Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 64


__ADS_3

Pov (Author)


"APAAA??? Rumah saya sudah di beli orang?" Tanya Ryan kaget kepada dua pria berbadan besar di hadapannya. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh mereka berdua. Bagaimana mungkin rumahnya sudah menjadi milik orang lain sedangkan dia tidak pernah menjualnya.


"Benar Pak Ryan, rumah ini sudah menjadi milik Bos kami". Jawab salah satu dari mereka.


"Jangan bercanda kalian, bagaimana mungkin rumah ini bisa menjadi milik Bos kalian kalau saya tidak pernah menjual rumah ini? Kalian jangan coba - coba membohongi saya, saya bisa laporkan kalian ke polisi" Hardik Ryan.


"Silahkan bapak lapor ke polisi, kami tidak takut. Memang begitu adanya Pak, rumah ini sudah Bos kami beli dari Bu Isabella yang namanya tertera pada sertifikat rumah ini. Kalau anda tidak percaya, anda bisa liat sendiri bukti transaksi pembeliannya dan sertifikat yang kami pegang". Jawabnya sambil memperlihatkan berkas kepada Ryan


Ryan mengambil berkas itu dengan paksa dan membacanya dengan seksama. Seketika lututnya lemas, benarnya yang mereka bilang rumah ini sudah dijual oleh Bella. Sertifikat yang mereka tunjukkan juga asli, ada juga foto kopi tanda pengenalnya dan Bella serta kuitansi pembelian yang jumlahnya fantastis dengan harga dua miliar. Ryan tak menyangka Bella menjual rumah ini tanpa persetujuannya padahal mereka masih sah sebagai suami istri. Entah uang sebanyak itu dipakai untuk apa oleh Bella.


"Gimana kami tidak berbohong kan? Jadi kapan anda bisa mengosongkan rumah ini, Bos kami tidak bisa memberikan waktu lama. Jadi tolong secepatnya anda angkat kaki dari rumah ini". Ujar salah satu dari mereka dengan keras.


"Beri saya waktu tiga hari untuk pindah dari sini". Jawab Ryan lemas.


"Oke kalau begitu, tiga atau empat hari lagi kami akan kembali ke sini. Kami harap rumah ini sudah dikosongkan, dan tolong jangan mempersulit tugas kami". Ujar mereka lalu pergi mengunakan mobil berwarna hitam.


Ryan menutup pintu rumah dan berjalan gontai ke dalam kamarnya, dia membuka lemari dan menghamburkan isinya. Sertifikat itu memang sudah tidak ada, dia menyesali kebodohannya yang mengatas namakan sertifikat rumah ini dengan nama Bella karena kebucinannya pada istrinya itu.


Dia mencoba menghubungi nomor Bella tapi nomornya tidak aktif karena Bella sengaja mengganti nomor ponselnya agar Ryan tidak bisa menghubunginya.


"Dasar wanita sialan, beraninya kamu buat aku seperti ini. Aku bakalan cari dimana pun kamu berada, dan akan ku balas perbuatanmu ini". Teriak Ryan sembari menghantam kaca lemari, tangannya berda*rah tapi dia tidak peduli. Luka di hatinya jauh lebih sakit dari pada luka di tangannya.


'Kalau rumah ini sudah jadi milik orang lain, dimana aku dan Maira akan tinggal? Apa kami pindah ke rumah ibu saja? Itu berarti Maira harus pindah sekolah di sana. Ini semua karena istri tidak tau diri itu'. Gumam Ryan emosi, dia menaruh dendam pada istrinya itu.


***


Pov (Aisyah)


 ['Mbak bisa kesini gak? Ada keributan di lapak']. Ujar Ratna panik melalui sambungan telfon.


["Iya Mbak kesitu sekarang dengan Mas Arya"]. Ucapku lalu bergegas menuju lapak bersama Mas Arya, aku bingung sebenarnya ada apa. Dari kejauhan terlihat lapak ramai dengan kerumunan orang, Ratna dan Mila terlihat kewalahan menghadapi mereka.


"Ada apa ini, kenapa kalian membuat ribut di lapa kami?" Tanya Mas Arya pada beberapa orang yang marah - marah di depan lapak, kondisi lapak baru akan buka.


"Nah ini pemiliknya, kami mau minta ganti ruginya. Kemarin kami membeli dan memakan makanan di sini setelah itu kami malah sakit perut. Kalau kalian tidak mau ganti rugi, akan kami viralin lapak kalian dan kami hancurkan lapak kalian". Jawab seorang pria sambil mencak - mencak menatap nyalang ke arahku dan Mas Arya. Dan yang lain mengedor - gedor rolling door lapak kami.


