
Pov (Author)
Hari ini Arya dan Aisyah tengah bersiap untuk berkunjung kerumah Ryan. Setelah memastikan pintu rumah dan pagar sudah terkunci dengan baik. Arya melaju mobilnya meninggalkan kompleks tempat tinggal mereka. Tidak lupa Aisyah membawa masakan buatannya dan juga beberapa cemilan produksinya, karena dia tau keluarga Ryan sangat menyukai masakan yang dibuatnya.
Perjalanan menuju rumah Ryan sekitar dua jam an, mungkin akan lebih dari itu karena ini Hari Minggu yang pasti akan macet banget. Arya fokus menyetir sementara Aisyah sedang nyemil cemilan produksinya, sesekali dia menyuapkan ke Arya. Mereka sempat singgah di toko kue membeli cheesecake kesukaan Maira.
Tidak terasa tinggal sedikit lagi mereka sampai di perumahan tempat tinggal Ryan. Setelah melapor pada satpam yang menjaga pintu masuk dan menanyakan rumah Ryan karena Arya tidak pernah berkunjung ke rumah kakaknya, dia hanya tau alamatnya saja.
Merekapun sampai di depan rumah berwarna putih berpagar hitam setelah memastikan nomor rumah sesuai dengan yang di beritahukan oleh satpam tadi mereka berdua pun turun.
Tapi mereka sedikit heran pasalnya rumah itu nampak sedikit tidak terawat, rumput - rumputnya sedikit tinggi, tanamannya pada layu. Karena Aisyah pernah liat postingan Bella yang menampilkan rumahnya yang saat asri dan rapi. Memang rumahnya sama tapi keadaan yang berbeda.
Aryapun memberanikan diri untuk turun dan memencet bel, walaupun ada sedikit keraguan di hatinya. Sedangkan Aisyah disuruh menunggu sebentar di mobil.
Ting tong
Ting tong
Tidak lama kemudian suara pintu dibuka dan muncul lelaki yang mereka kenali tapi ada yang aneh, penampilannya sedikit lusuh tidak seperti penampilannya yang seperti biasa yang selalu rapi.
Dia nampak terkejut melihat tamu yang berkunjung ke rumahnya tapi dengan segera dia menampilkan senyumnya dan membuka pagar. Aisyah pun turun membawa barang bawaan mereka dibantu oleh Arya. Setelah itu Ryan mengajak mereka untuk masuk.
Setelah masuk ke dalam rumah dan Ryan mempersilahkan mereka untuk duduk sedangkan Ryan pamit untuk memanggil Maira. Selepas Ryan pergi, Aisyah membersihkan sofa yang sedikit berdebu. Dia dan Arya merasa ada yang tidak beres melihat keadaan rumahnya kakaknya cukup tak terawat. Karena mereka tau baik Ryan ataupun Bella termasuk orang menyukai kerapian dan kebersihan. Kondisi ruang tamu juga lenggang tidak perabotan apa - apa selain sofa dan meja kaca yang sangat kontras dengan ruangan yang cukup luas.
Tidak berapa lama Ryan kembali bersama Maira sambil membawa nampan yang berisi dua gelas minuman.
"Bibiiii, pamann". Teriak Maira begitu yang berkunjung adalah bibi dan paman, dia pun berlari untuk memeluk mereka. Tapi dengan cepat Arya menahan tubuh kecilnya.
"Pelan - pelan Maira, kasihan dedek dalam perut bibi". Ucap Arya pada ponakannya, Maira menatap mereka kebingungan.
"Kamu hamil ya Ais?". Tanya Ryan sambil meletakkan minuman yang dia bawa di atas meja.
__ADS_1
"Iya Mas, udah masuk lima bulan". Jawab Aisyah.
"Alhamdulillah selamat ya buat kalian berdua, berarti sebentar lagi Maira akan punya adik". Ucap Ryan tersenyum.
"Beneran aku bakal punya adik bayi?". Tanya Maira dengan mata berbinar.
"Iya sayang kamu bakal jadi kakak". Jawab Aisyah sambil mencubit pelan pipi ponakannya.
"Horee, aku senang banget. Udah lama aku minta sama ayah dan bunda tapi mereka gak mau beliin adik bayi". Ucap gadis kecil itu polos.
Ryan, Arya dan Aisyah tertawa mendengar ucapan polos Maira. Kemudian Arya mengangkat tubuh kecil itu dan memangkunya.
Ryan tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah anaknya, setelah usaha bangkrut anaknya selalu terlihat murung.
"Oya silahkan diminum, maaf cuma ini aja. Belum sempat belanja. Bi Sumi juga lagi pulang kampung". Ucap Ryan berbohong.
"Iya gak apa - apa, oya ini ada sedikit oleh - oleh dari kami". Jawab Arya sembari memberikan barang yang tadi mereka bawa.
"Wah makasih juga ya, repot - repot segala. Kalian datang aja kami udah senang". Ucap Ryan menerima pemberian adiknya.
