
Pov (Aisyah)
"AISYAH"...
Kami semua menoleh ke wanita yang nyebut namaku, ditangan ada nampan berisi minuman dan toples kue.
Setelah menaruh nampan dimeja tamu, dia pun mendekat ke arah ku dan menatapku lekat. Aku pun bingung karena aku sepertinya tak mengenal tapi kenapa dia tau namaku.
"Kamu Andi Aisyah Maharani anaknya almarhum Etta Haji Baharuddin kan?". Aku pun mengangguk penuh tanya karena dia juga tau nama almarhum Ettaku.
Dia pun memelukku dan kemudian menangis. Kami pun semua jadi bingung dengan yang dia lakukan kepadaku tak terkecuali Pak Haji dan Bu Hajjah.
Aku pun berusaha melepaskan pelukannya. "Maaf anda siapa, kenapa bisa tau namaku dan nama almarhum Ettaku?". Tanyaku masih penasaran.
"Aisyah ini saya Fitriani labolong (sihitam), temanmu waktu di kampung dulu, ko lupa kah sama saya?". Jawabnya memperkenalkan dirinya.
"Ya Allah ko ini palle Fitri, maaf nda ku kenal ko, karena beda sekali ko sekarang tambah macanti (cantik) ko, sampai pangling ka". Ucapku ikut menangis dan memeluk nya, aku tak percaya ternyata dia adalah salah satu sahabatku waktu dikampung dulu, tapi kami berpisah karena dia dapat beasiswa kuliah di Jakarta. Wajar aku sempat tidak mengenalinya karena dulu dia berkulit gelap sehingga anak - anak nakal sering mengejeknya labolong.
"Kalian berdua saling kenal?". Tanya Bu Hajjah penasaran.
"Iya Mak, Aisyah ini loh sahabatku yang sering aku ceritain sama emak dan Bang Irfan. Berkat almarhum Ettanya, aku bisa sekolah sampai lulus sekolah menengah atas, almarhum bapak juga dulu bekerja di sawah milik Ettanya". Ujar Fitri menjelaskan.
"Alhamdulillah ya nak kalian bisa bertemu lagi, Emak sering dengar tentang kamu dari Fitri, dia berharap bisa ketemu kamu lagi, dan akhirnya sudah jalannya kalian ketemu disini, ternyata kamu dan suamimu yang mau ngontrak rumah anak emak, suami dari Fitri." Ucap Bu Hajjah terharu.
"Beneran ko yang mau kontrak rumahku"? Tanya Fitri.
"Iye Fit, saya sama suamiku rencana mau sewa rumah ini, kira - kira berapa harga sewanya sebulan". Tanyaku.
"Alahh nda usah ko pikirkan harga sewanya, tinggal mako disini nda usah bayar uang sewa yang penting ada yang rawat rumah ini selama saya dan suamiku tidak disini. Saya percaya sama ko, bagaimana menurut babe dan emak?". Ucap Fitri kemudian meminta pendapat kedua mertuanya.
"Babe dan Emak setuju - setuju aja, malah lebih bagus kalau disewakan sama kalian orang yang sudah dikenal, Arya anak almarhum teman babe, sedangkan Aisyah sahabatnya Fitri, jadi kami gak akan kuatir mempercayakan rumah ini ke kalian berdua. Dan untuk masalah uang sewa, betul yang dibilang sama Fitri, gak usah kalian bayar cukup rawat saja rumah ini. Kita udah kayak keluarga jadi tidak usah sungkan.
"Tapi be, kami tidak enak kalau tidak membayar uang sewa, apalagi kalau orang tau kalau kami tinggal gratis disini". Ucap suamiku mengungkapkan kekhawatirannya.
"Peduli amat sama omongan orang, itu jadi urusan gua, mereka gak bakalan tau kalau kita yang disini kagak ada yang cerita, jadi lu berdua kagak perlu kuatir". Ujar Pak Haji tegas.
"Iya benar yang babe bilang, ko jangan tolak Aisyah kalau masih anggap saya ini sahabatmu dan ini juga sebagai balas budi atas semua kebaikanmu dan juga almarhum orang tuamu kepada saya dan almarhum bapakku. Sebenarnya ini tidak seberapa dengan kebaikan kalian dulu. Bapakku juga berwasiat kalau saya sudah jadi orang sukses jangan pernah lupakan kebaikan kalian". Ungkap Fitri sambil menggenggam tanganku.
