Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 49


__ADS_3

Pov (Author)


Arya sedang bersiap untuk makan siang tapi terhenti karena ponselnya berdering, dia segera mengambil ponselnya yang terletak di atas meja.  Dia mengernyitkan alis ternyata ibunya yang menelfon.


'Tumben ibu nelfon, biasanya cuma chat kalau ada perlu'. Gumam Arya.


     ['Arya nanti pulang kerja tolong mampir ke rumah ya ibu lagi sakit'.] Ucap Bu May begitu telfon di angkat oleh Arya.


["Assalamu'alaikum Bu, ibu sakit apa?"]. Tanya Arya


     ['Eh iya wa'alaikum salam. Ibu kemarin meriang nak. Kamu bisa ke sini kan nanti?']. Jawab Bu May dan bertanya balik.


["Ibu udah berobat belum? Rani kemana?".] Tanya Arya lagi.


['Dia lagi kuliah lah, ibu udah minum obat tapi masih masih gak enak badan ibu. Ibu pengen ketemu kamu, kan udah lama kamu gak berkunjung ke rumah ibu. Mentang - mentang sudah sukses atau istri kamu yang ngelarang kamu ke rumah ibu?'.] Ucap Bu May panjang lebar.


["Bukan begitu Bu, Aisyah gak pernah ngelarang aku ke rumah ibu. Ya udah nanti habis pulang kerja Arya ke sana sama Aisyah".] Ujar Arya.


['Kamu sendiri aja ke sini jangan sama ajak istri kamu, nanti sakit ibu makin parah kalau ketemu dia'.] Sergah Bu May.


["Tapi Bu, Aisyah kan istri Arya, menantu ibu dan dia sekarang lagi mengandung cucu ibu".] Ujar Arya lagi.


['Gak ada tapi - tapian, pokoknya ibu mau kamu sendiri aja ke sini. Lebih baik kamu gak usah ke sini aja sekalian kalau sama istri kamu, bila perlu gak usah anggap ibu lagi. Biar ibu mati sekalian, gak peduliin ibu lagi'.] Ucap Bu May dengan nada tinggi dan terdengar terisak.


    ["Ibu jangan ngomong kayak gitu, iya iya nanti Arya kesitu sendiri. Ibu sekarang istrihat ya, Arya mau makan siang dulu. Assalamu'alaikum".] Ujar Arya menutup telfonnya dan meletakkan ponselnya di atas meja.


Dia menghela nafas dan memijat kening, kenapa ibunya begitu membenci istrinya, padahal Aisyah tidak pernah berbuat jahat pada ibu. Dia lalu mengambil ponselnya lagi dan menghubungi istrinya tapi tidak tersambung sama sekali.


 'Astaga kok aku bisa lupa kalau Aisyah lagi ada acara seminar, pantas telfonnya gak bisa dihubungi. Ya udah aku chat aja kalau ntar pulang kerja aku mau ke rumah ibu'. Gumam Arya sambil menepuk jidatnya pelan lalu mengirim pesan ke istrinya.


['Yank, ntar habis pulang kerja Mas langsung ke rumah ibu, soalnya ibu sedang sakit'.] Isi chat Arya yang dikirim ke Aisyah tapi hanya tercentang satu.


***


Sementara itu Bu May terlihat begitu senang setelah menghubungi anaknya, tidak sia - sia dia pura - pura sakit. Dia pun mengirim pesan ke seseorang.


Sekarang dia harus beli koyo dan minyak angin biar aktingnya makin meyakinkan. Setelah mengambil uang, dia bergegas ke warung Mpok Atiek.


"Tiek koyo dua lembar dan minyak angin cap ka*pak yang paling kecil satu". Ucap Bu May begitu sampai di warung Mpok Atiek.

__ADS_1


"Siapa emang yang sakit Bu?". Tanya Mpok Atiek


"Gak usah banyak tanya, layanin aja cepat". Jawab Bu May ketus.


"Iye iye sensi banget, tunggu bentar". Ucap Mpok Atiek lalu bergegas mengambil barang yang disebutkan oleh Bu May.


"Eh ada Bu May, apa kabar Bu baru keliatan? Ngomong - ngomong itu mantu ibu yang ibu bilang miskin dan kampungan, siapa itu namanya, oya Aisyah, iye bener Aisyah. Sekarang makin cantik dan sukses aja dia. Lah ibu masih gini - gini aja katanya orang kaya, apa udah miskin kali ya hahaha..". Cemooh Mpok Ely sambil tertawa di ikuti dengan dua temannya.


"Jaga itu mulut ya Elly, atau saya robek mulut ember kamu itu. Siapa bilang saya udah miskin. Saya masih kaya, tambah kaya malah. Tapi saya gak norak macam kalian apa - apa dipamerin, saya juga gak level gabung sama orang miskin kayak kalian". Hardik Bu May sambil berkacak pinggang menatap tajam ke arah Mpok Ely dan kedua temannya.


"Aduh takuttt, iya deh yang paling kaya". Ucap Mpok Ely dengan nada mengejek samb memutar bola matanya.


