Menantu Yang Terdzalimi

Menantu Yang Terdzalimi
BAB 68


__ADS_3

Pov (Aisyah)


      Aku banyak istighfar setelah kepulangan ibu mertuaku, sebenarnya aku tak ingin bersikap seperti tadi kepadanya tapi beberapa hari ini moodku gak stabil. Mungkin karena hormon kehamilan dan masalah yang terjadi akhir - akhir ini.


Pasti ibu mertuaku tidak akan tinggal diam atas perlakuanku yang berani melawannya, biarlah kalau dia mengadu kepada Mas Arya toh aku hanya membela diri.


Aku masih penasaran siapa sebenarnya yang menyuruh Wulan dan apa maksud wanita itu menyuruhnya. Dari rekaman percakapan mereka kalau dia meminta resep jualanku tapi buat apa? Dia juga ingin usahaku bangkrut. Mungkinkah dia juga berjualan sepertiku, entahlah memikirkannya membuat kepalaku sakit.


Jujur aku kecewa pada Wulan, padahal aku sangat simpati dengannya karena cerita yang membuatku menjadi iba padanya yang membuat hatiku tergerak untuk membantunya. Karena aku juga yatim piatu sepertinya dan dia harus menghidupi adik - adiknya yang masih kecil. Tapi ternyata dia hanya mengarang cerita agar menarik simpatiku dan menerimanya kerja disini.


Semoga Wulan dan wanita yang menyuruhnya cepat tertangkap, begitu juga Siska yang masih buron hingga saat ini agar mereka bisa mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.


Aku bersyukur karena kejadian keracunan beberapa hari yang lalu, lapakku masih tetap ramai dan para korban tidak jadi memviralkan karena sudah bertanggung jawab dan membayar ganti rugi. Kedepan aku harus lebih hati - hati kepada orang yang akan bekerja padaku. Rumah ini dan lapak sudah aku pasangi CCTV kecuali di kamar mandi. Aku tidak boleh kecolongan lagi.


***


Pov (Author)


Sementara itu di tempat lain baru saja selesai dilaksanakan sidang putusan hukuman yang akan diterima oleh Pak Rudi dan Bu Merry. Mereka terbukti bersalah,  Pak Rudi mendapatkan hukuman penjara dua puluh tahun dan denda sepuluh milyar rupiah, sedangkan Bu Merry mendapatkan hukuman penjara lima tahun dan denda satu milyar karena ikut menikmati hasil dari pencucian uang yang dilakukan semuanya. Polisi juga masih melakukan pengejaran terhadap Siska yang masih buron.


Pak Rudi hanya pasrah menerima putusan hakim, sedangkan Bu Merry histeris dan tidak terima putusan tersebut. Dia masih bersikukuh kalau dia tidak terlibat karena dia tidak tau suaminya melakukan pencucian uang.


***


Pov (Author)


"Maaf ya kalau lama, soalnya tadi gue tungguin teman gue yang shift sore datang dulu dan operan shift". Ujar Santi pada Rani yang sudah menunggunya di depan minimarket tempat kerjanya.


Rani menggunakan Hoodie, kaca mata hitam, masker dan topi. Dia memakai rok pendek karena lututnya masih sakit. Lutut sudah ditutup hipa*fix.


"Gak apa - apa, gue juga baru nyampe sini". Jawab Rani datar.


"Ya udah kita jalan sekarang biar gak kemalaman". Ujar Santi.


"Kita naik apa ke kampung lo?" Tanya Rani.


"Nanti kita naik angkot ke terminal buat naik bus ke kabupaten setelah itu lanjut pake angkutan desa soalnya kampung gue agak pelosok, terus lanjut jalan kaki ke rumah Mak Ijah". Jelas Santi.


"Ihh ribet banget harus ganti - ganti kendaraan, bisa - bisa pingsan gue dijalan apa lagi harus naik angkutan umum berdesakan dengan orang baik. Gue gak pernah pake angkutan umum, pasti bakalan bau banget". Tutur Rani dengan ekspektasi jijik.

__ADS_1


"Ya memang begitu harus kayak gitu kalau mau ke kampung gue. Terus lo mau naik apa?". Ujar Santi, dia sedikit kesal dengan tingkah Rani yang sok kaya.


"Iya terserah yang penting cepat sampai dan gak pakai angkutan umum seperti yang tadi lo bilang, membayangkannya saja gue udah mau muntah". Ucap Rani sambil bergedik.


"Kita bisa pakai gr*ab tapi ongkosnya yang lebih mahal". Ujar Santi lagi.


"Nah pakai itu aja, soal ongkos gak perlu kuatir. Berapa gue bayar". Ucap Rani sombong.


"Ya udah terserah lo aja". Balas Santi datar.


Tidak berapa gr*ab yang dipesan Rani sudah datang dan mengantarkan mereka menuju kampung halaman Santi. Mereka tidak singgah makan karena Rani tadi sudah membeli cemilan dan minuman, mereka hanya singgah untuk isi bensin dan buang air.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam lebih mereka sampai di gapura kampung Santi. Hari sudah malam, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


Mereka pun turun karena untuk mencapai rumah Mak Ijah mereka harus berjalan kaki karena jalannya tidak bisa dilalui oleh mobil. Walaupun kampung Santi cukup pelosok tapi sudah ada jaringan internet walaupun tidak sekencang di kota.


Santi terdiam dan mematung menatap sesuatu.


"Ayo buruan, lo ngeliatin apaan sih? Dari kemarin bengong terus. Biar pun ini daerah lo tapi lo tetap aja bisa kesambet apalagi di kampung itu lebih banyak hantunya". Ujar Rani bergedik ngeri.


