Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 55


__ADS_3

Pov (Aisyah)


     Satu Minggu kemudian.


Hari ini kami mengadakan baca doa atau tasyakuran untuk menempati ruko yang baru. Rencananya Ratna dan Mila akan tinggal di ruko ini sekalian menjaganya.


Hampir semua barang - barang di lapak sudah dipindahkan kesini kecuali kursi dan meja.


Dari pagi semua sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara tasyakuran ini. Kebetulan Mas Arya libur jadi dia bisa ikut membantu. Dia bersama para bapak - bapak kompleks yang lain baru saja menggelar karpet untuk para tamu yang hadir.


Aku hanya duduk memperhatikan, karena dilarang oleh Emak, beliau takut aku kelelahan dengan kehamilanku yang sudah masuk enam bulan, apalagi semalam aku habis membantu masak di dapur.


"Mbak Ais ini makanan dan kuenya langsung di tata atau ntar aja?". Tanya Ratna.


"Makanannya aja dulu yang ditata Rat, kalau kuenya nanti aja kalau karpetnya beres dibersihkan". Jawabku.


"Oke Mbak siap". Ucap Ratna lalu berlalu ke dapur.


Semua masakan dibuat di dapur ruko ini karena dapur yang cukup besar, para ibu - ibu kompleks yang membantu memasak makanan di koordinir oleh Emak, untuk kuenya beli yang sudah jadi di tempat langganan Emak


Hanya satu masakan yang aku masak sendiri yaitu Sop Konro, masakan khas daerahku yang berbahan dasar tulangan daging sapi atau kambing dengan kuah hitam bumbu kluwak yang hampir mirip dengan rawon, bedanya sop konro menggunakan kelapa sangrai sedangkan rawon tidak.


Makanan itu adalah request dari Babe, beliau sangat menyukainya karena Fitri pernah memasaknya. Tak tanggung - tanggung beliau sampai membeli tulangan sapi sampai sepuluh kilogram, udah seperti mau hajatan saja. Katanya biar makannya puas. Tapi Emak udah memberi peringatan untuk tidak terlalu banyak makannya karena Babe ada riwayat kolesterol dan darah tinggi. Aku juga berbagi resep dan cara membuatnya pada para ibu - ibu yang memasak di dapur.


Mereka tampak antusias belajar cara masaknya. Setelah jadi aku mempersilahkan mereka untuk mencobanya dan Alhamdulillah mereka semua menyukai masakanku itu.


Tamu sudah mulai berdatangan, aku tidak mengundang banyak orang. Hanya warga kompleks sini dan tentu juga Pak RT dan Bu RT.


Ratna dibantu Mila bolak - balik membawa makanan untuk disajikan di meja.


"Rat, Wulan gak datang ya?". Tanyaku karena sejak tadi tidak melihatnya, padahal aku sudah mengabarinya dan dia bilang akan datang membantu.


"Kayaknya gak deh Mbak, pekerjaan udah beres semua tapi dia gak keliatan". Jawab Ratna.


"Ya udah kalau gitu. Kalau udah selesai semua, ajak Mila makan". Ucapku lagi.


"Kita udah makan kok Mbak, tadi ibu (Mbok Minah) ngasih sop konro buatan Mbak. Euunakk poll Mbak, kalau gak ingat buat tamu, udah makan terus kita. Ya gak Mil?" Jawab Ratna meyikut Mila.


"Bener Mbak, hampir kalap aku makannya..hehehe". Sambung Mila sambil nyengir.


Acarapun dimulai, para tamu sudah pada datang semua begitu dengan Pak Ustadz.


Setelah Pak Ustadz memberikan tauziah, aku dan Mas Arya selaku tuan rumah mempersilahkan para tamu untuk menikmati hidangan yang telah kami sediakan. Kami sengaja menyiapkan dua meja agar tidak berdesakan, satu khusus pria dan satunya khusus wanita.

__ADS_1


Babe buru - buru menuju meja khusus pria, apalagi kalau bukan mengambil sop konro incarannya. Mangkok beliau sampai penuh, Emak dari kejauhan sudah mempelototi beliau. Sedang Babe tidak peduli sambil menikmati makanannya.


Aku dan Mas Arya tertawa pelan melihat mereka berdua.


Tidak berapa lama, satu persatu tamu sudah pada pulang hanya ada beberapa saja yang masih tingg.


Aku sedang makan bersama Emak, Mbak Ningsih, Bu Ani, Bu Surti dan Mpok Sarah. Sedangkan Mas Arya bergabung dengan Babe, Pak Rahmat dan bapak - bapak jalur satu yang lainnya.


Sesekali terdengar gelak tawa dari kami karena mendengar celetuk - celetuk dari Mpok Sarah dan Bu Surti yang mereka terkenal suka melucu.


"Liatin Ais, Babemu gak berhenti makan, entah sudah mangkok keberapa itu. Awas saja kalau malam dia ngeluh penyakitnya kambuh". Ucap Emak geram.


"Sabar Emak Hajjah kan kagak setiap hari juga. Gua aja nih nambah terus padahal gua juga ada darah tinggi. Gua pernah nonton di you*tu*be, ada dokter yang bilang makan gak usah mikir penyakit, hidup cuma sekali jadi nikmati saha. Justru kalau dipikir yang malah jadi penyakit". Terang Mpok Sarah sambil menyeruput kuah konronya.


"Hooh bener itu, aku juga pernah dengar kayak gitu". Timpal Bu Siti.


Kami yang lain hanya tersenyum mendengar omongan mereka. Kecuali Emak yang mukanya menekuk.


