
Pov (Author)
"Dari mana saja kamu?". Hardik Bu May sambil berkacak pinggang dengan mata melotot.
"Astagana,ikh ibu kayak hantu ngagetin aja kayak hantu". Pekik Rani kaget.
"Kamu itu yang kayak hantu, pulang hampir tengah malam, mana ngendap - ngendap kayak maling. Kamu dari mana? Jam segini baru pulang, mana kagak pamit". Cerocos Bu May.
"Aku kira ibu sudah tidur, jadi aku ngendap - ngendap biar gak ganggu tidurnya ibu". Kilah Rani gugup, dia menyembunyikan belanjaannya di balik badannya.
"Apa itu yang kamu sembunyikan? Sini ibu liat". Tanya Bu May merampasnya, Rani hanya pasrah karena tenaganya kalah dengan ibunya.
Mata Bu May membelalak melihat apa yang isi dari apa yang dibawa oleh Rani.
"Dari mana kamu dapat semua barang - barang mewah ini? Dapat uang dari mana kamu? Kamu nyuri uang ibu ya?" Selidik Bu May menatap Rani nyalang.
"Enak aja bilang aku nyuri. Emang uang ibu bisa beli barang - barang mewah gini, katanya gak ada uang. Asal ibu tau aku sekarang udah kerja". Jawab Rani tidak terima.
"Halah, emang kamu kerja apa sampai bisa dapat uang sebanyak ini. Kecuali kalau kamu jual diri". Ucap Bu May ngasal.
"Si.. siapa yang jual diri Bu? Ngasal aja kalau ngomong. Aku ini masih punya otak buat mikir. Aku kerja jadi sales mobil udah seminggu ini di Mall. Dan aku dapat bonus karena udah jualin mobil dalam jumlah banyak". Kilah Rani lagi, wajah nampak pucat.
"Oh baguslah kalau kamu sudah kerja jadi gak nyusahin ibu terus. Mending kamu berhenti kuliah dan kerja saja lebih bagus. Kan yang beli mobil pasti orang - orang kaya, kamu gaet salah satu dari mereka biar makin banyak uang kamu". Ujar Bu May memberi saran sesat ke Rani
"Gampanglah kalau gitu, yang penting ibu jangan ngelarang - ngelarang aku kalau pulang malam kayak gini". Ujar Rani sambil mengibaskan tangannya
"Sip lah kalau gitu, yang penting kamu juga bagi ibu uang kamu. Ibu bakal dukung kamu". Ucap May menadahkan tangan.
Rani mengerti maksud dari ibunya."Besok aku kasih ibu, uang cash aku udah habis buat belanja, belum aku tarik di ATM. Aku mau istirahat". Jawab Rani pongah.
"Beneran ya? Ya udah anak ibu yang cantik selamat istirahat, sana masuk ke kamar kamu". Balas Bu May dengan senyum manis dan mendorong tubuh Rani pelan.
Rani masuk ke kamarnya dan menguncinya.
'Dasar orang tua matre, dengar uang langsung sikapnya manis. Tapi bodoh amat lah yang penting ibu gak ngerecokin urusan gue'. Gumam Rani dengan senyum sinis.
Dia meletakkan barang - barang di kasur dan mengambil ponselnya dari dalam tas.
'Hebat kamu Rani, Pak Ronald puas dengan kamu'. Pesan dari Bella.
'Selamat istrihat sayang. By Om Ronald
__ADS_1
Rani senyum - senyum sendiri membaca pesan dari Sugar Daddynya.
Kemudian dia mengecek mobile banking, matanya membulat sempurna melihat saldo rekening yang bertambah dua digit dalam satu malam
'Yes gue bakal jadi orang kaya, enak juga kerja gini. Kenapa gak dari dulu aja'. Gumam Rani.
***
"Kenapa kamu belum jual keperawanan Rani? Pasti mahal banget sayang". Tanya Om Broto.
"Belum saatnya, kita buat dulu dia jatuh cinta dengan Ronald, biar dia ngasih dengan suka rela. Dengan gitu kan kita gak perlu bayar dia, uangnya bisa kita nikmati sendiri, hahaha". Jawab Bella tertawa.
"Hahaha.. Pinter banget kamu sayang. Tapi kenapa kamu tega sekali sama adik ipar kamu?"
"Rani itu anak kesayangan di keluarga suamiku, kalau gadis itu hancur pasti keluarganya bakal menderita juga. Apalagi ibu mertuaku yang matre dan sombong itu, itu juga balasan untuk suamiku yang tidak berguna itu". Ucap Bella.
"Dasar kamu istri durhaka. Kasihan sekali dia, istrinya yang dia pikir sedang kerja ternyata sedang bercum*bu dengan pria lain.. Hehehe". Ujar Pak Broto terkekeh.
