Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 41


__ADS_3

Pov(Ryan)


Terpaksa aku menutup tokoku karena selalu sepi dan tidak bisa membayar karyawan. Aku sangat sedih usahaku yang aku bangun dari nol harus berakhir seperti ini. Entah apa salahku hingga hal ini menimpaku. Aku juga sudah memberhentikan Bi Sumi karena sudah sanggup menggaji, meskipun beliau memohon agar tetap bekerja di rumah walau tidak dibayar karena dia sangat menyayangi Maira.


Aku juga terpaksa memindahkan Maira ke sekolah negeri yang sebelumnya di sekolah elit, syukurlah Maira anak yang baik, dia tidak menolak keputusanku dan sudah mulai menerima kondisi keluarganya yang sekarang. Hanya Bella yang tidak terima, katanya dia malu dengan teman - temannya karena berapa dari mereka menyekolahkan anak mereka di sekolah lama Maira.


"Assalamualaikum". Salam Bella datar tanpa menci*um tanganku.


"Wa'alaikum salam". Jawabku sembari memperhatikan banyaknya belanjaan yang dibawa, dari paper bagnya aku bisa tau kalau itu barang mewah dan branded. Aku bingung dari mana dia dapat uang untuk belanja seperti ini sedangkan selama dua bulan ini aku tidak pernah memberinya uang belanja lagi.


"Kamu dari mana Bell? Kamu sekarang juga sering pulang malam, ini juga kamu belanja segini banyak dapat uang dari mana?". Selidikku.


"Aku habis ngumpul dengan teman - temanku, bosan di rumah terus, cape juga aku harus ngurus rumah sebesar ini sendirian. Kamu sih pake mecat Bi Sumi. Ini aku belanja pake tabungan aku sendiri". Jawab Bella ketus.


"Kamu punya tabungan Bell? Kok Mas gak tau? Hmmm.. Boleh gak Mas pinjam buat modal usaha lagi?" Tanyaku lagi.


"Gak boleh, nanti uang ku habis". Tolak Bella.


"Tapi kan kalau usaha Mas lancar kamu juga yang menikmati hasil, ayolah Bella bantu Mas sekali ini saja". Mohonku dengan wajah memelas.


"Iya kalau berhasil usaha kamu, kalau gagal lagi gimana? Sama aja bohong. Ya ada uangku melayang, kan aku udah suruh kamu pinjam sama Arya tapi kamu malah pentingin gengsi kamu. Makan tuh gengsi sampai kenyang. Pokoknya aku gak mau pinjamin uang aku, lagian aku juga mau bisnis berlian dengan temanku". Jawab Bella kemudian berlalu ke dalam kamar kami.


Jujur aku kecewa dan sakit hati dengan penolakan Bella, bukannya membantu dan mendukungku, dia malah menjatuhkan mentalku. Apa susahnya dia bantuin aku untuk membangun usahaku kembali. Lagian semua uang yang dia punya juga pemberian dariku. Bella benar - benar berubah, dia tidak semanis dulu saat aku masih berjaya. Sekarang sikapnya kasar dan sering marah - marah padaku, tak jarang kata - katanya melukai perasaanku. Hampir tiap hari dia keluar rumah dan pulang larut malam. Selalu saja alasannya kumpul dengan teman - temannya. Kasihan Maira tidak  diperhatikan oleh bundanya.

__ADS_1


Aku sedih melihatnya, di usianya yang baru enam tahun dia sudah dipaksa untuk mengerti keadaan dan kesusahan orang tuanya.


***


Keesokan harinya.


"Mas aku berangkat dulu ya, kamu tolong antarin Maira sekolah". Ucap Bella, aku memperhatikan penampilan yang beda dari biasanya, dia memakai setelan blazer dan rok pendek serta menggunakan high heels. Tidak lupa tas branded bertengger di pundaknya, penampilannya seperti orang kantoran.


"Kamu mau kemana Bell sepagi ini? Kenapa penampilan kamu seperti itu?". Tanyaku bingung melihat penampilannya.


"Oh iya aku lupa bilang sama kamu kalau mulai hari ini aku kerja kantoran di perusahaan milik orang tua temanku". Jawab Bella sambil merapikan penampilannya.


"Teman kamu yang mana? Kok kamu gak ijin aku dulu kalau kamu mau kerja? Trus siapa nanti yang ngurus rumah dan Maira?" Tanya ku tak terima karena dia tidak meminta ijin padaku. Serasa aku tidak dihargai sebagai kepala rumah tangga.


