
Pov (Author)
Beberapa hari kemudian.
Kediaman Arya dan Aisyah nampak begitu ramai karena sedang ada acara tujuh bulanan Aisyah. Rumah mereka dihias ala adat bugis seperti acara nikah, berbagai hidangan dan camilan khas Bugis tersaji semua hasil buatan Tantenya Aisyah serta dibantu oleh ibu - ibu kompleks. Pembawaan Tante Hasna yang humoris membuat dia cepat akrab dengan para ibu - ibu yang lainnya. Terlebih dengan Bu Hajjah selama, mereka sangat akrab dan mereka bisa bicara lupa waktu kalau sudah ngobrol. Mungkin karena usia mereka yang tidak terpaut jauh jadi obrolan mereka nyambung.
Segala rangkaian acara dimulai dengan Mappassili atau memandikan yang bertujuan untuk melindungi dan menghindarkan sang ibu dan calon bayinya dari malapetaka atau dari gangguan roh - roh jahat. Acara tersebut dipimpin oleh Sanro atau orang pintar dan yang menjadi Sanro adalah Tante Hasna. Kemampuan tersebut beliau dapatkan secara turun temurun dari leluhurnya.
Setelah selesai semua acara inti tiba sekarang waktunya para tamu yang hadir untuk menikmati yang telah dihidangkan, yang paling antusias adalah Pak Haji Mansur karena semuanya adalah makanan kesukaannya itulah sebabnya Bu Hajjah Salamah terus mengawasi suaminya agar tidak kalap.
Ibu mertua Aisyah dan Rani juga hadir tapi mereka datang terlambat, para tamu sudah pulang, tinggal yang bantu bersih - bersih. Jangan tanya bagaimana penampilan Bu May, dia seakan tidak ingin ada yang menyainginya.
Aisyah lalu mengajak tantenya untuk berkenalan dengan ibu mertuanya.
"Bu perkenalkan ini Tante saya. Tante ini ibu mertua saya, kalau ini adik ipar saya". Ujar Aisyah memperkenalkan mereka satu sama lain.
Tante Hasna mengulurkan tangan tapi Bu May menatap sinis dan mendelik. Hanya Rani yang menjabat tangan Tante Hasna.
Bu May yang melihat Rani berjabat tangan dengan Tantenya Aisyah segera menarik tangan anaknya.
"Kamu jangan sentuh tangan orang kampung itu Rani, nanti kamu ikutan udik. Tangan dia itu kotor". Bisik Bu May pada Rani tapi masih bisa terdengar oleh Aisyah dan Tante Hasna, seperti dia memang sengaja memperdengarkannya.
Wajah Tante Hasna yang tadi tersenyum ramah, seketika berubah masam. Aisyah tau pasti sedikit lagi akan terjadi perang antara Tante dan Mertuanya. Dia pun segera mengajak Tantenya pergi tapi dia tepis oleh Tante Hasna.
"Nda usah ko bisik - bisik, saya dengar ji apa ko bilang. Maksudmu apa bilang tanganku kotor, saya sudah cuci tangan. Justru mulutmu itu yang harus dicuci karena busuk". Ujar Tante Hasna menatap sinis ke arah Bu May.
"Heh pede banget kamu, siapa juga yang ngomongin kamu. Kamu dan keponakan kamu ini sama - sama kampungan, dan kamu Aisyah jangan habiskan uang anak saya untuk acara gak penting kayak gini. Apa lagi untuk keluarga kamu". Balas Bu May lantang tidak mau kalah.
Aisyah melihat ke kanan dan kiri mencari suami dan adik sepupunya untuk meminta bantuan mereka memisahkan Tante dan ibu mertuanya, tapi dia tidak menemukan keberadaan mereka. Rani juga berusaha menahan ibunya tapi dia malah dimarahi oleh ibunya.
"Tante, Bu tolong jangan ribut begini tidak enak didengar sama orang". Ujar Aisyah berusaha melerai mereka.