Santi hanya diam tidak menanggapi, pandangannya menerawang ke depan menatap kebun yang dikelilingi pagar bambu, matanya terlihat berembun.


"Oh, ya udah gak usah mewek. Cepetan kita ke rumah tuh dukun, gue udah digigitin nyamuk". Keluh Rani sambil menggaruk betisnya yang mulus.


Mereka berjalan menyusuri kebun - kebun warga, suasana kampung sepi karena baru habis hujan, jalanan pun becek.


Akhirnya mereka sampai di sebuah gubuk tua yang di terangi oleh pelita yang berada di dalam hutan. Rani merasa merinding karena rumah Mak Ijah persis seperti rumah hantu di film horor yang pernah dia tonton.


"Beneran ini rumahnya? Kok gue jadi merinding ya?" Tanya Rani takut.


"Iya ini beneran walaupun gue udah lama gak pulang kampung tapi gue yakin ini rumahnya karena cuma rumah Mak Ijah yang berada di dalam hutan ini. Ayo buruan kita kesana". Ajak Santi, Rani mengejar Santi yang sudah jalan lebih dulu.


Tok


Tok


"Permisi Mak" Ucap Santi sembari mengetuk pintu.


Tidak berapa lama pintu itu berderit, lalu muncul seorang wanita tua yang memakai kebaya model dulu dan kain jarik, rambutnya putih semua dan mengunyah sirih.

__ADS_1


Rani merinding melihat wanita tua itu, persis hantu nenek - nenek di film horor.


"Silahkan masuk nduk". Ujar yang wanita tua itu yang adalah Mak Ijah sang Paraji atau dukun beranak mempersilahkan Santi dan Rani masuk.


Di dalam cukup terang berasal dari lampu petromak, barang - barang di dalam rumah Mak Ijah masih jadul semua tidak ada televisi ataupun barang elektronik lainnya. Listrik pun kayak gak ada, Rani tidak habis pikir di jaman modern begini masih ada orang yang bisa hidup tanpa teknologi.


"Jadi begini Mak, maksud kedatangan kami kesini adalah untuk..". Tutur Santi.


"Mak udah tau tujuan kalian, kalau wanita muda datang kemari pasti untuk gugurin kandungan. Kekekek". Potong Mak Ijah terkekeh sambil menggosok giginya dengan sirih.


"Sudah berapa bulan?" Tanya Mak Ijah pada Rani.


Rani nampak kaget karena Mak Ijah tau kalau dia yang hamil padahal dia atau Santi belum memberi tahunya.


"Nda usah kaget gitu, Mak menggeluti pekerjaan ini sudah hampir lima puluh tahun jadi Mak tau mana wanita hamil dan yang bukan". Ujar Mak Ijah sambil menyeringai.


"Su.. Sudah dua bulan Mak". Jawab Rani gugup.


"Tidak usah takut, tenang saja. Mak bisa bantu kamu, asal kamu bisa bayaran yang pantas. Apa kamu sanggup?" Tanya Mak Ijah.


"Iya Mak saya sudah siapkan uangnya". Jawab Rani lalu mengambil amplop coklat yang lumayan tebal dan memberikan kepada dukun beranak itu.


Mak Ijah segera mengambil amplop coklat dari tangan Rani dan melihat isi. Dia terkekeh dan menyeringai yang memperlihatkan giginya merah kehitaman karena terlalu sering mengunyah sirih.


Mak Ijah lalu menyuruh Rani membuka pakaiannya dan memberinya kain jarik untuk menutupi tubuh. Rani lalu tidur terlentang di atas kasur tipis dengan kedua kaki mengangkang.


Entah apa yang Mak Ijah masukkan ke dalam kema*luan Rani yang jelas rasanya panas dan pedis. Seperti diberi bubuk cabai, Rani ingin teriak tapi Mak Ijah menyuruh menggigit gulungan kain. Air mata Rani menetes karena Mak Ijah seperti mengobok - obok kema*luannya. Santi meringis melihat apa yang dialami oleh Rani.


Selesai mengobok - obok kema*luan milik Rani, dukun beranak itu menyuruh Rani untuk jongkok. Santi segera membantu temannya untuk jongkok, Mak Ijah lalu menyuruh Rani menghabiskan ramuan yang dibuat olehnya. Entah terbuat dari apa ramuan itu tapi baunya membuat mual. Rani meminum ramuan itu sampai habis dan berusaha untuk tidak muntah.


Tidak berapa lama setelah meminum ramuan itu, Rani merasa perutnya melilit kencang. Keringat mengucur deras di keningnya, dia lalu mengerang kesakitan, tidak lama dari lubang kema*luan keluar segumpal daging kurang lebih seukuran jempol menyerupai ati ayam. Dengan cepat Mak Ijah mengambil gumpalan itu dan membungkusnya dengan kain lalu menyimpannya dalam wadah kecil.


Rani terkulai lemas dan tak sadarkan diri. Santi panik melihat Rani yang pingsan.


"Mak kenapa teman saya ini?" Tanya Santi panik.


"Dia cuma pingsan karena kelelahan, biarkan dia beristirahat. Kalian menginaplah disini untuk malam ini, besok pagi baru kalian pulang ke kota tempat tinggal kalian". Jawab Mak Ijah sambil membersihkan kema*luan Rani, setelah itu dia beranjak ke belakang untuk membersihkan dirinya dan beristirahat.


Santi menatap Rani dengan iba, dia mengelap keringat di kening Rani dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang di berikan oleh Mak Ijah, lalu Santi tidur di sampingnya. Untung besok dia gak ada mata kuliah dan masuk kerja sore, dia juga hubungi bibinya kalau dia nginap di rumah temannya untuk kerja tugas kuliah. Setidaknya bibinya tidak kuatir karena dia tidak pulang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2