
Pov (Aisyah)
"Hayo lagi ngapain?". Tiba - tiba ada yang mengagetkanku dengan tepukan dipundak.
"ASTAGHFIRULLAH". Ucapku kaget. Hampir saja ponsel digenggamanku terlepas. Ternyata itu Mas Arya yang mengagetkanku.
"Ih Mas bikin kaget aja, masuk gak ada suara langsung ngagetin, untung aku gak jantungan". Ujarku sedikit kesal.
"Maaf sayank, Mas gak bermaksud ngagetin kamu, Mas tadi ngetuk pintu, ngucapin salam tapi kamu gak nyahut. Itu pintu rumah juga gak di kunci. Pas mas masuk ke kamar, kamu lagi malah liatin hp".
"Emang lagi liatin apa di hp, serius banget. Sampe suami pulang gak tahu?". Tanya Mas Arya penasaran.
"Masak sih pintu depan gak terkunci? Tadi pas bukain pintu buat Rani udah ku kunci lagi. Mungkin Rani ada keluar." Jawabku.
"Duduk sini Mas, aku mau cerita". Mas Arya pun duduk di sampingku.
"Barusan aku habis telfonan sama sepupuku dari pihak almarhum Etta, namanya Ani". Aku pun menceritakan secara ringkas pembicaraanku dengan Ani, termasuk keinginanku ingin menjadi penulis online.
"Jadi gitu, menurut Mas gimana kalau aku nulis cerita di aplikasi itu?" Tanyaku meminta pendapat nya.
"Menurut Mas bagus, anggap aja kamu lagi menyalurkan hobby kamu, tapi jangan dipikir dulu soal penghasilannya biar kalau ntar hasilnya gak sesuai keinginan,kamu gak akan terlalu kecewa,jadi dibawa santai nulisnya". Jawab Mas Arya memberikanku saran.
"Iya Mas,makasih sarannya. Ya udah sekarang mas mandi habis itu sholat ya. Aku tunggu di meja makan." Ucapku.
"Siap Bu bos". Ujarnya sambil memberi hormat dan berlalu ke kamar mandi.
Aku tertawa melihat tingkah lucunya.
Setelah setengah jam, Mas Arya sudah bergabung denganku di meja makan. Aku pun melayaninya menyiapkan piring, mengambilkan nasi dan lauknya. Kami pun makan bersama dengan lahap walaupun menu sederhana tapi kalau kita mensyukurinya, rasanya menjadi nikmat.
Sehabis makan, aku membereskan meja makan dan Mas Arya membantuku mencuci piring. Dulu waktu masih ngontrak berdua, kami sering mengerjakan pekerjaan rumah bersama. Agar pekerjaan jadi menjadi lebih ringan. Setelah beres semua kami berdua masuk ke kamar. Kemudian Mas Arya mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas ranselnya.
"Yank ini gaji Mas bulan ini, kamu tolong atur ya pembagian. Sisanya disimpan buat tabungan kita.
__ADS_1
"Iya Mas". Aku pun menghitung uang gaji darinya. Totalnya dua juta lima ratus, itu lebih dari cukup kalau hanya untuk kami berdua apalagi kami belum mempunyai anak. Tapi uang itu harus dibagi untuk uang air, jatah buat ibu dan Rani, belanja bulanan, belum lagi uang sewa kami selama tinggal disini. Ya sudah enam bulan ini kami membayar uang sewa tinggal dirumah ibu mertuaku, sungguh miris memang. Segala sesuatunya kami yang tanggung, pekerjaan rumah aku yang kerjakan tapi kami harus membayar sewa tinggal disini. Setelah dipotong dengan semua pengeluaran hanya tertinggal lima ratus ribu belum lagi kalau tiba - tiba pulsa listrik atau gas habis itu akan dibeli dari uang yang sisa itu. Itulah yang menjadi penyebab Mas Arya menjadi ojek online. Aku tak habis pikir dengan jalan pikiran ibu Mertuaku, padahal Mas Arya anak kandungnya. Entah kemana uang pemberian dari Mas Ryan, sepengetahuanku jatah ibu dan Rani serta kebutuhan rumah ini sudah ditanggung olehnya Mas Ryan.