"Tenang dulu bapak dan ibu, ada baiknya kita bicarakan dengan kepala dingin, kita cari jalan keluar. Saya dan istri saya akan tanggung jawab kalau memang kesalahan dari pihak kami". Ujar Mas Arya berusaha menenangkan mereka, Aku bergedik ngeri melihat kebrutalan mereka.


"Gak usah membela diri, sudah ada buktinya. Pokoknya kalian harus tanggung jawab". Teriak pria itu lagi diikuti dengan yang lain".


"Iya iya kami mohon tenang dulu, lebih baik kita bicarakan di dalam saja. Tapi saya mohon jangan ada yang melakukan perusakan". Ajak Mas Arya, aku memberi kode pada Ratna itu membuka rolling door.


Mereka yang tadinya protes pun mulai tenang dan ikut masuk ke dalam lapak.

__ADS_1


"Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi, karena hampir setahun kami membuka lapak, ini kali pertama ada kejadian seperti ini". Ujar Mas Arya.


"Jadi gini kemarin saya beli makanan di sini untuk di bawa pulang, dan setelah dimakan oleh istrinya, dia mengalami sakit perut hingga bolak balik ke kamar mandi. Awalnya saya kira dia sakit perut karena makanannya terlalu pedas, jadi segera saya bawa istri saya ke rumah sakit. Tapi ternyata sampai di rumah sakit ada beberapa pasien yang keluhan yang sama seperti istri saya. Setelah di telusuri ternyata mereka juga habis membeli dan menyantap makanan dari lapak ini. Jadi saya berinisiatif membawa sampel dari makanan yang bermasalah ke laboratorium dan ternyata setelah diperiksa makanan tersebut mengandung zat yang dapat memicu kontraksi usus besar yang menyebabkan diare. Maka dari itu kami sepakat meminta ganti rugi dan pertanggung jawaban dari kalian, sebagian dari korban masih di rumah sakit karena mereka mengalami kondisi yang lebih parah, tapi kalau tidak ada itikad baik dari kalian, terpaksa masalah ini kami ke jalur hukum ". Ucap salah satu perwakilan dari mereka menjelaskan panjang lebar.


Aku kaget mendengar penjelasan darinya. Tidak mungkin karyawanku melakukan hal buruk seperti itu, apa lagi Ratna yang memasak makanan itu. Aku percaya padanya.


"Saya dan istri saya selaku pemiliknya lapak ini meminta maaf atas kelalaian kami, dan kami akan bertanggung jawab sepenuhnya dan juga akan memberikan ganti rugi yang layak. Kami juga akan menjenguk korban yang masih dirawat di rumah sakit" Jawab Mas Arya menangkupkan tangannya.


Setelah perdebatan yang lumaysn panjang, aku dan Mas Arya akan memberikan ganti rugi sebesar satu juta masing - masing untuk mereka sesuai kesepakatan bersama, total keseluruhan semua korban ada dua puluh orang dengan yang di rawat rumah sakit sepuluh orang.


Seusai mendapatkan ganti rugi dari kami, mereka satu persatu meninggalkan lapak kami. Mas Arya menggenggam tanganku dan menenangkanku, aku masih syok atas kejadian barusan.


"Ada apa nih Arya, Ais?" Tanya Emak dengan raut wajah cemas.


Aku pun menjelaskan semua pada beliau sambil menahan air mata.


"Mas ke rumah sakit dulu yank untuk jengukin korban yang lain, kamu disini aja sama Emak dan yang lain. Lapak gak usah buka hari ini". Pamit Mas Arya.


"Iya Mas hati - hati, kabari aku terus". Jawabku setelah menci*um tangannya.


"Ya Allah siapa yang tega melakukan ini sama kalian, kamu udah cek CCTV?" Tanya Emak.


Aku menggelengkan kepala. "CCTV di dapur rusak Emak, aku baru pesan yang baru". Jawabku lesu.


"Astaga terus siapa yang masak pesanan mereka?" Tanya Emak lagi.


"Siapa itu Wulan? Mungkin dia yang masukin zat berbahaya itu". Ujar Emak dengan suara tinggi.


"Dia karyawan aku juga Emak, sebelumnya dia di bagian cuci piring. Baru kemarin dia pindah ke dapur bantuin Ratna". Jelasku.


"Nah berarti benar itu perbuatan dia karena setelah dia pindah baru ada masalah kayak gini, mana dia sekarang?" Ujar Emak emosi.


