
Pov (Aisyah)
Sepulang dari ruko yang akan kami jadikan lapak baru, kami langsung menuju ke kamar untuk membersihkan diri dan berwudhu untuk menunaikan sholat ashar. Setelah sholat ku raih tangan suamiku dan menyi*um takzim, sembari dia mengusap kepalaku yang terbungkus mukenah dengan lembut.
Akupun keluar kamar untuk mengambil buah di kulkas kemudian menuju ruang tamu untuk menonton tv, sengaja aku tidak menonton di kamar karena Mas Arya sedang memeriksa laporan dari Lily, aku tidak ingin mengganggunya.
Bicara soal Lily, aku jadi ingat pertama kali berkenalan dengannya saat aku dan Mas Arya tengah makan di pinggir jalan, kebetulan juga Lily juga makan di tempat yang sama bersama suaminya yang saat itu mereka masih pacaran. Mas Arya pun memperkenalkan kami berdua, pembawaan Lily yang ceria dan friendly membuat kami cepat dekat dan menjadi sahabat, aku lebih tua setahun darinya. Aku juga menyayangkan dengan kepindahannya karena dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri begitupun sebaliknya.
Ting..
Ada pesan masuk dari Lily, umur panjang juga nih anak baru juga dipikirkan. Dia mengirim sebuah foto, aku menaikkan alisku sebelah melihat foto yang dia kirim. Dia foto seorang wanita yang dandanannya cukup berani dan pakaian cukup seksi serta ketat.
'Siapa perempuan ini? Apa mungkin Lily salah kirim?'. Gumamku bingung karena aku sama sekali tidak mengenal perempuan di foto itu.
Belum sempat ku balas pesannya, masuk lagi pesan darinya.
['Ini foto sekretaris barunya Pak Arya yang bakal gantiin aku, hapalin muka dia baik - baik. Mbak harus hati - hati sama dia, karena dia terang - terangan mengoda Pak Arya, dia juga ngomong ke aku kalau Pak Arya calon pacarnya'].
['Oya nama perempuan ular ini Siska'].
'Siska? Seperti aku gak asing dengan namanya'. Pikirku mencoba mengingat sesuatu.
'Oh iya aku baru ingat ibu mertuaku pernah beberapa kali menyebutkan nama Siska, wanita yang ingin beliau jodohkan dengan Mas Arya. Apa mereka orang yang sama?'. Pikirku lagi setelah mengingat nama itu.
Mas Arya kemarin sempat cerita tentang sekretaris barunya tapi dia tidak menyebutkan namanya. Aku memang tidak pernah tau seperti apa Siska yang dimaksud ibu Mertuaku, jadi aku tidak tau apakah dia orang yang sama dengan sekretaris baru Mas Arya atau bukan.
Aku membalas dengan ucapan terimakasih atas informasi yang diberikan oleh Lily dan memberitahukannya untuk tidak perlu kuatir karena aku yakin Mas Arya bisa menjadi pandangan dan hatinya. Tapi jujur aku sedikit kuatir dengan wanita kalau seandainya dia orang yang sama dengan wanita yang ingin dijodohkan dengan Mas Arya. Pasti ibu mertuaku akan ikut campur
"Mbak Ais". Ratna tiba - tiba muncul dan menepuk pundak ku.
"Astaghfirullah, eh Ratna ngagetin aja". Jawabku kaget.
__ADS_1
"Hehe.. Maaf mbak gak ada maksud, habisnya Mbak dipanggil - panggil malah melamun. Itu tipi malah dianggurin". Ujarnya sambil nyengir.
"Masa iya? Hmm.. ngomong ,- ngomong ada apa Rat?". Tanyaku.
"Ini Mbak aku mau sampein kalau ada yang mau lamar kerjaan". Jawabnya.
"Trus orangnya mana?". Tanyaku lagi.
"Aku suruh tunggu dilapak Mbak". Jawab Ratna.
"Ya udah suruh masuk sini, biar aku wawancarai dulu". Ucapku. Walaupun nanti tugasnya cuma nyuci piring tapi aku tidak ingin salah pilih karyawan. Melalui wawancara aku bisa menilai pribadinya seperti apa.
Tidak lama Ratna kembali bersama gadis muda, dia kemudian memperkenalkan namanya sebagai Wulandari tapi biasa dipanggil Wulan.
Setelah wawancara singkat, aku menilai dia sopan dan sederhana. Dia anak pertama dari tiga bersaudara dan adiknya masih kecil - kecil, sedangkan orang tua mereka sudah meninggal. Sehingga dia menjadi tulang punggung untuk kedua adiknya. Dia terpaksa tidak melanjutkan sekolah asal adik - adiknya bisa makan dan sekolah. Sebelumnya dia bekerja menjadi buruh cuci tapi dia tidak betah selain karena upahnya yang kecil, majikan juga jahat dan tak jarang memukulnya walaupun hanya masalah sepele. Dia tau soal lowongan pekerjaan di lapakku dari tetangganya yang kebetulan pernah makan di sini. Aku terenyuh mendengar cerita karena aku juga anak yatim piatu sama sepertinya.
