Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 63


__ADS_3

Pov (Author)


"Semua udah beres kan pah?" Tanya Bu Merry  pada suaminya, hari ini Siska sudah boleh pulang. Sebenarnya belum memperbolehkan oleh pihak dokter, tapi Siska dan keluarganya bersikeras untuk pulang karena mereka akan keluar negeri untuk mengoperasi wajah Siska dan juga karena mereka mau kabur dari kejaran polisi.


"Sudah Mah, papa sudah urus administrasinya tinggal jalan aja, papa juga sudah pesan taksi online kita ke bandara. Kita langsung berangkat siang ini, kita gak bisa kembali lagi ke rumah karena rumah kita sudah disita dan polisi sedang mencari keberadaan papa". Terang Pak Rudi gusar.


Siska hanya diam mendengar perbincangan orangtuanya, dia tengah memikirkan wajahnya yang telat cacat. Dia ingin cepat - cepat operasi biar wajah bisa kembali seperti semula, setelah itu dia akan pikirkan balas dendam kepada Arya dan Aisyah. Dia meramas seprai ranjangnya menahan emosi.


Setelah beres semua, mereka bertiga lalu keluar ruangan tempat Siska dirawat selama ini.


Tidak berapa lama mereka sudah berada dalam taksi online menuju Bandara. Pak Rudi terlihat gelisah, dia takut polisi mengikutinya.


Hingga merekapun sampai di parkiran bandara. Namun baru saja akan turun dari taksi, mereka sudah di kepung oleh beberapa pria berpakaian preman yang ternyata adalah polisi. Pihak polisi sudah mendapatkan info kalau hari ini Pak Rudi dan keluarganya akan kabur keluar negeri, makanya mereka sudah standby di Bandara sedari pagi untuk menunggu kedatangan Pak Rudi dan keluarganya agar bisa menangkap mereka.


Wajah Pak Rudi pucat pasi, dia sudah tidak bisa kabur dan mengelak lagi. Terpaksa dia pasrah saja saat salah satu polisi memborgol tangannya ke belakang.


Tapi tidak dengan Bu Merry dia berontak dan tidak mau dibawa oleh dua orang polwan.


"Lepaskan saya, saya tidak bersalah. Saya tidak ada sangkut pautnya dengan masalah suaminya, saya tidak tahu apa - apa". Teriak Bu Merry histeris dan melawan.


"Ibu tolong kooperatif, jangan persulit tugas kami. Kalau memang ibu tidak bersalah ibu bisa buktikan di kantor polisi". Ujar salah satu polwan sedangkan rekannya memborgol tanya Bu Merry.


Bu Merry terus berteriak dan mengamuk, segala umpatan keluar dari mulutnya. Dia juga menyalahkan suaminya. Kejadian itu menjadi tontonan semua orang yang ada di Bandara dan diliputi oleh wartawan.


Siska yang melihat penangkapan orang tuanya juga terlihat panik, dia tidak mau di penjara juga. Melihat para polisi tengah sibuk menangani ibunya yang ngamuk, begitu juga dengan supir taksinya yang juga sedang menonton penangkapan itu. Dia pun segera mengambil kesempatan dengan berbaur dengan kerumunan orang, untung dia memakai masker, kacamata dan topi yang sengaja dia pakai untuk menyembunyikan wajah yang rusak.


Polisi yang menyadari hilangnya Siska, segera mencari keberadaannya tapi mereka tak menemukannya karena Siska sudah kabur menggunakan taksi


"Sial kemana kaburnya wanita itu? Kita lengah sedikit dia sudah kabur" Ujar salah satu polisi.


"Sudah kita kembali saja ke kantor, yang penting kita sudah ada foto dia, nanti kita masukkan ke daftar buronan". Ajak rekannya.

__ADS_1


Dua mobil polisi pun meninggalkan area Bandara menuju kantor polisi membawa Pak Rudi dan Bu Merry.


***


Bu May tengah menonton TV yang sedang menayangkan sinetron ikan terbang, namun dia terlihat kesal karena sedang seru menonton tiba - tiba terpotong karena ada berita.


"Sialan mengganggu saja ini berita, palingan juga berita gak penting". Gerutu Bu May.


Tapi matanya melotot melihat seseorang yang dia kenal ada dalam berita tersebut dengan judul berita "AKSI PENAMPAKAN TERSANGKA PENCUCI UANG". Dia segera mengambil ponsel dan merekam berita itu.


Lalu mengirim video itu ke grub sosialitanya.


['Jeng - jeng ini bukannya Jeng Merry kan?'] Ketik Bu May langsung mengirimnya, tanpa butuh waktu lama seketika grub itu menjadi ramai.


['Saya juga nonton beritanya, baru saya mau share tapi udah keduluan Jeng May']. Ketikan dari Bu Rosa ketua grub itu.