"Iya Bu, malu di lihat orang. Lebih baik kita pulang aja kalau ibu ribut kayak gini". Ucap Rani menahan ibunya.
"Diam kamu Rani, gak usah ikut campur. Ibu harus kasih pelajaran sama keluarga kampungan ini, malu banget ibu punya besan seperti dia". Hardik Bu May.
__ADS_1
"Saya juga nda sudi punya besan sombong macam kamu. Kalau tau keponakanku punya mertua macam kamu, dulu nda saya izinkan dia ikut pindah ke sini, lebih baik dia dan Arya saja tinggal di kampung kami". Ujar Tante Hasna sambil berkacak pinggang.
"Dasar orang miskin, mau jadi apa anak saya tinggal di kampung kalian? Jadi petani? Atau jadi tukang angon bebek? Iya? Anak saya itu ganteng, sarjana, keturunan orang kaya pula. Gak level banget dia tinggal di kampung dan kerja kayak gitu. lihat ini semua perhiasan saya, pasti kamu tidak punya kayak gini kan?" Tambah Bu May sambil memamerkan perhiasan yang dipakainya.
Tante Hasna mencebik dan memutar bola matanya. "Halah emas begitu saja sombong sekali, norak sekali. Bukan mau riya, kamu punya nda seberapa dibandingkan yang saya punya". Ejek Tante Hasna.
Aisyah keluar rumah mencari suami dan adik sepupunya ternyata mereka baru balik dari rumah Pak Haji Mansur. Aisyah segera menarik mereka berdua masuk ke dalam rumah
"Haha.. Mimpi, orang miskin kayak kamu mana mungkin punya perhiasan kayak gini, buat makan saja kalian susah". Ledek Bu May sambil tertawa keras.
Tante Hasna lalu masuk ke kamarnya dan lalu kembali dengan membawa semacam koper kecil.
"Ngapain kamu bawa - bawa koper segala? Mau minggatnya? Bagusnya kalau kamu sadar diri kalau kamu gak pantas ada di sini". Ujar Bu May dengan senyum mengejek.
Tante Hasna tidak menggubris, dia lalu membuka koper yang dibawanya. Begitu terbuka, Bu May terkejut dan melongo melihat isinya begitupun yang Rani yang ikut kaget, tapi dengan cepat dia menguasai dirinya.
Arya dan Aisyah yang baru masuk juga kaget meihat isi koper tersebut. Sedangkan Reihan biasa saja karena dia sudah tau isinya.
"Sini nak ada yang mau Tante tunjukkan sama kalian". Panggil Tante Hasna pada Arya dan Aisyah.
"Semua ini punya kamu nak, ini peninggalan orang tuamu. Ini sertifikat rumah, kebun dan juga sawah yang ada di kampung. Ini juga buku tabungan hasil dari perkebunan dan sawah, mulai sekarang kamu yang pegang. Nanti hasil kebun dan sawah akan di kirim ke nomor rekening ini". Jawab Tante Hasna sambil memberikan semua isi koper kepada Aisyah, sebenarnya dia ingin memberikan kepada Aisyah dan Arya secara pribadi. Tapi dia terlalu jengkel dengan tingkah ibu mertua Aisyah yang sombong, sehingga dia ingin membungkam mulutnya.
"Tapi ini banyak sekali Tante, saya nda bisa terima. Apa lagi kebun dan sawah, om dan tante yang urus". Ujar Aisyah berusaha menolak dengan halus, bagaimana om dan tantenya berjasa dalam mengurus peninggalan mendiang orang tuanya.
"Ini semua hakmu nak, ini amanat dari orang tuamu. Berdosa om dan tante kalau tahan hakmu dan tidak menjalankan amanat mereka". Desak Tante Hasna, Aisyah pun menerimanya dan memeluk Tante penuh haru.