"Yank siapa dia?". Tanya Mas Arya saat keluar dari kamar menghampiriku.
Mas Arya menanggapi dengan anggukan tapi wajahnya datar, sedangkan Wulan melihat Mas Arya dengan tatapan terpesona, menyadari aku memperhatikanya, dia segera menunduk. Tapi aku bisa melihat dia mencuri - curi pandang ke suamiku, aku akui suamiku mempunyai wajah yang tampan dengan hidung yang mancung, kulit putih, alis tebal dan tubuh tinggi tegap serta sedikit berotot. Aku saja istrinya tidak pernah bosan melihatnya, jadi aku tidak menyalahkan kalau ada wanita yang menyukainya.
Tapi perlu diingat hanya sekedar suka, bukan untuk memiliki. Kalau berusaha merebutnya dariku, aku tidak akan tinggal diam. Akan ku remukkan tulangnya, bukannya sombongnya walaupun bodyku kecil. Alhamdulillah aku bisa bela diri taekwondo dan silat yang pernah aku pelajari saat masih sekolah dulu. Jadi jangan coba - coba merayu suamiku.
Akupun menceritakan soal Wulan pada Mas Arya, dan dia menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadaku. Aku akhirnya menerimanya selain karena kasihan, aku juga ingin membantunya.
Dia sampai menangis saat aku menerimanya dan menyebutkan gaji yang akan dia terima nantinya. Dia terus berterima kasih padaku dan Mas Arya. Akupun memintanya pulang dulu karena hari Senin baru dia mulai bekerja.
***
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam, eh Siska mari masuk". Bu May mempersilahkan Siska masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Makin cantik aja kamu, apa kabar mama kamu? Ada apa nih kamu main kesini?". Tanya Bu May, dia nampak senang dengan kedatangan Siska.
"Ah Tante bisa aja, mama baik. Aku cuma ingin berkunjung aja Tante kebetulan lewat kompleks sini. Oya aku ada sedikit oleh - oleh buat Tante". Jawab Siska sambil memberikan sekotak kue dari toko kue yang cukup terkenal.
"Wah makasih loh sayang udah repot bawain Tante oleh - oleh". Ucap Bu May senang.
"Bukan apa - apa kok Tante, gak ngerepotin kok". Ujar Siska.
"Kamu nih udah cantik, pintar, baik, wanita karier pula. Paket lengkap pula, andai saja kamu yang jadi menantu Tante". Tutur Bu May memujinya.
Siska tersenyum senang, dia jadi besar kepala di puji ibu dari pria yang dia sukai.
"Oya Tante, aku bakal jadi sekretarisnya Mas Arya karena sekretaris yang lama resign". Ucap Siska.
"Beneran nih? Wah bagus dong jadi setiap hari kalian bakalan bertemu, otomatis kalian bakalan dekat". Ujar Bu May bersemangat.
"Iya sih Tante tapi Mas Arya jutek banget sama aku, padahal aku udah tampilan sebaik mungkin buat dia tapi dia gak melirik aku sama sekali. Dia setia banget sama istrinya, aku jadi pesimis". Ucap Siska pura - pura sedih.
"Kamu gak perlu kuatir, kamu jangan menyerah gitu. Tante yakin kalau kalian sering bertemu, Arya pasti bakal tertarik sama kamu, Tante bakal bantu kamu dapatin Arya. Gak usah kamu pikirin istri yang kampungan itu, gak selevel sama kamu. Dia gak ada apa - apanya". Ujar Bu May menyakinkan dan mendukung Siska.
"Makasih banyak ya Tante, gak salah mamaku berteman sama Tante. Aku gak bakal menyerah mendapatkan Mas Arya". Ucap Siska senang karena Bu May mendukungnya, dia yakin jalannya untuk mendapatkan Arya akan berjalan mulus.
"Aku pamit dulu ya Tante udah jam segini, nanti kapan - kapan aku main kesini lagi atau gak aku ajak Tante shopping". Pamit Siska.
'Benar kata mama, untuk menaklukkan ibu Mas Arya sangat muda, cukup iming - imingi dengan uang maka dia akan berpihak padaku. Jangan senang dulu Lo, kalau gue udah nikah sama Mas Arya, Lo bakal gue tendang. Gak sudi gua punya mertua matre'. Gumam Siska sambil tersenyum licik tentu saja tanpa sepengetahuan Bu May
"Ok sayang, makasih ya. Salam buat mama kamu. Kalau ada apa - apa hubungi Tante aja". Pesan Bu May.
Siska pun meninggalkan rumah Bu May. Sepeninggalnya Siska, Bu May senyum - senyum sendiri akan mendapat menantu yang kaya dan berkelas seperti Siska. Dia mulai membayangkan bisa shopping dan perawatan seperti dulu lagi. Dia akan berusaha mendekatkan Arya dan Siska, serta menyingkirkan Aisyah.
Bersambung.
__ADS_1