"Oya Mbak Bella mana kok gak keliatan?". Tanya nya lagi.
"Oh Bella lagi pergi arisan, biasa lah ibu - ibu". Jawab Ryan untuk ini dia tidak berbohong karena tadi Bella pamitnya mau pergi arisan.
"Hmm.. Begitu ya. Oya mas gimana usaha lancarkan? Aku kemarin liat status Mbak Bella kalau dia kerja kantoran?". Tanya Arya.
"Ehh.. lancar kok. Iya Bella sekarang kerja kantoran biar ada kesibukan dia bilang, sekalian nambah pengalaman". Jawab Ryan berbohong lagi, dia menutupi kegugupannya dengan tersenyum walaupun terlihat kaku.
"Syukurlah kalau begitu, aku sempat kuatir sama Mas karena sudah dua bulan gak ada kabar". Tutur Arya.
"Maaf ya bukannya gak mau kasih kabar tapi kamu tau sendiri gimana ramainya usaha Mas, makanya Mas sibuk banget". Jawab Ryan berusaha terlihat tenang.
__ADS_1
"Terus usaha kalian gimana?". Tanya Ryan balik.
"Alhamdulillah Mas, usaha kami makin maju seperti usaha Mas. Kami rencana memindahkan lapak kami ke ruko baru. Mungkin setelah peresmian tempat produksi lulur Aisyah, baru pembukaan lapak yang baru. Bantu doanya ya Mas semoga dilancar". Jawab Arya.
"Alhamdulillah Mas ikut senang dengar, tanpa kamu minta pasti Mas selalu mendoakan kalian". Ucap Ryan tersenyum tapi hatinya panas memdengar kesuksesan Arya dan Aisyah. Dia iri pada mereka, dari dulu dia selalu unggul dari pada Arya. Ada perasaan tidak terima kalau sekarang Arya berada jauh di atasnya.
Setelah beberapa jam mengobrol, Arya dan Aisyah pamit pulang karena sudah sore. Tadinya mereka ingin menunggu Mbak Bella pulang tapi nyata yang ditunggu tidak kunjung pulang.
Ryan mengantar sampai depan pagar, Maira melambaikan tangan kepada bibi dan pamannya. Mobil Arya pun berlalu meninggalkan perumahan tempat tinggal kakaknya.
Setelah mobil mereka tidak kelihatan lagi, Ryan mengajak Maira untuk masuk lalu mengunci pagar dan pintu rumah.
Maira berlalu kekamar membawa cemilan dan kue yang diberikan oleh Arya dan Aisyah, sementara Ryan duduk termenung di sofa ruang tamu. Dia tidak menyangka adik dan iparnya akan berkunjung ke rumahnya. Pasti mereka pikir macam - macam tentang kondisinya setelah melihat keadaan rumah yang tidak terurus.
'Sialan kenapa mereka malah datang kemari, cih pasti dia mau pamer, dasar sombong. Jangan sampai mereka tau kalau aku sudah bangkrut. Aku tidak terima sekarang Arya makin sukses, dari dulu aku selalu lebih unggul dari pada dia'. Gumam Ryan kesal terbesit rasa iri dan kebencian pada adiknya.
***
Sementara itu
Dalam perjalanan pulang tidak ada obrolan antara Arya dan Aisyah, hanya ada suara lagu yang diputar oleh Aisyah menggunakan ponsel yang dihubungkan ke audio mobil. Mereka juga singgah sebentar untuk sholat dan membeli makanan pinggir jalan untuk sekedar mengisi perut yang kosong, setelahnya mereka melanjutkan perjalanan.
Tidak berapa lama merekapun sampai di rumah, sedikit lebih cepat dibandingkan saat mereka pergi tadi. Setelah mobil terparkir, mereka pun segera turun setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
Setelah membuka kunci pagar dan pintu, mereka berlalu ke dalam kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian serta beristirahat.
Arya duduk bersandar di ranjang, dia nampak tengah memikirkan sesuatu.
"Mas kenapa?". Tanya Aisyah.
Arya menghela nafas. "Mas kepikiran Mas Ryan, tadi kamu lihat sendiri gimana penampilan Mas Ryan dan Maira, belum lagi keadaan rumah mereka. Mas tau kalau kita bertamu kita harus pulang dalam keadaan bisu dan buta. Tapi Mas gak bisa begitu aja menghilangkan kecemasan Mas karena mereka keluarga kita. Walaupun Mas Ryan bilang semua baik - baik saja tapi dengan apa yang Mas liat sendiri Mas tau ada yang disembunyikan". Ujar Arya mengungkapkan kekhawatirannya.
__ADS_1
"Mungkin Mas Ryan belum siap cerita, kita berdoa saja semoga apapun itu bukan hal yang buruk. Kita doakan yang baik - baik buat mereka". Ucap Aisyah menenangkan suaminya, walaupun dia juga sama kuatirnya dengan Arya.
Bersambung.