"Udah - udah lu berdua udah tua kerjanya ribut aja, kagak malu apa sama anak cucu lu? Nih Bu barangnya totalnya sebelas ribu". Ucap Mpok Atiek menengahi perbebatan dua wanita yang sudah jadi nenek itu sambil memberikan belanja milik Bu May.


"Ini uangnya, awas kamu ya Ely. Udah jelek, miskin pula". Hina Bu May dan bergegas pergi sambil berlari setelah memberikan uang kepada Mpok Atiek.


"Loh Bu ini uang kurang seribu". Teriak Mpok Atiek tapi yang di teriaki sudah masuk ke dalam rumahnya.


"Huhuhhh, katanya kaya tapi belanja duitnya kurang, dasar nenek - nenek gila pantas tadi dia buru - buru pergi" Cemooh Mpok Ely sambil menertawakan Bu May.


***


"Masuk". Ucap Arya.


Pintu terbuka dan Siska masuk sambil membawa beberapa map di tangannya.


"Maaf mengganggu pak, ini ada beberapa berkas yang harus bapak tanda tangani". Ucap Siska sambil tersenyum kalem, dia sedang menahan dirinya agar tidak membuat Arya ilfeel padanya.


"Ya udah simpan aja di situ, nanti saya periksa dulu baru saya tanda tangani. Saya mau makan siang dulu". Ujar Arya sambil menunjuk ke atas meja di sebelah kanannya tanpa melihat ke arah Siska, dia fokus ke laptopnya.


"Baik pak, kalau gitu saya permisi. Selamat menikmati makan siangnya". Ucap Siska dengan suara lembut.


"Iya". Jawab Arya singkat.


'Tumben gak kecentilan dia'. Gumam Arya setelah Siska keluar


Setelah makan Arya memeriksa berkas yang diserahkan oleh Siska tadi. Dia memeriksa dengan teliti sambil mengangguk - anggukkan kepalanya.


'Bagus juga laporan yang dia buat, ternyata apa yang diajarkan oleh Lily dia terapkan dengan baik. Dia udah gak kecentilan seperti awal - awal bertemu, penampilannya juga sudah dibenerin. Baguslah setidaknya saya bisa respek dan nyaman kerja dengan dia sekarang kalau dia bisa terus bersikap profesional'. Gumam Arya setelah memeriksa berkas tersebut dan menanda tanganinya

__ADS_1


Tidak berapa lama sudah jam pulang kantor, setelah membereskan meja kerja. Arya bergegas keluar ruangannya.


"Saya duluan ya Sis. Ini berkasnya sudah saya periksa dan tanda tangani, pertahankan kinerja kamu". Ujar Arya memberikan map kepada Siska sambil tersenyum kemudian berlalu menuju lift.


Siska terpaku dengan perubahan Arya yang ramah kepadanya.


'Yes umpan udah dimakan, sedikit lagi ketangkap'. Batin Siska sambil senyum - senyum sendiri.


***


Aisyah baru keluar dari hotel tempat seminar, dia mengambil ponselnya yang sejak tadi sengaja dia nonaktifkan jaringannya agar bisa fokus. Dia berniat untuk memesan taksi online tapi ada pesan masuk dari Arya.


Dia tersenyum miring membaca pesan dari suaminya.


'Apa lagi yang direncanakan ibu mertuaku? Aku akan mencari info dari Mpok Atiek saja, kan warungnya tidak jauh dari rumah ibu jadi bisa keliatan kalau ada tamu yang datang'. Batin Aisyah.


"Ayuk cepat itu taksi kita udah datang". Ucap Bu Hajjah menarik tangan Aisyah pelan untuk masuk ke dalam taksi.


"Loh kapan Emak pesannyw? Padahal aku baru mau mesan". Ucap Aisyah bingung.


"Tadi pas kita baru keluar dari ruangan seminar emak pesannya". Jawab Bu Hajjah.


Aisyah hanya mengangguk dan ikut masuk k dalam taksi. Lalu kembali tertuju pada ponselnya.


"Lagi ngapain Ais kok serius bener muka kamu?". Tanya Bu Hajjah yang sejak tadi memperhatikan Aisyah.


"Oh ini Emak lagi balas pesan dari Mas Arya, dia ngasih tau kalau pulang kerja dia singgah ke rumah ibu. Katanya ibu lagi sakit'". Jawab Aisyah.


"Sakit apa si Maesaroh? Bisa sakit juga dia ternyata. Kamu kagak diajak ke sana?" Tanya Bu Hajjah.


"Diajak kok Emak, tapi kayaknya Mas Arya udah kesana duluan ini udah jam pulang kerja dia. soalnya tadi hapeku aku matiin jaringannya". Jawab Aisyah sedikit berbohong.


"Oh iya kamu juga pasti kecapean tadi habis berdiri lama, nanti pulang langsung istirahat kamu, kan kamu lagi hamil". Ucap Bu Hajjah sambil mengelus perut Aisyah.


Tidak berapa lama mereka samping di rumah, setelah mengantarkan Aisyah masuk ke kamarnya. Bu Hajjah lalu pulang kerumahnya.


     ['Ais, laki lu ada datang ke rumah ibu mertua lu, ini baru aja nyampe dia'.].


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2