Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 51


__ADS_3

Pov (Aisyah)


Saat ini aku sudah bisa bernafas lega setelah menyelesaikan tugasku dengan baik untuk menjadi pembicara di acara seminar ini, ada perasaan bangga terhadap diriku sendiri apalagi saat mendapatkan tepukan yang meraih dari semua yang hadir dalam ruangan seminar dan aku dianugerah perhargaan sebagai Sosok Muda Inspiratif suatu kebanggaan bagiku karena aku belum lama merintis usahaku bersama Mas Arya.


Setelah semua rangkaian acara selesai pihak panitia mengajak para pembawa materi termasuk aku untuk berkenalan dengan tamu VVIP di antara ada Ketua Asosiasi Nasional, Ketua Asosiasi Jabodetabek dan para sponsor dari seminar ini.


Ternyata ada seorang pria yang mengaku sebagai pria yang bertabrakan denganku di Mall beberapa hari saat aku tengah membuntuti wanita yang mirip Mbak Bella, dia memperkenalkan dirinya sebagai Agung Prawira.


Aku senang berkenalan dengan orang hebat seperti mereka semua tapi aku sedikit risih dan tidak nyaman dengan Pak Agung yang terus menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, bagaimanapun aku wanita bersuami dan aku tengah mengandung jadi sebisa mungkin menjaga marwah sebagai seorang istri.


Untung saja Emak segera menghampiriku dan mengajakku pulang sehingga aku bisa menghindar dari ketidak nyamanan ini. Ketika baru tiba di lobby, aku mengeluarkan ponselku yang sejak tadi aku nonaktifkan jaringannya agar bisa fokus. Ada beberapa notifikasi yang masuk salah satunya pesan dari Mas Arya.


Aku mengernyitkan alis membaca pesan dari Arya yang isinya kalau pulang kantor dia mampir ke rumah ibu mertuaku karena ibu beliau sedang sakit. Tapi kenapa firasat ku mengatakan kalau itu hanya akal - akalan ibu mertuaku saja seperti dia tengah merencanakan sesuatu entah apa itu. Mungkin aku akan cari info dari Mpok Atiek karena warungnya cukup dekat dari rumah ibu mertuaku jadi kalau tamu yang datang akan terlihat dari warungnya.


"Ayuk cepat itu taksi kita udah datang". Ucap Emak menarik tangan ku pelan untuk masuk ke dalam taksi.


"Loh kapan Emak pesannya? Padahal aku baru mau mesan". Tanyaku bingung.


"Tadi pas kita baru keluar dari ruangan seminar emak pesannya". Jawab Emak.


Aku hanya mengangguk dan ikut masuk k dalam taksi. Lalu kembali tertuju pada ponselnya.


"Lagi ngapain Ais kok serius bener muka kamu?". Tanya Emak menegurku yang sejak tadi terpaku pada ponselku.


"Oh ini Emak lagi balas pesan dari Mas Arya, dia ngasih tau kalau pulang kerja dia singgah ke rumah ibu. Katanya ibu lagi sakit'". Jawabku


"Sakit apa si Maesaroh? Bisa sakit juga dia ternyata. Kamu kagak diajak ke sana?" Tanya Emak menahan tawa.


"Diajak kok Emak, tapi kayaknya Mas Arya udah kesana duluan ini udah jam pulang kerja dia. soalnya tadi hapeku aku matiin jaringannya". Jawabku sedikit berbohong.


"Oh iya kamu juga pasti kecapean tadi habis berdiri lama, nanti pulang langsung istirahat kamu, kan kamu lagi hamil". Ucap Emak sambil mengelus perutku, aku tersenyum atas perlakuan Emak. Andai Emmaku masih hidup mungkin beliau yang memperlakukanku seperti ini, sedih rasa jika mengingat Etta dan Emmaku.


Tidak berapa lama kami tiba di rumah, setelah mengantarkanku masuk ke kamarnya. Emak pamit lalu pulang kerumahnya.


Ting


Ada pesan masuk ternyata dari Mpok Atiek, umur panjang dia padahal aku baru saja mau ngirim pesan padanya.

__ADS_1


      ['Ais, laki lu ada datang ke rumah ibu mertua lu, ini baru aja nyampe dia'.].


["Oh iya Mpok, tadi Mas Arya kirim pesan kalau habis pulang kantor dia mau ke rumah ibu. Katanya ibu sakit"]. Balasku.


['Sakit apaan? Lah tadi dia habis dari gua, masih sehat bugar tapi tadi emang sih dia beli koyo dan minyak angin mana duitnya kurang. Tadi habis berantem juga sama si Ely mungkin karna itu dia langsung kena sawan. Hehehe..']. Jelas Mpok Atiek panjang kali lebar.


["Mpok ada - ada aja. Aku juga kurang tau sih juga Mpok, ibu sakit apa"]. Balasku sambil tersenyum membaca balasan dari Mpok Atiek.


['Mertua lu kan ada aja kelakuannya, trus napa lu kagak ikut?']. Tanya Mpok Atiek.


["Aku habis dari acara sama Bu Hajjah Salamah, Mpok"]. Balasku lagi.


['Oh kalau gitu lu istirahat dah, sehat - sehat buat lu dan kandungan lu. Assalamu'alaikum']. Balas Mpok Atiek.


["Aamiin makasih doanya. Wa'alaikum salam"]. Aku juga makin yakin ada yang ibu mertua ku rencana setelah diberitahu Mpok Atiek kalau ibu mertuaku terlihat sehat bugar. Nanti lah aku tanya sama Mas Arya. Aku lalu menyimpan ponselnya di atas nakas lalu bersiap untuk sholat karena aku belum sholat Ashar.


