Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 70


__ADS_3

Pov (Author)


     Akhirnya mobil Arya telah sampai di rumah sakit. Setelah Arya memarkirkan mobilnya, Bu May buru - buru keluar dari mobil mencari ruang IGD. Setelah menemukan apa yang dicarinya, dia segera masuk ke dalam. Bu May melihat sekeliling ruang IGD, dia agak kesulitan untuk menemukan Rani yang tengah terbaring di brankar karena keadaan IGD yang lumayan penuh. Mau bertanya tapi para dokter dan perawat tengah sibuk menangani pasien yang lain.


Bu May pun bergegas mendekati tempat Rani terbaring. Dia sedih melihat sedih melihat anaknya tidak sadarkan diri dengan tangan di terpasang kantung darah. Santi kaget melihat kedatangan seorang paruh baya menatapnya tajam yang dia yakini sebagai ibu Rani.


"Kamu siapa? Kenapa Rani bisa masuk rumah sakit?" Tanya Bu May dengan nada kasar.


"Na.. Nama saya Santi tante, saya teman kuliah Rani, kami sekelas". Jawab Santi gugup.


"Teman? Kok saya tidak pernah Rani punya teman seperti kamu?" Tanya Bu May sinis sambil melihat penampilan Santi dari atas sampai bawah, dia sangsi kalau dia teman Rani, tidak mungkin Rani berteman dengan orang miskin. Karena dia mengajari Rani harus berteman dengan orang kaya. Apa lagi melihat Santi yang masih menggunakan seragam kerjanya


Santi hanya diam tidak menjawab. Tidak lama kemudian Arya dan Maira menyusul ke dalam.


"Oya tadi kamu yang angkat telfon dari saya kan? Berarti kamu kan yang membawa putri saya kesini? Sekarang jelaskan sebenarnya apa yang terjadi sama Rani?" Cerca Bu May.


Santi tetap tak bergeming, dia bingung harus jawab apa. Telapak tangan basah, keringat mengalir dari kening.


"Jawabb!!". Hardik Bu May sambil mengguncang bahu Santi. Arya menarik ibunya agar tidak menyakiti Santi.


Beberapa pasang mata melirik ke arah mereka.


"Bu jangan kayak gitu ini di rumah sakit". Ucap Arya menenangkan ibunya.


"Sa.. Saya tidak tau Tante, saat saya ke kost Rani untuk mengembalikan barangnya yang tertinggal di tempat kerja saya, dia sudah tak sadarkan diri. Kebetulan tempat kerja saya dekat dengan kost Rani. Makanya saya segera mencari bantuan dan membawa kesini". Jawab Santi berbohong, dia tidak berani bicara jujur. Dia takut akan di salahkan dan lebih parahnya akab dilaporkan ke polisi karena dia yang mengantarkan Rani untuk aborsi.


"Bohong, saya tidak percaya ucapan kamu. Katakan yang jujur, putri saya kenapa?". Teriak Bu May. Santi meneteskan air mata saking takutnya dengan kemarahan Bu May.

__ADS_1


Karena terganggu dengan keributan yang dibuat oleh Bu May, seorang pria yang menggunakan jas putih mendekati ranjang Rani.


"Maaf tolong jangan buat keributan. Apakah ibu dan bapak keluarga pasien?" Tanya pria itu yang merupakan dokter jaga UGD.


"Iya bener saya Bu May, ibunya Rani dan ini kakaknya Rani, namanya Arya". Jawab Bu May.


"Saya dokter Rendra, jadi begini pak,Bu. Saya akan jelaskan tentang kondisi pasien. Mari kita bicara di meja saya, karena yang akan saya sampaikan bersifat pribadi". Ajak dokter Rendra. Bu May dan Arya mengikuti dari belakang, sedangkan Santi menemani Rani bersama Maira.


"Silahkan duduk pak, Bu". Ujar dokter Rendra mempersilahkan mereka duduk.


Nampak dari wajah Bu May dan Arya kalau mereka penasaran dengan apa yang akan di sampaikan oleh dokter.


"Jadi begini saudari Rani dibawa kesini oleh temannya Mbak Santi pukul setengah satu malam dengan keadaan tidak sadarkan diri dan mengalami pendarahan, setelah kami lakukan pemeriksaan ternyata saudari Rani habis melakukan abo*rsi dan dari kondisinya kami menyimpulkan kalau abo*rsi yang dilakukan ilegal atau bukan secara medis". Terang dokter Rendra.


"Itu tidak mungkin dok, putri saya belum menikah. Mana mungkin dia bisa hamil sampai aborsi seperti dokter". Ucap Bu May menyangkal penjelasan dokter.


"Iya Bu kita dengarkan dulu penjelasan dokter". Sambung Arya.


