
Pov (Author)
"Jawab Rani siapa pria itu?" Tanya Bu May sambil teriak.
Rani tak bergeming, dia hanya diam seperti patung. Dia baru pulang kemarin sore dari rumah sakit.
Karena kesal tidak direspon oleh Rani dari semalam, dia lalu memukuli tubuh Rani.
"Pukul aja terus Bu, bila perlu sampai aku ma*ti sekalian". Ujar Rani dengan mata berkaca - kaca.
"Makanya kamu bilang sama iby siapa pria yang menghamilimu biar ibu temui dia untuk bertanggung jawab". Hardik Bu May, nafasnya naik turun karena emosi.
"Aku tidak tau Bu, jadi jangan terus mempertanyakan itu terus". Jawab Rani dengan suara parau.
"Mana mungkin kamu gak tidak tau? Emangnya setan yang menghamili kamu hah? Atau jangan - jangan selama ini kamu jadi pela*cur makanya kamu tidak tau hamil sama siapa karena sudah banyak pria yang tidur sama kamu?" Bentak Bu May.
Rani memalingkan wajahnya. Bu May membalikkan wajah Rani menghadapnya. Terlihat Rani meneteskan air mata.
"Kenapa kamu menangis? Jangan bilang kalau itu benar kalau kamu jadi pela*cur. Jawab ibu Rani. Ujar Bu May sambil mengguncangkan tubuh Rani.
"Kalau iya ibu mau apa? Mau bunuh aku? Lakuin aja Bu, aku juga udah bosan hidup". Jawab Rani menantang ibunya.
Plakkkk.
Tamparan yang keras mendarat di pipi Rani yang tirus.
"Dasar anak sialan, tidak tau diri, saya selalu memanjakan kamu tapi kamu membuat saya malu dengan perbuatanmu. Lebih baik kamu mati aja". Teriak Bu May seperti kesetanan sambil mencekik leher Rani.
Rani hanya pasrah karena dia sudah tidak ingin hidup lagi, dia merasa dirinya sudah sangat kotor pasti tidak akan ada lelaki yang mau menjadi suaminya. Apa lagi kata dokter sangat kecil kemungkinan dia bisa hamil lagi sejak abo*rsi yang dia lakukan.
"Ibuuu...". Teriak Ryan dan segera melepaskan tangan ibunya dari leher Rani adiknya. Pintu kamar Rani yang terbuka lebar yang membuatnya bisa melihat apa yang terjadi di dalam.
__ADS_1
Rani menghirup udara dengan rakus sambil memegangi lehernya yang sakit, dia kira bisa segera mati tapi dia masih dikasih kesempatan hidup.
"Kenapa kamu cegah ibu untuk bu*nuh anak sia*lan itu, biar dia mati". Teriak Bu May sambil melotot ke arah Ryan.
"Apa ibu sudah gila? Atau ibu kesurupan? Rani itu anak kandung ibu, sadar Bu". Tanya Ryan berusaha menyadarkan ibunya.
"Diam kamu Ryan, anak tidak tau diuntung ini memang pantas ma*ti. Dia sudah membuat ibu malu. Lebih baik ibu tidak punya anak seperti dia". Teriak Bu May lagi sambil menunjuk ke arah Rani.
"Sadar Bu, jangan seperti ini. Emang apa yang telah Rani perbuat sampai ibu bisa semarah ini?" Tanya Ryan bingung karena selama ini yang dia tau ibunya sangat menyayangi dan memanjakan Rani.
"Kamu mau tau apa yang dia perbuat? Makanya kamu jangan keluyuran terus, biar kamu tau apa terjadi. Adik kamu ini baru saja pulang dari rumah sakit setelah dirawat karena pendarahan akibat abo*rsi yang dia lakukan. Kalau bukan karena Arya yang menanggung biaya perawatannya, mungkin sudah ma*ti dia". Jawab Bu May dengan nafas naik turun.
Ryan nampak terkejut mendengar penuturan ibunya. Dia tidak percaya adik perempuan satu - satunya pernah hamil dan sampai nekat melakukan abo*rsi. Dia menatap ke arah Rani meminta penjelasan.
"Siapa pria brengsek itu Rani? Biar mas seret dia kesini, walaupun bayi kamu sudah tidak ada tapi dia harus tetap bertanggung jawab atas perbuatannya sama kamu". Tanya Ryan pada Rani. Rani tidak berani menjawab seperti pada ibunya, dia takut pada kakak tertuanya itu. Dia takut mengecewakannya, karena Ryan sangat menyayanginya.
"Dia tidak akan bisa jawab siapa yang menghamilinya kalau banyak pria yang sudah tidur denga dia". Ujar Bu May sinis.
"Adik kesayangan kamu ini bekerja sebagai pela*cur, pantas saja beberapa bulan ini dia bisa ngasih ibu uang yang banyak katanya jadi sales mobil eh ternyata jual diri. Cuihhh menjijikkan". Desis Bu May sambil meludah ke lantai kamar Rani, dia menatap Rani dengan jijik.