Setelah sholat dan merapikan mukenah dan sajadahku. Aku ngecek ponselku, ada dua panggilan tak terjawab dari Mpok Atiek dan satu pesan darinya.


Seketika mataku membulat membaca pesan dari Mpok Atiek.


     ['Aisyah lu lagi ngapain sih kagak angkat telpon dari gua. Nih perempuan yang waktu gua bilang pernah ke rumah ibu mertua lu datang lagi sekitar lima menit setelah laki lu datang. Mana belum keluar - keluar lagi itu perempuan, kan jadi curiga gua']. Aku tersenyum kecut membaca isi pesan dari Mpok Atiek.


'Oh jadi ini yang direncanakan ibu mertuaku dengan pura - pura sakit dan menyuruh Mas Arya untuk datang ke rumahnya biar bisa dipertemukan dengan wanita pilihannya. Kalian pikir aku bodoh dan tidak tahu apa maksud dan tujuan kalian. Oke aku akan ikuti permainan kalian. Kita liat siapa yang akan menang, aku atau kalian'. Batin Aisyah sambil meramas ponselnya.


Aku mondar - mondar memikirkan cara agar Mas Arya tidak berlama - lama di sana dan segera pulang.


"Ahaa".. Seketika aku mendapatkan ide yang bagus agar suamiku segera pulang.


"Bismillahirrahmanirrahim". Aku membaca dan menarik nafas dan menghembuskannya. Kemudian aku menghubungi nomor suamiku. Tidak waktu lama deringan kedua segera diangkat olehnya.


"Masss, aku kamu dimana, cepat pulang. Perut aku sakit..huhuhu". Pekikku pura - pura kesakitan.


"Kamu kenapa yank? Iya iya Mas pulang sekarang, tunggu Mas ya". Suara Mas Arya terdengar panik mendengarku merintih kesakitan. Aku bisa membayangkan gimana wajahnya sekarang yang sedang panik.


     'Ya Allah maafkan hamba kalau yang hamba lakukan ini adalah dosa karena sudah berbohong, maafkan aku juga maaf aku terpaksa lakuin ini supaya pernikahan kita terhindar dari pelakor dan orang yang ingin memisahkan kita'. Batinku.


"Awww". Aku terkejut ada tendangan dari perutku.

__ADS_1


"Maafin juga bunda ya nak, ini bunda lakuin buat kita". Gumamku sambil mengelus perutku yang mulai buncit dengan lembut.


Tidak berapa lama Mas Arya tiba. Dia langsung membuka pintu kamar dengan cukup kerja. Nafasnya terlihat ngos - ngosan. Bahkan sepatunya belum dia lepas.


"Yank kamu kenapa? Apa yang sakit? Kita ke dokter sekarang". Ucapnya panik, aku jadi kasihannya.


"Tadi Dede utun nendang - nendang, makanya aku rasain sakit". Jawab sambil tersenyum.


Mas Arya bernafas lega. "Syukurlah kamu dan Dede utun baik - baik saja, Mas tadi panik banget takut ada apa - apa dengan kalian. Dede utun kangen ayah ya? Kalau mau nendang pelan - pelan ya kasihan bunda". Ujarnya lembut sambil menempelkan kepalanya keperutku, Dede utun merespon dengan kembali menendang. Kami berdua tertawa senang.


Setelah Mas Arya berganti pakaian dan makan, kami kembali kamar.


"Oya Mas gimana keadaan ibu?" Tanyaku.


"Ibu cuma gak enak badan aja yank, tadi di sana juga ada Siska. Dia datang setelah beberapa menit Mas tiba, ternyata ibu dan dia saling kenal". Jawab Mas sambil mengelus perutku.


"Hmm Siska sekretaris barunya Mas itu ya? Kok bisa dia kenal sama ibu?". Tanyaku pura - pura tidak tau kalau mereka saling kenal. Sekarang aku makin yakin kalau Siska sekretaris baru Mas Arya adalah wanita sama yang ingin dijodohkan ibu mertuaku dengan Mas Arya. Tidak akan semudah itu selama aku masih hidup.


Mas Arya mengangkat bahunya. "Entahlah Mas juga gak tau, udahlah gak bahas itu. Oya gimana tadi seminarnya tadi yank?". Tanya suamiku penasaran.


"Alhamdulillah lancar mas, oya aku ada sesuatu yang mau aku perlihatkan sama Mas. Bentar aku ambil tasku dulu". Jawabku dan hendak berdiri.


"Udah biar Mas aja yang ambil". Ucapnya sambil berdiri menuju tasku berada dan memberikannya padaku.


"Mas tutup mata dulu biar surprise". Ucapku sambil tersenyum. Dia menurutiku dan menutup matanya.


"Oke sekarang buka matanya". Ucapku lagi.


"Apaan ini yank?". Tanya nya bingung melihat bingkai yang aku pegang.


"Baca dong Mas tulisan". Ujarku.


Dia terlihat serius membaca tulisan pada perhargaan tersebut. Seketika dia menyunggingkan senyum lebar.


"Ini beneran yank?" Tanya nya lagi dengan wajah sumringah. Aku tersenyum dan mengangguk, dia pun memelukku erat dan menghujani wajahku dengan ci*uman.


"Masyallah Mas bangga sekali sama kamu yank, kamu memang hebat, nanti kita pajang di dinding kamar ya". Ucapku jawab memelukku lagi. Aku mengangguk dan membalas pelukannya juga.

__ADS_1


'Terima kasih ya Allah semoga kebahagiaan kami tidak akan pernah berakhir, jauhkan kami dari gangguan orang - orang yang berniat memisahkan kami, aamiin'. Ucapku dalam hati.


     Bersambung.


__ADS_2