"Akibat aborsi yang tidak sesuai prosedur, menyebabkan pendarahan parah pada pasien, kondisi vagi*na ngalami kerobekan dan mulut rahimnya terdapat luka. Untung cepat dibawa kesini, sehingga pasien masih bisa diselamatkan". Ujar dokter Rendra.


Ibu May menutup mulut, dia syok mendengar penjelasan dokter. Dia tidak menyangka Rani hamil dan nekat menggugurkan kandungannya. Dia juga marah karena Rani membuatnya malu.


"Tolong diurus administrasinya, agar pasien dipindahkan ruangan dan bisa mendapatkan tindakan selanjutnya". Ujar dokter Rendra lagi lalu pamit untuk menangani pasien yang lain, sedangkan Arya dan Bu May kembali ke ranjang Rani.


Santi pamit pulang karena dia ada kuliah pagi, tidak lupa dia menyerahkan tas dan ponsel Rani. Dia sempat menolak uang pemberian Arya sebagai tanda terima kasih karena telah membawa Rani ke rumah sakit tapi Arya memaksa terpaksa dia menerimanya.


"Bu Arya urus administrasinya dan ruangan dulu". Ujar Arya lalu pergi ke bagian administrasi.

__ADS_1


"Iya urus ruangan VIP jangan bangsal". Ucap Bu May, Arya hanya menganggukkan dan segera pergi


'Dasar anak kurang ajar, beraninya kamu membuatku malu seperti ini. Awas saja kalau kamu sudah bangun, aku akan hajar kamu habis - habisan'. Gumam Bu May menahan emosi, kalau bukan di rumah sakit entah apa yang akan dia lakukan pada Rani.


Tidak berapa lama Arya kembali setelah mengurus admistrasi dan ruangan Rani. Kemudian dua orang perawat mengantarkan Rani mengunakan brangkar karena dia belum sadar.


Setelah memindahkan Rani, kedua perawat itu pamit pergi.


"Bu bisa jelaskan sama Arya kenapa Rani ngekost, dan kenapa ini bisa terjadi?" Tanya Arya.


"Ja.. Jadi gini Rani sudah kerja dan dia bilang kalau dia kerja jadi sales mobil di Mall. Karena dia mau menghasilkan uang sendiri, dia juga memaksa untuk ngekost agar dekat dengan tempat kerjanya. Ibu sudah coba larang, tapi kamu tau kan kalau Rani kayak gimana kalau sudah mau sesuatu. Ibu juga gak tau kenapa dia bisa kayak gini ". Kilah Bu May, agar dia tidak salahkan atas apa yang terjadi dengan Arya. Karena dia yang mengizinkan Rani bekerja karena dengan begitu dia bisa dapat banyak uang.


Arya memijat keningnya. Masalahnya yang lain belum selesai sekarang dia harus dihadapkan dengan masalah Rani.


"Terus kenapa Maira bisa sama ibu? Kemana Mas Ryan dan Mbak Bella?" Tanya Arya lagi, sebelumnya dia bertanya dia melihat ke arah Maira, ternyata keponakannya tertidur di sofa.


"Ryan dan Bella sudah bercerai karena usaha Ryan bangkrut, Bella juga diam - diam menjual rumah mereka dan dia menghilang entah kemana. Makanya Ryan dan Maira tinggal di rumah ibu. Ryan belum pulang dari kemarin siang katanya bertemu temannya untuk mengurus bisnis. Ponselnya tidak bisa dihubungi". Jelas Bu May, dia sengaja menceritakan semua walaupun dilarang oleh Ryan. Biar Arya simpati setelah tau semua dan akan memberikan uang.


Arya menggusar rambutnya kasar, ternyata banyak masalah keluarganya yang dia tidak tau. Dia seperti orang lain bagi mereka.


Setelah beberapa saat Arya pamit pulang karena dia akan masuk kerja, hari ini ada meeting penting


"Bu Arya pulang dulu, soalnya Arya kerja dan ada rapat penting. Maira biar tinggal dengan Arya dulu. Insyaallah habis pulang kerja Arya akan kesini lagi. Kalau ada apa - apa kabari Arya, ini uang buat pegangan ibu". Ucap Arya pamit sambil memberi uang merah lima lembar karena di dompetnya tinggal segitu setelah dipakai untuk membayar perawatan Rani yang tidak punya jaminan kesehatan, lalu dia pulang bersama keponakannya.


Bu May hanya mengangguk, karena dia juga mengantuk. Tapi setelah diberi uang, matanya jadi terang. "Bawakan ibu makan dan pakaian ganti. Pintu rumah ada di bawah pot". Ujar Bu May sebelum Arya pergi.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2