
Pov (Author)
"Kok tinggal segini sih?" Keluh Rani sambil memainkan ponselnya. Dia mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa sih Ran?". Tanya Bella yang duduk sebelah Rani, mereka tengah berada di sebuah cafe setelah baru saja shopping dan perawatan.
"Ini loh Mbak saldo rekening aku berkurang banyak, baru juga kemarin keisi banyak". Jawab Rani memperlihatkan ponselnya.
"Masih banyak itu, ntar kamu bisa cari lagi". Ucap Bella enteng.
"Mbak sih minta belanjain juga, mana mahal - mahal yang Mbak ambil. Perawatan Mbak juga aku yang bayar, padahal uang Mbak juga banyak dari Pak Broto". Gerutu Rani kesal pada kakak ipar pertamanya itu.
"Halah baru segini aja kamu udah perhitungan sama Mbak, ini gak seberapa tau gak. Kalau bukan karena Mbak, kamu gak bakalan bisa punya banyak banyak, shopping barang branded, perawatan mahal, makan makanan enak dan lain - lain. Anggap saja balas budi sama Mbak". Terang Bella tidak terima dengan omongan Rani.
"Iya tapi sekali ini saja ya Mbak, aku juga pengen nabung dan punya banyak uang biar bisa beli mobil dan rumah sendiri". Ujar Rani cemberut.
"Hmmm iya iya.. Bawel banget, ntar juga kamu kerja lagi biar dapat uang banyak lagi. Gitu aja ribet". Balas Bella malas tau.
"Tapi kan aku udah gak perawan Mbak, gak bakalan dapat banyak lagi kayak kemarin. Mana bagian bawah aku masih nyeri banget, jalan aja susah banget, kayak ada yang ganjel". Gerutu Rani lagi.
"Kamu gak usah banyak ngeluh, makanya kamu jangan pilih - pilih klien. Jangan liat dari tampang dan penampilannya yang penting itu uangnya, buktinya Pak Robert yang modelannya kayak gitu bisa bayar kamu mahal. Asal kamu servisnya memuaskan pasti mereka ngasih kamu uang yang banyak. Itu pintar - pintar kamu aja ngerayu mereka. Kamu pikir kenapa Mbak mau sama Om Broto yang bangkotan itu kalau bukan karena uangnya, gak kayak Mas kamu yang sekarang udah kere. Makanya Mbak buang aja dia, karena udah gak gunanya". Jelas Bella panjang lebar.
Rani hanya manggut - manggut mendengar penjelasan Bella, dia sudah banyak tau tentang masalah rumah tangga kakak pertamanya dan istrinya serta tentang kakaknya yang sudah bangkrut karena Bella sudah cerita padanya, bahkan rencana Bella untuk menggugat cerai kakaknya pun dia tau. Itu yang membuat semakin yakin untuk menjalani pekerjaan ini karena sumber uangnya sudah tidak ada. Sedangkan Arya tidak seroyal Ryan.
'Bener juga kata Mbak Bella, gue kan udah gak perawan. Bodo amat siapa pun klien gue yang penting uangnya'. Batin Rani senyum - senyum sendiri.
***
"Kamu dari mana aja, semalam gak pulang?". Sergah Bu May begitu Rani pulang ke rumah.
"Ibu gak usah bawel deh, baru pulang udah dimarahin. Aku itu cape mau istirahat. Kemarin ada pameran mobil makanya aku lembur". Ucap Rani ngasal padahal dia gak mengerti soal begituan.
__ADS_1
"Udah pintar ya kamu melawan, mentang - mentang udah bisa cari uang sendiri. Kalau gitu banyak dong bonus kamu? Buat ibu mana?" Tanya Bu May sambil menadahkan tangan.
Rani memutar bola matanya dan membuka tasnya dengan kasar.
"Nih buat ibu". Ucap Rani memberikan segepok uang merah kepada ibunya.
Bu May melotot meliat uang di depan matanya dan segera mengambilnya. "Wah banyak banget Rani, beneran ini buat ibu semua?" Tanya Bu May tidak percaya.
"Iya itu jatah ibu buat sebulan jangan dihabisin semua, kan ibu juga dapat dari Mas Arya. Sekalian ntar siapin makanan buat aku yang enak, terserah ibu mau masak atau pesan online. Biar ntar kalau aku bangun tinggal makan aja". Perintah Rani lalu masuk ke kamar untuk istirahat, badannya masih sakit setelah hilang pera*wan semalam.