"Yank kalau seandainya, kita ngontrak bagaimana?". Tanya Mas Arya.
Akupun menoleh kearah suami, aku cukup dengan perkataannya.
"Apa Mas yakin?" Uang tabungan kita belum cukup mas, apalagi nanti buat beli perabotannya. Ucapku tak yakin.
"Semalam ada yang mau sampaikan, tapi mas lupa karena udah capek dan ngantuk."
"Kemarin di pangkalan, teman mas sesama ojol bilang kalau rumah anak Pak Haji Mansur yang yang ada di jalur depan yang dekat jalan masuk mau disewakan murah beserta isinya karena anaknya pindah tugas keluar kota dan sudah sediakan rumah dinas disana. Kalau kamu setuju ntar sore kita ke rumah Pak haji untuk lebih jelasnya, hari ini mas gak ngojol dulu. Nanti ditemani sama teman Mas, biar dia yang bantu bicara.
"Aku sih setuju aja mas, tapi nanti gimana ngomongnya sama ibu, aku takut ibu tersinggung dan gak akan setuju". Ucapkan khawatir.
"Kalau masalah ibu, nanti mas yang jelaskan baik - baik ke ibu. Lagian sama aja kita tinggal disini, kita juga bayar sewa. Mas juga kasihan liat kamu ngerjain pekerjaan rumah semuanya, ibu dan Rani juga tidak memperlakukan kamu dengan baik". Biar nanti Rani yang bantu ibu ngurus rumah, dia udah besar bukan anak kecil lagi, dia harus belajar mandiri dan bertanggung jawab". Ujar Mas Arya tegas.
"Ya udah Mas aku ngikut aja, insyaallah segalanya dilancarkan, aamiin". Ucapku.
Setelah menunaikan sholat ashar, aku dan Mas Arya bersiap untuk ke rumah Pak Haji Mansur. Saat kami keluar rumah, ternyata ibu mertuaku baru saja sampai rumah.
"Cuma mau jalan - jalan Bu". Jawab Mas Arya.
"Oh, terus Rani udah pulang atau belum?" Tanya ibu mertuaku lagi".
"Tadi siang dia sudah pulang Bu, tapi kayaknya sudah pergi lagi, gak tau kemana". Jawabku.
"Makanya kamu jangan cuma di kamar terus, Rani pergi sampai kamu gak tau". Ucap ibu Mertuaku ketus.
"Oya Arya hari ini kamu gajian, mana bagian ibu dan Rani?". Ujar ibu Mertuaku ke Mas Arya sambil menadahkan tangan.
"Iya Bu nanti kalau udah pulang akan dikasih sama Aisyah". Jawab suamiku lagi.
"Sekarang aja, ibu mau pesan gof**d, gak selera ibu makan masakan istri kami".
__ADS_1
Aku melirik suamiku meminta persetujuannya, seakan paham lirikanku, Mas Arya pun mengangguk. Aku pun membuka dompet kemudian mengeluarkan uang seratus ribu sepuluh lembar dan memberikan kepada ibu dari suamiku. Dia mengambil kasar uang dari tangan kemudian segera masuk tapi berkata apapun. Kami pun menuju rumah Pak Haji Mansur yang berjarak tiga jalur dari rumah ibu Mertuaku.
Setelah sampai tujuan, sudah ada teman Mas Arya yang menunggu di depan tingkat dua bercat putih dan berpagar putih, Pasti itu rumah Pak Haji Mansur. Rumahnya sangat kontras dari rumah lain karena yang paling besar dan luas.
