Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 23


__ADS_3

Pov (Aisyah)


Seminggu kemudian


Lapak milikku dan Mas Arya semakin ramai dan terkenal, tiap hari makin banyak pembeli yang datang bahkan dari luar daerah. Usaha kami juga sudah terdaftar di aplikasi go*jek dan sho*pee food.


Mas Arya juga sudah seminggu bekerja di perusahaan tempat kerja yang dulu dengan posisi yang sama yaitu Manager Operasional.


Aku masih menulis walau tidak setiap hari update tapi Alhamdulillah aku sudah mendapatkan gaji dari hasil menulis, aku bisa mendapatkan gaji yang lumayan dibulan pertama dan Insyallah akan bertambah di bulan berikutnya, asal novelku tetap menarik bagi pembaca.


Menu di lapak pun makin bervariatif, jajanan ringan seperti basreng, makaroni dan mie lidi laris manis. Tidak anak kecil suka saja, orang dewasa pun doyan. Aku juga kalau lagi nulis cerita suka nyemil jajajan buatanku.


Aku berencana mengemas jajanan ringan dan seblak instan dalam kemasan yang lebih menarik agar biasa dijual ke luar daerah. Karena banyak permintaan dari luar daerah tapi belum aku sanggupi.


***


Beberapa ibu - ibu jalur sini, pada ngumpul di lapak. Ada Emak, Mbak Ningsih, Bu Ani, Bu Surti dan Mpok Sarah.


Setelah menyelesaikan pesanan, aku ikut bergabung bersama mereka.


"Ais ini siapa sih yang suka komentar buruk tentang kamu dan lapak kamu?". Tanya Mbak Ningsih, saat aku baru saja duduk.


"Oh itu iya Mbak aku udah liat, tapi aku malas tanggapin, Mas Arya juga bilang biarin aja". Jawabku.


"Bener itu kagak usah ditanggapin, itu orang cuma nyari perhatian, kalau istilah sekarang pansos namanya. Kalau lu ladenin makin senang dia". Ucap Mpok Sarah sambil memakan gorengan.


"Nah itu yang mau aku bilang mau pansos itu orang". Sambung Bu Surti seraya cemilin basreng.


"Iya nak, lebih baik kamu pikirin lapak kamu, bagaimana biar makin rame, makin banyak yang suka dengan makanan dan minuman disini. Namanya orang usaha apalagi yang lagi naik, pasti aja ada yang pengen jatuhin. Ibarat pohon semakin tinggi semakin kencang angin yang menerpa. Berserah sama Allah agar dijauhi dari oleh orang - orang seperti itu". Nasihat emak.


Kamipun nanggapi dengan anggukan,


Tiba - tiba Bu Ani memegang tanganku.


"Aisyah kulit kamu mulus dan bersih banget, muka kamu juga. Kamu pake skincare apa, atau kamu perawatan dimana?". Tanya Bu Ani memandangi wajahku.


"Pasti mahal lah perawatannya Aisyah, kan sekarang udah mulai sukses jualan dia, apalagi suaminya manager". Jawab Bu Surti dengan mulut penuh makanan.


"Tapi dari sebelum jualan, kulit dan wajah Aisyah memang udah bersih dan mulut, aku kan hampir tiap hari liat dia, karena kita tetanggaan. Cantik dari lahir mah dia. Iya kan emak?" Ujar Mbak Ningsih memujiku

__ADS_1


Emak mengangguk. "Anak emak mah emang dari soni ". Ucap emak ikut memuji


Aku hanya tersipu malu dan salting mendengar pujian dari emak dan Mbak Ningsih.


"Emak dan Mbak Ningsih berlebihan muji aku. Sebenarnya dulu di kampung suka panas - panas ikut ke sawah. Tapi aku rajin perawatan pakai lulur rempah asli kampungku makanya kulitku sekaranh seperti ini, aku juga jarang keluar rumah selama disini." Ucapku.


"Beneran Aisyah? Mau dong lulur yang kayak kamu pake". Pinta Bu Ani.


"Iya kami juga mau". Sambung Mpok Sarah dan Bu Surti.


"Bentar ya aku ambilin dulu di kamar". Kataku kemudian menuju kamarku.


Tidak berapa lama aku keluar sambil membawa lulur yang aku maksud.


"Ini yang aku pake namanya bedda lottong (bedak hitam)". Ujarku sambil memperlihatkan lulur yang berwarna hitam dan berbau khas.


Bu Surti pun mengambil dari tangan ku. Kemudian mencium baunya.


"Terbuat dari apa ini kok aromanya kayak bau gosong". Ujarnya sambil menutup hidung, lalu di berikan kepada Bu Ani dan Mpok Sarah.


"Bahan dasarnya dari beras ketan yang disangrai sampai gosong merata yang dicampur dengan rempah - rempah". Ucapku menjelaskan.


"Iya aku cuma pakai itu saja". Jawabku.


