
Pov (Bella)
Namaku adalah Isabella, sebenarnya di belakang namaku tersemat nama bapakku yaitu Himawan tapi aku tidak menggunakan nama itu karena aku sangat membenci bapak kandungku karena kesalahannya yang tidak akan pernah bisa aku maafkan.
Aku seorang anak tunggal, dulu waktu aku kecil, keluargaku hidup dengan bahagia. Bapakku pria yang bertanggung jawab dan sayang pada keluarganya, beliau bekerja sebagai mandor proyek. Sedangkan ibuku seorang ibu rumah tangga yang lemah lembut. Tapi semua kebahagiaan kami berubah menjadi penderitaan sejak bapakku mendapat proyek di pulau Jawa. Awalnya kami keberatan karena ini pertama kali bapakku pergi jauh dari kami apalagi dia tidak akan pulang dalam waktu yang lama, tapi bapak membujuk kami dan bersikukuh menangani proyek itu karena penghasilan yang akan di dapatkannya sangat besar. Bapak berjanji akan membelikan apapun yang kami mau dan akan mengajak kami liburan menggunakan pesawat terbang. Aku sangat antusias karena aku belum pernah naik pesawat, aku pun turut membantu bapak untuk membujuk ibu.
Akhirnya ibu pun luluh dan mengizinkan bapak untuk pergi ke pulau Jawa asalnya bapak selalu mengabari kami dan akan segera pulang setelah proyeknya selesai. Bapak menyanggupi permintaan ibu.
Tibalah waktu bapak dan teman - teman yang lain untuk pergi ke pulau Jawa, mereka mengunakan kapal laut. Aku dan ibu mengantar keberangkatan bapak, kami berdua tak kuasa menahan air mata kami melepas kepergian bapak.
Sejak kepergian bapak, ibu terlihat murung. Aku tau ibu sangat merindukan bapak, begitupun juga denganku. Walaupun umur baru enam tahun aku sudah mengerti apa yang dirasakan ibu. Seminggu kemudian, ada telfon dari bapak. Beliau mengabari kalau sudah sampai di pulau Jawa, aku dan ibu bahagia mendapat kabar dari bapak. Kami bertiga saling melepaskan rindu, banyak yang kami bicarakan. Setelah beberapa kami mengobrol, bapak menyudahi panggilan karena di panggil atasannya.
Semenjak mendapatkan kabar dari bapak, ibu kembali tersenyum. Bapak juga selalu mengabari kami seminggu tiga kali, bapak banyak bercerita tentang suasana di pulau Jawa dan berjanji akan mengajak aku dan ibu kesana. Oya kami tinggal di pulau Kalimantan.
Namun beberapa bulan kemudian bapak mulai jarang menghubungi kami, uang yang bapak kirim pun semakin berkurang jumlahnya. Setiap ibu menghubungi bapak, beliau jarang mengangkatnya kalau di angkat bapak selalu mengatakan kalau sedang sibuk sehingga telfon dimatikan begitu saja. Ibu kembali murung dan mulai sakit - sakitan, karena uang dikirim bapak yang tak menentu dan jumlahnya yang kurang untuk mencukupi kebutuhan kami. Ibu terpaksa berjualan kue, tak jarang beliau menjadi buruh cuci di rumah tetangga. Hidup kami benar - benar sulit setelah saat itu.
Tidak terasa sudah setahun bapak mencari nafkah di pulau seberang dan sudah sembilan bulan ini bapak tidak ada kabar dan mengirim uang untuk kami. Nomor bapak pun tidak bisa dihubungi, ibu sudah bertanya pada tetangga yang suaminya atau keluarganya juga pergi bersama bapak ke pulau Jawa tapi mereka seolah kompak untuk bungkam dan tidak mau memberi kami informasi, mereka malah memusuhi kami. Sempat terpikir oleh ibu mengajakku untuk menyusul bapak ke pulau Jawa tapi diurungkan nya karena kami tidak alamat bapak di sana, apalagi kami tidak punya uang. Barang - barang di rumah sudah pada di jual untuk biaya sekolahku dan untuk kebutuhan kami sehari - hari.
Hingga teman - teman bapak sudah kembali dari pulau Jawa tapi bapak tidak ikut pulang, ibu bertanya pada mereka tapi mereka tidak ada yang menjawab pertanyaan ibu. Namun ada satu teman bapak yaitu Paman Said yang mengatakan kalau bapak tidak akan pulang, karena bapak sudah bahagia di sana. Paman Said menyuruh kami melupakan bapak dan lebih baik memulai hidup yang baru tanpa sosok bapak. Aku dan ibu menangis mendengar penuturannya, kami tak percaya bapak tega meninggalkan kami seperti itu.