Bu May tidak menggubris omongan Rani, dia sibuk menghitung uang pemberian anak bungsunya.
'Wah banyak banget, kalau kayak gini terus Rani ngasih aku uang. Aku bisa shopping dan makan enak lagi, aku juga bisa ngumpul lagi dengan gank sosialitaku. Di kulkas kan masih ada makanan dari acara Arya tadi tinggal dipanasin aja. Aku tinggal masak nasi aja, sayang kalau harus beli lagi ntar uangku berkurang. Rani juga gak bakalan tau'. Batin Bu May lalu masuk ke kamarnya dengan perasaan senang.
***
Malam harinya.
Di atas meja terhidang ayam kecap, udang tepung asam manis dan sop kondro.
"Wah enak - enak semua Bu". Ucap Rani sambil menelan ludah.
"Iya dong spesial buat anak ibu yang cantik, makan yang banyak". Puji Bu May sembari menjilat biar Rani selalu memberinya uang.
Rani pun segera mengambil piring lalu mengambil nasi dan lauk lainnya.
Dia makan dengan sangat lahap, sampai nambah dua kali. Apalagi sop konro masakan Aisyah.
"Ehhhkk... Rani bersendawa cukup keras.
"Nikmat banget, ini sop apaan namanya Bu enak banget? Terus ibu pesan dimana?" Tanya Rani sambil membersihkan sela - sela gigi sisa makanan.
__ADS_1
"Ehhh, sop tulang kalau gak salah, ibu lupa - lupa ingat nama restonya. Ibu asal pesan aja yang ibu lihat ratingnya bagus". Jawab Bu May berbohong.
"Oh gitu ya. Oya bu, aku rencananya mau ngekost biar dekat dengan tempat kerja Rani". Ucap Rani, itu hanya alasannya saja biar bisa bebas dan biar ibunya tidak tahu pekerjaannya yang sebenarnya.
"Loh kok kamu ngekost, masa ibu tinggal sendiri di rumah ini?" Ucap Bu May.
"Ibu tenang aja, nanti seminggu sekali aku pulang. Aku juga tetap ngasih ibu uang bulanan kayak tadi". Tutur Rani.
"Hmmm.. Ya sudah, kamu kerja yang bener biar dapat bonus yang banyak. Makanya kamu cari pacar yang kaya biar gak usah capek - capek kerja, nanti pacar kamu yang biayain kamu. Jangan asal milih pacar, harus yang banyak uangnya". Ujar Bu May memberi saran untuk Rani.
"Iya iya Bu bawel banget, gak usah ngatur - ngatur hidup aku lagi, yang penting aku kasih uang ke ibu". Balas Rani sudah berani melawan, karena sekarang dia yang membiayai ibunya, dia lalu kembali ke kamarnya, telinganya sakit mendengar ocehan ibunya.
Kalau biasanya Bu May akan marah kalau Rani melawannya, berbeda dengan sekarang kalau bukan karena Rani bisa memberinya uang yang banyak mungkin sudah dia ha*jar anaknya itu. Sepeninggalnya Rani, dia segera membereskan meja makan dan mencuci piring. Perasaannya sekarang sedang bahagia.
Di dalam kamar Rani.
Ting
Ada pesan masuk di ponsel Rani.
'Sayang om baru pulang dari luar kota nih, besok malam ketemu yuk. Om udah kangen banget sama kamu'. Rani yang tadinya kesal dengan seketika sumringah membaca pesan dari Pak Ronald.
"Boleh Om, aku juga rindu banget sama Om". Balas Rani sambil senyum - senyum, hatinya sedang berbunga - bunga layak orang yang sedang jatuh cinta
Mereka sudah hampir seminggu tidak bertemu sejak malam pertama mereka berkenalan. Karena Pak Ronald harus keluar kota mengurus bisnis di sana.
'Besok malam jam delapan kita ketemu di hotel Paradise ya, nanti Om info nomor kamarnya. Jangan lupa dandan yang cantik dan jangan buat Om menunggu'. Balas Pak Ronald dengan emot love dan kiss di akhirnya.
"Siap Om sayang". Balas Rani dengan emot love dan kiss yang banyak.
Dia segera tidur dan berharap waktu cepat berlalu, dia sudah tidak sabar bertemu pria yang membuatnya telah jatuh cinta.
__ADS_1