Dari dulu aku tidak pernah pakai skincare apapun, karena almarhumah Emmaku selalu memakaikanku lulur dan bedak tradisional buatannya. Sampai remaja pun aku masih rajin menggunakan tapi setelah Emmaku tiada, tanteku lah membuatkan untukku. Semua perempuan di kampungku memakainya dan hampir semuanya bisa membuatnya sendiri karena bahan - bahannya sederhana dan cara pembuatannya yang mudah. Yang penting kuat mengaduk lama dan menahan asap dari kayu bakar.


"Aku mau dong cobain, ada lebih gak punya kamu. Kalau ada aku beli satu". Ucap Bu Ani.


"Gak usah beli, nanti aku kasih gratis buat kalian semua masing - masing satu pot. Kebetulan aku punya stok lumayan banyak kiriman dari tanteku". Kataku.


"Beneran nih? Makasih banyak ya Aisyah tapi kalau seandainya kita cocok dan mau beli lagi gimana caranya?". Tanya Mbak Ningsih.


"Hmm.. Nanti aku minta tanteku kirim lagi kesini yang banyak". Jawabku.


"Kenapa kamu gak bikin sendiri aja Ais? Kamu bisa kan bikin sendiri? Siapa tau kamu bisa punya produk sendiri dengan nama kamu". Ucap Emak.


"Nah betul itu, kalau lu yang bikin sendiri kan kita gak perlu nunggu lama barangnya datang. Lu bisa jadikan peluang usaha juga". Tambah Mpok Sarah.


"Hmm.. iya deh nanti aku bakal bikinin, mungkin hari Minggu pas lapak tutup". Jawabku.

__ADS_1


Sebenarnya aku bisa bikin sendiri tanpa harus dikirimkan oleh Tanteku dari kampung karena sudah diajarkan oleh almarhum Emmaku cara membuatnya. Tapi aku gak berani buat di rumah ibu Mertuaku, bakalan kena semprot karena rumah bau asap dan ngabisin gas.


Merekapun pamit pulang, sebelumnya aku berikan lulurnya dan  jelasin cara pemakainya.


***


Menjelang sore lapak mulai ramai lagi dengan anak - anak, yang pulang kerja dan juga mahasiswa.


"Mbak kemarin ada yang ngechatku. Dia nanyain jajanan dan makanan Mbak di lapak bisa di kirim keluar kota gak? Dia katanya ngiler liat menu - menu kita tapi tempat tinggalnya jauh". Tutur Ratna.


"Hmm.. Sama ada juga yang nanyain kayak gitu sama Mbak. Jadi Mbak berencana mengemas dalam kemasan yang menarik dan bisa buat makanan jadi tahan lama. Mba mau produksi seblak instan dan Frozen food juga". Jawabku menjelaskan.


"Ya gitu maksud aku Mbak, jadi kita produksi dalam jumlah tertentu dan dipasarkan. Aku liat di aplikasi ti*kto*k banyak yang jualan makanan seperti yang Mbak bilang tadi". Kata Ratna.


"Nanti Mbak bicarakan sama Mas Arya lagi". Ucapku.


"Ntar aku dan Mila yang bantu promosikan Mbak. Gini - gini kami berdua seleb ti*kto*k loh". Ucap Rani membanggakan diri sambil nyengir.


Aku tertawa melihat tingkahnya. Aku bangga dengan para karyawanku , walau masih muda mereka tidak malu bekerja disini.


Kami pun melanjutkan pekerjaan kami karena pengunjung semakin ramai. Aku liat dari CCTV parkiran penuh, terlihat Jaka sedang mengarahkan sebuah mobil kearah tanah kosong milik Babe.


Tadi Mas Arya mengabariku kalau dia akan pulang terlambat karena ada kunjungan masih ada rapat dengan pimpinan pusat. Dia sampai mengirimkan foto dirinya sedang rapat agar aku tidak kuatir.


Ting


Ada chat masuk di aplikas ins*tagr*amku. Aku tidak tau siapa tapi akunnya centang biru.


'Assalamu'alikum, selamat sore Kak. Perkenalkan saya selaku admin dari channel you*tube Suka Makan meminta ijin untuk mereview jualan Kakak. Apakah kakak berkenan kalau besok kami datang ke lapak kak. Ditunggu responnya, terima kasih.


   Akupun memperlihatkan pada Ratna chat itu dan meminta pendapatnya.


"Wah mbak, ini channel you*tube cukup terkenal subscribenya juga udah jutaan. Aku sering nonton, mereka itu suka ngereview makanan. kalau jualan Mbak direview bagus sama mereka, ntar lapak mbak terkenal dan makin rame, iya in aja tawaran mereka Mbak". Ujarnya semangat.


Aku pun membalas chat itu untuk menyetujui tawaran mereka dan menanyakan jam berapa mereka datang. Semoga besok semua dilancarkan dan mereka puas dengan makanan dan pelayanan kami. Tinggal menunggu balasan


"Dasar gob*lok. Lu kagak tau gua siapa?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2