
Pov (Aisyah)
Jenazah Mbak Bella sudah tiba di rumah kami dengan menggunakan mobil jenazah, sontak bunyi sirine membuat orang - orang yang tidak tau jadi bertanya - tanya siapa anggota keluarga kami yang meninggal. Awalnya aku sangat kaget dan tidak percaya saat Mas Arya meminta untuk menyiapkan segala sesuatu untuk pengurusan jenazah Mbak Bella dan dia dalam perjalanan membawa pulang jenazahnya ke rumah kami dari rumah sakit. Rani masih di sini juga tidak kalah kaget, dia pun tetap tinggal untuk menunggu jenazah Mbak Bella.
Aku tambah dibuat kaget saat melihat kondisi jenazah Mbak Bella yang sangat parah sampai tidak bisa dikenali, begitupun dengan Rani, Tante Hasna dan Emak yang juga ikut melihat jenazahnya. Aku meminta Tante Hasna dan Emak untuk mengurus jenazahnya agar tidak ada yang mengetahui bagaimana kondisi jenazah Mbak Bella. Aku dan Mas Arya tidak ingin ada orang luar yang tahu dan akan menjadi pembicaraan orang nantinya. Aku juga meminta pada Rani untuk tidak memberi tahukan kepada siapapun termasuk pada ibunya, karena tau bagaimana sifat ibu mertuaku itu.
Setelah dikafani, jenazahnya disholatkan di masjid sebrang rumah. Aku menangis saat keranda Mbak Bella mulai digotong ke peristirahatannya, karena selama ini almarhumah Mbak Bella sangat baik padaku dan aku menganggapnya seperti kakakku sendiri. Tapi aku heran melihat Rani menyunggingkan senyum sinis menatap jenazah Mbak Bella yang sudah di gotong menuju makam, entah kenapa dia tersenyum begitu.
Dan untuk Maira, sebelum jenezahh Mbak Bella datang, aku sudah meminta Ratna untuk membawanya ke ruko agar dia tidak melihat jenazah ibunya. Bukannya kami ingin merahasiakan ini semua darinya selain ini amanah dari Mas Ryan dan kami juga tidak ingin dia menjadi sedih.
Untung masih tenda dan kursi bekas acara tujuh bulanan belum dikembalikan, makanan juga masih cukup banyak jadi tinggal di hangatkan saja untuk tahlilan nanti malam.
Menjelang magrib Mas Arya dan rombongan pengantar jenazah Mbak Bella yang lain sudah kembali, mereka yang lain pulang dahulu untuk membersihkan diri dan menunaikan sholat nanti sehabis sholat isya baru tahlilan akan dilaksanakan. Rani juga pamit pulang dan berjanji akan kembali lagi nanti.
Seusai sholat aku menangis mendoakan almarhumah Mbak Bella, jujur aku merindukannya. Mas Arya dengan sigap memelukku dan menenangkanku.
Satu persatu pelayat sudah datang, setelah berganti pakaian aku dan Mas Arya keluar menemui mereka. Mereka mengucapkan bela sungkawa pada kami, beberapa dari mereka menanyakan kronologi Mbak Bella bisa meninggal dan kenapa malah disemayamkan disini. Mereka juga menanyakan keberadaan Mas Ryan dan keluarga Mbak Bella yang lain. Aku hanya menjawab sekedarnya, agar pertanyaan mereka tidak kemana - mana.
Tidak berapa lama Rani datang sendiri tanpa ibu mertuaku katanya ibu sedang tidak enak badan, dia lalu duduk di sebelahku.
Sekitar jam sembilan an para pelayat sudah pada pulang, kami mengucapkan terima kasih pada mereka dan memberikan bungkusan untuk mereka bawa pulang. Setelah itu Mas Arya menyuruhku beristirahat di kamar nanti akan mengurus yang lainnya.
Aku masih saja sedih, aku teringat dulu saat kedua orang tuaku meninggal. Kasihan keponakanku Maira, dia masih sangat kecil untuk mengalami semua ini. Tante Hasna menemaniku di kamarnya dan menenangkanku, beliau menasehatiku untuk tidak berlarut - larut dalam kesedihan, lebih baik aku banyak berdzikir dan mendoakan almarhumah. Beliau juga bilang aku harus memikirkan kandunganku juga, kalau ibunya sedih atau stres akan berdampak pada kesehatan calon bayinya.
Aku masih memikirkan kenapa keadaan jenazah Mbak Bella kenapa bisa seperti itu, aku ingin bertanya pada Mas Arya tapi belum sempat.
Tidak berapa lama Reihan datang dan memberitahuku kalau tadi Mas Arya mencariku, dia bilang Mas Arya menungguku di kamar kami. Aku pun pamit pada Tante dan Reihan lalu menemui Mas Arya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar, Mas Arya sedang duduk di tepian ranjang sambil menunduk. Begitu mengetahui kedatanganku, dia tersenyum lalu merentangkan tangannya dan membawaku dalam pelukannya. Aku menangis dalam pelukannya, aku merasakan sentuhan lembut di kepalaku.