"Emak pamit duluan ya, itu Babe udah klenger kayak orang mabok. Ngeyel sih dibilangin". Pamit Emak.


Mas Arya juga pamit padaku untuk mengantar Pak Ustadz pulang.


Tidak berapa lama kemudian.


Aku yang sudah selesai makan, berdiri menghampiri ibu mertuaku dan mengulurkan tangan untuk memci*um tangan beliau. Tapi malah ditepis olehnya.


"Tidak usah sok manis kamu, gak sudi tangan saya disentuh sama kamu. Mana Arya?". Ucapnya ketus mencari suamiku.


"Mas Arya lagi ngantar Pak Ustadz pulang Bu. Mari Bu silahkan dinikmati makanannya". Ajakku dengan berusaha tersenyum seramah mungkin, karena semua mata tertuju ke arah kami. Mas Arya sudah mengabari beliau untuk datang tapi tidak direspon olehnya.


Lalu seorang wanita muncul, aku memicingkan mata melihatnya. Ternyata dia Siska, berani juga dia datang ke sini pikirku.


"Tante ini tasnya tadi ketinggalan". Ujar Siska, dia melihatku dengan sinis. Aku juga menatap dengan menaikkan satu alisku. Dia kira aku takut dengannya.


"Makasih ya sayang udah antar Tante kesini, kamu memang perhatian, gak kayak seseorang". Ucap Ibu Mertuaku melirik sinis ke arahku. Aku tau dia menyindir tapi aku malas tau.


Siska tersenyum mendengar ucap beliau.


"Ayo sini temani Tante makan, anggap punya sendiri". Ajak ibu Mertuaku ramah, sikap yang berbeda 180 derajat denganku tadi.


"Aku balik aja deh Tante, aku gak nyaman di sini". Jawabnya dengan suara yang dibuat - buat. Aku jadi mual dengarnya.


"Kamu jangan pulang dulu, kamu kan belum ketemu dengan Arya". Ucapku ibu Mertuaku lembut, seperti aku ini orang lain dan Siska adalah menantunya.

__ADS_1


"Ehmmm". Aku berdehem karena mereka mengacuhkanku yang notabenenya adalah tuan rumah.


"Siapa perempuan ini Tante?" Tanya Siska menatapku dengan tatapan mencemooh.


"Dia istrinya Arya, gak penting dia. Gak usah peduliin. Anggap saja dia tidak ada" Bisik ibu Mertuaku, tapi masih bisa terdengar olehku.


"Oh..iya Tante sip". Mereka cekikikan seolah mengejekku. Aku masih berdiri melihatnya tingkah mereka.


"Kenalin saya Siska sekretarisnya Pak Arya". Ucapnya sambil menjulurkan tangan ke arahku.


"Saya Aisyah, istri SAH Mas Arya". Ucapku penuh penekanan dan menerima uluran tangannya.


Dia meremas tanganku, aku juga balas meremas tangannya. Dia terlihat menahan sakit.


"Aduhhh". Rintihnya.


"Kamu apa - apain sih Aisyah, jadi perempuan gak ada lembut - lembutnya". Ibu mertuaku menatap nyalang ke arahku. Aku hanya tersenyum kecut dan melepas tangan Siska. Dia memegangi tangan yang sakit.


"Maaf mungkin hormon kehamilan, saya jadi sensitif banget sama orang yang baru di kenal. Apalagi kalau orang itu punya niat tidak baik. Merebut milik orang lain misalnya". Ujarku tersenyum ke arah mereka.


"Apa maksud kamu hah?" Hardik Ibu Mertuaku.


"Tidak ada maksud apa - apa bu, cuma menjelaskan saja. Tergantung kalian mengartikannya bagaimana". Jawabku tanpa rasa takut.


"Dasar perempuan sialan". Umpat ibu mertuaku.


Aku hanya tersenyum. "Silahkan nikmati makanan, saya pamit dulu". Ucapku dan berlalu kembali tempatku semula.


"Kenapa Ais, kita liat dari sini kamu lagi bersitegang dengan ibu mertuamu?" Tanya Mbak Ningsih begitu aku duduk.


"Gak ada apa - apa kok Mbak, tadi ibu sempat marah karena gak diundang tapi Mas Arya udah mengabarinya kok". Jawabku tanpa menceritakan yang baru terjadi tadi karena kami beriga tadi berbicara cukup pelan.


"Aneh - aneh aja mertua lu itu, oya itu perempuan siapa? Kok akrab bener sama mertua lu?" Tanya Mpok Sarah penasaran.


"Dia anak temannya ibu mertuaku Mpok, tadi dia ngantar ibu kesini". Jawabku, sengaja aku tidak memberitahu kalau Siska sekretaris Mas Arya biar tidak banyak pertanyaan yang dia lontarkan.


"Oh begitu, tapi kok gua kagak sreg ya liat gayanya". Ucap Mpok Sarah menatap ke arah ibu Mertuaku dan Siska, aku hanya diam tidak menanggapi ucapannya.


karena posisi dudukku yang menghadap ibu mertuaku dan Siska, jadi aku bisa melihat dengan jelas apa yang mereka berdua lakulan.


Mereka berdua tengah menikmati makanan dan sesekali mereka tertawa bahagia, sungguh pemandangan yang indah seperti menantu dan mertua yang akur. Aku tersenyum kecut melihat keakraban mereka, jujur ada rasa sakit di dadaku. Padahal aku yang menantunya tapi ibu mertuaku lebih bersikap manis pada wanita lain yang dia inginkan menjadi menantunya.


"Assalamu'alaikum, eh ada ibu toh".

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2