Belum sempat aku menjawab pertanyaan Emak, Wulan datang sambil tersenyum senang.


"Assalamu'alaikum". Salamnya dengan wajah sumringah.


"Itu Wulan Emak". Ujarku setengah berbisik.


Emak lalu berdiri dan mendekati Wulan lalu mencengkeram lengannya. Aku dan Ratna berusaha menenangkan Emak.


"A..ada apa nih, salah saya apa?" Tanya Wulan ketakutan.


"Kamu kan yang masukin zat berbahaya ke dalam pesanan pembeli sampai mereka sakit perut semua? Apa maksud kamu lakuin itu semua hah?". Bentak Emak, baru kali ini aku lihat Emak marah seperti ini.


"Ma..masukin apa? Aku gak ngerti maksud ibu apa? Jawab Wulan gagap.

__ADS_1


"Halah gak usah pura - pura gak tau deh Lan, kemarin kan lu yang bungkus semua pesanan. Siapa lagi yang masukin kalau bukan lu?" Tambah Ratna ikut menyudutkan Wulan.


"Jangan sembarang ngomong ya Mbak, aku tahu Mbak gak pernah suka sama aku. Tapi jangan asal main fitnah kayak gini, emang Mbak ada bukti kalau aku pelakunya? Gak ada kan buktinya? Aku bisa tuntut kalian ke polisi dengan tuduhan pencemaran nama baik". Jawab Wulan membela dirinya, dia menatap tajam ke arah Ratna.


"Iya bener Emak, Rat. Kita gak bisa asal tuduh karena kita gak punya bukti kalau Wulan pelakunya. Yang penting sekarang masalahnya udah selesai, kita sudah ganti rugi". Ujarku menenangkan mereka berdua.


Emak melepaskan cengkramannya, Ratna membuang muka dan pergi ke belakang.


"Wulan kamu pulang aja, hari ini lapak tutup dulu. Mungkin Senin baru buka". Ujarku padanya.


Dia pun beranjak pulang tanpa mengatakan apapun tapi tatapannya penuh kemarahan.


Aku terduduk lemas sambil memijat keningku, Emak memijit pundakku. Ratna datang membawakan minum untukku.


"Minum dulu Mbak, aku masih yakin kalau Wulan pelaku". Ujar Ratna.


"Iya sama juga yakin dia pelaku, kalian harus hati - hati". Sambung Emak.


Aku hanya mengangguk menganggapi ucapan mereka berdua, kepalaku pusing memikirkan masalah ini. Jujur aku juga curiga pada Wulan tapi karena tidak adanya bukti, aku tidak mau sembarangan menuduh.


***


Malam harinya.


"Gimana Mas sudah beres semua?" Tanyaku pada Mas Arya yang baru pulang menjenguk para korban.


Mas Arya menghela nafas, dia terlihat sangat lelah. "Alhamdulillah mereka mau berdamai secara kekeluargaan dan menerima itikad baik kita. Cukup melelahkan karena mereka dirawat di beberapa rumah sakit yang berbeda. Jadi Mas harus bolak - balik rumah sakit.


"Alhamdulillah kalau gitu Mas, jujur aku masih syok dan kepikiran dengan kejadian barusan". Ucap ku sedih.


"Gak usah terlalu dipikir, yang penting masalahnya sudah selesai. Mas akan cari tahu siapa pelaku dari kejadian ini, Mas berencana lapor kepolisi untuk mengusutnya". Ujar Mas Arya memelukku.


"Iya semoga pelakunya cepat ketahuan, sebenarnya ada aku curigai tapi aku tidak mau asal tuduh tanpa bukti". Ungkapku.


***


Di tempat lain.


"Bagus saya puas dengan kerja kamu, ini bayaran kamu yang saya janjikan. Pasti sebentar lagi usaha mereka akan bangkrut. Hahaha." Tawa seorang wanita yang belum diketahui identitasnya sambil memberikan amplop coklat kepada lawan bicaranya.


"Iya tapi mereka sudah curiga sama gua, karena gua yang bungkus semua pesanan itu. Pokoknya gua gak mau di penjara". Ujar Wulan kuatir.


"Udah kamu gak usah kuatir, kamu gak usah kerja lagi di sana. Mending sekarang kamu bersembunyi. Lama kelamaan mereka bakal lupa dengan masalah itu, percaya sama saya. Lagian mereka gak punya bukti kalau kamu pelakunya, mending sekarang kita rayakan keberhasilan Kita". Ujar wanita misterius itu menenangkan Wulan.


Wulan berusaha tersenyum tapi dia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2