"Gak usah drama gitu de Mas, aku kasih tau kamu juga gak kenal. Asal kamu tau aku kerja juga buat kita. Kalau harapin kamu bisa - bisa kita mati kelaparan. Urusan rumah dan Maira, aku serahin ke kamu yang urus. Kamu kan sekarang pengangguran, ya udah aku berangkat dulu taksi online pesananku datang".


Aku menatap nanar kepergian Bella menggunakan mobil berwarna hitam. Mobil milik Bella sudah aku over kredit, begitu juga dengan mobilku sudah ku jual juga untuk melunasi rumah ini, yang tinggal dua bulan lagi lunas. Setelah sertifikatnya keluar aku berencana menjualnya dan membeli rumah yang lebih kecil dan membuka usahaku kembali. Beberapa perabotan di rumah ini juga sudah aku jual yang tidak terlalu penting.


Setelah Maira beres sarapan segera aku mengantarnya ke sekolah menggunakan motor second yang baru ku beli dua Minggu yang lalu. Mungkin aku akan menjadi ojek online untuk sementara menggunakan motorku ini karena uang tabunganku yang semakin menipis.


***


Pov (Aisyah)

__ADS_1


['Oleh - oleh dari calon mantu idaman, makasih cantik'].


     Pesan dari Mpok Atiek berisi tangkapan layar dari status aplikasi hijau ibu mertuaku. Terlihat sebuah foto kue dari toko kue yang cukup terkenal dengan caption seperti di atas.


['Lihat deh Ais status ibu mertua lu, siapa yang dia maksud calon mantu? Apa mungkin calonnya si Rani tapi kagak mungkin soalnya dia masih kuliah. Tapi sore ada perempuan datang ke rumah ibu mertua lu, penampilannya bikin sakit mata, modelannya kayak pelakor'].


Aku hanya tersenyum kecut melihat pesan dari Mpok Atiek, aku sangat yakin yang dimaksud itu adalah Siska. Rupanya wanita itu udah mulai menjalankan aksinya untuk mendapatkan suamiku melalui ibu mertuaku, dan beliau mendukungnya. Baiklah aku akan ikuti permainan kalian, jangan kalian pikir aku bodoh dan akan tinggal diam.


Memang aku tidak menyimpan nomor ibu mertuaku, malas aja karena bagiku tidak terlalu penting juga. Malah bikin penyakit.


Saat menscroll layar ponsel tak sengaja melihat status milik Mbak Bella dengan caption ['Hari pertama kerja kantoran'] disertai dengan gambar layar komputer dan tangan di keyboard dengan posisi seperti sedang mengetik. Aku sedikit bingung membaca statusnya, apa sekarang Mbak Bella kerja kantoran? Bukankah usaha Mas Ryan maju? Begitu banyak pertanyaan di otakku. Belum lagi aku masih memikirkan wanita yang aku lihat di Mall. Aku memang sudah lama tidak berkomunikasi dengan Mbak Bella, aku juga sudah tidak mendengar kabar dari mereka. Terakhir kami bertemu saat pembukaan lapakku.


['Assamu'laikum Mbak, gimana kabar kalian?']. Aku mengirim pesan kepada Mbak Bella, sudah terkirim tapi belum dibaca.


"Mas, kamu masih berkomunikasi dengan Mas Ryan gak? Udah lama kita tidak ketemu dengan mereka?". Tanyaku saat Mas Arya masuk ke kamar sehabis mengunci pagar dan pintu rumah karena lapak baru aja ditutup.


Mas Arya berbaring di sampingku. "Beberapa hari yang lalu Mas kirim pesan ke Mas Ryan tidak dibalas, Mas telfon juga gak diangkat". Jawab Mas Arya menghela nafas.


"Hmm.. Gitu ya Mas. Mungkin dia sibk, oya aku lihat status Mbak Bella kayak gini". Ucapku sambil memperlihatkan status Mbak Bella padanya.


"Entahlah yank, beberapa hari ini Mas kepikiran sama Mas Arya tidak biasanya dia gak ada kabar, sibuk apapun pasti nanyain kabar Mas atau merspon pesan dan telfon dari Mas. Ibu juga bilang kalau sudah dua bulan Mas Ryan gak ngirim uang buat ibu dan Rani". Ujarnya sembari memikirkan sesuatu.


"Ya udah mas, kamu kan besok libur. Gimana kalau kita ke rumah Mas Ryan, aku juga kangen sama Maira". Ucapku.

__ADS_1


Mas Arya mengangguk menyetujui kemudian mengajakku tidur karena sudah sangat larut. Aku bisa melihat kesedihan di wajahnya. Wajar dia kuatir karena Mas Ryan kakak kandungnya pasti mereka ada ikatan satu sama lain kalau salah satu dari mereka mengalami kesusahan.


Bersambung.


__ADS_2