Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 17


__ADS_3

'Loh Emak kemana?'. Gumamku kebingungan.


     Saking sibuknya berbalas pesan dengan Mas Arya, aku sampai gak sadar kalau emak udah gak ada. Aku celingak - celinguk mencari keberadaan emak tapi sosok beliau tak terlihat.


"AISYAHHH, kesini". Aku menoleh ke arah sumber suara. Tenyata emak udah jalan lumayan jauh di depan. Aku berlari pelan menuju emak.


"Maaf ya Ais, maaf ya emak gak sadar ninggalin kamu". Ujar emak merasa bersalah.


"Gak apa - apa emak, aku yang salah, tadi aku lagi balas chat sama Mas Arya sampai gak nyadar kalau emak udah jalan. Sini emak biar belanjaannya aku yang bawain". Ucapku sambil mengambil belanjaan yang dipegang emak.


"Ya udh kita sekarang lanjut ke bagian sayuran, bersebelah juga dengan tempat bumbu dapur dan penjual buah". Kata emak sambil berjalan ke tujuan kami selanjutnya, aku mengikuti di belakang.


Kamipun sampai di tempat jualan sayuran. Emak memulai memilih bahan - bahan untuk membuat masakan nanti. Aku lihat di sebelah ada pejual sembako lengkap.


Setelah izin ke emak, aku pun ke tempat penjual sembako itu. Aku membeli beras ketan putih, gula aren, tepung terigu, minyak goreng, bihun, telur , gula pasir, dan juga bumbu penyedap. Untuk santan kelapanya, nanti aku tanya sama emak dimana tempat belinya.


Saat ingin membayar, tiba - tiba datang emak yang langsung membayar belanjaanku. Emak memberi kode agar aku tak protes, aku pun diam saat emak membayar. Kamipun lanjut belanja bahan yang kurang dan yang belum dibeli. Aku juga membeli pisang raja dan daun pandan, serta bahan lain untuk membuat kueku dan tentu saja emak tidak membiarkanku membayar.


Tidak lama datang Mang Agus bersama seorang pemuda yang membawa gerobak dorong, tadi saat aku lagi belanja di penjual sembako, Emak dihubungi oleh Mang Agus untuk menanyakan keberadaan kami, Mang Agus menaikkan barang belanjaan ke atas gerobak tersebut dan sisanya dibawa tenteng olehnya. Sedangkan aku dan emak tidak dibolehkan membawa apapun, hanya tas kami saja yang kami bawa.


Emak pun mengajak kami menuju tempat pemarutan kelapa, karena emak ingin membeli kelapa parut untuk ayam serundeng, begitu pun aku yang mau beli kelapa untuk bahan kueku nanti.


Setelah dirasa cukup dan lengkap belanjaannya. Kami pun beranjak menuju parkiran. Mang Agus dan kuli dorong mengantarkan belanjaan ke tempat mobil kami terparkir. Sedangkan aku dan emak menuju mushola yang berada di depan pasar untuk sholat dzuhur terlebih dahulu.


Sehabis sholat Emak mengajakku untuk makan di warteg yang masih berada di area pasar. Mang Agus juga sudah menyusul kami ke warteg.


"Gus sudah kamu kasih upahnya?, Tadi emak lupa ngasih kamu duitnya".Tanya Emak pada Mang Agus.


"Udah Mak, tadi aku pake duitku". Jawab Mang Agus.


"Nih buat gantiin duit kamu". Ucap Emak sambil memberikan uang seratus lima puluh ribu.


"Kebanyakan nih emak, tadi cuma keluar sepuluh ribu". Ujar Mang Agus.

__ADS_1


"Udah gak apa - apa sekalian buat ongkos kamu ngantar kita, kamu mau makan apa pesan aja?". Kata emak.


"Aku pesan kopi hitam sama gorengan aja emak". Jawabnya.


Aku memesan nasi campur telur dadar, tumis, kangkung dan sambal, untuk minumnya aku pesan air es. Sedangkan emak mesan nasi campur orek tempe, kentang balado dan gulai nangka, untuk minumnya es teh dengan sedikit gula.


Setelah makan dan membayar, kami bergegas pulang untuk pulang.


Sesampainya di rumah, barang belanjaan dibawa masuk ke rumah emak, sedangkan belanjaanku untuk membuat kue, aku pisahkan karena aku akan membuatnya di kontrakan saja.


"Emak ini bahan buat kue, aku bawa pulang biar aku kerjain di kontrakan aja". Kataku sambil mengambil belanjaanku.


"Loh gak jadi buat disini? Ntar sapa yang bantuin kamu?" Tanya Emak.


"Aku bisa kerjain sendiri kok mak, bikin kuenya juga gak ribet, ntar kalau kerepotan aku bisa minta bantuan Mas Arya." Jawabku.