Mata Ryan terbelalak mendengar ucapan ibunya. Dia menatap Rani dengan tajam. "Apa benar yang ibu bilang Ran? Lihat Mas dan jawab kalau semua itu tidak benar". Ujar Ryan masih dengan suara pelan.
Rani hanya menunduk dan meneteskan air mata.
"JAWAB ASMARANI WINATA". Teriak Ryan.
"I..iya Mas, itu benar semua". Jawab Rani dengan suara bergetar, dia mulai terisak.
Ryan tertunduk di lantai mendengar pengakuan Rani, dia menyibak rambutnya dengan kasar.
"Kamu dengar sendiri kan pengakuan dia, lebih baik kita usir saja dia dari rumah ini biar dia gak bikin keluarga kita malu". Ujar Bu May emosi.
__ADS_1
"Diam Bu, ini semua salah ibu yang tidak bisa mengawasi Rani, ibu yang terlalu membebaskan dia". Hardik Ryan membela adiknya.
"Enak saja kamu nyalahin ibu, di sini yang harus disalahkan itu kamu. Kalau kamu tidak bangkrut, kita gak akan hidup susah. Kamu bodoh sampai bisa ditipu sama Bella hingga kamu bisa kehilangan rumah kamu". Ujar Bu May tidak ingin disalahkan.
Rani merasakan nyeri di hatinya mendengar ibunya menyebut nama wanita yang telah menghancurkan masa depan dan
hidupnya. Dia sangat benci pada mantan kakak iparnya itu dan ingin membalas dendam padanya. Yang harus disalahkan adalah wanita itu
"Kalian tolong berhenti berdebat dan saling menyalahkan. Yang harus disalahkan dan diminta pertanggung jawaban dari semua penderitaan yang kita alami adalah Bella, dia yang harus bertanggung jawaban atas semua ini". Ucap Rani melerai perdebatan ibu dan kakaknya.
"Kenapa Bella yang bertanggung jawab atas semua ini?" Tanya Bu May dan Ryan bersamaan.
Rani pun menjelaskan semuanya dari awal pertemuannya dengan Bella yang katanya dia hanya bertugas untuk menemani klien jalan dan makan tanpa hubungan fisik ataupun badan, tapi nyata dia ditipu hingga Bella menjual kepera*wananya tanpa sepengetahuannya, juga tentang rencana Bella untuk menggugat cerai Ryan dan merebut semua hartanya yang masih tersisa. Rani tidak berani bilang ke Ryan karena Bella mengancam akan menyebarkan video me*sumnya. Dia juga bercerita Bella yang menjadi simpanan Om Broto. Tapi dia tidak menceritakan soal kejadian di kantor Pak Ronald agar masalah ini tidak semakin melebar, dia tau istri Pak Ronald bukan orang sembarangan jadi dia tidak ingin berurusan dengan wanita itu. Rani bercerita sambil berderai air mata, dia merutuki kebodohannya demi uang yang dijanjikan oleh Bella, hidupnya menjadi hancur.
Ryan dan Bu May terlihat emosi mendengar cerita Rani, mereka tidak menyangka Bella tega berbuat seperti itu padahal selama dia menjadi istri Ryan, dia selalu diperlakukan dengan sangat baik. Ryan juga sakit hati karena Bella berselingkuh darinya, ternyata semua kecurigaannya benar. Bu May lalu memeluk tubuh kurus Rani dan memenangkannya, bagaimanapun Rani adalah putri kesayangannya. Benar yang Rani bilang bahwa Bella yang harus disalahkan dan bertanggung jawab.
"Kamu tau sekarang dimana Bella tinggal atau kamu punya nomor telfonnya?" Tanya Ryan pada adiknya.
"Aku gak tau tempat tinggal dia Mas, soalnya kami selalu bertemu di hotel atau kafe. Nomor telfonnya juga tidak bisa aku hubungi, sepertinya dia sudah memblokir nomorku". Jawab Rani dengan suara khas orang yang habis menangis.
Ryan memukul tembok kamar Rani. "Dasar perempuan ja*lang, beraninya dia mengkhianatiku setelah semua yang aku berikan padanya selama kami bersama. Aku akan cari dia kemanapun dia bersembunyi, aku akan buat dia juga menderita". Ujar Ryan penuh dendam, dia lalu keluar dari kamar Rani.
"Ryan kamu mau kemana?" Tanya Bu May mengejar anak pertamanya yang berjalan menuju pintu keluar.
"Aku mau cari wanita ja*lang itu, selama ini aku dibantu temanku untuk mencari dia. Makanya beberapa hari ini aku tidak pulang ke rumah ibu". Jawab Ryan.
"Ya udah hati - hati semoga wanita sia*lan itu cepat kalian temukan, ibu sudah tidak sabar ingin memberi dia pelajaran". Ujar Bu May geram.
Ryan pun segera meninggalkan rumah ibunya menggunakan motornya.
'Dasar wanita ja*lang sia*lan, saya bersumpah akan membuat hidup kamu menderita lebih dari yang keluarga saya alami'. Gumam Bu May emosi.
__ADS_1
Bersambung.