Ibu tidak percaya dengan ucapan Paman Said dan tetap setia menunggu bapak kembali pada kami. Hingga suatu hari aku dikagetkan dengan suara salam dari luar, suara yang sangat tidak asing bagiku. Suara yang selama ini aku rindukan. Aku bergegas membuka pintu, seketika aku memeluk sosok yang berdiri di hadapan. Aku menangis dipelukannya, akhirnya bapak pulang juga.
Aku mempersilahkan bapak untuk masuk dan segera membuatkan minum untuknya. Bapak mencari keberadaan ibu, aku pun pergi ke rumah kepala desa untuk memanggil ibu yang sedang mencuci di sana. Tidak berapa lama aku kembali ke rumah bersama ibu.
__ADS_1
Sama sepertiku, ibu juga langsung memeluk bapak sambil menangis begitu pun juga dengan bapak. Aku terharu akhirnya keluargaku kembali bersama, aku dan ibu tidak akan hidup susah lagi. Kami tidak perlu bekerja lagi di rumah atau di kebun orang untuk makan.
Ibu meminta penjelasan kenapa hampir setahun bapak tidak ada kabar, bapak bilang dia akan menjelaskannya nanti. Aku tidak peduli alasan bapak apa yang penting sekarang bapak sudah kembali.
Keluarga kami kembali bahagia, aku dan ibu bisa makan enak lagi. Bapak pulang membawa uang yang banyak, bapak mengajak aku dan ibu jalan - jalan dan belanja ke kota. Aku menagih janji bapak yang akan mengajak kami liburan dengan pesawat terbang. Bapak bilang kalau aku sudah libur sekolah baru bapak akan menepati janjinya. Bapak membelikan aku sepeda yang akan ku pakai untuk pergi ke sekolah.
Namun beberapa Minggu kemudian saat aku pulang baru pulang sekolah, aku kaget melihat kondisi rumah yang berantakan. Aku memberanikan diri masuk lebih dalam untuk mencari keberadaan bapak dan ibu. Nampak ibu sedang duduk di tepi ranjang sambil menangis dengan menutup wajahnya dengan tangannya, sedangkan bapak bersujud di hadapan ibu. Aku bingung dengan apa yang terjadi.
Tiba - tiba ibu berdiri dan mendorong tubuh bapak dengan keras, ibu lalu memukul tubuh bapak. Bapak hanya pasrah menerima pukulan dari ibu.
"Pergi kamu dari sini, dasar laki - laki brengsek. Aku tidak sudi menjadi istrimu lagi". Teriak ibu mengusir bapak. Bapak mengiba sambil memegangi kaki bapak, tapi ibu malah menendang tubuh bapak.
Aku yang tidak tau apa yang terjadi hanya bisa menangis. Aku mencoba mendekati mereka tapi ibu malah menyuruhku tetap diam di tempatku.
"Bapak jangan pergi, ibu tolong tahan bapak". Pinta sambil menangis.
"Biarkan dia pergi Bella, mulai sekarang kamu tidak punya bapak. Kamu cuma punya ibu". Teriak ibu dengan mata melotot, aku hanya bisa melihat menangis ketika bapak meninggalkan kami lagi.
Sejak saat itu aku tidak pernah bertemu bapak lagi, ibu pun mulai sakit - sakitan lagi. Ibu juga menanamkan padaku untuk membenci bapak dan jangan pernah mencarinya.
Sampai akhirnya ibu meninggal karena penyakit yang dideritanya, aku pun ikut kakak perempuan ibuku yang tinggal di pulau Jawa. Bibiku adalah perawan tua, dia tidak ingin pernah menikah karena dulu dia ditinggal calon suaminya demi wanita lain. Suatu hari ketika umurku beranjak dewasa, bibi memberiku buku harian milik ibu yang menceritakan tentang kebusukan bapakku tenyata di pulau Jawa dia telah berselingkuh dan wanita itu hamil anak bapak. Bapak bilang khilaf dan meminta maaf pada ibu tapi hati ibu sangat sakit karena pengkhianatan bapak dan tidak bisa memaafkan bapak. Maka dari itu ibu mengusir bapak dari rumah. Entah dimana bapak berada, aku berharap dia hidup menderita dan ma*ti dalam penyesalan. Aku sangat benci pada bapak
Setelah membaca buku harian ibu aku menjadi tau nama perempuan yang menjadi selingkuhan bapak. Aku juga mengetahui wajahnya melalui foto yang ibu selipkan di buku hariannya. Ibu menemukan foto itu di dalam tas kerja ayah, foto itu yang membuat ibu mengetahui perselingkuhan bapak. Aku tersenyum sinis menatap foto itu yang menampilkan bapak merangkul perempuan itu dengan mesra. Aku bersumpah akan mencari perempuan itu dan membuatnya menderita seperti yang dialami almarhumah ibuku.
