Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 12


__ADS_3

Pov (Arya)


      Namaku Arya Winata aku anak kedua dari tiga bersaudara, aku sudah menikah tapi belum mempunyai anak. Walaupun begitu aku sangat mencintai istriku Aisyah, wanita yang aku nikahi tiga tahun lalu.


"Kalau cari calon istri itu yang satu suku, harus yang sepadan, masa lulusan sarjana tapi istrinya cuma tamatan SMA. Dia juga orang kampung. Malulah seorang manager, istrinya kampungan kayak gitu". Ujar ibuku saat aku mengutarakan niatku untuk menikahi Aisyah".


Ibuku sangat menentang wanita pilihanku, padahal Aisyah wanita yang baik, sederhana, bertutur kata lembut, wajahnya pun cantik. Itu lah yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadanya. Hubunganku dengan ibu memang tidak terlalu dekat, dari dulu ibu seperti menjaga jarak denganku, aku merasa perlakuannya berbeda terhadapku. Kalau dengan kedua saudaraku ibu terlihat lembut dan bisa tersenyum, sedangkan denganku lebih banyak diam dan cenderung menghindari keberadaanku. Tapi aku sangat dekat dengan almarhum bapakku, beliau sangat menyayangiku. Kepergian beliau membuatku sangat terpukul


Sejak aku terkena PHK dan kepergian almarhum bapak, ibu tiba - tiba menghubungiku. Saat itu aku sangat bahagia, apalagi saat ibu mengajakku dan Aisyah untuk tinggal bersama. Aku pun menyanggupi ajakan ibuku, selain aku dan istriku bisa memperbaiki hubungan kami dengan ibu, kami juga bisa mendapatkan tempat tinggal. Jujur setelah aku di PHK, kami harus berhemat untuk kebutuhan sehari - hari apalagi untuk mengontrak sedangkan aku sudah tidak bekerja. Aisyah pernah menawarkan untuk menjual mahar dariku dan perhiasan peninggalan ibunya tapi aku menolaknya, aku tidak ingin membebani. Aku bukan tidak berusaha tapi saat masa pandemi untuk mencari pekerjaan tidaklah mudah.


Akhirnya kamipun pindah ke rumah ibuku. Selama aku dan Aisyah tinggal di rumah ibu, semua pekerjaan rumah kami yang kerjakan, kami tidak keberatan karena kami tahu diri kami hanya numpang tinggal dirumah ibu. Tapi makin lama perlakuan ibu dan Rani semakin semena - mena kepada istriku, mereka memperlakukannya seperti pembantu.


Alhamdulillah setelah hampir enam bulan aku menganggur, seorang teman menawarkanku pekerjaan menjadi sekuriti di tempat kerjanya. Tentu saja aku menerima tawaran walaupun berbanding terbalik dengan pekerjaan sebelumnya. Alhamdulillah aku mempunyai istri yang selalu mendukungku, dia tetap menemaniku walaupun aku dalam keadaan susah seperti ini.


Setelah aku menerima gaji pertamaku, jumlah lumayan untuk kami berdua, kuberikan semuanya kepada istriku untuk mengaturnya.

__ADS_1


"Kamu kan udah punya gaji, jadi mulai sekarang kamu juga harus ikut menanggung kebutuhan rumah ini, juga ngasih jatah ibu dan Rani. Oya satu lagi tiap bulan kalian juga harus bayar sewa tinggal di sini". Ujar ibuku.


Aku kaget mendengar ucapan ibu, okelah kalau untuk kebutuhan rumah karena aku dan Aisyah juga ikut tinggal disini begitu juga jatah buat ibu dan Rani, aku tak masalah dengan semua itu. Tapi kenapa aku harus membayar sewa untuk tinggal di rumah ibu kandungku sendiri.


Tapi aku cuma bisa menerima, karena aku belum punya cukup uang untuk mengontrak sendiri. Untuk menambah penghasilan, aku nyambi menjadi ojek online. Awal Aisyah tidak setuju karena dia tidak tega aku kelelahan kerja dari pagi sampai malam. Aku bertekad untuk mengumpulkan uang yang banyak agar bisa mengontrak rumah sendiri karena sama saja di rumah ini kami pun membayar uang sewa, apa bedanya dengan mengontrak rumah sendiri.


Setiap sholatku, aku selalu berdoa agar Allah melancar rejekiku, mempermudah jalanku, melembutkan hati ibuku sehingga menerima aku dan Aisyah dengan baik.