    ['Berita itu betul loh, saya dikasih tau sama menantu saya yang kerja di Bandara. Gak nyangka ya suami Jeng Merry kayak gitu, padahal Jeng Merry paling suka pamer eh ternyata duitnya haram semua..Hahahha']. Ledek Bu Karina yang selama ini iri dengan Bu Merry, ini kesempatannya itu menghina Bu Merry.


'Yah gagal deh saya punya besan dan mantu kaya raya'. Gumam Bu May muram. Namun tiba - tiba bibirnya melengkung dan senyumnya mengembang.


'Tapi kalau Jeng Merry dipenjara berarti saya tidak perlu dong bayar utang saya di dia. Bodo amat lah dengan Siska, lagian Arya ganteng dan mapan pasti banyak perempuan yang mau dengan dia, gampang buat nyari pengganti Siska'. Gumam Bu May lagi sambil tersenyum licik.


***


"Kamu kerja yang bener, jangan ngerecokin. Kalau gak tau ya bertanya, jangan sok tau". Omel Ratna pada Wulan, ini hari pertama mereka kerja dalam ruangan yang sama. Ratna terlihat jengah melihat Wulan yang kerja asal - asalan.


"Iya iya Mbak, makanya Mbak ajarin aku yang bener biar aku juga bisa tau cara masaknya. Jadi kalau pesanan lagi rame, aku bisa bantuin. Mbak malah ngomel mulu dari tadi". Ucap Wulan sambil nyengir tapi dalam hati dia mengumpat Ratna yang bagi sok berkuasa padahal mereka sama - sama karyawan.


"Ya makanya kamu liatin gimana saya cara kerjanya, jangan megang hp terus. Udah bener kamu di bagian cuci piring, kamu di sini malah bikin emosi terus". Hardik Ratna memutar bola matanya.


"Aku gak main hp kok Mbak, nih aku lagi nyatat apa aja yang Mbak lakuin, gimana cara masaknya dan juga bumbu - bumbu apa yang dimasukin". Jawab Wulan sambi menunjukkan ponselnya ke arah Ratna, ponsel yang dia gunakan berbeda dengan saat itu dilihat oleh Ratna. Ponsel yang dia gunakan sekarang hanya ponsel android biasa.

__ADS_1


Ratna hanya melengos tidak mempedulikan omongan Wulan dan melanjutkan pekerjaannya, dia sudah teramat tidak suka pada gadis itu.


"Ini tolong kamu bungkusin semua, setelah itu kamu antarin ke orangnya. Yang ini pesanan di meja nomor tiga, kalau yang ini meja nomor satu". Terang Ratna dan berlalu ke belakang.


"Siap Mbak". Jawab Wulan. Setelah Ratna tidak terlihat, dia mengumpat Ratna dengan berbagai macam sumpah serapah.


Ratna ke belakang untuk melihat cara kerja Laras, dia tersenyum melihat kinerja Laras yang bagus dan memuaskan. Semua peralatan makan bersih dan kinclong tidak seperti kalau Wulan yang mencuci, terkadang masih berminyak dan kurang bersih. Dia pun boros dalam menggunakan air dan sabun cuci piring.


***


"Mas sini cepatan lihat berita". Aisyah memanggil suaminya.


Arya yang sedang mencuci piring bekas makan mereka bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan segera menghampiri istrinya yang sedang menonton TV di kamar.


"Kenapa yank? Heboh benar". Tanya Arya.


"Itu Mas liat berita". Jawab Aisyah menunjukkan ke arah TV yang sedang menayangkan berita.


Arya mengernyitkan keningnya. "Emang kenapa dengan beritanya yank, emang kamu kenal sama mereka yang ditangkap itu?". Tanya Arya bingung


"Itu yang di tangkap orang tuanya Siska Mas, tadi juga ada foto Siska yang dinyatakan sebagai buronan". Terang Aisyah, wajahnya nampak gusar.


"Beneran kamu yank, ternyata Siska belum ditangkap. Seandainya dia juga ketangkap kira bisa dengan mudah minta penjelasan dia soal kejadian yang menimpa kita". Ujar Arya, dia terlihat menahan emosi.


"Aku cuma kuatir dia melancarkan aksinya lagi Mas, orang kalau udah bersekutu dengan iblis pasti akan melakukan segala cara sampai keinginannya tercapai". Ucap Aisyah cemas.


"Kamu jangan kuatir yank, kita punya Allah yang akan melindungi kita. Mas juga berjanji akan selalu menjaga kamu. Jangan terlalu di pikir, ingat kamu gak boleh stres. Kasihan Dede utun ntar kalau bundanya banyak pikiran". Ujar Arya menenangkan Aisyah dan membawa tubuh Aisyah ke dalam dekapannya.


***


"APAAA??? Rumah saya sudah di beli orang?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2