__ADS_1
Singkat cerita aku tengah mencari pekerjaan namun sialnya ada menjambret tasku, tapi nasib baik masih berpihak pada ku. Seorang pria tampan berhasil mendapatkan kembali tasku tapi penjambret itu kabur. Aku terpesona dan jatuh cinta dengan ketampanannya, namun belum sempat kami berkenalan dia sudah buru - buru pergi. Dia adalah cinta pertamaku.
Akhirnya aku mendapat pekerjaan sebagai pegawai di toko grosir yang cukup dan ramai pengunjung. Pasti kalian bisa tebak siapa pemilik toko tempatku bekerja, ya betul pemiliknya adalah Mas Ryan pria yang kemudian menjadi suamiku. Aku dari awal memang mengincarnya karena aku ingin jadi nyonya, aku sudah capek hidup sudah. Tidak sulit bagiku menaklukkannya, bermodal wajahku yang cantik, bodyku yang bagus serta perhatian - perhatian kecil yang aku berikan padanya, dia pun takluk padaku. Tak butuh waktu lama dia pun melamar ku dan segera memperkenalkanku pada keluarganya.
Aku bertemu dengan keluarganya, dia bilang pada keluarganya kalau aku anak orang kaya tapi orang tuaku sudah meninggal karena kecelakaan. Terserahlah apa yang dia bilang tentangku pada keluarganya yang penting sedikit lagi aku kan jadi istri orang kaya. Bibiku juga ikut senang dan merestui hubungan kami.
Kamipun menikah dengan sangat meriah, namun sayang bibiku tidak bisa hadir karena sebulan sebelum aku dan Mas Ryan menikah beliau menyusul ibuku.
Setelah menikah, Mas Arya memboyongku ke rumah mewah yang sudah dia persiapkan untuk tempat tinggal kami dan sertifikat rumah itu atas namaku sebagai bukti cintanya padaku. Hidupku sangat bahagiakan menikah dengannya, kedua mertuaku sangat menyayangiku khususnya ibu mertuaku, ya aku tau dia begitu karena menganggapku anak kaya tapi aku tidak peduli yang penting selalu bersikap baik padaku. Apalagi setelah aku dinyatakan hamil, Mas Ryan dan mertua semakin memanjakanku.
Mas Ryan tiga bersaudara yaitu satu adik laki - laki dan satu adik perempuan tapi aku baru bertemu dengan adik perempuannya yaitu Rani, sedang adik laki - lakinya yang bernama Arya jarang di rumah, waktu kami menikahpun dia tidak hadir karena berada di luar kota karena pekerjaan.
Suatu hari Mas Ryan mengajakku ke rumah orang tuanya, untuk bertemu dengan pengantin baru yaitu adiknya Arya dan istrinya. Ya dia sudah menikah di kampung istrinya, awal aku tak ingin ikut karena Maira sedang rewel tapi aku juga penasaran dengan mereka.
Saat melihat adik dari suamiku, jujur aku sangat kaget karena dia adalah pria yang menolongku saat dijambret dulu. Aku tak menyangka dia adalah adik iparku sekarang, aku berusaha menutupi kekagetanku jangan Mas Ryan curiga. Aku tersenyum sinis melihat penampilan istrinya yang bernama Aisyah, memang sih dia cantik tapi dia kampungan, sangat tidak pantas bersanding dengan Arya.
Tapi sepertinya wanita itu pembawa sial karena baru beberapa bulan mereka menikah, Arya dipecat dari pekerjaannya dan bapak mertuaku meninggal dunia. Ibu mertuaku yang sedari awal tidak menyukai istrinya Arya tentu saja menyalahkan wanita itu atas dipecatnya Arya dan kematian suaminya.
Atas bujukan Mas Ryan, ibu mertuaku mengajak Arya dan Aisyah untuk numpang hidup di rumahnya. Aisyah di perlakukan seperti pembantu karena dia miskin, untung saja dari awal Mas Ryan bilang kalau aku anak orang kaya kalau enggak nasibku tidak jauh beda dengan Aisyah.
Selama ini aku berpura - pura bersikap pada Aisyah dan selalu membelanya, demi membuat kesan baik di mata suaminya dan tentu saja mencari simpati Arya. Jujur aku belum bisa melupakannya karena dia cinta pertamaku. Aku juga muak melihat Aisyah yang selalu pasrah diperlakukan semena - mena oleh ibu mertuaku dan adik iparku Rani, sepertinya dia sengaja tidak melawan agar bisa menarik simpati dari Mas Ryan dan Arya. Buktinya suamiku selalu membelanya, dasar perempuan bodoh kampungan. Jijik aku melihat wajah yang sok lugu.
Tapi aku tidak bisa terima karena Arya dan Aisyah keluar dari rumah mertuaku dan hidup mandiri, mereka malah sukses membangun usaha. Aku jadi iri atas keberhasilan mereka, khususnya pada Aisyah wanita kampungan itu.
__ADS_1
Bersambung.