"Terimakasih atas kebaikan dan kepercayaan babe, emak dan Fitri. Saya dan Mas Arya janji akan menjaga amanat kalian dengan baik untuk merawat rumah ini" Ucapku.
__ADS_1
Jujur aku masih kenapa Fitri bisa jadi menantu Pak Haji Mansur, dia pun bercerita kalau dia dan suaminya dulu satu kampus tapi beda fakultas. Dia fakultas manajemen dan suaminya fakultas hukum.
Sebelum pulang kami menyempatkan untuk sholat magrib berjamaah di rumah Fitri. Kami sempat diajak makan malam tapi kami menolak dengan halus dengan alasan kasihan meninggalkan ibu sendiri di rumah. Fitri membungkuskan banyak makanan, aku sudah menolaknya tapi dia memaksa, mau tidak mau aku pun menerimanya. Sesuai kesepakatan tiga atau empat hari kami akan pindah ke rumah ini, karena lusa Fitri dan suaminya pindah keluar kota. Kami pun berpamitan pulang, aku dan Fitri sempat bertukar nomor ponsel.
***
"Kalian dari mana saja kenapa jam segini baru pulang?". Tanya ku ibu Mertuaku saat kami baru memasuki rumah. Ternyata ada ibu Mertuaku yang sedang nonton tv di ruang tamu.
"Assalamualaikum Bu, kami dari rumah temanku Bu". Jawab Suamiku berbohong.
"Temannya yang mana, terus itu apa yang ada di tangan Aisyah, sini ibu lihat, jangan - jangan kamu habis belanjain istrimu". Tanya ibu Mertuaku kemudian merebut bungkusan yang ku pegang.
"Wah isinya ada rendang, ayam goreng, ada kue bolu yang lagi viral di tikt*k". Kalian dapat darimana makanan enak dan mahal kayak gini. Ini ibu ambil semua buat ibu dan Rani, pasti kalian sudah makan di rumah temanmu". Ujar ibu Mertuaku kembali membawa pergi bungkusan itu kemudian memanggil Rani di kamarnya tanpa menunggu persetujuan kami. Mas Arya menghela nafas atas kelakuan ibunya, aku pun mengusap punggung untuk menyabarkannya. Kami pun bergegas membersihkan diri untuk menunaikan sholat isya.
Sehabis sholat, aku mengajak Mas Arya bicara.
"Mas soal kepindahan kita bagaimana cara kita minta ijin ke ibu, aku kuatir ibu gak akan setuju". Ucapku.
"Besok pulang kerja Mas akan bicara sama ibu, mas juga akan meminta bantuan Mas Ryan untuk membujuk ibu. Sebelum kita ke rumah Pak Haji, mas sudah memberi tahu Mas Ryan soal rencana Mas ini, dan dia pun setuju. Dia juga akan mencari orang untuk bantu - bantu di rumah ini. Kamu tenang aja gak usah terlalu dipikirkan. Lebih baik sekarang kita istirahat, ini udah jam delapan malam". Ucap Mas Arya.
"Iya Mas, kamu duluan aja, aku mau buang air kecil dulu". Ucapku.
'Daripada gak bisa tidur lebih baik aku menulis saja'. Gumamku dan memulai menulis.
Akupun mulai mengantuk tidak terasa udah jam dua belas malam, alhamdulillah aku sudah menulis delapan bab, cukup cepat juga karena aku mengambil ide ceritanya dari kisah hidupku tapi aku rubah sedikit alurnya serta nama tokoh ceritanya. Setelah itu aku letakkan ponselku di atas meja samping ranjangku dan bergegas tidur
***
Keesokan hari setelah pulang kerja dan berganti pakaian, Mas Arya mengajak ibunya untuk berbicara di ruang tamu.
"Sebenarnya hal penting apa yang mau sama ibu?" Tanya ibu Mertuaku.
"Kita tunggu Mas Ryan dulu ya bu". Jawab suamiku.
Tidak lama kemudian Mas Ryan tiba.