Teman Mas Arya pun mencet bel dan mengucapkan salam, tidak lama kemudian pagar dibukakan oleh seorang wanita paruh baya, dari penampilan seperti beliau art dirumah ini. Kami pun mengutarakan maksud tujuanku. Wanita itu lalu mempersilahkan kami masuk. Aku terpana melihat taman nya ya asri dan banyak aneka bunga, apalagi saat masuk ke dalam rumah yang interior mewah bagiku. Kami pun di persilahkan duduk, tidak lama kemudian muncul seorang pria mengunakan peci putih, mungkin seumuran almarhum bapak mertuaku. Aku bisa tebak beliau adalah Pak Haji Mansur. Kami pun menyalami tangan beliau.
"Ini be teman saya yang mau mengontrak rumahnya anak babe". Ucap teman Mas Arya yang bernama Supri.
"Iya Pak Haji, seperti yang dibilang sama Supri, saya dan istri saya mau mengontrak rumah anak Pak Haji, perkenalkan nama saya Arya dan ini istri saya Aisyah". Ujar suamiku.
"Jangan panggil Pak Haji, panggil aja babe. Oh jadi lu yang mau ngontrak, pasti lu udah dikasih tau sama Supri kalau rumah itu mau dikontrakin sama perabotannya. Oya lu Arya anaknya almarhum Surya bukan?. Tanya pak Haji.
"Iya sudah Pak Haji eh.. Maksud saya babe, Supri udah ngasih tau. Loh babe kenal dengan almarhum ayah saya?" Tanya Mas Arya penasaran.
"Bapak elu itu teman main gua dari bocah, tapi sayangnya bapak lu kagak berumur panjang, waktu dia meninggal gua lagi diluar kota jadi gua gak bisa ngantar dia ke peristirahatan terakhir. Semasa dia hidup kita juga udah jarang ketemu karena kesibukan masing - masing, cuman pernah sekali kita ketemu waktu kakak lu nikah, habis itu kagak pernah lagi. Ucap Pak Haji sambil mengusap mata yang mulai berembun.
"Iya gak apa - apa be, mohon doanya buat ayah saya." Ucap suamiku.
"Pasti gua selalu doain dia. Ya udah ayo kita ke rumah anak gue, rumahnya cuman dua rumah dari dari sini". Ucap Pak Haji mengajak kami kerumah anaknya. Dan Supri pun pamit pulang karena mau lanjut ngojol.
Kamu pun diajak masuk kerumah minimalis bercat dan berpagar Lilac dan di teras ada beberapa pot bunga dan tanaman.
"Assalamualaikum". Ucap Pak Haji, kemudian kemudian masuk kedalam rumah. Interior dan furniture rumahnya pun kontras dominan warna Lilac seperti yang punya rumah suka dengan warna itu.
"Wa'alaikum salam, eh babe sama siapa ini?". Dari dalam rumah muncul seorang wanita paruh baya tapi masih terlihat cantik memakai gamis dan jilbab syar'i. Pak haji memperkenalkan beliau sebagai istrinya yang bernama Hajjah Salamah. Beliau sama ramahnya dengan Pak Haji, walaupun mereka orang kaya tapi sama sekali tidak angkuh.
"Ini Mak yang mau ngontrak rumah ini, dia Arya ini anaknya almarhum Surya teman babe, kalau ini istrinya Aisyah". Ujar Pak Haji memperkenalkan kami kepada istrinya".
"Masyallah ini Arya yang dulu sering di diajak kerumah sama Surya udah gede mana ganteng banget, mungkin kamu udah lupa ya karena dulu kamu masih kecil sekali. Ini juga rumahnya Irfan anaknya Emak, kalian dulu sering main bareng". Ungkap Bu Hajjah.
"Ini istri kamu ya? Pinter kamu pilih istri". Ucap Bu Hajjah lagi sambil tersenyum kepadaku, aku pun membalas dengan anggukan dan senyuman.
"Nanti untuk urusan uang sewanya, biar dijelaskan sama menantu emak ya karena suaminya masih di kantor, tunggu bentar ya dikit lagi keluar". Ujar Bu Hajjah lagi.
__ADS_1
"AISYAH"...
Bersambung.