untuk menikahi seorang gadis kampung dari luar pulau, aku menentangnya karena aku ingin menjodohkannya dengan anak teman sosialitaku yang bernama Siska tapi Mas Surya malah mendukung anak sialan itu terpaksa aku menyetujuinya.


Merekapun menikah dikampung perempuan itu tanpa kehadiranku hanya Suamiku saja yang mendampinginya. Ternyata ketidak sukaanku pada menantu keduaku itu memang berasalan karena dia itu pembawa sial. Saat mereka baru beberapa bulan menikah, Arya di PHK dan disusul lagi dengan kematian Mas Surya. Apalagi dia tidak juga hamil pasti perempuan kampung itu mandul.


Setelah suamiku meninggal aku mengajak Arya dan istrinya pindah ke rumahku agar aku bisa menjadinya pembantu gratisku toh mereka juga numpang dan Arya juga masih nganggur. Saat dia sudah punya pekerjaan walaupun sebagai sekutiri, aku menyuruh mereka membayar sewa tinggal di rumahku. Tapi lancangnya mereka malah pindah dari rumah ini dan setelah itu mereka malah sukses membuka usaha, Arya pun kembali menjadi manager di perusahaannya yang dulu.


Aku tidak terima dengan kesuksesan mereka, aku juga berhak merasakan uang mereka. Karena bisnis Ryan sedang ada masalah sehingga dia jarang mengirimkan uang padaku. Sehingga aku harus memanfaatkan Arya. Tapi aku serasa di tertampar karena perempuan sialan itu sudah berani melawanku, niat ku untuk mempermalukannya malah dibalas dengan berita kehamilannya. Aku sumpahin semoga anaknya mati. Ingin rasanya aku membalasnya tapi Salamah malah datang membelanya. Akhirnya aku pun pergi, karena rahasiaku ada padanya.


Aku berjanji akan merusak kebahagiaan Arya dan perempuan sialan itu, aku harus memisahkan mereka sehingga Arya bisa aku jodohkan dengan Siska.

__ADS_1


Oya aku masih punya rahasia lagi, yang mungkin jika terbongkar aku bisa masuk penjara. Semoga rahasia itu akan aman selamanya. Yang tau cuma aku dan Tuhan.


Bersambung


__ADS_2