Alhamdulillah akhirnya aku mendapat jawaban dari doaku, suatu hari teman sesama ojolku bernama Supri mengatakan kalau rumah anak Pak Haji Mansur yang berada di jalur depan mau disewakan murah beserta perabotannya karena anaknya akan pindah tugas keluar kota. Aku pun tertarik untuk menyewa rumah itu, aku meminta temanku untuk mengantarku kesana nanti sore. Aku sempat menelfon kakak tertuaku untuk meminta pendapatnya, dia sangat mendukungku dan akan membantu untuk bicara dengan ibu.


Kini giliran ku menyampaikan tentang rencana ku menyewa rumah itu, istriku senang mendengarnya tapi dia juga kuatir ibu tidak akan setuju, akupun meyakinnya kalau Mas Ryan akan membantu bicara sama ibu.


Sorenya aku dan Aisyah pergi ke rumah Pak Haji Mansur ditemani Supri. Setelah bertemu dengan Pak Haji ternyata beliau sahabat almarhum bapakku. Kemudian kami diajak kerumah anaknya, disana sudah ada istri beliau yang menyambut kami.


Aku tidak berhenti bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, kami tidak perlu membayar uang sewa rumah ini cukup merawatnya karena ternyata menantu Pak Haji adalah sahabat istriku waktu dikampung. Awalnya aku dan Aisyah berdua menolak tapi Pak Haji dan keluarganya mengatakan ini sebagai balas budi atas kebaikan orang tua kami dulu. Kami berencana pindah ke rumah ini tiga hari lagi karena lusa baru anak Pak Haji pindahnya.

__ADS_1


Keesokan harinya aku dan Aisyah ditemani Mas Ryan, memberitahu ibu tentang kepindahan kami. Awalnya ibu tidak setuju karena nanti siapa yang akan mengurus rumah ini. Aku tertawa miris dalam hati mendengar alasan ibu tidak setuju kami pindah dari kami. Tapi Mas Ryan bisa meyakinkan ibu, sehingga beliau mengizinkan kami untuk mengontrak. Walaupun beliau sempat meremehkan kemampuan ku dan Aisyah untuk mengontrak rumah.


Setelah kepulangan Mas Ryan, ibu mengingatkan ku bahwa aku harus tetap memberi jatah kepadanya dan Rani meski sudah tidak tinggal disini tapi ibuku meminta tambahan lima ratus ribu. Aku sempat melirik ke istriku, dia mengangguk menyetujui.


Besoknya saat istirahat makan siang, aku mendapatkan kabar dari teman semasa kerja di perusahaan dulu, kalau perusahaan sudah bangkit kembali dan membuka lowongan pekerjaan, ia akan merekomendasikan aku ke atasannya karena sekarang perusahaan sudah berganti kepemimpinannya. Aisyah juga memberitahukan ku kalau dia mendapatkan izin dari Fitri untuk menggunakan garasi rumahnya untuk kami jadikan usaha.


Hari ini kepindahan kami, aku dibantu karyawan Pak Haji mengangkut lemari dikamar kami menggunakan mobil pick upnya, sebenarnya kami tak membutuhkan lemari itu karena di kontrakan sudah lengkap perabotannya, barang - barang kami juga sedikit, cukup dibawa pakai motor. Tapi istriku tetap ingin membawa lemarinya karena itu pemberian dari almarhum bapakku.


Setelah pulang dari mengantar lemari, aku dan Aisyah makan bersama. Tiba - tiba muncul Rani yang baru bangun langsung mencomot makanan di hadapan kami, aku menegurnya tapi dia malah melawanku. Tapi aku tak bisa menahan emosiku saat dia menghina istriku, aku sebenarnya tidak tega memarahinya tapi dia sudah keterlaluan. Dia pun mengadu kepada ibu seakan - akan kami yang bersalah. Ibu yang memang tidak menyukai kami pasti lebih membela Rani. Segala hinaan dilontarkan ibuku, sakit hatiku mendengarnya. Aku pun menarik istriku masuk kekamar,aku menangis dipelukannya. Kemudian aku mengajak Aisyah untuk segera berkemas dan meninggalkan rumah ini tanpa berpamitan dengan ibu dan Rani.


Kamipun meninggalkan rumah ibuku, aku berjanji tidak akan menginjakkan kakiku lagi di rumah ini sebelum ibu bisa menerima kami.


Sesampainya di rumah yang akan kami tinggali, Pak Haji sudah menunggu kami, rumahnya juga sudah dibersihkan oleh karyawan beliau. Bu Hajjah juga sudah menyiapkan makanan buat kami. Setelah tau kami akan membuka usaha di garasi rumah ini, beliau akan menyuruh tukang untuk membangun lapak jualan kami. Sungguh aku tak enak hati, karena Sudah terlalu banyak keluarga beliau membantuku dan Aisyah. Tapi aku sangat bersyukur dipertemukan dengan orang - orang baik, aku berjanji tidak pernah mengecewakan mereka.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2