"Sudah jangan sedih terus yank, kita berdoa untuk Mas Ryan dan almarhumah Mbak Bella". Ucap Mas Arya, dia melepaskan pelukannya lalu tersenyum padaku. Walaupun dia tersenyum tapi mata terlihat sedih, aku tau dia berusaha kuat di depanku.
"Aku sedih karena Mbak Bella sudah aku anggap seperti kakakku sendiri, Aku juga memikirkan Maira. Kasihan dia Mas, dia masih kecil tapi sudah terpisah dari kedua orang tuanya. Bagaimana nanti kita menjelaskan padanya". Ujarku sesenggukan.
Mas Arya menggenggam tanganku. "Mas juga memikirkan Maira yank. Tadi di penjara Mas Ryan meminta kita untuk merawat Maira selama dia di sana, karena dia tidak tau sampai kapan dia akan ditahan. Apa lagi kasusnya berat, kamu bersedia kan kalau kita merawat Maira seperti anak kita sendiri?" Tanya Mas Arya dengan tatapan sendu.
Aku mengangguk pasti. "Tanpa diminta pun aku pasti bersedia Mas, aku juga sangat menyayangi Maira. Walaupun kita sudah mau memiliki anak kita sendiri, aku akan tetap menyayangi Maira. Aku tidak akan membedakan kasih sayangku padanya dan anak kita nanti". Jawabku menyakinkannya.
"Makasih ya yank, Mas beruntung sekali mempunyai istri kamu yank". Ujar Mas Arya lalu menci*um tanganku dan mengecup keningku.
Setelah cukup lama berbincang, kami memutuskan untuk tidur.
***
Pov (Author)
"Kenapa bengong kayak gitu?" Tanya Bu May pada Rani yang baru pulang dari rumah Arya.
"Ibu sudah tau kalau Mbak Bella meninggal, jenazahnya tadi diurus di rumah Mas Arya". Jawab Rani.
"Oh itu ibu sudah tau, baguslah kalau dia sudah ma*ti. Tapi ibu agak kecewa sih karena ibu belum balas perbuatan dia dengan ibu sendiri". Ujar Bu May sambil mengepalkan tangannya.
"Oya kamu tau gak dia meninggal kenapa? Atau Arya ada ngasih tau gitu penyebab dia ma*ti?" Tanya Bu May.
"Aku tidak tau Bu, aku juga gak sempat bertanya sama Mas Arya karena tadi dia sibuk banget ngurus segala sesuatunya. Tapi aku merinding liat jenazah dia yang mengerikan, aku jadi mual kalau ingatnya". Jawab Rani bergidik.
__ADS_1
"Mengerikan bagaimana maksud kamu?" Tanya Bu penasaran sambil memperbaiki posisi duduknya.
Rani menyadari kalau dia keceplosan, padahal dia sudah berjanji pada Aisyah. "Ya.. Ya mengerikannya karena badannya penuh darah dan luka, katanya dia habis tabrakan". Jawab Rani berbohong.
Ibu May memicingkan matanya. "Loh bukannya tadi kamu bilang tidak tau kenapa dia bisa ma*ti?" Tanya Bu May dengan tatapan menyelidik.
"Eh.. Tadi sebelum pulang Mbak Aisyah yang ngasih tau aku". Jawab Rani berkilah.
"Mbak? Sejak kapan kamu manggil wanita udik itu dengan sebutan Mbak?". Tanya Bu May lagi dengan mata melotot.
"Udah ah ibu banyak tanya, aku cape mau tidur". Ujar Rani lalu ngacir ke kamarnya, sebelum ibunya semakin banyak mengajukan pertanyaan dan memarahinya.
"Rani mau jangan pergi kamu, ibu belum selesai ngomong. Dasar anak kurang ajar". Teriak Bu May nyaring.
"Kok aku merasa ada yang Rani sembunyikan dari kematian Bella, ah pusing kepalaku yang penting dia sudah mati. Tapi awas saja kalau Rani berani berbaikan dengan Aisyah, tidak akan aku biarkan. Nanti tidak ada yang membantuku mengganggu wanita udik itu". Batin Bu
***
"Bu aku mau ke tahlilan Mbak Bella, ibu mau ikut gak?" Tanya Rani pada ibu yang sedang menonton acara dangdut kesukaannya.
"Ibu malas ke sana bikin cape aja, lagian kamu juga ngapain kesana? Gak ingat kamu kalau dia yang udah merusak hidup kamu?" Tanya Bu May sinis.
"Sebenarnya aku juga malas Bu tapi apa kata orang nanti kalau kita gak ada yang datang. Apa lagi Mas Ryan tidak ada, emang ibu mau kita gosipin orang - orang?" Tanya Rani balik.
Bu May sejenak memikirkan omongan Rani, betul yang di bilangnya pasti dia akan jadi omongan orang - orang nanti.
"Ya udah kamu pergi sana, nanti kalau yang tanya ibu bilang aja ibu gak enak badan atau kecapean. Oya nanti pulang jangan lupa bungkusin ibu makanan". Ujar Bu May lalu melajukan menonton.
__ADS_1
Rani hanya menaikkan jempol lalu meninggalkan rumah ibunya.
Bersambung.