"Ehmmm, segitu aja pamer. Paling juga itu emas sepuhan, kebun dan sawah juga cuma beberapa petak". Cebik Bu May, sebenarnya dia iri tapi tidak mungkin dia menunjukkannya.
"Tolong jaga ucapan ibu, jangan bikin malu Arya Bu". Ujar Arya menegur ibunya.
Bu May membuang muka, sedangkan Rani sejak tadi memperhatikan Reihan yang duduk di samping Arya. Dia terpesona dengan ketampanannya.
Kring
Kring
__ADS_1
Ponsel Arya berdering, sebuah nomor baru yang terpampang di layar ponselnya. Dia menjauh dari mereka untuk mengangkatnya.
"Iya halo, Wa'alaikum salam. Iya benar saya Arya sendiri". Jawab Arya.
"Benar dia kakak kandung saya. Ada apa dengan dia?" Tanya Arya dengan wajah serius.
"Baik pak saya akan segera ke sana, terima kasih atas informasinya. Wa'alaikum salam". Ujar Arya menutup panggilan lalu segera masuk ke dalam, wajahnya tampak panik.
Di dalam hanya nampak Rani dan ibunya yang sedang makan. Tidak lama kemudia Aisyah keluar sendiri dari kamarnya.
"Kenapa muka kamu panik kayak gitu?" Tanya Bu May bingung.
"Tadi ada telfon dari kantor polisi kalau Mas Ryan sekarang lagi ditahan di sana". Jawab Arya.
Bu May tersedak mendengar jawaban dari Arya, Rani segera memberikan minum pada ibunya. Aisyah juga terkejut mendengar yang di bilang oleh suaminya, tapi dia tau suaminya tidak mungkin bercanda untuk hal yang serius seperti ini dan yang dikatakannya pasti benar.
"Kamu jangan bercanda Arya, gak lucu tau". Ujar Bu May kesal.
"Arya tidak bohong Bu, ini aku mau ke kantor polisi untuk memastikannya". Ujar Arya dengan wajah serius dan bersiap pergi.
"Tunggu ibu ikut, Rani kamu pulang sendirian ya. Ini kunci rumah". Ujar Bu May segera menyelesaikan makannya.
"Hati - hati Mas". Ucap Aisyah menci*um tangan Arya.
"Iya Yank, tolong pamitkan sama Tante Hasna ya". Ujar Arya lalu menuju mobilnya. Untung Maira sedang bermain di luar bersama teman - temannya jadi dia tidak tahu tentang apa yang terjadi pada ayahnya.
Setelah mobil Arya tak terlihat, Rani mendekati Aisyah lalu memeluk kakak iparnya itu. Aisyah cukup terkejut dengan yang dilakukan Rani.
"Mbak maafin perbuatan jahat aku selama ini sama Mbak, dan sekarang aku juga dapat balasan dari perbuatan aku". Ujar Rani terisak di pelukan Aisyah.
Aisyah terharu permintaan maaf dari Rani." Jauh sebelum kamu minta maaf, Mbak sudah maafin kamu. Tidak usah disesali, anggap sebagai pembelajaran untuk membuat kamu menjadi pribadi yang lebih baik lagi". Ucap Aisyah, dia bahagia bisa berbaikan dengan Rani. Dia berharap semoga ibu mertuanya juga bisa menerimanya dengan baik juga.
Rani melihat sekeliling mencari keberadaan Reihan, dia terdiam melihat Reihan sedang mengobrol dengan Ratna. Mereka berdua terlihat sangat akrab, hatinya panas melihat mereka berdua. Tapi dia berusaha mengontrol rasa cemburunya, karena ada Aisyah di dekatnya.
Sedangkan Aisyah tersenyum melihat kedekatan adik sepupunya dengan Ratna, dia berharap mereka menjalin hubungan serius. Karena dia tau Ratna gadis yang baik dan mereka berdua sangat cocok.
__ADS_1
Bersambung.