"Ya udah kalau gitu, kalau butuh apa - apa atau ada yang kurang, kabari emak ya." Ucap emak.


"Siap emak, aku pamit pulang ya". Assalamualaikum". Pamitku sambil menci*um tangan beliau.


Sebelum keluar rumah emak, aku dipanggil oleh Mbok Minah.


"Neng Aisyah tunggu ini kuncinya belum diambil". Panggil Mbok Minah seraya menghampiriku dan memberikan kunci padaku.


"Ya Allah lupa aku kalau Mas Arya nitip kunci di Mbok, hampir aku gak bisa masuk rumah untung mbok ingetin. Makasih ya Mbok. Aku pamit dulu. Assalamualaikum". Pamitku setelah mengambil kunci darinya


"Sama - sama neng, Wa'alaikum salam". Jawabnya


***


Sesampainya di kontrakan, saat akan masuk kedalam rumah. Ada Mbak Ningsih lagi menyapu teras rumahnya. Dia melihat ke arahku dan tersenyum, aku juga tersenyum padanya.


Dia lalu berjalan mendekati tembok pembatas rumahnya dengan kontrakanku. Tembok depan memang tidak setinggi tembok belakang jadi bisa keliatan.

__ADS_1


"Habis belanja buat acara baca doa besok ya Ais? Tadi Mas Rahmat udah sampaikan ke aku". Ujarnya.


"Iya Mbak, aku yang buat kuenya kalau makanan beratnya masaknya di rumah Bu Hajjah Salamah". Ujarku.


"Kamu bikin kuenya sendiri, aku boleh ikut bantuin gak? Tanyanya.


"Aku sih boleh - boleh aja Mbak, asal gak ngerepotin mbak". Jawabku.


"Gak ngerepotin kok Ais, aku juga udah gak ada pekerjaan di rumah. Bentar ya aku izin Mas Rahmat dulu". Ujarnya kemudian masuk ke dalam rumahnya.


Tidak berapa lama dia pun keluar dan menuju ke kontrakanku. Kami pun masuk ke dalam.


Aku akan buat kue khas ku yaitu katrisala, sanggara talemme (pisang terendam) dan jalangkote.


Katrisala adalah kue yang bagian atasnya dibuat dari beras ketan hitam atau putih yang dimasak dengan santan dan daun pandan, sedangkan bagian bawah dibuat dari campuran telur, santan dan gula aren. Kue ini dimasak dengan cara dikukus.


     Sanggara talemme adalah kue yang terbuat dari pisang raja yang dikukus setelah itu dibalur dengan telur lalu di goreng. Kemudian dibelah tengahnya diberi cacahan kacang tanah sangrai yang campur dengan mentega dan gula pasir. Disajikan dengan kuah gula yang sebelumnya sudah dicairkan. Bisa juga ditambahkan parutan keju atau coklat di atasnya.


Jalangkote adalah kue yang bentuknya serupa dengan pastel. Bedanya kue pastel memiliki kulit lebih tebal dibandingkan dengan jalangkote. Untuk isiannya hampir sama dengan pastel, tapi beberapa orang menambahkan isian telur atau daging cincang, dimakan dengan sambal cair campuran cabai dan cuka yang ditambah gula dan penyedap rasa.


Kamipun segera mengolah bahan - bahan yang ada untuk membuat kue. Aku mengajari Mbak Ningsih caranya membuat kue - kue ini, karena dia gak familiar dengan kue yang kami buat.


Alhamdulillah setelah beberapa jam, pekerjaan kami telah selesai. Mbak Ningsih juga orang cepat tanggap jadi aku tidak terlalu susah mengajarinya.


Untuk kue katrisala dan sanggara talemme setelah dingin aku masukkan ke dalam kulkas sedangkan untuk jalangkote aku goreng setengah matang sebelum masukkan ke dalam kulkas, besok sebelum acara mulai baru akan digoreng lagi sampai matang. Sambalnya aku masukkan kedalam botol setelah itu aku simpan di kulkas.


Sehabis membersihkan dapur, membereskan peralatan dan mencucinya. Mbak Ningsih pamit untuk pulang, tidak lupa aku beri kue yang tadi kami bikin sebagai ucapan terimakasih.


Sepulangnya Mbak Ningsih, aku bergegas mandi setelah itu aku menunaikan sholat Ashar.


Selesai sholat, aku beranjak ke dapur untuk memasak buat makan malam, untung kemarin aku sudah mengungkep ayam jadi tinggal digoreng saja, ditambah dengan lalapan dan sambal terasi. Sambil menggoreng ayam, aku menanak nasi.


Tidak perlu waktu lama masakanku pun udah jadi, tinggal menunggu nasinya matang.

__ADS_1


Akupun kembali ke kamar untuk beristirahat dan menunggu suamiku pulang.


Bersambung.


__ADS_2