"Assalamualaikum". Salam Mas Ryan lalu menci*m tangan ibunya kemudian duduk di sampingnya.
"Wa'alaikum salam". Jawab kami bertiga.
__ADS_1
Akupun pergi ke dapur untuk mengambil minum, lalu duduk di sebelah Mas Arya.
"Ryan ini sebenarnya ada apa? Apa yang mau kalian bicarakan dan kenapa perempuan ini ikut duduk disini". Ucap ibu Mertuaku sambil menunjuk ke arahku dan menatapku dengan sinis.
"Biar Arya yang menjelaskan Bu, yang mau kami bicara ada hubungannya juga dengan Aisyah, jadi dia harus ikut dalam pembicaraan ini". Jawab Mas Ryan.
Ibu Mertuaku memutar bola matanya dan mencebikkan bibirnya.
"Udah gak usah bertele - tele, langsung saja pada intinya". Ucapnya.
"Sebelumnya aku minta maaf Bu, sebenarnya tujuanku mengumpulkan kita disini, karena aku ingin menyampaikan kalau mungkin dua atau tiga hari lagi aku dan Aisyah akan pindah dari sini dan kami sudah mendapatkan rumah untuk kami mngontrak". Ucap Mas Arya.
"APAAAAA??? Ibu tidak setuju kalian pindah dari sini, ini pasti hasutan dari perempuan ini, dia pasti ingin menguasai gaji kamu sendiri, dasar menantu serakah". Ucap Mertuaku murka dan hendak menyerangku, tapi ditahan oleh Mas Ryan dan Mas Arya.
"Bu tolong mengerti, aku sudah menikah bu, aku ingin mandiri". Ucap suamiku.
"Emangnya kamu pikir ngontrak rumah itu murah, belum lagi buat beli perabotannya, sedangkan gaji kamu sebagai sekutiri gak seberapa, emang nya kalian mau tidur di ubin". Cemooh ibu Mertuaku.
"Alhamdulillah soal itu ibu gak usah kuatir karena rumah yang kami sewa ini lengkap dengan perabotannya, harga sewanya juga murah yang penting kami bisa merawat rumahnya dengan baik". Ucap suamiku menjelaskan.
"Terus kalau kalian pindah siapa yang mengurus rumah ini, ibu gak bisa ngerjainnya sendirian, ibu sudah tua, sedangkan Rani sibuk kuliah." Ujar ibu Mertuaku.
"Kalau soalnya mengurus rumah ini, nanti biar suruh Mbok Darmi bantu - bantu disini, kasih upah harian, aku yang akan menanggung upahnya". Giliran Mas Ryan yang berbicara.
"Oke ibu ijinkan kalian pindah". Ucap ibu Mertuaku menyetujui.
"Karena sudah selesai pembicaraan kita, aku pamit pulang ya Bu". Assalamualaikum". Pamit Mas Ryan sambil menci*m tangan ibunya.
Setelah Mas Ryan pergi.
"Oya Arya walaupun nanti sudah pindah, kamu tetap harus memberikan jatah ibu dan Rani tapi ibu minta tambahan lima ratus ribu". Ujar ibu Mertuaku.
"Baik bu, soal itu tidak usah kuatir". Jawab suamiku. Kemudian ibu Mertuaku berlalu ke kamarnya.
'Ya Allah semoga setelah kami pindah nanti hidup kami bisa menjadi lebih baik lagi dan tidak ada gangguan dari ibu Mertuaku'. Aku berdoa dalam hati.
Sebelum tidur aku membuka aplikasi menulis novel di ponselku, aku melanjutkan menulis cerita, aku berencana menulis sampai lima belas bab kemudian aku akan mengirim naskahnya.
Ternyata aku menulis sampai dua puluh bab, alhamdulilah ternyata bakat menulisku masih ada. Aku memuji diriku sendiri dalam hati. Sebelum mengirim novelku, aku periksa lagi tiap bab. Untuk melihat apakah ada yang kurang atau ada penulisan yang salah. Setelah kurasa semuanya pas, segera ku kirim naskahnya, sambil aku berdoa semoga cerita disukai oleh banyak pembaca. Kemudian mengistirahatkan tubuhku di samping imamku yang sudah terlelap.
__ADS_1
Bersambung.