"Peduli setan dengan pria tidak berguna itu, yang ada di otak aku hanya uang saja. Aku juga sudah sangat muka sama dia". Ucap Bella geram.
"Hahaha, tenang saja saya akan selalu memberi kamu uang banyak asal servis kamu selalu bagus tapi kalau kamu berani main di belakang saya, kamu bakal saya bu*nuh, Hahaha..". Ancam Pak Broto sambil tertawa.
"Gak lah, aku kan cinta sama om. Yang penting om jangan pelit sama aku". Ucap Bella lalu naik di tubuh Pak Broto.
Mereka berdua bergumul sampai pagi.
***
Keesokan paginya.
"Masih ingat pulang kamu hah?" Hardik Ryan begitu Bella pulang ke rumah.
"Ya kerja lah Mas, aneh banget pertanyaan kamu". Jawab Bella berjalan menuju kamarnya meninggalkan Ryan.
"Mas belum selesai bicara". Ryan mencekal tangan Bella, dia menatap penuh emosi pada istrinya.
"Apaan sih Mas? Lepasin tangan aku, sakit tau. Aku cape, mau istirahat". Pekik Bella sambil berusaha melepaskan tangannya.
"Kerja apa yang pulang pagi kayak gini hah? Dan sudah dua hari kamu tidak pulang". Bentak Ryan
Nyali Bella sedikit ciut karena bentakan Ryan tapi dia berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terlihat takut.
__ADS_1
"Aku kerja lah Mas, aku habis perjalanan dinas ke luar kota". Jawab Bella berkilah.
"Jangan bohong kamu, kasih alamat kantor kamu biar Mas cari tau sendiri ke sana. Mas ini suami kamu tapi kenapa kamu gak izin pergi ke luar kota?". Bentak Ryan lagi
"Gak usah teriak - teriak, aku gak tuli. Kamu itu laki - laki tidak berguna, nyesal aku nikah sama kamu kalau kayak gini". Cerca Bella.
"ISABELLAAA JAGA UCAPAN KAMU". Teriak Ryan mengangkat tangannya hendak menampar Bella.
"Apa kamu mau nampar aku? Nih tampar aja silahkan, setelah itu akan laporin kamu karna KDRT bila perlu aku gugat cerai kamu. Aku udah muak sama kamu". Cecar Bella melepas tangannya dari Ryan dan berlalu menuju kamarnya.
BRAKKK
Bella membanting pintu kamarnya dengan sangat keras, untung Maira sudah pergi sekolah jadi dia tidak melihat pertengkaran kedua orang tuanya.
Ryan terduduk sambil meremas rambut dengan kasar. 'Ya Tuhan, apa salahku kenapa hidup jadi begini'. Batin Ryan.
Tidak berapa lama Bella keluar kamar dengan membawa koper.
"Kamu mau kemana Bell? Kenapa bawa koper segala?" Tanya Ryan bingung.
"Aku mau pergi dari rumah ini, aku tidak sanggup hidup dengan kamu lagi". Jawab Bella sinis.
"Jangan pergi, jangan tinggalkan Mas, kasihan Maira. Mas minta maaf, mas janji akan bahagiakan kamu kayak dulu lagi. Ryan bersujud sambil menggenggam tangan Bella.
"Sudah terlambat, lepaskan jangan halangi aku. Maira biar kamu yang urus. Aku sudah tidak peduli. Aku sudah gak sanggup hidup miskin sama kamu". Bentak Bella dan mendorong Ryan hingga terjerembab di lantai kemudian segera keluar, sudah ada taksi online yang menunggunya di luar.
"Tunggu Bella, jangan pergi". Teriak Ryan. Karena tidak hati - hati dia terpeleset dan terjatuh.
Bella hanya menatap dengan senyuman sinis dan segera masuk ke dalam taksi.
"Jalan pak, tidak usah dipedulikan". Ucap Bella pada driver taksi.
"Baik Bu". Jawabnya dan segera melaju meninggalkan perumahan tempat tinggal Ryan dan Bella.
Ryan menatap pasrah kepergian istrinya.
'Tega kamu Bell ninggalin Aku dan Maira. Aku yakin kamu selingkuh. Aku akan cari kamu kemana pun kamu pergi dan aku akan menghancurkan kamu'. Gumam Ryan penuh kebencian pada wanita yang masih berstatus istrinya itu.
'Kasihan sekali kamu Ryan, seru juga melihat kehancuran kamu secara langsung. Hahaha'. Ujar seorang pria melihat rekaman yang di oleh orang suruhannya.
Bersambung.
__ADS_1